Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | Mei 12, 2013

Bukan Sekedar Mujizat

Pekerjaan Roh Kudus memang luar biasa. Dia menjadikan orang-orang biasa menjadi orang-orang yang luar biasa. Lihatlah Petrus, setelah dia menerima Roh Kudus dia melakukan banyak perkara luar biasa dalam pelayanannya.

Pada suatu hari waktu menjelang sembayang, Petrus dan Yohannes ke Bait Allah. Seorang laki-laki yang lumpuh sejak lahirnya dan selalu diletakkan di pintu gerbang Bait Allah. Meminta-meminta kepada mereka, seperti yang selalu dia lakukan. Melihat ini Petrus berkata “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah” Haleluya, luar biasa, orang lumpuh ini kemudian bisa berjalan.

Apa yang saya lihat dalam kejadian ini yaitu pertama, bahwa Roh Kudus memberi kuasa melakukan mujizat kepada Petrus, dan yang kedua, bahwa Roh Kudus memberi solusi yang bersifat permanen kepada orang lumpuh itu. Mengapa? Sebab Petrus bisa saja melakukan mujizat seperti yang dilakukan Yesus ketika mereka akan membayar pajak yaitu dengan menyuruh menangkap ikan dan mengambil uang yang secara ajaib berada di mulut ikan itu atau cara lain yang mirip dengan itu.

Namun apa yang dilakukan merupakan solusi permanen sebab dengan kemampuan berjalan, dia bisa melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhannya.

Jadi kejadian ini bukan sekedar mujizat melainkan juga solusi permanen kepada persoalan si orang lumpuh. Luar biasa Tuhan itu. Haleluya.

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | Mei 12, 2013

Yesus Menangis

Salah satu kisah yang menyatakan kasih Tuhan adalah pada waktu dibangkitkannya Lazarus setelah empat hari di dalam kubur dan sudah membusuk. Disitu dikatakan bahwa Yesus menangis (Yoh. 11: 35), Mungkin kita bertanya mengapa Yesus menangis, padahal dia akan melakukan mujizat dan akan membangkitkan Lazarus dari kematian.

Tentu saja tangisan Yesus bukanlah tangisan sandiwara dan airmata-Nya bukan airmata buaya seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang munafik. Tetapi tangisan Yesus adalah murni adalah kepiluan karena dia menempatkan perasaanNya seperti perasaan Maria dan Marta yang memang berduka.

Pelajaran : Dalam persoalan atau tekanan hidup yang kita alami, tidak jarang kita meragukan hati Tuhan kepada kita. Kita berpikir bahwa Allah tidak tahu dan tidak perduli permasalahan yang kita gumulkan. Namun lewat kisah ini kita belajar bahwa Yesus tahu dan sangat memahami persoalan yang kita alami. Dia turut merasakan pilu/duka yang kita alami.

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | Mei 12, 2013

Keputusan di Tanganmu

2 Taw. 20:1-4 “Setelah itu bani Moab dan bani Amon datang berperang melawan Yosafat bersama-sama sepasukan orang Meunim. Datanglah orang memberitahukan Yosafat: “Suatu laskar yang besar datang dari seberang Laut Asin, dari Edom, menyerang tuanku. Sekarang mereka di Hazezon-Tamar,” yakni En-Gedi. Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa. Dan Yehuda berkumpul untuk meminta pertolongan dari pada TUHAN. Mereka datang dari semua kota di Yehuda untuk mencari TUHAN.”

Selama kita masih ada di dalam dunia ini, tidak ada seorang pun yang menjamin bahwa kita tidak akan menghadapi masalah atau tantangan hidup, meskipun kita adalah orang percaya. Mengapa? Karena dunia ini penuh dosa dan kejahatan, kita hidup di dunia ini bersama-sama dengan orang yang tidak percaya. Dalam hal ini, tidak keistimewaan orang percaya dengan yang tidak percaya. Perbedaannya hanya pada bagaimana kita menyikapi tantangan yang kita hadapi dan kepada siapa kita meminta pertolongan dalam setiap tantangan hidup yang kita alami.

Tuhan tidak pernah menjanjikan kepada kita orang percaya bahwa hidup kita akan bebas dari tantangan hidup. Kita juga harus tahu mengerti bahwa terkadang Tuhan justru mengijinkan persoalan menghampiri kita, supaya kita belajar dan mengerti situasi dunia ini dan dari situ kita memperoleh hikmat untuk mengambil tindakan yang tepat dalam hidup kita, dan supaya kita senantiasa bergantung kepada-Nya.

Ketika mengalami tantangan, sering kali kita merasa tidak sanggup untuk menghadapi. Kita mungkin akan takut dan kawatir. Dan itu sangat manusiawi. Namun sebagai orang percaya, hal itu seharusnya tidak boleh berlarut-larut dalam hidup kita, karena ada janji Tuhan bagi kita ketika kita mau berseru kepada-Nya meminta pertolongan. Karena itu, apa pun masalah yang kita hadapi yang membuat kita takut dan gentar, ambil keputusan untuk berseru kepada TUHAN. Keputusan ada di tanganmu.

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | Mei 12, 2013

Selalu ada cara Tuhan menolong kita

Goliat sangat percaya diri menantang barisan orang Israel. Selain karena kegagahannya, ia juga memiliki persenjataan dan alat perlindungan tubuh yang lengkap mulai dari kaki hingga kepala Goliat yang terbuat dari besi dan tembaga. Dia mengandalkan diri, alat pelindung tubuh dan persenjataan yang mereka miliki. Sepertinya mustahil bagi Daud untuk bisa menjangkau apalagi merobohkan Goliat. Namun ada bagian kecil dari tubuh yang tidak terlindungi oleh pada Goliat yaitu wajahnya. (1 Sam. 17:4-7). Namun yang terjadi adalah justru dari bagian yang kecil ini, Tuhan dapat memberi kemengan bagi Daud.

Pelajaran : Apapun permasalahan kita, walaupun sepertinya tidak ada jalan keluar atau sepertinya terlalu berat untuk kita hadapi, tetapi selalu ada cara bagi Tuhan untuk membela kita. Selalu ada peluang, selalu ada jalan/cara bagi Tuhan untuk membela orang percaya yang mengandalkan Tuhan.

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | Mei 12, 2013

bukan “siapa kita” tetapi “siapa di dalam kita”

Daud berbeda dengan Saul ketika berhadapan dengan Goliat. Walaupun Goliat gagah perkasa, dengan peralatan perang dan perlindungan diri yang lengkap sedangkan Daud masih sangat muda dan tanpa peralatan perang selain lembing, tapi dia tidak takut karena ia percaya dan mengandalkan Tuhan (1 Sam. 17:45).

Pelajaran: Dalam hal ini kita bisa belajar yaitu bukan tergantung besarnya tantangan/persoalan yang kita hadapi melainkan tergantung siapa yang kita percayai dan kita andalkan untuk menolong kita menghadapinya. Bukan tergantung pada “siapa kita“, melainkan “siapa di dalam kita“

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | Mei 12, 2013

Bila Tuhan Undur

Saul dan prajuritnya ketakutan mendengar tantangan musuhnya yaitu prajurit Filistin yang dikomandoi oleh Goliat yang bertubuh besar (6 hasta sejengkal = Kira-kira 3 meter). Mengapa Saul ketakutan? Karena Saul tahu bahwa Tuhan telah undur daripadanya. Dia takut melihat tantangan yang besar dihadapannya karena Tuhan tidak lagi menyertai mereka. Mengapa Tuhan undur dari Saul? Karena Saul tidak taat kepada Tuhan. Ia membuat kebenarannya sendiri yang bertentangan dengan Tuhan. (Kisah Saul di 1 Samuel)

Pelajaran : Tantangan yang kita hadapi dalam hidup ini seringkali membuat kita takut Namun ketakutan itu timbul sebenarnya bukan karena terlalu besar persoalan itu melainkan karena kita tidak yakin kehadiran Tuhan yang akan menolong kita. Ketidakyakinan pada pertolongan Tuhan sering dipengaruhi oleh perasaan berdosa akibat ketidaktaatan kita kepada firman Tuhan. Bukankah kita manusia ini sering membuat kebenaran kita sendiri dengan kompromi kepada cara-cara dunia. Sangat jelas bahwa ketaatan itu menjadi penting supaya Tuhan tidak undur dari kehidupan kita.

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | Mei 12, 2013

Jangan Memandang Penampilan Luar

Ketika Samuel melihat anak-anak Isai, dia berpikir bahwa Eliab-lah yang dipilih Allah untuk diurapi menjadi raja karena parasnya dan perawakannya yang tinggi. Tetapi Tuhan berkata “…..Jangan pandang parasnya dan perawakannya yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah, manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.”(1 Sam 16:7).

Pelajaran : Jangan tertipu dengan penampilan luar seseorang, atau jangan mudah menilai seseorang dengan penampilan luarnya, atau dengan kata-kata manisnya tetapi lihatlah bagaimana hati dan kepribadiannya yang terbukti dari cara hidup (perbuatannya) yang baik.

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | April 2, 2013

FB

http://www.facebook.com/lomser.hutabalian?ref=tn_tnmn

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | Februari 14, 2013

Gambar Wujud Allah

Ibrani 1:1-4 “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi, jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepada-Nya jauh lebih indah dari pada nama mereka.

Sejak jaman dahulu Allah terus menyatakan diri-Nya kepada manusia ciptaan-Nya. “Dengan berbagai cara” memberi makna bahwa pernyataan Allah kepada manusia itu kontekstual dan progressive supaya manusia itu bisa memahami maksud Allah. Pernyataan diri Allah tidak dibatasi oleh waktu atau jaman, situasi dan kondisi dunia dan juga budaya. Lebih dalam adalah betapa Allah itu sangat menginginginkan umat-Nya mengenal dia dan mendengarnya ketika Ia berbicara atau menyatakan diri-Nya.

Pastilah Allah punya rencana yang indah mengapa Dia menyatakan diri, dan tentu manusia akan beruntung apabila mengenal Allah. Mengapa? Karena mengenal Allah berarti mengenal kuasa, dan kebaikan-Nya, Nabi-nabi telah menjadi perantara sampai peryataan diri-Nya melalui perantara Anak-Nya Yesus Kristus. Dengan perantara Yesus Kristus, kita bisa mengerti isi hati Allah. Pengorbanan Yesus di kayu salib dengan meninggalkan kemuliaan-Nya di sorga demi manusia adalah bukti cinta Allah. Yesus adalah gambar wujud Allah.

Di PL dalam pernyataan diri Allah kepada bangsa Israel, Ia sering mengatakan kepada bangsa Israel “Aku..YHWH” yang dalam alkitab LAI terjemahan baru ditulis “TUHAN” (huruf besar semua), Disini Allah sekaligus menyatakan bahwa pada nama-Nya itu melekat seluruh keberadaan atau jati diri Allah. YHWH (Yahwe) atau TUHAN, adalah berbicara tentang existensiNya yang tidak berasal-usul atau ada dari kekekalan, unlimited power (kuasa yang tidak terbatas) dan absolute, dan yang keputusan-keputusanNya tidak dipengaruhi oleh manusia atau oleh apapun.

Kalau kita meyakini bahwa Yesus adalah gambar wujud Allah, Dia adalah gambar wujud Yahwe, yang pada-Nya melekat seluruh keberadaan atau jati diri Allah, Dia yang existensiNya tidak berasal-usul atau ada dari kekekalan, unlimited power (kuasa yang tidak terbatas) dan absolute, dan yang keputusan-keputusanNya tidak dipengaruhi oleh manusia atau oleh apapun. Betapa dahsyat Dia bagi kita sebagai milik kepunyaan-Nya.

Haleluya
Lomser Hutabalian, S.Th

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | Desember 30, 2012

Hamba Uang

Berbicara tentang uang, maka uang sebenarnya adalah benda mati yang tidak bisa berbuat apa-apa tanpa ada orang yang menggunakannya. Namun uang memiliki nilai dimana dengan uang kita bisa melakukan banyak hal dalam kehidupan kita entah itu pasitive atau negative.

Sesungguhnya tidak mungkin uang menjadi tuan atas manusia dan tidak mungkin manusia menjadi hamba atas uang karena uang adalah benda mati.  Namun penggunaan kata hamba uang itu menjadi tepat bila seseorang telah menggantungkan hidupnya kepada uang.  Karena berbicara mengenai hamba adalah berbicara mengenai kendali. Seorang Tuan akan mengendalikan hamba yang dimilikinya. Oleh karena itu bila seseorang menjadi hamba Uang, maka uanglah yang menjadi pengendali dalam kehidupannya.

Seorang hamba uang maka dia akan melakukan apapun demi uang termasuk hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Dia tidak akan perduli apakah usahanya mendapatkan uang itu akan menyakiti hati Tuhan atau sesama.

Berdasarkan 1 Tim 6:10  berkata “Karena akar segala kejahatan adalah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka”

Seseorang menjadi hamba uang karena dia telah mencintai uang,  dan dalam dirinya akan ditemukan seperti hal-hal berikut ini:

1.    Menganggap uang adalah segala-galanya dalam hidupnya.

Hidupnya adalah untuk uang dan melakukan segala sesuatu karena uang. Dia akan merasa bangga bila memiliki banyak uang. Bekerja keras untuk menghasilkan uang namun meski memiliki banyak, belum tentu dia bisa menikmatinya karena terlalu perhitungan dalam mengeluarkan uangnya. Dia akan cenderung menganggap remeh orang berkekurangan/miskin, karena baginya uang atau harta menjadi ukuran kehormatan seseorang. Orang seperti ini akan sanggup “menjilat pantat” orang-orang berduit demi sebuah keuntungan.

2.    Menjadi tamak.

Bagi orang tamak segala sesuatu harus mendatangkan keuntungan bagi dirinya. Orang tamak itu seperti lintah yang menghisap darah tanpa memikirkan kerugian bagi orang yang dihisapnya.  Seperti yang dikatakan Agur bin Yake, “Si Lintah mempunyai dua anak perempuan: “Untukku!” dan “Untukku!”…..” (Amsal 30:15a).

Bila ada sesuatu yang mau dibagi, maka dia tidak memikirkan orang lain akan dapat bagian atau tidak. Kalaupun dia memikirkan bagian bagi orang yang lain , itu setelah dia mendapat bagian yang sebanyak-banyaknya dan memuaskan dirinya. Oleh karena itu, dalam diri orang yang tamak tidak ditemukan keadilan.

Mungkin ada suatu waktu orang tamak seperti berbuat baik dalam kehidupannya, namun dibalik kebaikannya dia memiliki “agenda” untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

Salah satu contoh yang banyak kita temukan sekarang ini adalah koruptor. Koruptor adalah orang yang mengambil uang/harta yang bukan haknya. Dia tidak perduli seperti apa akibat yang akan ditimbulkan oleh tindakannya yang penting dia hidup dalam kemewahan.

Tuhan Yesus menyoroti ketamakan ketika yang mungkin terjadi dalam hal pembagian warisan dalam Lukas 12:15 : “Katanya lagi kepada mereka: “berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung daripada kekayaannya””

3.    Hamba uang itu pasti kikir.

Hamba uang itu ibarat mata uang itu sendiri. Satu sisi “bergambar” si Tamak, satu sisi lagi “bergambar” si Kikir. Oleh karena itu tidak mungkin seorang hamba uang akan suka memberi atau membagi-bagi hartanya/miliknya.  Sedangkan yang bukan bagiannya pun mau dihisapnya untuk dirinya, tidak mungkin dia akan memberi miliknya untuk orang lain.

Sama seperti sifat tamak, seorang yang kikir juga mempunyai agenda mencari untung yang berlipat dari “kebaikan” yang dia berikan kepada orang lain.  Salomo dalam tulisan hikmatnya mengatakan : “Janganlah makan roti orang yang kikir, jangan ingin akan makanannya yang lezat. Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia. “Silahkan makan dan minum,” katanya kepadamu, tetapi ia tidak tulus hati terhadapmu.” (Amsal 23:6-7)
Ada sebuah cerita seorang bapak yang sangat kikir. Karena kekikirannya, suatu saat dia belanja papan dan kayu ke kota untuk memperbaiki rumahnya. Demi mendapat potongan uang antar, maka dia rela bolak-balik megantar jemput papan dan kayu dengan bersepeda lebih dari sepuluh kilo meter.  Dan si bapak ini menyimpan uangnya lama sekali dirumahnya sampai-sampai uang itu tidak laku lagi karena ternyata pemerintah sudah lama mengeluarkan uang baru sebagai pengganti uang tersebut dan dia tidak tahu hal itu.

Orang kikir bertolak belakang dengan orang yang hidup dalam kasih. Orang yang hidup dalam kasih akan sanggup berkorban untuk orang lain sedangkan orang kikir sanggup mengorbankan orang lain (bahkan orang dekatnya) untuk dirinya.

Paulus kepada jemaat di Korintus berkata :”Tetapi kutuliskan ini kepadamu ialah, supaya kamu jangan bergaul dengan orang, sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama.”

4.    Dia tidak sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan.

Orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan pasti menggantungkan hidupnya kepada Tuhan bukan kepada uang/kekayaan (band Luk. 12:15). Tuhanlah yang menjadi jaminan bagi masa depannya (Maz. 23:1-6, Kor 1:22, Ibr. 7:22). Tidak ada ketamakan dalam dirinya karena dia percaya bahwa Tuhan sanggup memelihara hidupnya. Dia hidup dalam kasih dan rela berkorban karena sadar bahwa Kristus juga sudah berkorban untuk dirinya. Itu berarti tidak ada kekikiran dalam dirinya.

Ibrani 13:5 berkata :” Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau””

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | Desember 28, 2012

Paste a Video URL

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | Oktober 8, 2012

SAYA DAN GPI SIDANG TRANS MARINA – SEBUAH TESTIMONY

Panggilan Menjadi Hamba Tuhan.

Ketika masih muda, saya tidak pernah berpikir akan menjadi seorang hamba Tuhan. Meskipun banyak dari antara keluarga mulai dari kakek, paman dan bapak saya menjadi hamba Tuhan, namun saya tidak tertarik menjadi hamba Tuhan. Saya melihat bagaimana beratnya tugas sebagai hamba Tuhan yang kepadanya banyak jiwa-jiwa dipercayakan. Saya melihat banyak sekali tantangan yang dihadapi oleh kakek, paman, khususnya ayah saya dalam perannya sebagai hamba Tuhan.

Berangkat dari keadaan ekonomi keluarga yang memprihatinkan, banyaknya keinginan saya sebagai remaja yang tidak dapat di penuhi dan keharusan saya untuk bekerja keras beternak babi dan mencari makannya keliling dengan mengais-ngais tong sampah orang-orang, maka hanya satu cita-cita saya waktu masih remaja yaitu MENJADI ORANG KAYA. Sungguh tidak ada cita-cita yang lain selain menjadi orang kaya, entah sebagai apa pun saya untuk memilikinya.

Namum kehendak saya bukan kehendak Tuhan. Di suatu pagi pada bulan Juni 2001 ketika saya berbaring dan tidur, di spring bed tua kami, saya mendapat visi Tuhan. Dalam tidur saya, saya bermimpi ada sepasang burung merpati warna putih cerah masuk ke rumah saya. Saya heran, dari mana datangnya merpati ini. Lalu saya menangkap sepasang burung merpati ini dan mereka langsung menurut, sangat jinak dan tidak meronta sedikit pun. Kemudian saya membuatkan mereka “rumah-rumah” dibelakang rumah saya. Mereka kelihatan senang tinggal di “rumah-rumah” yang saya buat ini.

Ketika saya bangun, saya bertanya dalam hati “Adakah arti dari semua ini? Bukankah merpati putih itu sebagai lambang dari Roh Kudus? Tapi mengapa dua?”. Malamnya semua pertanyaanku dijawab oleh Tuhan. Sepasang hamba Tuhan yaitu Bpk. Pendeta (waktu itu masih Guru) gembala sidang tempat saya beribadah beserta dengan ibu datang ke rumah saya. Mereka meminta saya untuk terlibat melayani dan diangkat menjadi Sintua.

Mendengar permintaan hamba Tuhan ini, saya menolak karena memang tidak terpikir oleh saya untuk menjadi hamba Tuhan. Saya menolak dengan halus dan mengatakan bahwa saya mau membantu pelayanan di gereja ini semampu saya bisa bantu tapi janganlah menjadi hamba Tuhan. Namun bapak Pdt ini memang sudah yakin dengan hal ini dan dengan hikmat memberi banyak masukan kepada saya supaya saya mau. Lalu saya pun teringat akan mimpi saya dan mencoba meyakinkan diri bahwa inilah yang Tuhan mau katakan kepada saya melalui mimpi. Akhirnya saya bersedia diangkat menjadi sintua.

Visi Penggembalaan

Tanggal 10 Juni 2001 saya diangkat menjadi sintua di sidang. Namun baru sinode tahun berikutnya saya di tahbiskan di GPI Pusat. Memasuki lembaran baru kehidupan sebagai hamba Tuhan tentu harus banyak belajar dan mulai lebih hati-hati dalam bersikap.

Selama menjalani tugas pelayanan, tidak sedikit tantangan yang  saya hadapi baik dari dalam maupun dari luar.  Pola pikir, konsep atau pengertian tentang sesuatu baik itu hal-hal umum, pelayanan maupun tentang firman Allah tidak selalu sama. Karena itu dibutuhkan hikmat, upaya-upaya pembelajaran yang terus menenerus, pendekatan yang baik (walau kadang sangat tegas) dengan rekan sesama pelayan.

Pernah selama empat tahun lebih sebagai pembina muda-mudi sidang, dan empat tahun menjadi pembina Biro Pemuda kota Batam, adalah merupakan tahap proses pembelajaran dalam melayani. Sebagai pembina harus menjembatani antara pemuda dengan hamba-hamba Tuhan, antara dept. pemuda sidang dan biro pemuda.  Korban waktu dan korban perasaan harus dijalani, dan diterima sebagai proses pembelajaran untuk semakin mengerti arti kesetiaan dalam tugas.

Ketika semakin mengerti betapa indah dan luar biasa arti sebuah panggilan dari Tuhan yaitu  sebuah kepercayaan dan kehormatan yg diberikan Tuhan, maka menangis menjadi wujud syukur yang meluap dari hati. Panggilan Allah adalah panggilan yang bertanggung jawab. Ia memanggil, maka Ia  memperlengkapi dengan segala sesuatu untuk kebutuhan panggilan itu sendiri.

Setelah saya tamat dari Batam School of Ministry yang saya jalani selama 2.5 tahun (seharusnya 2 tahun tapi ada satu semester saya libur) dan berlanjut ke tahun ke tiga setelah saya diangkat menjadi sintua, hati saya semakin terbeban untuk memulai sebuah penggembalaan. Ada banyak hal yang saya anggap bisa seharusnya dilakukan dalam penggembalaan namun tidak dilakukan. Puji Tuhan, memang banyak masukan-masukan saya diterima/diakomodasi untuk kami kerjakan bersama-sama di GPI sidang Tembesi. Namun saya harus akui, tidak semua visi saya bisa diterima, dan saya pun sadar bahwa tidak semua yang ada di pikiran saya mengenai pelayanan dimungkinkan dilakukan dengan berbagai pertimbangan, salah satu contoh  menjadikan gereja sebagai gereja yang memiliki beban misi.

Menjalani tahun-tahun berikutnya, visi penggembalaan ini semakin kuat. Namun demikian saya terus bergumul kepada Tuhan jangan-jangan ini hanya ambisi saja atau hanya karena ketidakpuasan saja. Seiring waktu berjalan kemudian saya merasa semakin mantap dengan visi itu. Namun meskipun sudah mantap, saya tidak serta merta membuka pelayanan sendiri. Saya masih bergumul apakah saya tetap di GPI atau tidak. Hal ini terjadi karena saya kecewa melihat banyaknya masalah perpecahan dan pengangkatan yang menimbulkan masalah. Selain itu masalah managemen pun juga menjadi perhatian saya dan menjadi pertimbangan.

Pada saat yang sama saya mulai menggumulkan suatu tempat disekitar daerah marina. Waktu itu belum banyak rumah-rumah apalagi ruko. Hanya beberapa ruli (rumah liar) di jalan lintas Marina itu. Tetapi ditempat ini bakal banyak perumahan dan memang sudah terjadi sekarang dimana ada sekitar 8 perumahan dan sudah banyak deretan ruko di jalan lintas utama ke marina.

Dalam masa pergumulan itu sendiri, beberapa kali timbul niat saya untuk memulai saja membuka sidang baru dan tetap di GPI, namun urung saya lakukan karena setiap saya mau merencanakan memulai, selalu ada selisih paham dengan pak gembala yang membuat saya kecewa dan sakit hati. Padahal saya sudah komitmen bila saya akan membuka sidang maka dua kriteria harus lolos yaitu (1) bukan karena ada sakit hati/selisih faham, dan (2) harus menjaga jarak yang ideal dari sidang asal dan tidak memecah jemaat.  Bisa jadi kriteria saya ini menjadi hal yang aneh bagi banyak orang. Bukankah justru banyak orang memanfaatkan “riak-riak” atau selisih faham, masalah-masalah kecil yang dibesar-besarkan sebagai alasan untuk buka sidang? Mungkin ya, tapi tidak bagi saya. Puji Tuhan, dengan jujur saya katakan bahwa saya tidak pernah lama-lama menyimpan sakit hati kepada pak gembala, puji Tuhan, Tuhan karuniakan ini pada saya. Namun justru beberapa kali sakit hati itu menjadi sinyal bagi saya untuk tidak memulai membuka sidang.

Memasuki tahun ke lima sebagai sintua yaitu tahun 2006, visi ini semakin mantap. Dan antara saya dengan pak gembala pun sudah semakin bisa saling memahami, sejalan, seirama bahkan saling mendukung. Walaupun terkadang masih ada riak-riak kecil tetapi bukan lagi sesuatu yang perlu dipermasalahkan. Tuhan menyadarkan saya bahwa pengalaman yang saya alami dalam pelayanan ini ibarat besi menajamkan besi. Saya merasa bahwa Tuhan telah memakai pak gembala untuk menajamkan saya dan pada saat yang sama saya dipakai oleh Tuhan untuk menajamkan pak gembala.

Namun meskipun sudah mantap visi dan kami sudah bisa saling memahami, saya tidak langsung buka sidang karena saya belum yakin benar apakah akan tetap di GPI atau tidak. Namun kemudian saya berpikir adalah baik bila saya terlebih dahulu mempersiapkan/membekali diri dengan ilmu teologi sebelum terjun ke penggembalaan, terlepas apakah nanti saya tetap di GPI atau tidak. Maka tahun 2009 saya melanjutkan Diploma 2 tahun missiology saya ke jenjang S1 Teologi dan puji Tuhan telah selesai pada bulan Juni 2012.

Sungguh, bukan perjuangan yang mudah. Selama 3 tahun lebih melanjut ke S1,  selama 2 tahun lebih saya harus berangkat kerja jam 5.50 pagi, setelah itu lanjut ke kampus dan baru jam 10.30 malam saya tiba di rumah. Diantara banyaknya tugas kuliah yang menyita waktu, tenaga dan pikiran, saya terus berusaha untuk tidak ketinggalan dalam pelayanan. Saya harus mengorbankan banyak hal termasuk kurangnya waktu bersama-sama dengan isteri dan anak-anak. Puji Tuhan, saya bisa lega ketika sudah di wisuda.

Antara Visi dan Cita-cita

Seperti dalam testimony saya sebelumnya bahwa saya tidak pernah berpikir apalagi bercita-cita untuk menjadi hamba Tuhan. Cita-cita saya hanya satu yaitu menjadi orang kaya, karena dilatarbelakangi kehidupan keluarga yang susah (miskin). Tetapi kemudian berbalik dan meninggalkan cita-cita itu setelah mendapat visi dari Tuhan.

Sebenarnya saya berpeluang menjadi “orang kaya” bila saya lebih memfokuskan diri kepada pekerjaan. Dengan pengalaman kurang lebih 10 tahun di perusahaan multinational ternama bidang oil and gas, dan terlibat di commissioning dept. pada beberapa proyek asing, punya banyak kenalan orang asing yang bekerja di proyek fabrikasi platform (anjungan minyak dan gas) dan pernah mengikuti proyek pemasangan di Thailand (3 proyek), Myanmar, Vietnam dan mengikuti training keselamatan kerja di Malaysia, dan kemampuan berkomunikasi bahasa Inggris yang lumayan, maka saya bisa saja mengikuti jejak teman-teman saya untuk mengambil sertifikasi inspektor.

Untuk menjadi “orang kaya” seharusnya saya kuliah di bidang teknik dan menjadi Sarjana Teknik untuk mendukung pengalaman kerja saya di proyek-proyek asing. Paling tidak saya sekolah inspektor. Untuk mengikuti pelatihan inspektor dan sertifikasi hanya dibutuhkan 3 atau 6 bulan dengan biaya antara 15 jt sampai 30 jt. Namun konsekwensinya adalah akan sering kerja hari minggu, sering ke luar negeri dan bekerja di offshore (lautan lepas).

Beberapa teman saya satu perusahaan dulu telah melakukannya dan ketika mereka kerja untuk client mereka mendapat gaji dollar yang kalau di konversi sekitar 30-an juta/bulan, bahkan ada yang sampai 50 jt-an/bulan. Bila mereka dapat satu proyek saja (2-3 tahun) maka uangnya tentu sudah banyak. Padahal secara kemampuan bahasa Inggris saya tidak kalah dengan mereka bahkan ada diantaranya kemampuan bahasa Inggrisnya masih dibawah saya. Tak heran bila sekarang mereka sudah pada punya rumah dan mobil bagus bahkan ada yang punya beberapa mobil. Sedangkan saya, puji Tuhan sudah ada rumah yang diatas RSS tapi tidak punya mobil, hanya motor tua. :)

Saya meninggalkan kesempatan yang sesuai dengan cita-cita dan memutuskan melanjutkan kuliah D2 Missiologi ke S1 Teologia yang harus saya jalani tiga tahun lebih demi visi yang Tuhan taruh di hati saya.

Pra Pendirian GPI Sidang Trans Marina

Daerah Marina dan sekitarnya adalah daerah yang sangat luas. Salah satu jalan yang dibuat sekitar 8-9 tahun yang lalu untuk memperpendek/mempercapat jarak tempuh dari Batu Aji ke Marina yaitu mulai dari yang disebut Simpang Base Camp menuju Marina dan tembus ke Tanjung Uncang. Sekitar tujuh tahun yang lalu ketika saya melewati jalan ini, saya melihat ada peluang besar untuk merintis pelayanan disini. Memang waktu itu hanya ada beberapa ruli (rumah liar – istilah rumah sederhana dari papan/triplek dilahan garapan/tidak resmi) namun tempat ini akan dibangun komplek perumahan.

Sekarang ini (Sept 2012) sudah ada sekitar 8 komplek perumahan di daerah ini, sedangkan di jalan lintas menuju Marina itu sendiri sudah ada beberapa komplek ruko. Di daerah ini dalam pengamatan saya ada 4 Gereja yaitu GBI, GAPPI (baru buka), Sidang Jemaat Kristus dan satu lagi saya lupa namanya.

Kurang lebih 1.5 tahun yang lalu yaitu setelah 5.5 tahun berlalu ketika saya menggumulkan daerah ini, saya berencana memulai perintisan sidang GPI. Karena sulitnya mencari lahan garapan untuk dijadikan gereja maka saya menjajaki ruko untuk tempat ibadah. Namun sayang sekali, pemilik ruko tidak mau rukonya dijadikan gereja karena di komplek ruko itulah Sidang Jemaat Kristus (pemilik ruko) dan GBI berada. Sementara jumlah ruko waktu itu belum sebanyak sekarang di daerah itu. Padahal waktu itu saya sudah keluar dari perusahaan untuk memulai usaha sekaligus perintisan.

Akhirnya saya menyewa ruko di daerah RSS untuk usaha sedangkan perintisan saya tunda karena tidak mungkin rasanya membuka sidang di RSS karena di jarak 1 km sudah ada GPI. Lagi pun tempat ini mudah dijangkau karena sudah banyak sarana transportasi sehingga mempermudah akses jemaat GPI sidang Tembesi (sidang asal) dan Sidang Batu Aji untuk datang. Hal ini menjadi dilema bagi saya karena saya tidak mau ada kesan menyerobot jemaat yang sudah menetap di sidang-sidang. Karena itu saya tidak jadi buka sidang.

Sepanjang satu setengah tahun lebih merintis usaha, ternyata usaha pun tidak begitu menggembirakan. Setelah satu tahun masa kontrak ruko habis, usaha saya pindahkan ke rumah. Semasa ini pula timbul pikiran saya untuk pindah ke kampung sotul (Tebing Tinggi) untuk melayani di Sidang Kampung Sotul yaitu sidang yang dirintis oleh mendiang kakek saya. Kebetulan juga saya pernah menggumulkan untuk melakukan sesuatu di sidang ini yang menurut saya sudah sangat memprihatinkan keadaannya. Karena itu pernah terpikir oleh saya untuk melakukan sesuatu di sidang itu untuk waktu selama tiga-lima tahun, kemudian saya akan cari tempat lain setelah itu.

Beberapa kali saya coba mendiskusikan dengan isteri supaya kami pindah ke Tebing dan melayani di sidang kampung sotul, tetapi dia tidak bersedia. Memang terlalu banyak yang menjadi pertimbangan selain karena anak harus pindah sekolah di tengah semester, saya pun masih kuliah waktu itu. Namun setelah selesai kuliah di bulan Juni 2012, saya kembali membicarakannya dengan isteri, tetapi dia tidak mau karena kwatir saya tidak ada kerja disana sedangkan untuk merintis usaha pun bukan perkara mudah.

Setelah saya bergumul dengan semua yang saya alami, maka terpikirlah kemudian untuk kembali ke rencana perintisan yang tertunda 1.5 tahun yang lalu, karena untuk persiapan perintisan itulah sebenarnya saya kuliah teologi. Kalau memang tidak jadi ke kampung sotul maka saya akan mulai lagi menjajaki perintisan. Itulah yang ada dalam pikiran saya.

Kira-kira satu setengah bulan sebelum sinode tahunan GPI 2012, ada dua pergumulan penting yaitu pindah ke Tebing atau Merintis sidang GPI di Batam. Lalu saya mencoba mencari sponsor dari rekan di Singapore, bila mungkin mereka bisa mensponsori saya sebagai misionaris lokal. Kalau ada sponsorship, maka isteri saya mau untuk pindah ke Tebing dan melayani di sidang Kampung Sotul.
Lalu pergumulan itu saya bagikan melalui kesaksian di ibadah. Saya menyaksikan kepada HT dan jemaat supaya di doakan apa yang saya gumulkan, yaitu bila Tuhan berkehendak saya ke Tebing maka sponsorship akan berhasil, kalau tidak berarti ada rencana Tuhan yang lebih baik yang akan saya kerjakan sesuai visi yang saya terima dulu. Itulah kesaksian saya.
Dua minggu sebelum sinode saya mendapat jawaban dari ministry di singapore bahwa mereka tidak ada alokasi dana untuk keperluan seperti yang saya minta. Oleh karena itu saya gumulkan lagi untuk kembali ke rencana perintisan. Lalu saya mencoba menghubungi lagi si pemilik ruko yang dulu (1.5 tahun lalu) tidak bersedia memberikan rukonya utk dijadikan gereja. Puji Tuhan, ternyata sekarang mereka bersedia menyewakan rukonya utk gereja sekaligus tempat usaha. Bahkan yang membuat saya semakin yakin dengan rencana perintisan ini adalah bahwa pemilik ruko ini juga memberikan harga sewa setengah harga. Bila harga sewa ruko ditempat itu Rp. 30 juta untuk 1 tahun, tetapi kepada saya diberikan Rp. 30 jt untuk dua tahun. Itu pun kata pemilik ruko bisa saya cicil beberapa kali.

Mendapat Pertentangan

Ketika saya sudah memastikan akan memulai perintisan ini, ternyata tidak berjalan mulus. Istri saya yang tadinya tidak mau pulang ke Tebing dan melayani di kampung sotul, sekarang malah terbalik. Dia bilang lebih baik pindah ke Tebing daripada harus sewa ruko lagi. Dia sempat stress karena memang secara keuangan kami tidak punya lagi untuk dipakai memulai perintisan. Sedangkan dua kapling yang kami miliki juga sudah mulai saya bangun karena terancam akan diambil (ditimpa) oleh pemerintah bila tidak dibangun.
Sempat terjadi ketegangan antara saya dengan istri. Dan dia mencoba menggalang dukungan dari adik-adik saya supaya mereka bicara kepada saya agar tidak meneruskan rencana perintisan ini dan lebih baik pindah saja ke Tebing. Saya sempat merasa sendiri dalam rencana ini. Namun setelah saya kasih penjelasan kepada adik-adik mereka tidak bisa bilang apa-apa. Saya katakan bahwa ini bukan main-main. Rencana ini bukan tanpa proses juga bukan tanpa digumulkan. Rencana perintisan ini muncul kembali setelah beberapa tahap, mulai dari istri yang tidak mau pindah dan upaya sponsorship dari singapore. Semua ini didoakan dan Tuhan telah menjawab dengan tidak adanya sponsor dan juga dengan kesediaan pemilik roku agar roku itu dijadikan gereja dengan harga yang murah pula.
Sungguh hati saya semakin menggelora untuk memulai perintisan ini bahkan saya siap untuk menjual rumah saya untuk memulainya, tetapi istri malah menjadi penghalang. Jujur saya pun sempat stress menghadapi keadaan ini, ingin rasanya mengalah saja dan mengikuti kemauan istri, namun hati kecil saya berontak. Timbul rasa takut kalau saya pulang kampung itu malah melawan kehendak Tuhan, sebab menurut saya rencana ini sudah melewati proses dan sudah disaksikan dan didoakan. Dan Tuhan sudah menjawab melaui tahapan proses yang saya sebutkan diatas.
Dalam suatu siang, ketika saya pulang ke rumah dari kavling untuk makan siang, hati saya diliputi kepiluan. Waktu itu saya makan sendiri saja di meja sedangkan istri saya golek-golek di depan TV. Rasanya ingin menangis saja waktu itu. Lalu saya bilang kepada Tuhan: “Tuhan, mengapa Engkau kuatkan visi ini kepada saya? Lihatlah, istri saya tidak setuju akan rencanan ini” Setelah saya mengatakan itu dalam hati kepada Tuhan, tiba-tiba seperti ada bisikan hati yang kuat yang mengatakan kepada saya “Bukankah engkau akan menggembalakan jemaat? Bukankah engkau akan memenangkan jiwa-jiwa? Ini tantangan awal buat kamu, bagaimana kamu memenangkan istrimu yaitu orang yang terdekat denganmu” Setelah itu spontan keluar dari mulut saya, “haleluya..haleluya” dan mata saya berkaca-kaca.
Setelah saya makan, saya mendekati isteri saya sembari meyakinkan diri bahwa Tuhan akan menolong saya. Lalu saya ajak isteri bicara baik-baik dan singkat cerita, puji Tuhan dia setuju dan mendukung rencana perintisan ini. Saya bersyukur kepada Tuhan.
Setelah kami sepakat, maka saya kumpulkan adek-adek saya yang ada di Batam (3 KK) untuk makan bersama dan menyampaikan bahwa kami (saya dan isteri) sudah sepakat, sekaligus membicarakan langkah selanjutnya. Mereka mengatakan kesiapan mereka untuk mendukung saya dalam perintisan ini. Dan mereka akan menjadi jemaat mula-mula dan sekaligus pelayan. Seorang adek saya adalah pemain musik dan satu lagi (ipar) adalah seorang sintua yang baru diangkat.
Selesai dengan keluarga, saya juga harus menghadapi gembala sidang. Beliau sempat tidak setuju dengan alasan yang kurang logis yaitu karena ada 3 KK jemaat di daerah marina itu. Sedangkan kami ada 110 KK ditambah kurang lebih 100-an muda/i. Bila memang benar-benar mau mendukung, tentu bila tiga KK diarahkan ke sidang yang baru sangat logis. Apalagi bila mengingat dan menimbang bahwa saya sudah ikut melayani di GPI sidang Tembesi sejak awal pembukaan sidang ini. Artinya perkembangan GPI sidang Tembesi ini sampai sekarang, tidak terlepas dari pertisipasi saya juga bersama hamba Tuhan yang lain.
Namun setelah saya sampaikan rencana ini secara resmi kepada forum hamba Tuhan GPI sidang Tembesi, dan kami adakan rapat khusus (9 sept 2012), puji Tuhan semua berjalan mulus, karena memang tidak ada alasan untuk menghalangi rencana ini. Secara jarak, saya cari tempat yang jauh ( 4 km lebih dari GPI Sidang Tembesi) dan tempat itu tidak mudah di jangkau bagi jemaat yang tidak punya kendaraan pribadi. Secara pelayanan, saya tidak ada bermasalah dengan HT dan jemaat. Selama saya melayani saya sudah berusaha semaksimal mungkin, dan semua HT dan jemaat tahu hal itu. Pak gembala sidang pun akhirnya bisa memahami semuanya.
Dalam perbincangan saya dengan seorang rekan HT dan juga dengan adek-adek saya, bahwa kemungkinan alasan pak gembala tidak setuju bukan murni karena 3 KK jemaat itu, tetapi lebih karena tidak rela harus saya tinggalkan mengingat kinerja dan hubungan yang sangat baik selama ini dalam pelayanan. Saya pun bia memahaminya namun visi Tuhan harus tetap dijalankan.
Puji Tuhan rapat khusus HT mengenai rencana saya ini berjalan mulus dan semua HT sudah jelas mengetahui keberadaanya. Memang GPI sidang Tembesi tidak membantu saya dalam hal dana dengan alasan bahwa pembukaan sidang ini bukan program sidang melainkan program pribadi, namun sebagai ucapan terima kasih gereja atas pelayanan saya selama hampir 12 tahun, gereja akan memberikan 5 Juta rupiah. Dan saya akan tetap melayani di GPI Tembesi sampai pada hari peresmian sekaligus ibadah perdana di sidang yang baru.

Berdirinya GPI Sidang Trans Marina

Setelah tidak ada masalah lagi di internal keluarga dan Hamba Tuhan dalam rencana pendirian GPI Sidang Trans Marina, dan pak gembala atas nama GPI Sidang Tembesi akan mengeluarkan dari kas gereja sebesar 5 jt rupiah sebagai ucapan terima kasih gereja atas pelayanan saya selama hampir 12 tahun, maka saya pun mengucapkan terima kasih kepada semua hamba Tuhan.

Sejujurnya saya bukan orang berada. Keadaan keuangan/ekonomi kami pun sedang tidak baik. Pada saat yang sama dua saya kavling wajib dibangun walaupun tidak harus selesai, paling tidak sudah ada pembangunan terjadi di kavling itu. Usaha saya tidak berjalan seperti yang diharapkan. Makanya ada beberapa orang yang meragukan rencana perintisan ini. Ada juga yang heran darimana uang pak St itu? (ini menurut pengakuan orangnya sendiri ke saya dalam suatu pertemuan). Beberapa rekan HT dan keluarga pun sempat mempertanyakan, bagaimana nanti setelah masa kontrak dua tahun selesai. Apakah masih tetap dikasih murah? Kalau tidak bagaimana? Saya menjawab dengan santai bahwa itu biarlah Tuhan yang mengatur. Pergumulan saya hanya satu yaitu supaya ruko itu bisa saya beli sebelum dua tahun masa kontrak selesai. Sebab tidak ada yang mustahil jika Tuhan campur tangan.

Untuk memulai perintisan ini saya sudah rela bila harus menjual rumah saya. Entah orang bilang saya sinting atau gila saya tidak perduli, karena saya sudah mantap dengan visi ini.  Namun puji Tuhan setelah rapat hamba Tuhan yang kami adakan berjalan  mulus, dan saya sudah menetapkan bulan oktober akan mulai (meskipun waktu itu belum ada kepastian antara minggu ke dua atau ketiga untuk pelaksanan ibadah perdana sekaligus peresmian), saya meng-sms salah seorang teman saya dari ministry di singapore untuk meminta dukungan doa agar perintisan dan acara peresmian berjalan dengan baik.

Puji Tuhan jawaban sms-nya mengatakan bahwa dia akan membantu saya beberapa dollar secara bertahap yang kalau dikoversi ke rupiah adalah sebesar 25 Jt-an. Ketika menerima sms ini, spontan saya teriak “Haleluya”.  Tuhan tahu saya tidak punya banyak dana dan Tuhan tolong lewat teman seiman.  Kalau dijumlahkan 5 Juta dari Tembesi dan 25 Juta dari teman saya ini, maka tuntaslah uang sewa ruko untuk dua tahun sebesar Rp. 30 juta. Dana yang saya pinjam dari adik saya untuk mendahului keperluan selama ini dapat saya kembalikan, dan rumah saya kemudian kami sepakati untuk tidak jadi dijual, melainkan akan diagunkan saja untuk kebutuhan penambahan modal usaha.

Memang masih banyak dana yang perlu utk beberapa peralatan yang dibutuhkan selain pembuatan altar, mencat ruko, pembuatan vodium, pembatas ruangan dan menambah instalasi listrik yang sudah saya dikerjakan, tapi saya yakin Tuhan akan cukupkan. Dan saya terus belajar bergantung/percaya kepada Tuhan. Isteri saya memberi masukan agar saya meminta tolong orang-orang dekat saya namun saya katakan kepada isteri supaya tidak berharap kepada manusia meski keluarga sekalipun. Biarlah Tuhan yang menggerakkan hati orang-orang untuk mendukung pelayanan ini. Percaya saja kepada Tuhan.

Akhirnya pada bagian akhir testimony ini, saya memohon dukungan doa dari semua member, supaya acara peresmian sekaligus ibadah perdana pada tanggal 21 oktober 2012 berjalan dengan baik dan lancar dan Tuhan mencukupkan segala yang diperlukan. Doakan juga supaya nanti sidang ini bisa berkembang, menjadi contoh dan memberkati dan membawa sebanyak-banyak orang kepada Tuhan sesuai dengan motto, visi dan misi sidang ini :

Motto : Kemampuan kami adalah pekeraan Allah (2 Kor. 3:5)

Visi : Menjadi gereja yang dewasa dan misioner

Misi :   1. Meningkatkan spiritualitas yang berpusat pada Kristus.

            2. Meningkatkan persekutuan dan persaudaraan sebagai tubuh Kristus

            3. Mengambil peran dalam misi kabar baik.

Kemuliaan hanya bagi Tuhan.  Haleluya.

St.L.Hutabalian, S.Th.

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | September 17, 2012

Sejarah Gereja Pentakosta Indonesia Pulau Batam

Gereja Pentakosta Indonesia mulai berdiri di pulau Batam pada tahun 1987. Perintisan pelayanan dimulai oleh Pdt. DJ. Nadeak, S.Th., yang kala itu belum menjadi seorang pendeta.   Kerinduan hatinya untuk mengabarkan Injil ditunjukkan dengan penuh semangat menjangkau jiwa-jiwa .  Pdt. Dj. Nadeak, S.Th bersama istri dan beberapa orang yang telah yang telah dijangkau kemudian mengadakan ibadah perdana pada tanggal 01 Februari 1987 di rumah Keluarga bapak Sirai/Br Gultom yang berlokasi di perkampungan teluk Jodoh.

Satu bulan setelah ibadah perdana tersebut, tempat ibadah yang menjadi pos pelayanan itu kemudian dipindahkan ke rumah Pdt. Dj. Nadeak, S.Th di blok VI Nagoya. Tindakan ini diambil untuk lebih memberi kenyamanan dan lebih mudah dijangkau, karena tempat ibadah sebelumnya masih kumuh dan becek.

Pada perjalanan pelayanan ini,  semakin banyak jemaat yang bertambah baik itu jemaat yang dijangkau lewat penginjilan maupun jemaat Gereja Pentakosta Indonesia dari daerah lain yang merantau ke Batam.  Jemaat sangat antusias dan bersemangat meskipun tempat ibadah jauh dari rumah masing-masing dan sarana transportasi yang masih minim pada masa itu.

Untuk lebih memberikan kepastian hukum bagi pelayanan yang baru ini, pada bulan April 1987 Pengurus Pusat Gereja Pentakosta Indonesia yang berkedudukan di Pematang Siantar memberikan Surat Keterangan (SK)  Pengangkatan kepada Pdt. DJ. Nadeak, S.Th (waktu itu belum menjadi pendeta) sebagai Pimpinan Sidang (Gembala) Gereja Pentakosta Indonesia Pulau Batam.

Pada bulan Februari 1991, dengan mengingat dan mempertimbangkan bahwa organisasi ini telah terbentuk menjadi sebuah wadah gereja yang resmi, maka Pdt. Dj. Nadeak, S.Th. bersama dengan Pdt. AC. Sihombing (Alm) mendaftarkan gereja ini ke Kanwil Departemen Agama Provinsi Riau di Pekan Baru, Pada masa ini tempat ibadah telah dipindahkan dari  rumah Pdt. DJ. Nadeak, S.Th. ke bangunan baru yang terbuat dari papan di tanah garapan di deaerah Batu Batam.  Kemudian pada tahun 1999 gereja ini pindah ke tempat baru yaitu lahan yang resmi di Sagulung dan menempati bangunan yang permanen sampai sekarang.  Gereja ini kemudian disebut Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Sagulung, yang berarti Gereja Pentakosta Indonesia Jemaat Sagulung.

Dengan semakin bertambahnya jemaat seiring bertambahnya penduduk pulau Batam dari tahun ke tahun yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti bertambah banyak perusahaan baru di Batam, maka Gereja Pentakosta Indonesia Pulau Batam telah berkembang dan melebarkan sayap pelayanan diberbagai tempat.

Bulan Oktober 1992, pos pelayanan di  Batu Aji dimulai dan kemudian menjadi Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Batu Aji Lama dan kepemimpinan diserahkan kepada Pdt. B.F. Sihombing, yang sebelumnya adalah Guru Injil  dibawah kepemimpinan Pdt. DJ. Nadeak, S.Th. Pada tahun 1996 kemudian berdiri Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Batu Aji Baru yang kepemimpinannya diserahkan kepada Pdt. S. Situmorang.  Dari ketiga sidang-sidang ini kemudian melebarkan sayap di berbagai tempat antara lain: GPI Sidang Bengkong, GPI Sidang Tiban, GPI Sidang Tanjung Uncang, GPI Sidang Punggur, GPI Sidang Bumi Agung, GPI Sidang Sei Binti, GPI Sidang Pasir Indah, GPI Sidang Simpang Dam, dan beberapa sidang lainnya.

Dan pada tahun 2001 Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Batu Aji Lama melebarkan sayap pelayanan dengan membuka Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Tembesi yang dipimpin oleh Pdt. P. Pasaribu, S.Th.

 

Sejarah Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Tembesi

            Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Tembesi adalah hasil pengembangan pelayanan Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Batu Aji Lama. Dengan bertambah banyaknya jemaat di Sidang Batu Aji Lama yang tinggal di daerah Tembesi, dan oleh karena masalah tranportasi dan keadaan ekonomi jemaat waktu itu maka dimulailah pos pelayanan di Tembesi supaya dekat kepada jemaat disekitar. Pembukaan pos pelayanan ini sekaligus untuk bertujuan untuk menjangkau jiwa-jiwa baru.

Ibadah perdana diadakan pada tanggal 11 Februari 2001 sore hari yang dihadiri oleh tiga-empat keluarga ditambah sekitar sepuluh orang pemuda dan pemudi yang sudah berkomitmen akan beribadah di pos pelayanan ini, dan juga diikuti oleh beberapa orang hamba Tuhan dan jemaat dari Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Batu Aji Lama. Kira-kira satu bulan lamanya ibadah di pos pelayanan ini diadakan sore hari yang dilayani oleh hamba-hamba Tuhan dari Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Batu Aji Lama. Setelah itu ibadah diadakan pada pagi hari dan Pdt. P. Pasaribu, S.Th. (dulu masih Guru Injil) ditempatkan untuk memimpin pos pelayanan ini, dan pos pelayanan ini diresmikan menjadi Sidang yaitu Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Tembesi.

Untuk membantu pelayanan di sidang baru ini, pengurus Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Batu Aji Lama juga menempatkan dua orang hamba Tuhan yaitu Sintua M. Situmorang dan Sintua T. Manurung.

Sidang ini berkembang pesat seiring berkembangnya kota Batam dan semakin banyaknya penduduk. Jemaat Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Tembesi terus bertambah. Oleh karena itu pada bulan Juni 2001 atas pertimbangan kebutuhan pelayan maka diangkatlah seorang jemaat yaitu bapak L. Hutabalian menjadi sintua dan dua tahun kemudian yaitu tahun 2003, bapak B. Sitompul diangkat menjadi Sintua dan Sintua M. Situmorang diangkat menjadi Guru Injil.

Perkembangan pelayanan Sidang Tembesi ini mengharuskan bangunan awal yang hanya 8 m X 10 m diperpanjang sampai tiga kali selama kurang waktu 7 tahun menjadi 8 m X 16 m. Sejak itu tidak ada lagi perombakan bangunan gereja karena lahan yang tidak memungkinkan. Oleh karena itulah pada hari-hari besar ketika hampir semua jemaat hadir, sebagian jemaat ada yang berdiri.

Puji syukur kepada Tuhan oleh anugerah-Nya Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Tembesi sudah mendapatkan lahan menetap dari Otorita Batam dan sedang dibangun gedung baru yang permanen yang memasuki tahap ke tiga yaitu pengatapan. Luas bangunan ini 14 m X 28 m diatas lahan 30 m X 50 m.

Jumlah jemaat pada tahun 2012 terdiri dari 115 KK, pemuda dan pemudi yang terdaftar 60 orang, sekolah minggu kurang lebih 50 orang, ditambah simpatisan. Setiap ibadah raya minggu ada sekitar 150 orang jemaat yang hadir tidak termasuk anak sekolah minggu.

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | September 14, 2012

MENEMPATKAN DIRI DENGAN BAIK

Yosua 14:1-5 “Inilah semuanya yang diterima oleh orang Israel sebagai milik pusakadi tanah Kanaan, yang telah dibagikankepada orang Israeloleh imam Eleazar,dan Yosua bin Nun dan para kepala kaum keluarga dari suku-suku mereka,dengan mengundimilik pusaka itu, seperti yang diperintahkan TUHAN dengan perantaraan Musa mengenai suku-sukuyang sembilan setengah itu. Sebab kepada suku-suku yang dua setengah lagi telah diberikan Musa milik pusaka di seberang sungai Yordan,tetapi kepada orang Lewi tidak diberikannya milik pusaka di tengah-tengah mereka.Sebab bani Yusuf merupakan dua suku, Manasye dan Efraim.Maka kepada orang Lewi tidak diberikan bagiannya di negeri itu, selain dari kota-kota untuk didiami, dengan tanah penggembalaannya untuk ternak dan hewanmereka. Seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, demikianlah diperbuat oleh orang Israel dan dibagi-bagi merekalah negeri itu.”

Tuhan membagi-bagikan tanah Kanaan kepada orang Israel melalui Imam Eleazar, Yosua dan Kepala-kepada suku Israel. Orang Kanaan adalah orang fasik yang tidak mengenal Tuhan. Tuhan mengalihkan berkat orang Kanaan untuk menjadi milik kepunyaan orang Israel. Demikian juga berkat orang fasik dapat dialihkan Tuhan kepada orang-orang pilihan Tuhan.

Sebahagian besar orang yang masuk ke tanah Kanaan adalah orang-orang yang lahir di tengah  jalan dalam perjalanan orang Israel dari tanah Mesir menuju Kanaan. Dari sekitar 3 Juta orang yang berangkat dari Mesir hanya 2 orang yang sampai ke Kanaan yaitu Yosua dan Kaleb.  Masalah terbesar pada orang Israel adalah karena tidak percaya kepada Tuhan, mereka tegar tengkuk.   Apa yang terjadi pada bangsa Israel yaitu bahwa banyaknya jiwa belum tentu banyak pula yang sampai ke “Tanah Perjanjian” demikian juga dengan banyaknya jemaat dalam suatu penggembalaan  belum tentu banyak pula yang sampai pada tujuan yang benar. Ini perlu jadi perenungan kita.

Dari ayat 1 ini kita bisa melihat bahwa penulis kitab Yosua ini sangat mengerti bagaimana menempatkan orang-orang secara pantas dalam tulisannya. Dalam penulisan itu, urutan orang-orang yang ikut membagi tanah Kanaan itu pertama adalah Imam (Pemimpin agama/rohani), disusul oleh Yosua (Pemimpin Bangsa/Negara) dan kemudian para kepala-kepala suku.

Secara tradisi Yahudi, dipercaya bahwa penulis kitab Yosua adalah Yosua sendiri. Ini artinya Yosua menyadari benar bila urusan kerohanian menjadi hal yang paling utama dibandingkan dengan urusan kenegaraan. Meskipun dia adalah pemimpin bangsa/negara pada saat itu, yang memiliki kuasa yang sangat besar atas bangsa itu, namun dia tunduk pada Tuhan. Yosua menempatkan diri dengan baik. Dia bisa saja menulis namanya terlebih dahulu supaya menimbulkan kesan lebih penting/terhormat tetapi dia tidak melakukannya

Kita pun harus berusaha menempatkan diri dengan sebaik-baiknya, sebagai anak-anak Tuhan, pelayan-pelayan sebagai karyawan. Sebagai pelayan-pelayan harus menempatkan diri sebagai pelayan yang bertanggung jawab, sebagai pekerja pun bekerja dengan penuh tanggung jawab. Memang tidak selalu niat baik atau pekerjaan yang penuh tanggung jawab atau dedikasi akan diresponi oleh orang lain dengan baik pula, namun we need to keep doing good (kita perlu tetap melakukan yang baik) karena demikianlah hakekat anak-anak Tuhan. Tetaplah tempatkan dirimu dengan baik, selebihnya biarlah itu urusan Tuhan.

Dari ayat 2-5 kita belajar bahwa dalam pembagian tanah ini, Imam, Yosua dan kepala-kepala suku melakukan seperti yang diperintahkan Allah melalui Musa. Artinya mereka tunduk kepada perintah Tuhan. Tuhan membagi-bagi tanah Kanaan untuk mereka kerjakan dan menjadi berkat bagi bangsa itu. Kita pun sebagi anak-anak Tuhan, ada bagian-bagian kita yang mau kita kerjakan. Oleh karena itu, kita perlu lebih sungguh-sungguh mencari kehendak Tuhan dalam kehidupan kita.

Pada pembagian ini, Imam  Eleazar, Yosua dan kepala-kepala suku mengikuti petunjuk Tuhan yang disampaikan lewat Musa dalam Bilangan 26:52-56. Kalau kita baca firman Tuhan ini maka nyata keadilan Tuhan bagi bangsa itu.  Luas tanah yang dibagikan akan disesuaikan dengan banyaknya umat atau keturunan suku-suku Israel.

Imam Eleazer, Yosua dan kepala-kepala suku menempat diri dengan baik sebagaimana seharusnya. Mereka bertindak adil mengikuti keadilan Tuhan atas pembagian ini.  Mereka bisa saja bersekongkol dan mengkorupsi tanah itu seperti kebiasaan sebagian pejabat Indonesia zaman sekarang.  Mereka bisa saja mengambil bagian yang tidak pantas bagi mereka dan memberikan bagian yang tidak pantas bagi umat itu, namun hal itu tidak mereka lakukan karena mereka memiliki hati yang murni dan takut akan Tuhan. Orang yang takut akan Tuhan akan tahu menempatkan diri dengan baik, orang yang takut tuhan akan bertindak adil dalam hidupnya.

14-09-12

LH

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | September 8, 2012

LOVE, SEX AND DATING

Tidak sedikit orang Kristen khususnya di negara-negara asia termasuk Indonesia yang menganggap tabu untuk membicarakan masalah Cinta, Seks dan Kencan, terutama mengenai seks, yang dipengaruhi budaya atau adat ketimuran.  Keterbukaan mengenai seks memang semakin berkembang seturut dengan meningkatnya pemahaman akan pentingnya membicarakan ini untuk mengantisipasi kejadian buruk bagi kalangan remaja dan pemuda di tengah arus globalisasi di segala bidang terutama di bidang tekhnologi dan informasi yang berkembang dan mudah di akses yang dapat memberikan informasi-informasi negatif dan tidak terarah sehingga menyesatkan kalangan remaja dan pemuda.
LOVE (CINTA)

 

Menurut wikipedia, Cinta adalah sebuah  emosi dari kasih sayang yang kuat. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.

Penggunaan kata cinta ini bisa juga merupakan wujud perasaan terhadap keluarga, teman-teman, kepada seseorang dalam arti romantis/asmara, keinginan nafsu, kasih sayang, rasa nasionalism dan patriotisme, dll. Sedangkan kata LOVE (bahasa Inggris) yang mempengaruhi makna cinta dalam masyarakat Indonesia, dapat juga merupakan rasa suka terhadap sesuatu (makanan) atau rasa senang untuk melakukan sesuatu tindakan.

Di Indonesia kita mengenal beberapa istilah yang menyangkut perasaan simpati yaitu Cinta, Sayang, Suka, Kasih yang tujuan penempatannya sering sulit dibedakan. Sedangkan dalam istilah Yunani perasaan simpati ini ada yang disebut:

AGAPE, yaitu kasih yang sejati. Di dalamnya terkandung, sabar; murah hati; tidak cemburu; tidak sombong; melakukan hal-hal yang sopan; tidak dendam; kejujuran, perhatian, mengerti, pahami dan memahami orang lain; kesetiaan; percaya; komitmen pada ucapan dan janji.  Agapa disebut juga the greatest love (kasih yang agung) dan Unconditional Love (Kasih yang tidak bersyarat).

STORGE, digunakan dalam hubungan kekerabatan keluarga, marga, ikatan darah.

PHILIA, biasanya dipakai dalam hubungan sosial dan persahabatan sehari-hari; diucapkan antar sesama sahabat atau teman karib. Tapi, di dalamnya juga terkandung saling memperhatikan, keterbukaan, perhatian dan setia kawan; toleransi serta solidaritas.

EROS, biasanya difungsikan dalam hubungan dengan ketertarikan karena daya tarik fisik kepada lawan jenis. Eros lebih cenderung kepada romantisme/asmara dan hawa nafsu.

 

Cinta Dalam Perspektif Umum

 

Mungkin saudara pernah mengalami, ketika saudara bertemu dengan seseorang yang berlawan jenis. Karena dia cantik secara fisik dan berkepribadian yang sesuai dengan selera saudara lalu saudara merasa telah jatuh cinta kepadanya. Ketika saudara bertemu dengan dia, jantungmu berdetak cepat dan saudara rada sulit bicara seperti keselek makanan di leher, atau ketika saudara kesepian dan saudara merindukan dia ada disamping saudara, lalu saudara menyebut itu cinta.

Banyak orang mengatakan bahwa jatuh cinta itu sejuta rasa. Orang yang jatuh cinta memiliki ciri-ciri:

  1. Ada keinginan untuk mengenal seseorang
  2. Suka curi-curi pandang
  3. Jantung berdetak lebih kencang ketika seseorang itu melihat kamu.
  4. Salah tingkah
  5. Bisa jadi suka melamun dan menghayal yang indah-indah tentang dia
  6. Jadi lebih suka berias dan tambil lebih beda dari sebelumnya dan pake minyak wangi
  7. Bolak-balik lihat cermin
  8. Selalu memuji segala hal tentang dia
  9. Pura-pura minjam sesuatu dari dia padahal supaya ada kesempatan bertemu.
  10. Nggak mempedulikan kekurangan dia.
  11. DLL

Sebenarnya semua itu timbul adalah karena ada rasa suka atau ketertarikan dalam diri kita, dan hal itu diartikan sebagai cinta.

Menurut Julianto Simanjuntak seorang pakar konseling, banyak orang menikah dengan alasan saling mencintai, namun mereka memahami cinta sebagai psychological phenomena. Artinya, hanya karena kebetulan ada perasaan ketertarikan secara seksual misalnya wajah cantik, ganteng atau ketertarikan secara meteri misalnya kekayaan atau kepandaian.

 

Cinta Dalam Perspektif  Alkitab

Di dalam Alkitab terdapat beberapa kata cinta dalam arti ketertarikan “Annon bin Daud jatuh cinta kepada .. (Tamar)” (2 Sam. 13:1), kepatuhan/kehormatan (hukum),  patriotisme, kecenderungan hati (cinta uang, cinta , dustua kejahtan, dll).  Namun cinta dalam arti memberikan diri bagi orang lain mendomonasi makna cinta dalam Alkitab.

Manusia zaman sekarang ini seringkali terobsesi dan terarah ke dirinya sendiri sehingga dia mengira bahwa mencintai seseorang sama artinya dengan menerima sesuatu dari orang itu. Padahal esensi dari cinta adalah “memberi”. Bahwa kita mencintai seseorang bukan karena mengharapkan mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, tetapi karena kita ingin memberikan.

SEKS

Meskipun banyak orang yang menganggapnya tabu, namun seks sebenarnya adalah anugerah Tuhan yang luar biasa bagi umat yang diciptakannya. Seks itu sendiri adalah bahagian dari ciptaan Allah dalam diri manusia yang dijadikan-Nya itu. Melalui dorongan seksual itu orang melakukan hubungan badan dan melahirkan keturunan yang akan memenuhi bumi (Kej. 1:28). Seks bukanlah dosa, tetapi perlakuan manusia dalam hal seksual itu yang berdosa bila dilakukan secara tidak benar.

Seks (Sex) sebenarnya berarti jenis kelamin. Seksual adalah hal yang berkenaan dengan seks (jenis kelamin), berkenaan dengan perkara persetubuhan antara laki-laki dan perempuan. Sedangkan seksualitas adalah ciri, sifat, atau peranan seks, dorongan seks, kehidupan seks. Namun kalau kita menyebut seks dalam materi ini bukan sebatas jenis kelamin tetapi juga hal-hal yang berhubungan dengan seks itu sendiri.

 

Seks Dalam Perspektif  Alkitab

 

Firman Tuhan mengatakan “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka” (Kej 1:27).  Setelah penciptaan dilakukan, Allah melihat bahwa “semuanya itu baik” (Kej 1:12,25). Ketika manusia diciptakan oleh Allah, Tuhan juga menciptakan seks dalam diri manusia itu yaitu alat seks dan keinginan serta kebutuhan akan seks itu sendiri.

Seksualitas manusia yang diciptakan Tuhan adalah bagian dari rencana Allah agar terjadi multiplikasi manusia di bumi (beranakcucu dan bertambah banyak) lewat hubungan intim dalam pernikahan yang kudus seperti diekspresikan dalam Kej 2:24: “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging”.  Ini mengacu pada penyatuan tubuh, jiwa, dan roh yang utuh pasangan yang telah menikah.  Menjadi ‘satu daging’ juga mengambarkan tujuan berhubungan seksual yang bukan hanya untuk memperoleh keturunan (prokreasi) melainkan juga memenuhi kebutuhan emosional untuk mencapai kesatuan (psikologi).

Karena seks itu kudus adanya dalam perspektif Alkitab, yang terwujud dalam hubungan yang kudus pula yaitu melalui pernikahan kudus, maka seks diluar nikah adalah pelanggaran terhadap prinsip Alkitab. Seks diluar nikah termasuk dalam percabulan. Rasul Paulus nyatakan :”Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi diluar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri” (I Kor 6:18).

Selain karena faktor dosa, seks pra-nikah akan menyebabkan pelaku dihantui perasaan bersalah, kemungkin dapat mempengaruhi pikiran  sehingga muncul keinginan untuk mencoba lagi (ketagihan). Secara psikologis dapat terganggu dimana satu sisi si pelaku tidak sejahtera karena perasaan bersalah namun pada sisi yang lain muncul keinginan untuk mencoba lagi.  Hal itu terjadi karena pengalaman pertama melakukan akan meninggalkan kesan yang dalam.

 

DATING (KENCAN)

 

Kencan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah berjanji untuk saling bertemu disuatu tempat dengan waktu yang telah ditetapkan bersama.  Tentu yang bertemu adalah seseorang dengan pacarnya, atau dengan seseorang yang lain yang sedang dalam pendekatan menjadi pacar. Sebelum kita lebih jauh membahas mengenai kencan, mari kita lihat mengenai pacaran.

 

Pacaran

Sebenarnya masalah pacaran tidak ada dalam alkitab.  Bentuk hubungan sebelum menikah (pranikah)  yang dikenal adalah hubungan pertunangan.  Kalau kita meneliti sejarah di masa lampau sebutlah 70 tahun lebih yang lalu dalam konteks ketimuran, masalah pacaran tidak begitu dikenal karena perkawinan biasanya diatur oleh pihak keluarga atau orang tua kedua belah pihak dengan cara menjodohkan.

Meskipun kedua orang yang sudah dijodohkan, mereka tidak leluasa untuk berkencan, bahkan ada juga yang baru pertama sekali bertemu pada saat acara pernikahan segera berlangsung.  Jadi berpacaran sebenarnya adalah konsep masyarakat modern. Pada masyarakat modern terjadi perubahan gaya hidup dan pola berpikir sehubungan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi . Pergaulan yang semakin terbuka dan berkembang memunculkan pola-pola baru, baik dalam berpikir maupun bertindak sehingga hubungan-hubungan yang terjalin bisa menjurus kepada persahabatan yang intim atau menjurus kepada hubungan khusus antara laki-laki dan perempuan (pacaran) yang didasari oleh ketertarikan  (perasaan suka) secara seksual, mis.karena wajah cantik, ganteng, dan bisa juga karena ketertarikan akan hal lain seperti kekayaan, kepandaian, kepribadian yang baik, dll

Perkembangan  jaman  tidak bisa terbendung. Berpacaran sebelum menikah pun sudah seperti sebuah kebutuhan. Tentu tidak masalah bila harus seperti itu, yang penting dalam berpacaran harus memiliki tujuan positif dan mengerti batas-batas yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan.  Berpacaran seharuslah bertujuan untuk pernikahan dan tetap menjaga kekudusan.

Perlukan Orang Kristen Berkencan ?

 

Dalam sebuah artikel dikatakan bahwa orang orang kristen yang lajang perlu berpacaran sebelum memasuki pernikahan. Melalui kencan dalam berpacaran akan berguna untuk:

a)      Mengenal sifat, kebiasaan dan corak kepribadian satu dengan yang lain. Hal itu diperlukan agar kita menyadari dan memahami kelebihan dan kelemahan yang ada pada pasangan masing masing sebelum saling menerima.

b)      Belajar bagaimana berhubungan dengan baik, belajar mengembangkan kemampuan berkomonikasi.

c)      Melatih diri untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sebagai pasangan dan mencari tahu tentang apa yang Tuhan dari hubungan itu.

d)     Belajar untuk membuka hati, berbagi perasaan dengan perasaan dengan pasangannya sebagai latihan menghadapai permasalahan cecara bersama sama.

e)      Untuk mencintai dan dicintai dengan belajar untuk saling member dan menerima.

f)       Untuk menikmati masa masa yang indah bersama orang yang dikasihinya dalam arti yang positif.

 

Kencan Yang Salah

 

“Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni” ( 2 Timotius 2:22).

Kencan yang salah adalah bila mengarah atau berorientasi kepada seksual.  Nafsu orang muda berbicara tentang hasrat/keinginan yang tidak terkontrol. Memang masa muda adalah masa-masa yang sangat labil. Banyak orang menjalaninya dengan penuh rasa ingin tahu dan ingin bertualang. Bila tanpa pengawasan dan bimbingan yang baik, banyak orang muda yang akhirnya terjatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan.  Karena itu Rasul Paulus mengatakan kepada Titus “Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal (Titus 2:6)

Mungkin banyak orang muda berpikir bahwa kencan dengan berpegangan tangan, membelai, memeluk, berciuman adalah hal yang biasa. Namun hal itu dapat menimbulkan rangsangan seksual yang mengarah kepada tingkat yang berbahaya.

Duvall, E.M & Miller, B.C (1985) mengatakan bahwa bentuk prilaku seksual pranikah mengalami peningkatan secara bertahap. Adapun bentuk – bentuk prilaku seksual tersebut adalah.

  1. Touching (Berpegangan tangan, berpelukan)
  2. Kissing (Berkisar dari ciuman singkat dan cepat sampai kepada ciuman yang lama dan lebih intim).
  3. Petting (Menyentuh atau meraba daerah erotis dari tubuh pasangan biasanya meningkat dari meraba ringan sampai meraba alat kelamin).
  4. Sexual Intercourse (Hubungan kelamin atau senggama)

Berdasarkan tahapan-tahapan ini, dapat disimpulkan bahwa hubungan kelamin (senggama) tidak serta merta dilakukan tetapi melalui tahapan rangsangan. Ransangan seksual yang terus menerus akan menciptakan dorongan biologis yang terus memuncak. Ketika dorongan seks menggebu-gebu, kedewasaan, kecerdasan, dan pendirian-pendirian serta iman seringkali tidak berfungsi.

Karena itu, jagalah dirimu supaya tidak terjerumus kedalam dosa seksual. Efesus 4:27 mengatakan ”janganlah beri kesempatan pada iblis” sebab dengan kita membuka celah berarti kita telah memberi kesempatan untuk melakukan sesuatu yang tidak Allah kehendaki. “Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan bermabuk-mabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati” (Roma 13:13).

Haleluya.

.

08-09-12

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | September 6, 2012

CATATAN (BUKAN) MISTERIUS

Saya termasuk orang yang suka membuat catatan-catatan kecil dari hasil pengamatan kemana saja saya pergi. Dalam acara-acara ibadah atau seminar atau sedang berjalan atau duduk entah dimana, ketika saya melihat, merasakan dan mendengar sesuatu, seringkali ada muncul tiba-tiba dalam pikiran saya sesuatu yang saya anggap unik, lucu, aneh, lebay, tidak benar, dll dan kemudian mencatatnya dalam buku catatan kotbah saya. Nah, ketika mencatat itu saya kadang menggunakan bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Batak atau percamburan dari bahasa-bahasa itu.

Catatan-catatan itu saya buat judulnya Intermezzo. Mengapa saya namai intermezzo? Karena saya terpikir untuk menjadikannya sebagai “bumbu” kotbah supaya kotbah tidak tegang dan ada humornya. Namun kenyataannya saya justru jarang menggunakannya sebagai bumbu kotbah. Jadi di buku catatan itu saya tulis “Intermezzo 1”, “Intermezzo 2” dan seterusnya.

Selain sesuatu yang saya anggap unik, lucu, aneh, lebay dan tidak benar yang muncul dalam pikiran saya untuk dicatat, tidak sedikit juga muncul yang sifatnya “wisdom” (hikmat) yang memberi pengetahuan, semangat dan kekuatan. Contohnya, ketika beberapa hari yang lalu saya membaca beberapa artikel mengenai cinta (kasih), untuk kesekian kalinya saya menemukan dan membaca kembali mengenai kasih Allah yaitu kasih AGAPE sebagai kasih yang tidak bersyarat (Unconditional Love). Lalu malamnya ketika saya melayani di ibadah pemuda, tiba-tiba teringat kembali mengenai kasih tak bersyarat ini lalu tiba-tiba terpikir oleh saya, bila kita selalu memiliki “Unconditional Love” dari Tuhan maka seharusnya kita memiliki “Unconditional Happy” atau suka cita yang tidak bersyarat. Maka memang tidak salah bila Rasul Paulus mengatakan “bersukacitalah senantiasa” (Flp. 4:4, 1 Tes. 5:16).

Jadi di dalam buku catatan kotbah saya saya tulis “As I have unconditional love, so that I sopposed to have unconditional happy”

Beberapa catatan-catatan kecil saya yang rada lucu antara lain:

“Pengkotbah bangga telah berhasil menyentil banyak orang”

Ini saya tulis karena pernah dalam suatu ibadah saya memperhatikan ekspresi senang/bangga dari si pengkotbah karena dia banyak menyentil.
“Seseorang yang sudah lama di Jakarta, lupa bahasa batak. Mandok “saur matua” menjadi “sambor matua””

Ini saya tulis ketika suatu saat sepupu saya yang sudah lama tinggal di Jakarta menelepon saya dengan menggunakan bahasa Indonesia bercampur bahasa batak. Dia mengatakan bahwa mamanya itu sudah “sambor matua”. Tentu saya saya terbahak-bahak. Lalu menuliskannya di buku catatan kotbah saya.

Suatu ketika dalam sebuah ibadah ada kejadian yang agak lucu. Mungkin tidak banyak orang yang memperhatikan tetapi saya perhatikan. Waktu itu  MC tidak menguasai lagu yang dibawakannya. Jadi dia lebih banyak diam tapi tubuhnya tetap bergerak. Memahami keadaan itu, seorang pemudi (singer) yang kebetulan bertugas menghandle projektor (projektor tempatnya disamping menghadap altar) sepertinya berusaha melihat ke MC sambil menyanyi dengan mengekspresikan mulutnya lebih lebar supaya MC melihat dan mengikuti ekpressi mulutnya. Tetapi ternyata MC tidak memperhatikannya. Melihat keadaan itu, saya jadi tersenyum karena merasa lucu, lalu saya tulis di buku catatan kotbah saya:

“MC ‘ngongong’ karena tidak menguasai lagu. Seorang pemudi ‘dipatalak babana’ supaya MC mengikutinya” Dan ternyata MC tidak memperhatikannya.

 

06-09-12

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | September 3, 2012

Jahat di Mata Tuhan

Hak. 3:7 “Orang Israel melakukan apa yang jahat  di mata TUHAN, mereka melupakan TUHAN,Allah mereka, dan beribadah kepada para Baal dan para Asyera”.

Di era abad 21 ini dapat dikatakan bahwa hampir setiap hari yang kita jalani selalu ada berita/informasi mengenai kejahatan yang terjadi di dunia ini.  Semakin hebatnya tekhnologi informatika memungkinkan informasi-informasi yang ada di bagian belahan bumi yang sangat jauh dapat kita ketahui dalam hitungan menit bahkan mungkin detik.  Informasi-informasi itu di dapat melalui mulut ke mulut, media cetak, elektronik seperti radio, TV, telephon dan internet.

Jenis kejahatan yang terjadi bermacam-macam;  pembunuhan, pencurian, penipuan, penggelapan, perampokan, pemukulan, perkosaan, pemalsuan, cyber crime, korupsi, dan lain-lain.  Pelaku kejahatan pun tidak hanya berasal dari masyarakat biasa tetapi juga para pejabat pemerintah dan legislatif. Yang  juga memprihatinkan adalah ketika penegak hukum sendiri justru “bermain-main” dengan hukum itu.

Berbagai macam tindakan kejahatan itu mungkin membuat kita merinding, kesal, was-was dan takut. Namun tahukah saudara bahwa kita sangat mungkin sering melakukan apa yang jahat di mata Tuhan? Kejahatan yang dimaksud bukanlah jenis kejahatan seperti yang kita sebutkan diatas, melainkan melupakan Tuhan dan beribadah kepada Baal.

Menurut ayat diatas, bahwa tindakan manusia yang jahat di mata Tuhan yaitu melupakan Tuhan dan beribadah kepada Baal dan para Asyera. Yang dimaksud “melupakan” bukanlah berarti usaha untuk tidak mengingat lagi melainkan lebih bermaksud bahwa mereka tidak lagi percaya (mempercayakan) hidup mereka kepada Tuhan.

Hal yang sangat perlu kita renungkan setelah membaca FT diatas adalah apakah selama ini kita sungguh-sungguh percaya dan mengandalkan Tuhan? Mungkin kita tidak beribadah kepada Baal dan Asyerat atau tidak percaya kepada dukun, namun mungkin kita selama ini mengandalkan diri kita dan bukan Tuhan, atau mungkin kita selama ini bergantung kepada jabatan/kedudukan dan harta yang kita miliki dan bukan Tuhan. Renungkanlah! Hal itu jahat di mata Tuhan.

 

LH (03-09-12)

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | Agustus 28, 2012

KATA SAMBUTAN MEWAKILI WISUDAWAN/TI SEKOLAH TINGGI TEOLOGI – BASOM

Pertama-tama marilah kita haturkan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus, Bapa dan sahabat sejati, atas perkenananNya kita dapat hadir di tempat ini dalam acara wisuda perdana stratum satu Theologia dan Pendidikan Kristen – Sekolah Tinggi Teologi Basom, di hari yang berbahagia ini.

Yang saya hormati:

  • Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen, Kementerian Agama RI dalam hal ini diwakili oleh Direktur Pendidikan Tinggi Teologi, bapak Drs. Yan Kadang, M.M.
  • Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Batam, bapak Drs. Zulkifli Aka, M.Sc.
  • Ketua Yayasan Bina Ahlak Mulia, bapak Pdt. Boyke Turangan, M.Th.
  • Global Partner selaku mitra kerja Sekolah Tinggi Teologi Basom, ibu Deborah Kim, M.A.
  • Para Pemimpin Sekolah Tinggi Teologi
  • Para Pemimpin Gereja dan Lembaga Gerejawi
  • Seluruh keluarga wisudawan – wisudawati
  • Adik-adik mahasiswa dan seluruh hadirin yang berbahagia

Izinkan saya mewakili wisudawan-wisudawati mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Bina Akhlak Mulia yang mewadahi Sekolah Tinggi Teologi Basom, dan Sekolah Tinggi Teologi Basom yang memberikan kesempatan kepada kami semua mahasiswa untuk mengenyam pendidikan, dan kepada Global Partner dan Gereja Korea sebagai partner Yayasan Bina Akhlak Mulia dalam hal ini ibu Deborah Kim, M.A dalam mendirikan dan mengembangkan Sekolah Tinggi Teologi Basom hingga seperti sekarang ini. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada ketua Sekolah Tinggi Teologi Basom, dosen-dosen dan seluruh staff non akademik yang telah membantu dan memfasilitasi kami untuk mendalami teologi, menemukan dan mengembangkan potensi diri, membentuk karakter yang lebih baik untuk bertumbuh dalam iman dan pengenalan akan Tuhan.

Rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kami ucapkan kepada orang tua kami yang telah mendukung dalam doa dan dana juga motivasi untuk menyelesaikan pendidikan ini, kepada gereja-gereja yang mengutus dan mendukung mahasiswa, serta para sponsor yang dengan hati tulus mau berkorban untuk mendukung kami, sehingga bisa melanjutkan pendidikan kami dan mendapat gelar akademik sebagai sarjana pada hari ini. Terima kasih atas dukungan, motivasi dan semangat yang kami terima selama ini. Secara khusus kami sebahagian wisudawan dan wisudawati yang sudah berkeluarga, yang harus kehilangan banyak kesempatan berharga untuk bersama-sama dengan isteri atau suami dan anak-anak yang kami kasihi, ketika kami seharian harus bekerja dan dilanjutkan dengan perkuliahan, mengerjakan tugas-tugas kuliah dan juga kesibukan pelayanan. Sungguh, dukungan dan pengertian isteri atau suami dan anak-anak terkasih sangat berarti bagi kami.

Sesuai dengan visi Sekolah Tinggi Teologi Basom yaitu menjadi lembaga pendidikan hamba Tuhan yang misioner bagi panggilan gereja dalam masyarakat dan bangsa mulai dari Batam sampai ke ujung bumi, kami merasakan bagaimana kami dididik untuk memiliki kapabilitas dan integritas sebagai hamba Tuhan yang misioner supaya dapat menjawab tantangan pelayanan di masa sekarang dan masa yang akan datang.

Empat tahun lebih proses pendidikan telah kami lalui dengan segala suka-duka yang menyertainya. Ada canda, ada tawa, ada pergumulan dan air mata. Ibarat tanah liat yang dibentuk menjadi bejana yang indah, kami pun mengalami proses pembentukan yang tidak mudah. Kesungguhan panggilan kami diuji ketika kami mengalami pergumulan dalam proses pembentukan itu. Namun kami sadar bahwa semua yang kami alami adalah cara Tuhan untuk menjadikan kami hamba-hamba Tuhan yang bukan saja  cerdas tetapi juga hamba-hamba Tuhan yang berkarakter. Semua proses yang telah kami lewati telah menghantarkan kami pada akhir yang membahagiakan dan rasa syukur yang begitu dalam ketika kami di wisuda hari ini.

Rekan wisudawan dan wisudawati,

Dihari yang bersejarah ini sudah tentu rekan-rekan wisudawan dan wisudawati mengalami suka cita kebahagiaan sama seperti saya. Buah dari perjuangan kita untuk memperoleh gelar kesarjanaan stratum satu sudah ditangan kita. Dengan demikian berakhirlah masa studi kita di Sekolah Tinggi Teologi Basom pada level ini. Namun harus kita sadari bahwa dengan diwisudanya kita menjadi seorang sarjana, justru merupakan awal perjuangan yang lebih besar untuk mengaplikasikan ilmu yang kita peroleh di dunia pelayanan praktis.

Dari  hasil penelitian yang kita peroleh baik penelitian lapangan maupun dari sumber-sumber literatur untuk kebutuhan penulisan skripsi, dan melihat fakta-fakta yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari membuktikan masih banyak kasus atau permasalahan sosial yang terjadi. Kita diperhadapkan dengan masalah-masalah sosial seperti: kemiskinan, pengangguran, kesenjangan sosial, perceraian, gaya hidup bebas, pornografi, prostitusi dan lain-lain yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia secara umum dan juga gereja. Gaya hidup materialistis yang berkembang pesat ditengah peradaban dunia sekarang ini pun mempengaruhi gereja yang dibuktikan dengan perubahan persepsi banyak orang dimana banyaknya jemaat, megahnya gedung gereja dan banyaknya uang yang diterima gereja menjadi ukuran keberhasilan sebuah pelayanan.

Saudara dan saya dipanggil Tuhan untuk dunia ini, dan dunia ini membutuhkan perhatian kita sebagai hamba Tuhan dan sebagai insan akademis yang menerima panggilan Tuhan untuk bukan hanya sekedar terlibat dalam pelayanan tetapi juga perlu memikirkan dan melakukan terobosan-terobosan baru. Tentu kita tidak mampu untuk melakukannya sendiri, namun kita bisa bersinergi antara satu dengan yang lain, bersinergi dengan gereja  dan dengan elemen-elemen yang ada di masyarakat.  Saya yakin Roh Kudus akan menolong kita untuk maksud-maksud mulia melalui panggilan-Nya kepada kita sebagai hamba-hamba Tuhan.

Akhirnya saya, atas nama seluruh wisudawan-wisudawati  mengucapkan Soli Deo Gloria.

“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”

Syalom.

Lomser Hutabalian, S.Th.

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | Desember 21, 2011

JATUH KE DALAM DOSA

Aku tertunduk dan lesu dalam asa yang hampir kandas. Jiwaku menangis di dekap Zaman yang penuh kemunafikan dan cinta diri. Iblis yang bertahtakan pemberontakan dan bermahkota dosa telah memperdaya jiwa-jiwa yang cinta kekuasaan, uang, kehormatan dan kenikmatan dunia.

Lihatlah dunia ini!  Bahwa banyak manusia tidak lagi punya rasa malu. Bahwa banyak manusia justru bangga telah berbuat dosa.  Korupsi, kolusi dan nepotisme bukanlah hal yang aneh. Mata hati mereka yang melakoni  telah dirabunkan  oleh  kerakusan dan tidak perduli bila banyak rakyat yang terhimpit menjadi  korban. Jabatan atau kekuasan menjadi alat memperkaya diri.  Pun agama diperalat untuk pencitraan diri meraih kekuasaan.  Keadilan menjadi mimpi, bila penegak keadilan bersikap terbalik dengan membela ketidakadilan.

Lihatlah! Manusia berlari  kencang dengan menabrak batas-batas kepatutan. Banyak orang tua telah kehilangan kasih kepada anaknya, dan anak-anak telah kehilangan rasa hormat dan kepatuhan kepada orang tuanya. Hamba-hamba yang cinta uang berkedok cinta Tuhan  dalam drama kehidupan.

Ya, manusia berlari menuju kebinasaan karena tidak takut akan Tuhan.

Lihatlah dunia ini! Bila ada yang berseru “jangan angkuh” dalam keangkuhannya, berteriak “bertobatlah” dalam ketidakbertobatannya. Yang lain berkata “kasihilah sesamamu” dalam kebencian dan dendam yang menguasai hidupnya, dan berkata “berilah”  dalam hidupnya yang kikir dan selalu berharap menerima.  Dan bila ada yang berseru “percayalah kepada Tuhan” dalam kekuatirannya yang amat sangat.  Siapakah yang akan sampai kepada seruan itu?

Sungguh, manusia telah jatuh kedalam dosa, semakin dalam dan semakin dalam.

LH/21-12-11

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | November 12, 2011

SYAIR DAN PERJUANGAN

Sudah lama juga saya tidak menonton acara televisi yang disiarkan oleh TVRI. Selain karena  semakin banyaknya TV swasta dengan maraknya acara yang menarik di dalamnya, TVRI terkesan agak kaku baik performance pembawa acaranya maupun acara-acaranya sendiri.

Sebenarnya dapat dimaklumi mengapa TVRI seperti itu, karena bagaimanapun sebagai stasiun TV milik pemerintah TVRI harus menjaga banyak hal. Apalagi dengan dana yang mungkin terbatas akibat tidak diperbolehkannya menjual  space untuk iklan produk.

Namun tadi malam saya iseng-iseng mengganti cannel ke TVRI, dan kebetulan acaranya  Gebyar Keroncong. Dan kebetulan pula saya penikmat hampir semua jenis musik. Walaupun saya tidak pandai memainkan alat musik, tapi saya suka musik pop, dangdut, seriosa, rap maupun rock dan blues. Hanya rock yang terlalu keras sampai yang penyanyinya seperti kesetanan yang saya tidak suka.

Saya sangat menikmati permainan biola dan keroncongnya yang mantap. Lagu-lagu yang dinyanyikan tadi malam adalah lagu-lagu lama yang berkaitan dengan perjuangan. Mungkin ada hubungannya dengan peringatan 11 november sebagai hari pahlawan.

Lagu-lagu yang bernafaskan perjuangan seperti Indonesia Raya, Bagimu Negeri, Bangun Pemuda-Pemudi, Berkibarlah Benderaku, Indonesia Pusaka, Syukur, Maju Tak Gentar, dll, diciptakan untuk membangkitkan semangat kebangsaan masyarakat Indonesia.

Lagu-lagu lawas yang diciptakan masa perjuangan kemerdekaan, baik yang seriosa, pop atau keroncong memang banyak yang bernafaskan perjuangan.
Tidak sedikit yang memiliki kisah nyata dibalik penciptaan lagu itu. Misalnya Halo-Halo Bandung. Tanggal 24 Maret 1946, masyarakat rela meninggalkan bahkan turut membakar kota yang  mereka diami sejak lahir karena tidak rela diduduki oleh NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Saat itulah Bandung menjadi Lautan Api.

Dari beberapa sumber mengisahkan bahwa masyarakat yang multi etis bergerilya dan dengan sengaja membakar kota Bandung yang diduduki oleh NICA untuk merebutnya kembali. Sungguh perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa.
Yang membuat lagu-lagu itu sangat menarik bukan hanya karena musik dan syairnya, tetapi juga cerita dibalik penciptaan lagu itu atau yang sering disebut  story behind the song.

Lagu keroncong Sepasang Mata Bola misalnya. Menurut Sri Edi Swasono, menantu Bung Hatta, lagu ini diciptakan oleh Ismael Marzuki berlatar belakang kisah yang dialami oleh ibu Rahmi Hatta yaitu istri dari Bung Hatta sang Prokalamotor Kemerdekaan RI. Waktu itu Bung Hatta dan ibu pergi ke Yogyakarta dengan kereta. Sesampai di Yogya, bung Hatta langsung turun dan cepat-cepat menjumpai Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk membicarakan keadaan negara.

Betapa penting dan urgent bagi Bung Hatta untuk membahas keamanan negeri dan yang mungkin bergejolak di dalam hatinya, sampai-sampai beliau lupa bahwa istrinya ada bersama dia di kereta dan telah ketinggalan di kereta itu. Lalu “sepasang mata bola” ibu Rahmi Hatta mencari-cari Bung Hatta, yang rupanya telah meninggalkan dia untuk bertemu dengan Sri Sultan.

Membaca kisah perjuangan para pejuang sungguh membuat hati ini bersyukur dan berterima kasih. Rasanya bila mereka ada yang masih hidup, ingin rasanya memeluk dan mencium pipi mereka sebagai wujud terima kasih. Bahkan kalau diminta mengangkat sebelah tangan menghormat mereka berjam-jam pun hati ini rela. Baik mereka yang berjuang langsung di medan peperangan maupun mereka yang berjuang melalui syair-syair lagu yang mereka ciptakan.

Kiranya kisah perjuangan dan syair-syair perjuangan para pendahulu bisa memotivasi generasi sekarang, termasuk saya didalamnya, untuk berkarya bagi negeri demi kejayaan Indonesia.
Miris dan pilu melihat keadaan sekarang.

SYAIR BAGI NEGERI

Seperti syair lagu syukur aku bersyukur dengan syair

Dengan sepasang mata bola, ku terawang jasamu dan kutatap masa depan

Semangatmu menjadi benih dalam hati untuk maju tak gentar ditengah keadaan yang pilu keadaan kini

Dan ku mau teriak : “bangun pemuda-pemudi, bebaskan negeri dari penghianatan cita-cita pendiri negeri!”

Mari katakan: “bagimu negeri kami berbakti”, karena Indonesia Pusaka milik kita bersama

Gugur bunga di ujung senjata, mati berkalang tanah demi hari merdeka

Rayuan pulau kelapa yang melambai di tanah yang subur adalah anugerah bagimu negeri

Berkibarlah benderaku, terus dan terus karena aku akan menjagamu

Bila anak negeri mengheningkan cipta, berdoalah terus untuk Indonesia raya.

LH/12-11-11

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | November 5, 2011

Percaya

Mudah mengatakan percaya tapi tidak mudah untuk percaya. (LH)
Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | November 5, 2011

Do what you say

It is better you do what you say than you say what you do.(LH)
Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | November 5, 2011

Power to be Happy

A power to be happy – His Care. (LH)

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | November 5, 2011

Tenang dan Kwatir

T E N A N G (enam huruf) K H A W A T I R (delapan huruf). Bukan masalah banyak atau sedikit hurufnya tetapi dampaknya. (LH)
Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | November 5, 2011

Success and Failure

When Success and Failure come together they can not be refused. If you wanna laugh for the success, just laugh! If you wanna cry for the failure, just cry!! (LH)
Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | November 5, 2011

Memperbaiki-2

Memperbaiki dalam arti membuat lebih baik apa yang sudah baik dan memperbaiki dalam arti membuat baik apa yang kurang/tidak baik, harus dimulai dari kesadaran dan pengakuan akan keadaan yang ada sekarang.(LH)
Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | November 5, 2011

Memperbaiki-1

Lebih baik mundur beberapa langkah untuk memperbaiki yang salah daripada maju terus dalam kesalahan. (LH)
Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | Oktober 28, 2011

GUE SUMPEHIN LO!

Pagi ini saya menguji kemampuan sejarah anak saya yang kelas 1 SMP. Ketika dia masih golek-golek sebelum mandi untuk berangkat ke sekolah saya sempatkan bertanya kepadanya sehubungan dengan tanggal bersejarah Indonesia.

“Tanggal berapa sekarang, nak?”

“Tanggal 28, pak”

“Hari peringatan apa sekarang”?

Dia diam sejenak, mencoba mengingat.

“Hari Sumpah Pemuda” jawabnya.

“Bagus. Nah, sebagai pemuda Indonesia harus cinta negeri, memikirkan apa yang baik dan jangan malas”

Mungkin dia pikir saya sekalian  menyindir dia, sebab sudah berapa kali mamanya menyuruh dia mandi tapi masih terus golek-golek di ruang tamu.

“Ah, lama sekali kakak ini di kamar mandi” gumamnya sebagai alasan, padahal masih ada satu kamar mandi lagi di belakang.

Di hari sumpah pemuda ini saya melihat ada bermacam-macam respon dari anggota Facebook terhadap hari peringatan ini yang mereka tuliskan di status mereka. Mulai dari hanya menuliskan “Sumpah Pemuda”, yang menuliskan “Selamat hari Sumpah Pemuda bagi para Pemuda/i yang memperingatinya” (he..he.. kaya’ ucapin selamat hari raya kepada yang berbeda keyakina aja), yang mempertanyakan kenapa tanggalan gak merah, sampai yang menuliskan kritik dan kekesalan terhadap pemerintah sekarang yang sudah mementingkan diri sendiri.

Ada satu “status” yang membuat saya tersenyum dan dengan yakin meng-klik “like” di status kawan ini. Statusnya seperti ini:

“Oi para pemuda! Gue sumpehin lo biar tetep nyatu! Satu nusa, satu bangse, n satu bahase”

He..he..gue demen neh sumpeh kaya gene.

Ayo, mari bersatu sing-singkan lengan, bergandengan tangan membangun negeri, tidak usah berantas kemiskinan cukup berantas korupsi dan penguasaan asing di tambang-tambang Indonesia otomatis kemiskinan akan sirna dari bumi Indonesia.
“Hai para pejabat, gue sumpehin lo gak pada korupsi lagi”

 LH, 28/10/11
Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | Oktober 26, 2011

POSITIF ATAU NEGATIF, ACIL MEMILIH ENDING NEGATIF

Liputan 6 SCTV bilang, Acil sudah ditangkap oleh polisi. Mengapa dia ditangkap polisi? Karena Ia menjadi tersangka pembunuhan pacarnya Yuyun seperti yang diakuinya kepada polisi. Hah? Pacarnya sendiri dibunuh? Gile juga..

Ya, begitulah. Alasan Acil membunuh  Yuyun  karena dia cemburu sang pacar kerap digoda laki-laki lain lewat statusnya di jejaring sosial facebook. Hm..begitu cemburunya, sampai nekad membunuh.  Ini cinta atau nafsu?

Kalau kita ikuti pemberitaan media selama ini, sudah banyaknya juga yang korban; baik pembunuhan maupun penipuan yang bermula dari facebook. Detik.com pernah mempublikasikan kasus tercatat di Komisi Nasional Perlindungan Anak sebanyak 36 laporan terkait kasus anak dan remaja yang menjadi korban kejahatan lewat situs jejaring Facebook hanya sepanjang Januari hingga Februari 2010. Itu baru yang dilaporkan ke komnas, belum lagi yang tidak dilaporkan dengan berbagai alasan dan pertimbangan.

Kalau sudah begini, apa yang harus dilakukan? Apakah kita perlu demonstrasi ke menkofindo untuk menutup jejaring sosial ini? Ayolah kalau itu yang paling baik, biar pak Tifaful tambah pusing..he..he..

Jejaring sosial ini adalah sebuah bukti dari kemajuan teknologi di bilang teknologi informatika. Sedangkan kemajuan teknologi itu ada karena upaya-upaya manusia yang terus menggali, mencoba/eksperimen dengan tujuan mempermudah setiap pekerjaan dan urusan manusia.

Kemajuan teknologi selalu memiliki dampak yang positif dan negatif, itu menurut saya. Sama halnya facebook.  Dampak positifnya seperti :  Dapat berinteraksi dengan teman atau keluarga dengan mudah, bertemu kembali teman lama dan mendapat teman baru, dapat menjadi sarana berdiskusi dengan banyak orang dan jarak yang tidak terbatas, menjadi sarana promosi usaha dan promosi diri barangkali..he..he.

Waktu saya di luar negeri (cie…) saya bisa berkomunikasi dengan keluarga tanpa mengeluarkan banyak biaya. Salah seorang teman saya berhasil menambah pundi-pundinya dengan menjual “kolor” bayi melalui facebook. Si Otong dan Si Iting (bukan nama sebenarnya) berkenalan di facebook dan menjadi suami-istri yang bahagia. Ada juga dua orang remaja yang “menjual ompongnya” dengan lipsing, yang di upload di youtube dan menyebar luas lewat facebook. Masih ingat Briptu Norman kan? Itu salah satunya.

Nah, kalau dampak negatifnya selain seperti saya sebutkan diatas, dampak lainnya adalah dapat mengganggu pekerjaan karena keasyikan di facebook akhirnya bisa membuat Si Kentung juragan Jengkol marah-marah karena laporan penjualan Jengkolnya gak kelar-kelar, bisa menjadi alat memperluas jaringan teroris yang di pimpin oleh mbah Janggut, bisa membuat Suami atau Istri “lupa” pada pasangannya karena asyik chatting dengan orang lain sampai larut, dan masih banyak lagi.

Akhirnya, menurut saya dampak baik atau buruknya adalah kembali ke pribadi-pribadi penggunanya. Bagi yang sudah dewasa tetaplah mawas diri, pikirkan dan lakukan apa yang baik dan berguna. Buat anak atau remaja, peran orang tua menjadi sangat penting untuk mengawasi, mengarahkan dengan pendekatan disiplin dan secara personal kekeluargaan.

Kembali ke kasus Acil dan Yuyun. Acil  membunuh  Yuyun  karena dia cemburu sang pacar kerap digoda laki-laki lain lewat statusnya di jejaring sosial facebook. Tapi tahukan anda, bahwa Acul mengenal Yuyun juga lewat facebook?

LH, 26/10/11

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | Oktober 25, 2011

BUKA SIANG

Huff..pagi ini terpaksa saya buka ruko agak siang. Selain karena ada urusan ke pusat kota Nagoya, juga karena diperjalanan saya “terperangkap” konvoi ratusan bahkan mungkin ribuan orang anggota FSPMI (Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia).

Mereka yang kebanyakan menggunakan motor, memenuhi jalan utama sehingga sulit bagi pengendara lain untuk lewat. Terpaksa saya harus membaur dengan mereka, membawa motor dengan kecepatan 30-40 km/jam.  Huff, kapan sampainya ini?

Untungnya hanya sekitar satu kilo meter saja saya terperangkap, karena dipersimpangan empat kabil, saya belok ke kiri sedangkan mereka lurus menuju Batam Centre.

Selama membaur dengan mereka, saya berniat mencari tahu kemana dan mau apa mereka mengadakan konvoi ini. Namun karena setiap orang termasuk saya harus sibuk menjaga jarak dengan kendaraan yang lain, maka saya urungkan niat saya mewawancarai mereka di tengah jalan.

Saya cuma sempat bertanya kepada seorang perempuan,

“Mau ke mana mba?”

“Kesana” hanya itu jawabnya sambil tersenyum. Ya, sudahlah pikirku.

Saya mencoba menduga-duga, bahwa mereka akan demo ke DPRD atau PEMKO, karena mereka menuju kesana. Ya, mungkin mereka mau menyampaikan aspirasi mereka terhadap Undang-Undang Ketenagakerjaan yang sedang diributkan oleh para pengusaha dan Pemko, atau  mereka mau menuntut kenaikan upah,  atau mungkin mau memprotes kenaikan tarif air yang baru saja dilakukan oleh ATB sebagai perusahaan penyedia air bersih di Batam. Semua itu mungkin saja.

Yang jelas saya yakin tujuan mereka bukan mau  memprotes kematian Muammar Khadafi yang ditengarai melanggar HAM.

Hm..EMP, Emang mereka pikirin? Mikirin diri sendiri aja sudah pusing..he.he.

Biasanya kalau saya buka ruko pagi hari, warung Pak Gendut di depan roku masih tutup. Tetapi kali ini  pak Gendut sudah lebih dulu membuka warungnya. Dia sudah sibuk menata meja dan peralatan-peralatan dengan hanya memakai sarung. Wah, pak Gendut memang nekat. Menurut saya dia  cukup berani memamerkan perutnya yang ukuran kira-kira melebihi triple XL itu.

Pak Gendut memang  extra gendut. Karena itu mungkin nama warungnya disebut Warung Pak Gendut.  Sudah pasti bapak ini tidak boleh diet, karena kalau dia diet dan menjadi kurus, dia harus mengganti nama warungnya.

Baiklah. Selamat berjuang anggota FSPMI, selamat bekerja buat pak Gendut.

 

LH, 25/10/11

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | Oktober 19, 2011

DAHLAN ISKAN DAN KEPONAKAN SAYA

Dahlan Iskan adalah orang yang baru saja di “pinang” oleh bapak SBY untuk menjadi pembantunya di kementrian BUMN dalam reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II, yang disebut oleh SBY sebagai  Kabinet Kerja. Mengapa disebut Kabinet Kerja?  Hm..tidak tahu juga, mungkin seperti banyak selentingan bilang karena Kabinet sebelum direshuffle ini memang tidak banyak kerja.

Sebelum menjadi menteri BUMN, Dahlan Iskan sedang memimpin PLN yaitu salah satu BUMN yang pertumbuhannya cukup bagus selama beberapa tahun terakhir. Di tangan Dahlan Iskan, PLN menunjukkan kinerja yang baik, salah satunya adalah pertumbuhan electrifikasi yang sudah mencapai 1200 MW hingga September 2011, padahal konon biasanya cuma 1000 MW per tahun.

Pada semester pertama tahun ini PLN mencatat pendapatan sebesar Rp 55,3 triliun atau naik 15 persen dibandingkan periode yang sama di tahun lalu sebesar Rp 48,2 triliun. Pelanggan BUMN listrik itu pun mengalami peningkatan 8 persen dari 40,7 juta di tahun lalu menjadi 43,8 juta pelanggan di semester satu ini (Tempointeraktif.com).

Kemampuan Dahlan Iskan memimpin perusahaan juga sudah teruji jauh sebelumnya. Ia memimpin Jawa Pos sejak tahun 1982 dan  menjadikan Jawa Pos yang waktu itu hampir mati, dengan oplah 6.000 ekslempar namun dalam waktu 5 tahun menjadi surat kabar dengan oplah 300.000 eksemplar.  Lima tahun kemudian terbentuk  Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia  dengan ratusan surat kabar, tabloid, dan majalah, serta  jaringan percetakan di Indonesia. Dan sejak tahun 2002 mendirikan beberapa statiun televisi lokal di beberapa daerah.

Lalu, apa hubungan Dahlan Iskan dengan keponakan saya?

Jelas ada, karena selain berprestasi di bidang produktifitas, PLN di tangan Dahlan Iskan juga diketahui  berprestasi di bidang management yang bersih dari KKN. Walaupun mungkin tidak benar-benar bersih, namun upaya kearah itu terus dilakukan. Salah satu bukti adalah diterimanya keponakan saya menjadi karyawan BUMN ini secara bersih tanpa backing atau uang sogokan sepeser pun.

Keponakan saya yang lulusan STM tahun 2010 sempat menganggur satu tahun dan tidak kuliah karena kesulitan ekonomi keluarga. Dan memasuki tahun 2011 dia mengikuti tes di PLN Medan. Tadinya keluarga tidak berharap banyak karena berpikir tidak punya uang pelicin.  Namun setelah diyakinkan oleh beberapa orang kenalan di persekutuan yang juga bekerja di PLN, keluarga menjadi lebih yakin. Menurut mereka, PLN sekarang sudah bersih dari KKN.  Dan itu memang terbukti.

Terima Kasih bapak Dahlan Iskan, majulah terus buat kemajuan Indonesia. Semoga Tuhan memberkati bapak dengan kesehatan dan hikmat.

LH,19-10-11

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | September 16, 2011

Pantun Penuntun Agustus 2011

Pantun Penuntun 01 Agustus 2011

Satu agustus telahlah sampai
Bulan ramadhan pun dimulai
Bagi teman yang melakui
Selamat berpuasa di hari ini.

Pantun Penuntun 02 Agustus 2011

Mencari makan si ayam jago
Tanah di kais cacing di dapat
Biarpun anda masih menjomblo
Jagalah diri dan tetap semangat

Pantun Penuntun 03 Agustus 2011

Melihat tukang ke dapur dua belas
Membuat pondasi biar kapling tak lepas
Menjadi pemimpin haruslah tegas
Supaya rakyat tidak bingung dan cemas

Pantun Penuntun 04 Agustus 2011

Menyeduh kopi di pagi yang dingin
Dicampur jahe buat badan hangat
Meski tantangan kau dapat kemarin
Terus berjuang dan tetap semangat

Pantun Penuntun 5 Agustus 2011

Berbondong datang penjual makanan
Makanan berbuka dan aneka jajanan
Tak pantas serumah orang yang pacaran
Sampai diikat dengan tali pernikahan

Pantun Penuntun 6 Agustus 2011

Pemulung keliling bawa gerobak
Gerobak ditarik berjalan kaki
Bila hari esok tak bisa ditebak
Hidup sekarang benarlah jalani

Pantun Penuntun 7 Agustus 2011

Membaca buku ensiklopedi
sebuah kata, dicari arti
Kalau ibadah jangan cuma dihadiri
Mestilah berdampak pembaharuan budi

Pantun Penuntun 8 Agustus 2011

Penjual kue menata meja
Kuenya macam menu berbuka
Biarpun keras engkau bekerja
Sedia waktu untuk keluarga

Pantun Penuntun 9 Agustus 2011

Pemulung mengais di panas yg terik
Kaleng di dapat berisi gabus
Bila pun datang masa-masa peceklik
Tabahlah tetap berjuang terus

Pantun Penuntun 10 Agustus 2011

Becak mengantri di simpang tiga
Menunggu antri, bermain catur
Bila pemimpin bersikap terbuka
Rakyat terpimpin bersikap jujur

Pantun Penuntun 11 Agustus 2011

Mencari yang hilang di berbagai tempat
Sudah dicari tapi tak kunjung didapat
Janganlah disesal apa yang sudah lewat
Menatap ke depan jangan patah semangat

Pantun Penuntun 13 Agustus 2011

Menyeberang laut ke negeri Singapura
Di Singapura, bukan untuk berbelanja
Kehilangan harta bukan akhir segalanya
Kehilangan harapan, itu yang berbahaya

Pantun Penuntun 14 Agustus 2011

Rambut disisir, biar rapi
Rambut yang rapi supaya tampan
Kalau berjalan, harap berhati-hati
Agar terhindar dari kecelakaan

Pantun Penuntun 15 April 2011

Memetik buah di belakang rumah
Dua dipetik hanya satu yang bagus
Dalam hidup, bila kita belajar tabah
Lewati tantangan,kita akan jalan terus

Pantun Penuntun 16 Agustus 2011

Mengantar tiket ke sanggar budaya
Tiket di booking pesawat sriwijaya
Walau korupsi terus merajelala
Janganlah berhenti berkarya bagi Indonesia

Pantun Penuntun 17 Agustus 2011

Tujuh belas Agustus Indonesia merdeka
Seribu sembilan ratus empat puluh lima
Berjuanglah terus hai rakyat Indonesia
Bersatu padu untuk Indonesia jaya

Pantun Penuntun 18 Agustus 2011

Memukul bola ke arah lawan
Bola meluncur mengenai sasaran
Jagalah hatimu wahai kawan
Hindari diri dari rasa tertekan

Pantun Penuntun 20 Agustus 2011

Di pinggir laut, mencari kerang
Ada kepiting disela-sela karang
Jadi orang, jangan kelewat iseng
Bila tak mau dianggap sinting

Pantun Penuntun 21 Agustus 2011

Menyapu rumah dari lantai dua
Turun ke bawah menyusur tangga
Kalau umat mau imannya terjaga
Janganlah malas pergi ke gereja

Pantun Penuntun 22 Agustus 2011

Meneguk kopi dari gelas keramik
Meski tak manis rasanya nikmat
Memang perlu jadi orang cerdik
Namun jangan membawa laknat

Pantun Penuntun 23 Agustus 2011

Menarik meteran untuk mengukur
Sudah mengukur, membuat pondasi
Meskipun sulit untuk selalu jujur
Teruslah belajar mantapkan hati

Pantun Penuntun 25 Agustus 2011

Mendayung sampan ke pulau tujuh
Banyak mendayung berpeluh-peluh
Bila ada datang, saat-saat yang jenuh
Cobalah cari, hal lain untuk ditempuh

Pantun Penuntun 26 Agustus 2011

Belajar menggambar dengan komputer
Tidak ada buku dan juga tutor
Karna Tuhan adalah sumber
Janganlah harapan menjadi kendor

Pantun Penuntun 27 Agustus 2011

Mengayuh sepede di pinggir jalan
Sepeda butut kepunyaan teman
Bilamana rusuh suatu kumpulan
Di ujung tanduk alamat persatuan

Pantun Penuntun 28 Agustus 2011

Memotong ranting pohon nangka
Daunnya jatuh di pagar tetangga
Marilah belajar tak berburuk sangka
Menjalani hidup dengan sejahtera

Pantun Penuntun 29 Agustus 2011

Makan siang menu sayur gori
Dimasak santan dengan ikan teri
Meski ekonomi macet hari ini
Rasa bersyukur tetaplah di hati

Pantun Penuntun 30 Agustus 2011

Mengisi pulsa dua puluh ribu
Sistemnya sibuk, harus menunggu
Bila tantangan datang padamu
Berputus asa, jauhlah darimu

Pantun Penuntun 31 Agustus 2011

Tanggal tiga puluh satu hari lebaran
Banyak macam makanan ada disajikan
Selamat lebaran bagi teman yang merayakan
Kiranya hidupmu semakin baik dimasa depan

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | September 16, 2011

Dekap Tangan-Nya

Menari jiwa dalam dekap asa. Sang Agung tiada buruk. Ku di dekap dalam perkasa tangan-Nya. Dan diri tenang.
Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | September 16, 2011

Tarian Bibir Serong

Tarian bibir dimainkan di arena suci dengan tipuan si ular yang merasuk. Pengakuan nista sebagai kebenaran dipertontonkan dalam laku dan bibir serong. Rohani yang terhuyung bagai mabuk berat anggur mengaburkan yang hak dan batil dalam bayang abu-abu. Arena suci juga ternoda dengan syair kebohongan yang dilantunkan dari mulut dusta. Pastilah semua itu memilukan hati-Mu. Ampun-Mu, curahkanlah!
Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | September 16, 2011

Membangun asa yang berserak

Hariku, ditengah mimpi yang diuji, menjadi tanda tanya yang belum terjawab. Asaku terus kubangun kembali dengan serpihan-serpihan asa yang berserak. meski terkadang serpihan itu jatuh kembali, tapi kucoba mengutip lagi dan merekatkannya dengan air mata yang masih tersisa. Sungguh aku sadari betapa rapuhnya diri ini dalam dekap rintangan. Muzijat-Mulah yang kunanti agar aku tidak menjadi debu yang akan Kau bangun lagi untuk kebinasaan.
Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | September 9, 2011

Merajut yang terkoyak

Merajut silaturahmi yang terkoyak, tidak semudah menjabatkan dua telapak tangan. Kesadaran yang penuh atas ketidak sempurnaan diri akan memampukan hati memaafkan ketidaksempurnaan orang lain. Menjaga hati dengan segala kewaspadaan adalah pondasi kebijakan dalam bersikap supaya tidak terjerembap.
Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | September 8, 2011

A WONDERFUL LEADER Bag. III (Penutup)

Yang juga menarik dari kisah raja Hizkia ini adalah, bahwa dia adalah orang yang setia kepada Tuhan. Semenjak dia menjadi raja, dia membersihkan bukit-bukit pengorbanan kepada dewa-dewa atau baal, dan juga memulihkan sistem dan fungsi rumah Tuhan. Namun kita lihat bahwa tantangan yang menguji kesetiaannya justru diijinkan Tuhan melalui raja Sanherib.

Ada sebuah statement yang sudah mendunia yang mengatakan “Tuhan tidak pernah berjanji bahwa hidup kita akan mulus-mulus saja tanpa ada tantangan ketika kita berlaku setia dihadapan Tuhan, namun Tuhan berjanji akan menolong dan memampukan kita untuk melewati tantangan/ujian yang kita alami”.  Inilah yang dialami oleh raja Hizkia, dan demikian juga yang kita alami dalam hidup ini.

Banyak sekali tantangan yang kita hadapi dalam mengikut Tuhan, bahkan mungkin kita mengalami tantangan yang tidak pernah kita duga atau bayangkan akan terjadi dalam hidup kita. Persoalan yang kita alami bisa terjadi karena banyak factor, baik itu ekternal ataupun internal, bisa karena orang luar maupun dari keluarga kita sendiri, bisa karena maksud jahat orang lain kepada kita, bisa juga karena kita kurang sensitive mendengar arahan Tuhan sehingga kita menjadi salah mengambil keputusan, bisa karena orang luar maupun dari keluarga kita sendiri. Terlalu banyak factor dan sering tidak terurai.  Kalau sudah begini, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita akan menyalahkan Tuhan dengan mengatakan “mengapa ini terjadi Tuhan, bukankah aku telah berlaku setia dihadapanMu?”

Dalam sebuah masalah yang genting, bangsa Yehuda berada dalam kegentaran. Sangat mungkin secara kekuatan prajurit dan peralatan, Yehuda pasti kalah. Karena itulah raja Sanherib melalui utusannya mengatakan kepada orang Yehuda supaya menyerah saja sebelum keadaan lebih buruk. Namun kita lihat pada ayat 6-8 dikatakan: “Ia mengangkat panglima-panglima perang yang mengepalai rakyat, menyuruh mereka berkumpul kepadanya di halaman pintu gerbang kota dan menenangkan hati mereka dengan kata-kata:  ”Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Janganlah takut dan terkejut terhadap raja Asyur serta seluruh laskar yang menyertainya, karena yang menyertai kita lebih banyak dari pada yang menyertai dia. Yang menyertai dia adalah tangan manusia, tetapi yang menyertai kita adalah TUHAN, Allah kita, yang membantu kita dan melakukan peperangan kita.” Oleh kata-kata Hizkia, raja Yehuda itu, rakyat mendapat kepercayaannya kembali dikatakan “

Yang perlu kita garis bawahi disini adalah kata “menenangkan hati mereka”. Dapat kita bayangkan bagaimana jadinya bangsa ini kalau Hizkia menjadi takut dan lemah. Sebagai pemimpin dia sadar bahwa sikap hidupnya sangat berpengaruh penting bagi rakyatnya. Dia tahu rakyat itu dalam kegentaran, karena itu sebagai pemimpin dia harus menenangkan hati mereka. Dalam kegentaran mereka, perkataan Hizkia memberi kekuatan dan semangat baru. Hizkia meyakinkan bangsa ini bahwa Tuhanlah yang akan menolong mereka, bahwa kekuatan Tuhan melebihi kekuatan laskar-laskar kerajaan Asyur.

Penulisa percaya, perkataan-perkataan Hizkia ini lahir dari kepercayaannya kepada Tuhan. Dia mengenal Tuhan dan dia percaya kepada petolongan Tuhan yang dahsyat. Keyakinan orang Israel diteguhkan oleh fakta iman pemimpin mereka yaitu raja Hizkia. Dan kisah raja Hizkia ini menjadi pelajaran penting bagi saya pribadi dalam menghadapi persoalan yang terjadi di dalam kehidupan ini.

Tuhan memberkati.

LH

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | September 8, 2011

A WONDERFUL LEADER Bag. II

Sangat mudah mengatakan ini “Haleluya…Puji Tuhan” atau “Allah kita baik” atau “Yesus luar biasa” dengan suara yang lantang ketika kita tidak sedang mengalami persoalan. Memuji Tuhan dan bersorak dengan semangat berapi-api. Namun akan terlihat berbeda, bila sedang mengalami masalah; tidak bersemangat dan hampa. Tidak sedikit orang malah menjauh dari persekutuan/pelayanan karena sedang di mengalami pencobaan dan yang parahnya bahkan meragukan Tuhan. Menurut penulis, untuk mengetahui kedewasaan iman seseorang justru lebih tampak ketika dia mengalami masalah.

Sikap Hizkia sebagai pemimpin bisa menjadi contoh bagi kita yaitu ketika ia mengalami tantangan berat dimana Yerusalem akan dikepung oleh Sanherib raja Asyur (2 Taw. 32). Sanherib mengepung kota-kota berkubu dan hendak menguasainya. Dengan mengetahui semua ancaman itu, maka Hizkia mengambil tindakan-tindakan penting:

  1. Hizkia berunding dengan Panglima dan Pahlawan (ayat 3).

Hizkia menyadari bahwa dirinya bukanlah orang yang serba tahu atau serba bisa, sehingga ia merasa perlu untuk berunding dengan para Panglima dan Pahlawan. Sepertinya dia menyadari bahwa pemikiran-pemikiran dari orang-orang yang ahli dibidangnya adalah sangat perlu untuk mengatur strategi bagi kemenangan mereka.

Kegagalan seorang pemimpin sering terjadi oleh karena dia merasa serba tahu/bisa sehingga merasa tidak perlu meminta masukan dari orang lain. Pengambilan keputusan yang semauguenya pemimpin akan mengakibatkan kurangnya respek dari orang-orang yg dipimpin dan terlebih para pejabat/petugas yang ada dibawahnya. Hal ini dapat pula menimbulkan rasa kecewa yang berlanjut ketidakperdulian di pihak yang dipimpin temasuk para pejabat/petugas dibawahnya, apalagi bila ternyata keputusan yang diambil oleh pemimpin itu selain dianggap tidak popular  juga tidak membuahkan hasil yang baik.

  1. Mengangkat panglima-panglima perang (ayat 6).

Saya percaya bahwa panglima-panglima baru yang diangkat oleh Hizkia bukanlah orang-orang yang sembarang diangkat. Mareka pastilah berasal dari prajurit yang sudah teruji. Mengapa? Karena kerajaan dan nyawa mereka yang menjadi taruhan. Hizkia tahu kapan harus mengangkat pemimpin-pemimpin baru dan tentulah yang diangkat itu bukanlah orang yang sembarangan.  Dia mengangkat panglima-panglima baru untuk meningkatkan/memaksimalkan penggalangan kekuatan perang.

Kalau di negeri kita ini, bukan rahasia lagi kalau pemimpin-pemimpin banyak diangkat atas dasar KKN alias Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.  Kerugian beberapa BUMN dan defisit anggaran masih terus terjadi sampai sekarang, diyakini salah satu penyebab adalah management yang buruk, termasuk adanya posisi-posisi yang sengaja “diciptakan” untuk menampung para kolega atau pengangkatan pejabat sebagai balas budi kepada pihak-pihak yang mendukung pemimpin ketika mereka masih menjadi calon.

Lalu bagaimana dengan gereja? Apakah pengangkatan-pengangkatan para pemimpin itu bersih dari KKN? Apakah pangangkatan mereka sudah dengan pertimbangan yang matang? Apakah pengangkatan mereka sesuai dengan panggilan Tuhan? Tentu sulit untuk menjelaskannya. Apalagi mengenai panggilan ini. Bisa saja seseorang mengaku punya panggilan, tapi siapa yang bisa mengkonfirmasinya? Tanpa bermaksud menghakimi, menurut pengamatan penulis, ada kecenderungan cara-cara KKN ini sudah memasuki gereja dalam hal pengangkatan para pemimpin-pemimpin, walau dengan cara yang lebih halus dan kelihatan “rohani”.

Apabila dalam sebuah organisasi kerohanian (gereja) ada pengangkatan ratusan pemimpin (hamba Tuhan atau pengerja) setiap tahunnya; baik yang baru maupun dalam rangka peningkatan jabatan, tapi tidak diikuti dengan pertumbuhan jemaat baik secara quantity terlebih quality (pertumbuhan iman yang nyata dari buah-buah pertobatan) jemaat dan yang justru menghasilkan banyak persoalan-persoalan baru, maka tentu pengangkatan itu harus dipertanyakan.

Raja Hizkia mengangkat penglima-panglima baru memiliki tujuan yang jelas yaitu untuk meningkatkankan/memaksimalkan penggalangan kekuatan pasukan perang bagi kemenangan Yehuda atas Ashyur.

Bersambung.

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | September 8, 2011

A WONDERFUL LEADER Bag. I

Siapa sih yang tak gentar ketika dihadapkan pada persoalan yang besar?  Kalau kita mengamati kehidupan manusia jaman sekarang ini, banyak sekali persoalan atau tantangan hidup; yang kalau kita tidak dewasa menghadapinya, kita akan jatuh dalam keterpurukan hidup. Dalam pandangan banyak orang, sering kali mereka merasa persoalan itu terlalu berat untuk mereka pikul, walaupun persoalan itu mungkin belum apa-apa bila dibandingkan tantangan hidup yang dialami oleh sebagian orang yang lain.

Dalam tulisan ini, saya ingin membagikan sepenggal kisah dari seorang pemimpin yang luar biasa yaitu Hizkia. Saya benar-benar kagum pada pribadi Raja Hizkia yang walaupun pada masa-masa hidupnya ada waktu dimana dia pernah jatuh, namun dari keseluruhan masa hidupnya kita bisa belajar bagaimana menjadi seseorang yang takut akan Tuhan dan bagaimana menjadi pemimpin umat dengan benar. Alkitab mencatat berkenaan dengan dia “diantara raja-raja Yehuda baik sebelum maupun sesudah dia, tidak ada lagi yang sama seperti dia” (2 Raj. 18: 5).

Pribadi Raja Hizkia

Ada pepatah yang mengatakan “buah jatuh tak jauh dari pohonnya” atau kalau dalam pepatah bahasa Inggris dikatakan “like father like son” yang artinya bahwa sifat-sifat atau kepribadian dan kebiasaan yang menonjol dari seorang anak, tidak lepas dari warisan ayahnya. Nah, dalam kehidupan raja Hizkia, ternyata hal itu tidak sepenuhnya benar. Mengapa? Karena raja Hizkia adalah seorang raja yang bijaksana dan takut akan Tuhan, sedangkan ayahnya, raja Ahas adalah seorang raja yang perbuatannya jahat dan menjijikkan dimata Tuhan.

Raja Hizkia diangkat menjadi raja pada umur 25 tahun. Alkitab mencatat, dia melakukan yang benar di mata Tuhan seperti kakek moyangnya Daud.Hal ini terbukti ketika dia melakukan reformasi sejak masa awal kepemimpinannya. Pada kitab 2 Taw. 29 diceritakan bahwa pada tahun pertama bahkan bulan pertama kepemimpinannya, dia memulihkan rumah Tuhan berikut fungsi dan pelayan-pelayan.

Kemudian raja Hizkia juga mengatur sumbangan untuk para Imam dan Lewi yang bertugas dalam pelayanan di rumah Tuhan. Dia menyadari apabila fungsi rumah Tuhan tidak berjalan dengan baik, maka hal itu akan mengecewakan hati Tuhan. Sangat mungkin ketika ayahnya menjadi raja, umat Israel tidak lagi memperdulikan segala kewajiban mereka kepada Tuhan lewat persembahan untuk perbendaharaan di rumah Tuhan. Dan hal ini akan mengakibatkan para Imam dan Lewi hidup menderita, karena jaminan kebutuhan seharian mereka adalah dari rumah Tuhan. Dan tidak dapat dipungkiri, keadaan itu akan mengganggu tugas-tugas para Iman dan Lewi.

Dalam konteks sekarang, dapat dikatakan bahwa Raja Hizkia adalah seorang pemimpin yang melakukan reformasi bukan saja dibidang politik tetapi juga dibidang keagamaan. Dan Semua itu dilakukannya sejak masa awal pemerintahannya.

Kalau pemimpin politik sekarang, fakta yang kita lihat adalah kenyataan yang ada tidak sesuai dengan janji-janji manis ketika masa kampanye. Bahkan mungkin fakta yang ada justru betolakbelakang dengan janji manis mereka sebelumnya. Melalui kisah raja Hizkia ini sangat jelas, bahwa “WILL” dan konsistensi dari seorang pemimpin, yang didasari rasa takut akan Tuhan akan membawa pembaharuan yang luar biasa.

Lalu bagaimana dengan pemimpin rohani dalam hal ini pemimpin-pemimin gereja? Tanpa bermaksud menjelek-jelekkan atau memojokkan, dan seperti istilah bahasa batak mengatakan “sattabi akka si burju roha” artinya “mohon maaf bagi mereka yang baik dan tulus”, dalam pengamatan saya pemimpin rohani sekarang umumnya tidak terlalu perduli kehidupan rohani jemaat. Program gereja sering dibuat secara luar biasa, dengan peralatan musik yang juga luar biasa namun semua itu hanya sebatas untuk mengumpulkan jiwa-jiwa sebanyak-banyaknya tetapi bukan untuk mengajar dan mendewasakan mereka di dalam Tuhan.

Sebuah kesimpulan yang saya dapat dari buku yang ditulis oleh George Barna dalam bukunya “menumbuhkan murid-murid sejati” adalah begitu banyak program gereja dan upaya gereja yang kelihatannya baik dan luar biasa, untuk mengumpulkan sebanyak mungkin orang datang ke gereja, namun mereka mengabaikan ada sedikit atau sebagian kecil dari jemaat yang sudah mereka miliki yang benar-benar haus akan pengajaran namun tidak terlayani dengan baik.  Padahal, dalam pandangannya justru beberapa orang yang haus inilah yang akan bisa berdampak besar bagi pekerjaan Tuhan apabila mereka benar-benar diajar (dimuridkan).

Tidak dapat dipungkiri bahwa keberhasilan sebuah pelayanan tidak lepas dari “will”, konsistensi pada panggilan sorgawi yang didasari rasa takut akan Tuhan dari pemimpin-pemimin rohani.

Bersambung.

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | Agustus 7, 2011

Pantun Penuntun Juli 2011

Pantun Penuntun 2 Juli 2011

Membawa P.A. di kaum muda
Menjadi murid, topik yang ada
Kalau mau menjadi dewasa
Belajar Firman, janganlah lupa

Pantun Penuntun 4 Juli 2011

Memandang keluar di cahaya terik
Silau memancar alis pun tertarik
Memang perlu sikap yang menarik
Namun kebenaran janganlah terbalik

Pantun Penuntun 5 Juli 2011

Pergi pagi ke kantornya jamsostek
Orang pun ramai suasananya sumpek
Hai para pemimpin janganlah cuek
Sikaplah tegas, lembut dan jangan lembek

Pantun Penuntun 7 Juli 2011

Hidupkan kipas di cuaca panas
Putarannya kencang tidaklah lepas
Meski ada dalam hidup yang keras
Kasihnya Tuhan takkan pernah kandas

Pantun Penuntun 8 Juli 2011

Membooking tiket rute Batam Padang
Dua yang datang satu saja yang pulang
Kalau hidup kita mau berakhir tenang
Janganlah tenang dengan dosa yang matang

Pantun Penuntun 9 Juli 2011

Berbagi cerita dengan teman lama
Lama tak jumpa rindulah rasanya
Hati yang murni haruslah di jaga
Agar terhindar diri dari racun dunia

Pantun Penuntun 11 Juli 2011

Memasang kunci di pintu masuk
Kuncinya rusak bukannya buruk
Kalau motivasinya adalah busuk
Pada akhirnya alamatnya ambruk

Pantun Penuntun 12 Juli 2011

Booking tiket satu nama sampai tiga kali
Sudah ditunggu lama akhirnya pun tidak jadi
Janganlah anda suka mengumbar-umbar janji
Kalau ternyata anda enggan ‘tuk menepati

Pantun Penuntun 13 Juli 2011

Ikan tongkol di asam pedas
Enak rasanya hatipun puas
Agar hidup tidak menjadi bias
Fokuskan diri ke arah yg jelas

Pantun Penuntun 14 Juli 2011

Mendayung sampan ke pulau seberang
Diseberang banyak orang-orang berenang
Janganlah berbuat agar manusia senang
Kalau ternyata firman Tuhan menentang

Pantun Penuntun 15 Juli 2011

Pergi belanja membeli komputer
Komputer dibeli di bulan september
Bila ingin berhikmat carilah sumber
Hidup yang yakin tidaklah jiper

Pantun Penuntun 16 Juli 2011

Menulis status di dinding sendiri
Di waktu luang yang mau diisi
Tidaklah salah kalau punya ambisi
Namun tetaplah mengawasi diri

Pantun Penuntun 17 Juli 2011

Mendengar lagu, lagu rohani
Lagunya indah senangkan hati
Jangan lewatkan hari minggu ini
Tanpa ibadah, berdoa dan memuji

Pantun Penuntun 18 Juli 2011

Berjalan kaki si penjual donat
Donat dijaja keliling komplek
Janganlah merasa orang terhormat
Merasa terhormat hidupnya sumpek

Pantun Penuntun 20 Juli 2011

Serapan pagi dengan ikan goreng
Pakai sambel ijo nikmat rasaknya
Jagalah nama agar tidak tercoreng
Namun hidup benar adalah utama

Pantun Penuntun 21 Jul 2011

Melihat tarif jurusan medan
Yang murah habis tinggallah yang mahal
Kabar burung jangan asal ditelan
Selediki dulu jangan-jangan hanya gombal

Pantun Penuntun 22 Juli 2011

Menyeduh kopi di gelas keramik
Gelas keramik bergambar antik
Janganlah umbar wajah yang cantik
Yang lebih cantik yang hatinya baik

Pantun Penuntun 23 Juli 2011

Membeli buku diperempatan
Buku dibeli menjelang siang
Janganlah silau dengan kekayaan
Kalau akhirnya masuk ke jurang

Pantun Penuntun 24 Juli 2011

Menangkap lele di kolam sendiri
Ikan di tangkap untuk digoreng
Marilah bangun hidup yang berbakti
Kepada Tuhan janganlah melenceng

Pantun Penuntun 25 Juli 2011

Membuat kartu tanda pengenal
Kartu pengenal tanda penduduk
Banyaklah cara untuk terkenal
Jangan gunakan cara yang buruk

 Pantun Penuntun 27 Juli 2011

Memotong ayam beberapa ekor
Dua ayamnya sudahlah bertelor
Kalau anda tidak mau ditegor
Jangan lakukan perbuatan kotor

Pantun Penuntun 29 Juli 2011

Memetik buah dibelakang rumah
Buahnya matang merah merekah
Meski hidupmu sedang bersusah
Kepada Tuhan tetaplah berpasrah

Pantun Penuntun 30 Juli 2011

Anak remaja menimba air
Air ditimba untuk mencuci
Karya pemula biarkan mengalir
Beri semangat jangan dicaci

Pantun Penuntun 31 Juli 2011

Mencari buah ke berastagi
Buahnya jeruk manis sekali
Bila ke gereja mau berbakti
Janganlah cuma sekali-sekali

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | Juli 8, 2011

Tidak hujan namun tidak juga kering

Tidak hujan namun tidak juga kering. Kebun anggurku genap satu bulan. Syukur, ada rintik-rintik dan percikan dari nun jauh sampai di kebun anggurku. Tak lepas asa aku, nanti rintik akan menjadi hujan dan lebat.

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | Juli 5, 2011

Dan burung itu pun terbang

Dan burung itu pun terbang meninggalkan catatanku. Ku catatkan dua nama pada layar di depanku. Kutunggu jawaban dari mereka tuk katakan ya. Namun satu yang jawab “maaf, ternyata sudah di sediakan”. “Tak apa-apa” kataku. Lalu yang satu menyuruh menunggu. Dan sampai sang burung terbang, catatanku masih menggantung. Ku hibur diriku dan katakan “gak pa pa, itu biasa”.

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | Juli 5, 2011

Jangan bertanya “Mengapa” Tuhan?

Pagi ini, ditengah taburan tanya yang selimuti diri, kuyakinkan bahwa Sang Hu memberi jalan terbaik bagi sang domba. Dia tidak pernah alpa, Dia tak pernah salah. Meski berjalan di kerikil tajam, pun hadapi rintangan yang kejam, tahanlah mulut dari bertanya “mengapa Tuhan?”.
Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | Juli 5, 2011

Pantun Penuntun Juni 2011


Pantun Penuntun 1 Juni 2011

Menantang perang tunjukkan bukti
Sang presiden bicara percaya diri
Walau pecundang sudah tak perduli
Janganlah sampai kehilangan hati

Pantun Penuntun 2 Juni 2011

Hari kenaikan Yesus diperingati
Setelah kebangkitan empat puluh hari
Marilah percaya dan memberi diri
Janji Tuhan Yesus untuk tempat abadi

Pantun Penuntun 3 Juni 2011

Petugas rutan menjual sabu
Sabu dijual tak merasa tabu
Bila orang dunia tak tahu malu
Orang percaya tidaklah begitu

Pantun Penuntun 4 Juni 2011

Politikus dan pejabat menjadi kerabat
Bila tertangkap seperti bukan lagi sahabat
Meskipun manusia akan semakin jahat
Tetaplah ingat akan ada hari kiamat

Pantun Penuntun 05 Juni 2011

Hujan datang di pagi hari
Minggu pertama di bulan juni
Mari berharap hujan ini berhenti
Ke tempat ibadah usahakan pergi

Pantun Penuntun 8 Juni 2011

Meng-copy rangkap dua puluh dua
Mesinnya satu sebagian jadi tertunda
Memang dunia sudah gelap mata
Kepada Tuhan tetaplah kita bertanya

Pantun Penuntun 9 Juni 2011

Kerja sendiri di tempat ini
Kawan tak datang tuk menemani
Memang kadang gelisah hati
Namun tolong-Mu ku tahu pasti

Pantun Penuntun, 10 Juni 2011

Mendengar kabar duka dari teman
Seorang teman meninggal dunia
Meski keluarga telah di tinggalkan
Tetaplah tabah, kuat dan berlaku setia

Pantun Penuntun 11 Juni 2011

Minum kopi hangat ketika hujan
Walau tak deras hujannya lumayan
Dalam hidup usahakanlah membri kesan
Namun jangan sampai menginjak kebenaran

Pantun Penuntun 12 Juni 2011

Minggu ini minggu di hari ke lima puluh
Sebuah peringatan hari pentakosta
Sepuluh malam sudahlah berpeluh
Saatnya perjamuan di dalam suka

Pantun Penuntun 13 Juni 2011

Merangkai kata-kata dalam doa
Doa terpanjat pada Yang Kuasa
Hidup memang adalah sementara
Marilah jalani dengan yang berguna

Pantun Penuntun 14 Juni 2011

Men-download lagu, lagu rohani
Lagunya rohani menghibur hati
Bila ujian adalah proses diri
Mari syukuri dan tetap berdiri

Pantun Penuntun 15 Juni 2011

Mem-foto copy kertas bolak-balik
Jika terbalik hasilnya tidak baik
Ketika gempa kembali memekik
Jangan lupa ada hikmah yang dipetik

Pantun Penuntun 16 Juni 2011

Pagi-pagi ke tanjung piayu
Mengantar surat, izin yang baru
Bila tantangan ada padamu
Sebagai penolong, Tuhan itu mau

Pantun Penuntun 17 Juni 2011

Pergi ke pelayanan malam ini
Ibadah sektor di muda-mudi
Meski urusan masih banyak lagi
Ke tugas pelayanan wajib pergi

Pantun Penuntun 18 Juni 2011

Menjual tiket di KAS Ticketing
Tiket Perdana sudah di booking
Memang promosi sangatlah penting
Mengharapkan Tuhan tiada tanding.

Pantun Penuntun 20 Juni 2011

Telah pergi kakanda tercinta
Menghadap Yesus kekasih jiwanya
Memang tak mungkin tidak berduka
Namun Roh Kudus penghibur setia

Pantun Penuntun 22 Juni 2011

Pulang dari medan naik Batavia
Delay satu jam mungkin biasa
Hilanglah sudah semua duka
Karena Roh Kudus memberi suka

Pantun Penuntun 24 Juni 2011

Memasang speedy di tempat ini
Speedy-nya baru belum berlaju
Bila rekanan sudah tak jelas lagi
Jangan dipaksa carilah yang baru

Pantun Penuntun 25 Juni 2011

Masuk ke ruko sepasang pengamen
Pengamen tua menyanyi tak karuan
Karena hidup adalah pembelajaran
Perolah hikmat dalam tiap kesempatan

Pantun Penuntun 26 Juni 2011

Naik motor ke tanjung piayu
Walaupun tua motornya laju
Jalani hidup janganlah kaku
Agar langkah bisa tetap maju

Pantun Penuntun 27 Juni 2011

Menonton teve sambil di pijit
Lehernya di pijit karena sakit
Berbuat baik janganlah pelit
Upahmu menanti tidak sedikit

Pantun Penuntun 29 Juni 2011

Di pasar kaget harga barang bikin terkaget
Di pasar resmi dagangannya menjadi seret
Bila pun punya sahabat dekat dan lengket
Tetaplah Tuhan andalan yang menggreget

Pantun Penuntun 30 Juni 2011

Hujan turun sejak tadi pagi
Jelang siang tak juga berhenti
Kalau makan batasilah diri
Apalagi yg kolestrol tinggi

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | Juni 27, 2011

Kebun anggur baru

Kebun anggurku baru di tanam. Bayangan gelap datang dan pergi saling mendesak dengan asa yang menunjuk diri. Namun keretaku ku pacu dalam sepi, karena ku yakin pada waktunya rintik-rintik akan menjadi hujan dalam izin sang Khalik. Ku tambatkan harap pada sauh yang kuat yang menyatakan diri-Nya ABBA kepadaku.

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | Juni 27, 2011

Ada nafas, ada harapan

Harta bisa datang dan pergi, jabatan dan kedudukan bisa datang dan pergi, kehormatan bisa datang dan pergi, sahabat bisa datang dan pergi. Namun apabila nafas sudah “pergi”, dia tidak datang lagi. Karena itu bersyukurlah masih bisa bernafas. Kalau masih ada nafas hidup, itu berarti masih ada harapan.

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | Juni 27, 2011

Pergi-mu

Kata tak dapat di rangkai, pun tak dapat di urai, hanya isak tangis dan air mata. Dalam memori yg tersembunyi dari mata kyalayak, tawamu, candamu dan perdulimu menjadi pemicu isak pada harap yang takkan terjadi lagi. Tenanglah kau sekarang, meski tubuhmu dalam dekap gelap dan himpitan tanah, namun ku yakin pasti, rohmu dalam suka pada tempat-Nya.

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | Juni 27, 2011

Hormat Vs Pengkultusan

Rasa hormat kepada seseorang itu penting, tetapi berhati-hatilah supaya tidak terjadi pengkultusan. Salah satu ciri aliran sesat atau orang yang sudah sesat pikirannya adalah pengkultusan individu, sehingga perkataan yang dikultuskan itu menempati posisi lebih tinggi daripada kebenaran firman.

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | Juni 27, 2011

Paulus – Gila

“Engkau gila, Paulus! Ilmumu yang banyak itu membuat engkau gila.” (Kis. 26:24). Mengapa Paulus disebut gila? Karena apa yang diajarkan dia sekarang berbeda dengan ajaran dan pandangan umum yang berlaku secara turun temurun. Padahal dia hanya mengembalikan hakekat ajaran yang sebenarnya, seperti yang diberitakan para nabi dan Musa (Kis. 26:22-23). Pernahkan anda dianggap aneh karena mau menegakkan ajaran yang sesungguhnya? Paulus sudah pernah mengalaminya.

Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | Juni 27, 2011

Harapan baru

Merobek lagi lembaran hari yang telah lewat. Catatan perjalanan kehidupan di dalamnya akan tersimpan dalam berkas jiwa. Coretan, pewarnaan, penulisan ulang adalah bukti sebuah proses diri untuk lebih baik. Kini lembaran baru telah terbentang lagi. Harapanku adalah mencatatkan prestasi baru di dalamnya.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.886 pengikut lainnya.