Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | Agustus 13, 2008

Apa Yang Terjadi di Kana ?

 

Kisah yang terjadi  di pesta perkawinan di Kana (Yoh. 2:1-11) adalah suatu kisah yang luar biasa karena disana kita dapat mempelajari banyak hal menyangkut kehidupan kita dan pertolongan Tuhan bagi kita. Alkitab mengatakan bahwa mujizat yang dilakukan Yesus di pesta ini adalah mujizat pertama yang dilakukan Yesus dalam pelayanannya di bumi. Mari kita melihat apa yang terjadi di Kana bisa menjadi berkat bagi kita.

 

Ayat 1-2: Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu.

 

Di dalam keterbatasan Yesus sebagai manusia, Ia tidak selalu bisa hadir dan memberikan pertolongan nyata bagi manusia. Dalam kemanusiaannya Dia hanya bisa ada pada waktu tertentu, kesempatan tertentu dan tempat tertentu, seperti yang terjadi di Kana. Namun dalam ke Allahan-Nya di dalam Roh, Ia tidak lagi dibatasi ruang dan waktu.

 

Hari ketiga merujuk pada “waktu”, perkawinan merujuk pada “kesempatan/kegiatan” sedangkan Kana dan Galilea merujuk pada “tempat”. Saya percaya bahwa Allah berkeinginan untuk selalu ada dalam kehidupan keseharian kita untuk membawa pertolongan nyata. Kapanpun, dimanapun dan dalam hal apapun.

 

Dikatakan pada ayat diatas, “Yesus dan murid-muridnya diundang juga ke perkawinan itu”. Di sini menunjukkan bahwa yang mempunyai pesta mengenal Yesus. Mereka mengundang Yesus artinya mereka menghendaki kehadiran Yesus disana. Pertolongan Tuhan akan terus kita rasakan kapanpun, dimanapun dan dalam hal apapun ketika kita mengaminkan kehadiran-Nya di dalam hidup kita.

 

Ayat 3: Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur”.

 

Bagi orang yang Yahudi kehabisan anggur pada waktu pernikahan merupakan suatu hal yang sangat memalukan, karena anggur merupakan bagian dari sajian utama dalam pesta. Tetapi mengapa mereka bisa sampai kehabisan anggur, pada hal pesta ini adalah pesta perkawinan yang notabene adalah pesta sukacita?

 

Alkitab tidak menjelaskan hal itu. Namun mengacu pada alasan yang umum terjadi dalam suatu pesta mungkin dapat kita bagi setidaknya dalam dua sebab:

 

1.       Sebab dari dalam.

 

Ada kemingkinan yang memiliki pesta salah perhitungan. Perhitungan banyaknya anggur yang disediakan tidak sesui dengan jumlah undangan. Bisa jadi juga si pemilik pesta memperhitungkan/memprediksi  bahwa yang datang ke pesta paling ada setengah dari jumlah undangan, sehingga ia menyediakan anggur untuk sejumlah yang diperkirakan. Nah, ketika jumlah orang yang hadir benar-benar sesuai dengan jumlah undangan, maka sudah pasti mereka akan kekurangan anggur.

 

Sepanjang hidup kita, mungkin tidak dapat dihitung atau tidak dapat kita ingat lagi sudah berapa kali kita salah perhitungan dalam memutuskan berbagai hal dalam hidup kita. Sudah berapa kali kita salah langkah, sehingga membuat kita harus menanggung malu dan menderita. Ucapan dan tindakan kita yang tidak memperhitungkan untung-ruginya dan baik-buruknya bisa berakibat fatal bagi kita sendiri. Ucapan dan tindakan kita yang tidak baik juga dapat menimbulkan akar pahit bagi orang lain yang kemudian melahirkan kebencian, dendam dan amarah.

 

 

2.    Sebab  dari luar.

 

Kemungkinan adanya keserakahan dari antara para undangan.  Mereka mengambil kesempatan untuk meminum anggur sepuas-puasnya bahkan mungkin sampai membawa pulang. Tentu ini hanyalah satu kemungkinan. Namun dalam konteks jaman ini, hal seperti ini mungkin tidak sulit kita temukan, khususnya pesta yang diadakan di desa-desa. Seperti yang pernah saya temukan pada suatu pesta di kampung. Seorang ibu meminta berkali-kali makanan untuk seorang anaknya kepada pelayan yang berbeda. Setelah meminta kepada pelayan yang satu, dia membungkus dan menyimpannya dalam tas. Saat pelayan yang lain lewat, dia juga meminta hal yang sama untuk anak yang sama. Dan bukan hanya satu-dua yang saya temukan berbuat demikian.

 

Tidak semua hal yang tidak baik yang kita alami dalam hidup kita disebabkan oleh ulah kita sendiri. Bisa jadi oleh karena imbas perbuatan orang lain kita mengalaminya. Mungkin kita bertanya, “Mengapa Tuhan ijinkan cobaan terjadi dalam hidup kita?” Jawabannya dapat kita peroleh dari Yakobus 1:2-4 yang berkata:” Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.

 

Pencobaan adalah bagian dari proses pendewasaan iman. Dengan pencobaan, kita secara tidak langsung di ajak berpikir dan merenungkan tentang kehidupan itu sendiri. Pencobaan membawa kita pada kedewasaan berpikir yang kemudian menghasilkan kedewasaan dalam bertindak. Saya percaya pencobaan yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita adalah sesuai dengan kebutuhan dalam proses pendewasaan itu sendiri, seperti yang dikatakan firman Tuhan “tidak melebihi kekuatanmu sendiri”.

 

Oleh karena itu kita perlu belajar berpikir positif terhadap pencobaan yang kita alami. Hal yang perlu kita lakukan adalah menerima cobaan itu dengan ikhlas hati dan mempercayai bahwa dibalik semua pencobaan yang diijinkan itu ada maksud Allah yang indah bagi kita.

 

Ayat 4-5: Kata Yesus kepadanya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”

 

 

Maria menyampaikan permasalahan yang terjadi kepada Tuhan Yesus yaitu pesta itu kekurangan anggur. Maria tidak secara langsung meminta Yesus untuk bertindak namun Tuhan Yesus dapat membaca atau mengerti keinginan dari Maria ibunya sehingga Ia langsung berkata : “mau apakah engkau dari padaKu, ibu? SaatKu belum tiba”.

 

Apabila kita memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan, sama seperti Maria, kita dapat mengenal kebaikan hati Bapak yang dapat menolong dalam permasalahan yang ada. Dan Allah mengerti apa yang kita inginkan daripadaNya walaupun kita tidak mengatakannya.

 

Ayat 6: Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung.

 

Bejana air menunjuk kepada kita sebagai manusia atau sebagai umat Tuhan. Sama seperti anggur yang pertama adalah juga anggur yang baik yang disediakan si empunya pesta, namun tidak dapat memberi jaminan yang cukup untuk terhindar dari masalah atau persoalan. Niat dan perbuatan yang baik tidak dapat menjamin bahwa kita tidak akan pernah menghadapi persoalan. Sebagai manusia kita memiliki keterbatasan. Kita hidup di dunia yang penuh dosa dan kejahatan. Kita hidup serumah yang bernama bumi bersama-sama dengan orang yang tidak mengenal Tuhan. Oleh karena itu kita membutuhkan campur tangan Tuhan di dalam hidup kita. Kedahsyatan pekerjaan Tuhan akan memampukan kita tetap berdiri dalam iman dan pengharapan yang teguh meski kita menghadapi persoalan.

 

Ayat 7-9: Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Dan merekapun mengisinya sampai penuh. Lalu kata Yesus kepada mereka: “Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.” Lalu merekapun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu–dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya–ia memanggil mempelai laki-laki,

 

Untuk mengalami muzijat, kita perlu di penuhi air hidup yaitu firman Allah. (Eph 5:26; Jn 15:3). Banyaknya firman Allah kita ijinkan memasuki hidup kita akan menentukan banyaknya kekuatan Allah yang akan kita alami. Seperti perkenalan Yesus dengan para pelayan, Visi/rancangan Allah kita alami di karenakan kepatuhan kita pada perkataannya. Pelayan-pelayan itu tahu dari mana anggur itu berasal, tetapi “orang-orang penting” yang di pesta itu tidak tahu. Ketika seseorang melayani Kristus, dia belajar rahasia-Nya. (Amos 3:7; Yoh 15:15). Pelayan merasa gembira menjadi bagian dari mujizat dan mendapat pengertian akan pekerjaan Allah (Mat 14:19,20). Siapapun kita, memiliki kesempatan untuk mengalami muzijat Allah. Jangan engkau berfikir bahwa hanya orang-orang yang dianggap paling penting di dalam gereja yang dapat mengalami mujizat Allah. Atau hanya pendeta atau pelayan-pelayan altar saja. Bukan, melainkan kita semua yang mau melayani Tuhan dengan bentuk pelayanan apa pun yang dipercayakan kepada kita.

 

Ayat 10-11: Dan berkata kepadanya: “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.” Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.

 

Apa yang diberikan Tuhan adalah selalu yang terbaik.

Mujijat yang pertama pada musa adalah berubahnya air menjadi darah (Exo 7:19), yang berbicara tentang hukuman (PL/Taurat)

Mujijat pertama Yesus adalah air menjadi anggur dalam perkawinan di Kana, berbicara tentang anugerah, perjanjian yang lebih baik (PB/Injil) .Yesus mewujudkan keagungan Tuhan dan hasilnya adalah murid-murid percaya kepada-Nya (Rom 2:4)

 

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.452 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: