Oleh: Ev. Lomser Hutabalian, S.Th | Agustus 13, 2008

MENJADI SEORANG MURID KRISTUS

PENGERTIAN MURID

 

Pengertian umum dari murid adalah seorang pelajar. Pelajar adalah orang yang mau belajar, menimba ilmu pengetahuan dengan tujuan meningkatkan kwalitas diri. Kwalitas yang semakin baik merupakan cita-cita yang ingin dicapai ketika seseorang mau belajar. Apabila orang tua mau menyekolahkan anak-anaknya setinggi-tingginya tidak bertujuan untuk gagah-gagahan, menunjukkan kemampuan materi atau supaya anaknya sekedar tamat dan bisa mencari kerja, tatapi tujuan pokok adalah agar anak-anak itu pintar, berpengetahuan yang dapat meningkatkan kwalitas hidup mereka kelak dalam banyak aspek.

 

Dalam pengertian Alkitab juga hampir sama seperti dalam pengerti umum, hanya saja dalam pengertian Alkitab, bahwa murid juga adalah seorang pengikut (Follower). Sebagai pengikut, sang murid bukan saja bertujuan untuk mencari ilmu pengetahuan tapi juga pengabdian diri. Jadi murid Kristus adalah orang-orang yang mau diajar dan belajar tentang kebenaran firman Tuhan dan mau mengikut serta mengabdikan diri kepada Dia.

 

Di dalam alkitab kita bisa menemukan beberapa contoh tentang murid (pengikut) yang mengabdikan dirinya kepada gurunya antara lain Musa dengan Yosua (Bil 11:28). Pemilihan Allah kepada Yosua untuk menggantikan Musa bukanlah secara tiba-tiba. Selama Musa memimpin bangsa Israel, Yosua telah menjadi abdi yang setia (Kel. 33:11) dan yang mau belajar dari cara kehidupan dan kepemimpinan Musa. Hal ini dibuktikan bahwa Yosua sebagai salah satu orang yang dipilih untuk pergi mengintai tanah Kanaan. Ketika kelompok-kelompok yang diutus kembali dari pengintaian semua pesimis untuk menghadapi orang Kanaan, hanya Yosua dan Kaleb yang optimis karena mereka telah menjadi murid yang setia dan yang mau belajar dari Musa melalui perjalanan mereka (Bilangan 14:6-9).

 

Demikian juga antara Elia dengan Elisa, walaupun tidak banyak diceritakan bagaimana proses pemuridan itu sendiri  karena tidak banyak kisah yang menceritakan pelayanan mereka secara bersama-sama namun dari pernyataan Elisa ketika Elia akan terangkat ke sorga (2 raja 2) dan juga melihat dari pelayanan Elisa yang juga dahsyat bahkan kemudian Elisa menjadi pemimpin sekelompok nabi, pastilah ia belajar dari gurunyaa Elia .

 

Contoh lain adalah Yohanes Pembaptis dengan murid-muridnya (Mark 2:18), Yesus dengan 12 murid-Nya dan juga Paulus dengan muridnya Timotius, Titus, dsb.

 

 

  1. TUJUAN PEMURIDAN

 

A.                Mengajar umat Tuhan dengan pengetahuan firman Allah

 

Sebagaimana amanat Tuhan Yesus Kristus, yaitu untuk menjadikan semua bangsa menjadi murid, disana dikatakan “..dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang yang telah kuperintahkan kepadamu….” (Mat.28:20), maka umat Tuhan harus diajar untuk mengerti perintah atau firman Allah dengan demikian umat Tuhan dapat melakukan firman Allah itu dengan benar. Karena tidak mungkin mereka melakukan firman Allah dengan benar kalau mereka tidak mengerti.

 

Selain menyatakan diri secara langsung kepada nabi-nabi, Tuhan menyatakan diri-Nya melalui firman yang tertulis (Alkitab).  Dari firman Tuhan, kita mengerti tentang Tuhan Lewat firman Tuhan bagi kita disingkapkan tentang penciptaan, dosa, kematian, pengampunan, keselamatan, iman dan pengharapan apa yang kita miliki selama kita masih di dalam dunia.  Lewat firman Tuhan juga yang dalam hubungan-Nya dengan kita sebagai manusia; Tuhan dalam diri Yesus Kristus menyatakan diri sebagai Juru Selamat, Gembala, Raja, Sahabat, yang kesemua pernyataan ini bertujuan agar kita tahu bagaimana memposisikan diri dihadapan Tuhan.

 

Yesus sendiri dalam pelayanan-Nya terus mengajar tantang Allah dan karya-Nya. Ia mengajar murid-muridnya dan umat Israel di bait Allah dan tempat-tempat umum. Dan sepeninggal Yesus, rasul-rasul melanjutkan misi Tuhan dengan terus mengajar. Kisah Para Rasul mengatakan bahwa rasul-rasul setiap hari mengajar di Bait Allah, dan memberitakan Injil ke berbagai penjuru (Kis. 5:42).  Rasul Paulus dalam surat-suratnya sangat menekankan bagaimana pentingnya pengajaran firman Tuhan. Tanpa mengesampingkan nilai tata ibadah dan karunia-karunia, dia menekankan bahwa pengajaran firman Tuhan menjadi hal yang sangat mendasar dan mutlak bagi kehidupan jemaat-jemaat Tuhan (Ef. 6:4; 1 Kor. 14:19; 1 Tim 4:11, dsb).

 

Menurut tradisi, orang Israel yang hidup pada masa Perjanjian lama selalu mengajarkan anak-anak mereka tentang hukum Taurat selama kira-kira 2 jam setiap hari. Dan pada masa jemaat mula-mula umat-umat Tuhan  juga diajar oleh rasul-rasul setiap hari (Kis.2:41-47). Sangat kontras dengan cara hidup orang kristen jaman ini. Hal ini bisa dipahami seiring kemajuan jaman yang semakin sibuk dengan urusan dunia (jasmani) yang sangat menyita waktu dan perhatian. Kemajuan jaman menuntut orang tidak lagi mengejar kecukupan primer tetapi kehidupan yang lebih dari cukup bahkan tak jarang mengejar kekayaan atau kelimpahan secara materi. Namun meski tidak dapat menghidupi kehidupan seperti jemaat mula-mula, sesungguhnya umat-umat Tuhan masih dapat dan memang seharusnya membagi waktu untuk terus belajar firman Tuhan dengan cara membaca dan merenungkan firman Allah dan juga melalui kehadiran pada pertemuan-pertemuan ibadah.

 

 

B.                Menjadikan umat Tuhan dewasa rohani.

 

Pemuridan juga bertujuan untuk menjadikan umat Tuhan dewasa rohani. Menjadi dewasa tidak datang secara instan tetapi membutuhkan proses yang terus menerus dan waktu. Tidak ada jalan pintas untuk menjadi dewasa. Kedewasaan seseorang akan nampak dari cara berpikir, ucapan dan tindakan seseorang. Secara jasmani kedewasaan seseorang tidak dapat diukur dengan tubuh yang besar dan umurnya yang sudah tua, karena ada juga orang yang sudah tua dan yang badannya besar namun sikap dan perbuatannya seperti anak-anak. Jadi kedewasaan di ukur dari sikap dan perbutannya. Demikian juga kedewasaan rohani seseorang tidak  dapat diukur dengan lama-nya dia menjadi seorang kristen melainkan melalui sikap dan perbuatannya.  Proses pendewasaan itulah yang disebut pertumbuhan.

 

Satu hal yang pasti bahwa pertumbuhan harus dimulai dari benih. Dari benih inilah bertumbuh menjadi tunas, terus bertumbuh menjadi pohon dan terus bertumbuh hingga menghasilkan buah. Pertumbuhan rohani pun harus dimulai dari benih yaitu firman Allah yang terus bertumbuh di dalam kehidupan orang percaya. Layaknya tumbuh-tumbuhan yang terus-menerus membutuhkan suply makanan yaitu zat-zat yang terkandung di dalam tanah, air, oksigen dan sinar matahari untuk membentuk pertumbuhan, demikian juga umat Tuhan secara terus menerus membutuhkan firman Allah yang menyatu dengan hidup kita dan dan memberi pertumbuhan (Ef. 4:11-13). Pertumbuhan iman seorang murid akan terlihat bahwa tahap demi tahap atau dari waktu ke waktu sikap dan perbuatannya akan semakin baik seiring semakin bertambahnya pengetahuan akan firman Allah.

 

Pertumbuhan yang baik tidak melulu karena faktor benih dan air tapi juga faktor tanah. Dalam perumpamaan tentang seorang penabur (Luk. 8:4-15) dapat kita pelajari bahwa tumbuhan pada tanah yang keras dan berbatu-batu tidak akan bertumbuh dengan baik bahkan akan mati. Sedangkan pada tanah yang baik, tumbuhan akan bertumbuh dengan baik dan menghasilkan buah. Pada ayat 15 dikatakan “Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.” Mengeluarkan buah artinya berbuat atau melakukan firman itu. Jadi jelas bahwa pertumbuhan dalam permuridan itu tidak terlepas dari pembelajaran firman Tuhan dan applikasinya yang berkesinambungan.

 

Seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa kedewasaan terlihat dari sikap dan perbuatannya, maka seorang yang dewasa akan bijaksana dalam mengambil tindakan atau membangun kehidupannya. Dia mengerti tujuan hidupnya. Orang dewasa rohani akan dapat memimpin bukan di pandang secara organisasi tapi cara hidup.

 

Kedewasaan rohani juga terlihat dari cara seseorang menyikapi segala sesuatu yang terjadi di dalam hidupnya. Manis dan pahit, susah dan senang, kaya atau miskin, disikapi dengan bijaksana. Kalaupun Tuhan mengijinkan sesuatu penderitaan terjadi maka penderitaan itu tidak akan menjauhkan dia dari persekutuan dengan Tuhan. Kalau Tuhan mengijinkan dia memiliki berkat materi, itupun tidak dapat menjauhkan dia dari Tuhan.

 

C.                Menjadi Serupa Dengan Kristus.

 

Menjadi serupa dengan Kristus adalah kehendak Allah atas manusia. Dalam Roma 8:29 “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung diantara banyak saudara.” Hal ini dapat terjadi melalui pemuridan, karena dalam pemuridan terjadi pembaharuan cara berpikir dan pembentukan karakter tahap demi tahap seiring dengan pengetahuan firman Allah sehingga pada akhirnya seorang murid akan serupa dengan Kristus. Menjadi seperti Kristus adalah proses yang panjang. Dalam proses ini terjadi pembentukan karakter, dan pembentukan karakter hanya bisa terjadi dengan senantiasi mengaplikasikan/mempraktekkan firman Tuhan dengan disiplin yang tinggi.

 

Karakter Kristus yang seharusnya kita teladani sebagai murid adalah seperti yang tertuang dalam Galatian 5:22-23 sebagai buah Roh yaitu  kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Dalam surat rasul Paulus kepada jemaat di Pilipi (Pilipi 2:1-11) Rasul Paulus mengharapkan karakter ini bertumbuh dalam jemaat di Pilipi. Secara khusus pada ayat 5 dikatakan : “Hendaklah kamu dalam hidup bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus.”

 

Kita tidak akan bisa menjadi seperti Kristus dalam keilahian-Nya namun kita menjadi seperti Kristus dalam kemanusiaan-Nya yang sempurna. Kita tidak memiliki kuasa seperti Tuhan tetapi kita memiliki otoritas untuk mengandalkan Kuasa Tuhan dalam hidup kita (Markus 16:17-18). Demikian juga dalam proses pembentukan karakter itu, kita tidak akan mampu untuk mempraktekkan dengan sempurna firman Allah yang kita terima tanpa pertolongan Tuhan.  Oleh karena itulah kita perlu terus bersekutu dengan Allah yang telah mengutus Roh-Nya menjadi penolong bagi kita. Dengan pertolongan Roh Allah pada akhirnya kita bisa menjadi seperti Kristus.

 

  1. SYARAT MENJADI MURID KRISTUS.

 

Dalam Lukas 14:26 dikatakan: Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, sudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKu”

 

Firman Tuhan ini bukanlah sedang mau menciptakan konfrontasi atau menebar rasa kebencian diantara anggota keluarga dalam hal kita mengikut Yesus, tetapi yang dimaksud adalah bahwa kita harus mengutamakan Yesus diatas segalanya termasuk diatas kepentingan kekeluargaan.  Hal ini ditegaskan dalam Matius 10:37 yang berkata:”Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagiku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripadaKu, ia tidak layak bagikiu.”

 

Tentu saja kalau kita menghidupi kasih Tuhan, maka kita juga dituntut untuk mengasihi orang lain apalagi keluarga kita. Bahkan mengasihi orang lain merupakan tanda yang dituntut dari seorang murid (Yoh.13:34-35). Namun apabila diperhadapkan dengan satu pilihan diantara Tuhan dengan keluarga kita atau orang lain, maka kita diharuskan memilih Yesus walaupun akhirnya harus ada konfrontasi, inilah yang menjadi satu syarat kelayakan menjadi seorang murid Tuhan.

 

Kemudian dalam Matius 16:24 dikatakan:” Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Artinya menjadi murid Kristus bukan perkara mudah atau gampangan seperti kehidupan kekristenan jaman sekarang ini yang cenderung “semau gue”.

 

Ada tiga komponen yang digariskan dalam Matius 16:24 sebagai syarat kelayakan sebagai pengikut (murid) yaitu “menyangkal diri”, “memikul salib” dan “mengikut”.

 

Menyangkal Diri.

 

Menyangkal diri maksudnya tidak mengandalkan diri dalam segala hal.  Mengakui bahwa kita tidak memiliki hak atas hidup kita, mengakui bahwa Tuhanlah yang menjadi sumber keselamatan, pertolongan dan pemeliharaan. Bukan gagah perkasa kita tetapi oleh karena Tuhan.

 

Penyangkalan diri berarti bahwa kita tidak bisa kompromi dengan kebenaran diri kita sendiri. Kita tidak bisa membenarkan tindakan-tindakan kita kalau tidak sesuai dengan firman Allah. Apa yang kita pikirkan dan lakukan haruslah mengacu pada kehendak Allah dalam firman-Nya. Prinsip penyangkalan diri dapat kita lihat dalam diri para rasul seperti rasul Paulus yang dalam surat-suratnya kita bisa melihat pernyataannya bahwa apa yang dia pikirkan, apa yang dia lakukan semata-mata bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk Tuhan. Dalam Roma 14:8 dia tuliskan:” Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup dan mati, kita adalah milik Tuhan” (Lih. 2 Kor. 5:15; Galatia 2:20).  Dalam Kis. 20:22-23 dia menyebut dirinya sebagai tawanan Roh, artinya dia tidak bisa tidak harus mengikuti kemauan Roh itu. Kemanapun Roh itu menyuruh dia, dan apapun yang dikehendaki Roh itu untuk dilakukan maka dia merasa wajib melakukannya sekalipun dia harus diperhadapkan ke penjara.

 

Filipi 1:20-21, Paulus mengatakan kerinduan dan harapannya yaitu bahwa Kristus dengan nyata dimuliakan dalam dirinya, baik oleh hidupnya maupun oleh matinya. Dan baginya hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.

 

Memikul Salib.

 

Syarat lain untuk menjadi murid adalah mau memikul salib (Lukas 14:27).  Salib merupakan instrument hukuman. Pada jaman kerajaan Romawi era Yesus di dunia, hukuman mati diberikan untuk kesalahan yang dianggap berat yang di buktikan di pengadilan atau yang dinyatakan  oleh beberapa saksi. Tentu saja Tuhan tidak sedang menyuruh kita untuk memikul salib karena kejahatan kita tetapi yang perlu disalibkan adalah pikiran dan tindakan atau keinginan duniawi yang bisa menimbulkan kejahatan.

 

Mengacu pada salib Kristus maka makna salib adalah pengorbanan diri dan ketaatan. Yesus Kristus disalibkan bukan karena dosa dan kesalahan yang Dia telah lakukan tetapi Ia disalibkan untuk menebus manusia dari dosa. Ia mengorbankan diri-Nya supaya orang-orang yang dikasihi-Nya memperoleh keselamatan.

 

Seperti pernyataan Yesus sendiri bahwa Dia datang kedalam dunia dan melakukan segala pekerjaan-Nya adalah untuk memenuhi kehendak Bapa yaitu keselamatan manusia lewat pengorbanan-Nya di kayu salib (Yohanes 6:38-39).  Bahkan ketika suatu malam dalam kemanusiaan-Nya menjelang perjalanan salib yang harus dijalani-Nya, Dia berdoa kepada Bapa supaya Bapa melalukan cawan (penderitaan salib) itu daripada-Nya tapi Dia katakan “..tapi bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi”.

 

Jalan salib adalah juga wujud ketaatan Yesus kepada Bapa. Dalam Filipi 2:6-8 “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib”.

 

Jadi untuk layak menjadi murid bagi Kristus harus mau menyalibkan keduniawian dan mau taat untuk melakukan kehendak Allah, meski harus mengalami penderitaan jasmani.

 

Mengikut Dia.

Kalau dikatakan mengikut itu artinya dengan setia mengikuti langkah Kristus dan dengan taat melakukan apa yang di firmankan-Nya. Ketika Yesus mengajak murid-murid yang pertama, Yesus mengatakan “ikutlah Aku” lalu mereka mengikut Yesus dan meninggalkan jala, perahu, ayah mereka untuk mengikut Yesus (Matius 4:18-22). Disini tidak ada tawar menawar, tidak ada pertimbangan untung-rugi, tetapi mereka langsung mengikut Yesus.

Seringkali orang-orang Kristen terhalang mengikut Yesus karena mereka tidak mau berkomitmen untuk mengutamakan panggilan Tuhan daripada hal-hal yang lain seperti yang bisa kita lihat sebagai contoh di dalam alkitab.

Suatu waktu dari antara orang-orang yang berkerumun, datanglah seorang  ahli taurat berkata kepada Yesus: “Guru, aku akan mengikuti Engkau, kemana saja Engkau pergi”  Tapi Yesus menjawab : ”Seriga mempunyai liang dan burung memiliki sarang, tetapi Anak manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya. (Matius 8:19-20). Jawaban Yesus ini merupakan suatu pernyataan bahwa Dia sebenarnya tidak mendapat tempat utama di hati orang Farisi ini.

Walaupun dia berkata akan mengikut Yesus, tetapi sesungguhnya Yesus tahu keberatan hatinya. Mengapa? Karena ia adalah seorang farisi yaitu seorang ahli Taurat yang miliki reputasi (nama besar) yang tinggi dan juga memiliki otoritas (kuasa) dalam system agama Yahudi. Yesus memperingatkan dia dalam kegelisahan hatinya. Satu sisi dia mau mengikut Yesus tapi sisi yang lain dan yang lebih dominan adalah kehormatan  dan kuasa sebagai orang Farisi berat untuk ditinggalkannya.

Seorang yang lain menunjukkan ketidaksiapannya untuk mengikut Tuhan yaitu  ketika Yesus mengatakan kepada dia “Ikutlah Aku”. Orang itu menjawab, “Izinkan aku terlebih dahulu menguburkan bapaku” (Lukas 9:59)  Tentulah dia tidak mungkin berada di tempat itu bersama dengan Yesus dan orang-orang yang berkerumun disitu kalau ayahnya sedang meninggal. Tapi konon ini merupakan gaya bahasa timur tengah yang berarti dia masih perlu tetap tinggal sampai ayahnya meninggal.  

Yesus kemudian mengatakan kepadanya: ”biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah kerejaan Allah dimana-mana” (Luk 9:10).  Dalam hal ini Yesus sedang mengatakan kepada dia untuk meninggalkan keduniawian dikerjakan oleh orang-orang duniawi;  Artinya kita tidak boleh terperangkap dengan mengijinkan masalah-masalah duniawi menghalangi prioritas sorgawi.  

Orang yang ketika berkata kepada Yesus :” Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan terlebih dahulu dengan keluargaku” (Lukas 9:61).  Mari kita lihat jawaban Yesus,”Setiap orang yang siap membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk kerajaan Allah.” (Lukas 9:62). Saya percaya bahwa tidak ada yang salah sebenarnya dengan berpamitan terlebih dahulu, tapi Tuhan Yesus melihat hati yang masih mendua di dalam orang ini. “Menoleh kebelakang” artinya masih ada kebimbangan dan pertimbangan.

Jadi untuk mengikut Tuhan dan menjadi seorang murid memang tidak mudah, ada harga yang harus dibayar yaitu keutamaan Kristus diatas segalanya. Kalau melihat cara hidup orang kristen umunya pada jaman sekarang, mereka tidak layak disebut murid Tuhan Yesus dalam perspektif (pandangan) alkitab. Karena kebanyakan orang kristen jaman sekarang telah menempatkan Yesus menjadi urutan kesekian diatas kepentingan yang lain.

Dalam konteks kehidupan kita sekarang ini, kita tidak lagi akan mengikut Yesus secara jasmani seperti ketika Ia memanggil ke dua belas muridnya dan muridnya mengikut Dia kemana saja Dia pergi untuk melayani, melainkan kita mengikuti visi dan misinya bagi dunia. Kepada Simon Petrus dan Andreas Yesus berkata akan menjadikan mereka menjadi penjala manusia (Mat. 4:19), dan kepada kesebelas murid Dia perintahkah untuk pergi, menjadikan semua bangsa menjadi murid, membabtis dan mengajar mereka melakukan perintah Yesus. Perintah Yesus inilah yang harus kita ikuti.

 

Inilah idealisme sebagai seorang murid, yaitu berkesinambungan dalam firman Tuhan (Yoh. 8:31), memberitakan firman, menjala manusia dan membawa kepada Kristus. Sudahkah kita menjadi murid? Berapa persenkah orang Kristen yang menyebut diri murid melakukan hal ini? Apakah anda melakukannya?

 

 

 

About these ads

Responses

  1. saya sungguh tersentak ya dengan apa yang barusan saya baca dari atas, saya sadar sebetulnya posisi saya sekarang ada dimana? saya bertanya pada diri saya sendiri dan saya sudah tahu jawababnnya bahwa saya blum segnap hati menyerahkan sepenuhnya kedalam tangan tuhan, saya masih ingat bahwa pikiran dan perasaan saya yang masih mengontrol hidup saya . Kadang khwatir, ragu, dan di saat2 kritis saya mulai dihinggapi keputusasaan. saya harap dukungan Doa ya supaya tetap kuat dalam Tuhan Dan biarlah hati seorang hamba/pelayan menjadi milik saya.thanks GBU

  2. Saya juga ingin dibantu diberi dorongan atau motivasi dalam mempergunakan kesempatan yang ada saat ini karena akhir2 ini saya jarang kekampus padahal saya kan baru smester 4. Sebenarnya sich saya tahu bahwa ada roh yang sedang mempengaruhi yaitu roh kemalasan dan itu salah satu sbabnya oleh teman sekmar saya yang kul jg amburadur dan jarang kul, malam hari kluar dan pada ciang hari tidur…thanks GBU

  3. Syukur bagi Tuhan kalau tulisan ini telah menjadi berkat bagi saudaraku Harapan. Mengikut Tuhan memang tidak mudah, namun percayalah yang dibutuhkan oleh Tuhan adalah penyerahan diri yang sungguh-sungguh. Kita sedang memasuki proses yang berlangsung terus-menerus. Jika dalam proses itu kita terkadang masih mau “jatuh” itu adalah wajar. Seorang yang terjatuh kedalam dosa bukanlah orang yang hidup di dalam dosa. Satu hal yang pasti apabila, orang yang sudah ada didalam anugerah keselamatan terjatuh, ia akan tetap di kuatkan oleh Tuhan untuk bangkit dari kejatuhannya.

    Sebagai kekuatan buat saudaraku, saya sekarang bekerja di salah satu perusahaan, juga aktif melayani sebagai sintua dan pembina pemuda GPI sekota Batam, juga menjadi salah satu moderator milis GPI, juga adalah seorang mahasiswa STT semester V. selama 4 hari dalam seminggu saya harus kuliah malam langsung dari tempat kerja. Juga sudah punya istri dan dua orang anak yang harus di urus. Jadi kalau saya bisa menjalani semua ini, saudara juka bisa bahkan sangat bisa. Tetaplah fokus pada goal, dan anggaplah kuliah ini adalah juga menjadi persembahanmu kepada Tuhan. Tuhan memberkatimu.

  4. [...] Lampiran:  http://hutabalian72.wordpress.com/2008/08/13/menjadi-seorang-murid-kristus/ [...]

  5. [...] Lampiran:  http://hutabalian72.wordpress.com/2008/08/13/menjadi-seorang-murid-kristus/ [...]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.452 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: