Februari 1994, aku memasuki kota Batam. Waktu itu Batam masih belum seramai dan semaju sekarang ini. Disana sini masih banyak hutan dengan pohon-pohon yang rindang diantara kumpulan komplek perusahan dan daerah-daerah pemukiman. Rumah-rumah triplek dan kayu yang beratapkan getah masih mendominasi jumlah rumah di kota ini. Rumah-rumah ini menjamur diatas tanah otorita atau tanah yang telah dialokasikan kepada pengusaha namun belum digunakan. Sering terjadi masalah ketika pemilik lahan itu akan menggunakanya, biasanya ada perlawanan dan tuntutan ganti rugi. Mungkin karena itu pula rumah-rumah ini disebut rumah bermasalah menggantikan sebutan sebelumnya yaitu rumah liar (RULI).

 

 

 boat1

 

Perjalananku dari Medan ke kota ini tidaklah mulus. Karena mobil yang aku tumpangi dari Pekan Baru menuju pelabuhan Buton rusak, terpaksa kami terlambat sampai di pelabuhan Buton. Sementara kapal yang seharusnya membawa kami ke Batam sudah pergi beberapa jam sebelumnya. Semua penumpang tentu saja kebingungan. Apalagi aku yang belum pernah menginjakkan kaki di tempat ini. Aku memang tidak pernah bepergian jauh kecuali ke Sibolga tempat tinggal pamanku. Di sini tidak ada penginapan. Yang ada beberapa rumah-rumah penduduk yang kebanyakan kecil dan tidak terlalu bagus.

 

 

Untunglah, ternyata masih ada satu kapal kecil. Tapi kapal ini seharusnya tidak sampai ke Batam, hanya kepulau sekitar pulau Batam. Beberapa orang dari pengurus pelabuhan itu akhirnya sepakat dengan orang kapal untuk membawa kami sampai ke Batam. Puji Tuhan, meskipun jumlah penumpang sudah over capacity tapi akhirnya kami sampai juga di Batam.

 

Jam 10 malam kami sampai di pelabuhan. Masalah belumlah selesai. Tapi aku bersyukur karena masih bisa berkata: “Dalam nama Yesus aku menginjakkan kaki di tanah ini” pada pijakan yang pertama ketika aku turun dari kapal. Aku meyakinkan diri bahwa di tanah ini aku akan diberkati luar biasa oleh Tuhan.

 

Ada beberapa taksi pelabuhan yang sedang menunggu. Tidak banyak, karena jam tiba kapal sudah lewat beberapa jam. Masalah timbul karena aku hanya memiliki alamat perusahaan tempat tanteku bekerja. Tidak ada alamat rumah karena merekapun masih tinggal di ruli. Juga tidak ada nomor telepon. Handphone sendiri masih barang yang sangat langka waktu itu. Sedangkan malam hari menurut orang yang duduk sebangku dengan aku di kapal  perusahaan umumnya tidak bekerja. Aku bingung kemana aku harus pergi. Ketakutan sempat menyelimuti diriku. Untunglah teman yang duduk sebangku dengan aku di kapal mengerti keadaanku. Aku memang sempat bercerita kepada dia di kapal bahwa aku tidak punya alamat selain alamat perusahaan. Lalu dia minta tolong kepada supir taksi agar aku diantar ke sebuah penginapan. Tentu saja penginapan yang murah, karena ia tahu aku perantau.

 

mobil-tua

 

Di dalam taksipun aku sempat diselimuti ketakutan. Jalan-jalan yang kami lewati begitu gelap. Tidak ada cahaya lain kecuali cahaya dari lampu mobil ini. Kucoba melihat dari kaca ke sisi kanan jalan yang ada hanya kegelapan. Juga kelemparkan pandangan ke arah kiri, akupun tidak melihat apa-apa selain pekatnya malam.  Aku coba beranikan diri bertanya kepada pak sopir, “kok, gelap seperti ini?”. “Wah, ini masih hutan semua dek” jawabnya. Aku sempat bimbang kalau-kalau supir ini tidak sedang membawa aku ketempat yang seharusnya yaitu ke penginapan seperti yang dipesankan oleh teman yang sebangku denganku di kapal. Tapi puji Tuhan setelah kurang lebih setengah jam perjalanan mulailah tampak cahaya dari lampu penerangan jalan dan juga dari gedung-gedung. Tidak terlalu lama kemudian akhirnya akupun sampai di penginapan.

Malam itu aku tidak bisa tidur nyenyak di penginapan. Hatiku belum benar-benar nyaman sebelum aku bertemu dengan tanteku. Akupun tidak terlalu yakin dengan kebersihan tempat ini. Dalam benakku tempat ini mungkin sering dipakai sebagai tempat maksiat. Tempat untuk melakukan apa yang disebut “short time“. Sebuah istilah yang aku ketahui dari temanku yang kebetulan pernah bekerja di sebuah hotel kecil. Hotel Melati kalau tidak salahnya sebutannya. Aku coba mengisi waktu dengan membaca Alkitab. Tapi akhirnya akupun “tumbang“ ketiduran. Mungkin karena sudah terlalu lelah.

 

Aku terbangun sekitar jam 9 pagi. Cepat-cepat aku mandi, berkemas dan keluar dari penginapan ini. Aku bertanya kepada penjaga penginapan ini bagaimana aku bisa sampai ke alamat yang aku miliki. Lalu dia menghantarkan aku untuk mengambil taksi. Kurang lebih setengah jam perjalanan aku tiba di perusahaan tempat tanteku bekerja. Akupun kemudian bertemu dengan dia.  Oh..Puji Tuhan legalah hatiku. Aku bersyukur kepada Tuhan, karena menghantarkan aku dengan selamat.

batamview