JANITOR ITU BERMIMPI.
(Kisah lanjutan dari Lomser…Hurry Up)
Seperti biasa, pagi itu aku dibangunkan oleh kebisingan jam waker tepat pukul 5 pagi. Itu artinya aku harus bersiap-siap untuk mengadapi rutinitas pekerjaan. Aku harus cepat-cepat sampai di kantor, membersihkan seluruh ruangan kantor, toilet dan menyediakan air panas, kopi/teh, gula sebelum semua staf masuk pukul 7 pagi, kecuali pimpinan dari client representative yang selalu masuk kantor sebelum jam 6 pagi. John Donachie namanya. Ia seorang warga negara Scothlandia yang rajin, tegas tapi juga humoris. Ia pernah bercanda dengan berkata bahwa nanti yang pasti ada dua J di sorga, yang satu JC (Jesus Christ) dan yang satu lagi JD (John Donachie) yaitu namanya sendiri.
Kurang lebih 25 menit lamanya naik ojek dari rumah paman tempat aku kost menuju tempat kerja. Dinginnya pagi selalu aku lawan bersenjatakan jaket lusuh yang aku beli dari loakan atau tempat jual barang second. Di kantor pekerjaan sudah menunggu. Yang paling utama harus aku siapkan yaitu rebusan kopi dengan coffee maker besar, menyediakan teh, gula dan creamer, memastikan toilet bersih dan ruangan-ruangan di pel sebelum para staff dan karyawan yang lain datang. Sesungguhnya pekerjaan ini bukanlah pekerjaan yang biasa aku lakukan, namun bukan berarti tidak bisa kukerjakan, karena waktu sekolah kami biasa mandiri karena orang tua harus banting tulang cari nafkah. Biasanya mereka pagi buta sudah pergi belanja ikan untuk mereka jual. Jadi bisa dikatakan gak banyak waktu mereka untuk mengurusin kami anak-anaknya.

Jujur saja, aku sering bermimpi ingin seperti karyawan yang lain. Datang ke kantor tanpa harus buru-buru, dengan pakaian bagus dan rapi. Mereka yang berstatus engineer atau staff, sekretaris, document control, teknical clerk dan yang selevel dengan itu biasanya datang ke kantor dengan santai dan pakaian rapi. Mimpiku “Bisa gak suatu saat nanti aku seperti mereka?”.
Disela-sela pekerjaan atau ketika break time, aku kadang-kadang cari kesempatan berbincang-bincang dengan inspektor-inspektor yang ada dikantor itu. Kebetulan waktu itu sebagian inspektor adalah orang Malaysia dan Indonesia. Topik pembicaraan bermacam-macam. Mereka sering kali bercerita tentang banyak hal, baik itu mengenai keluarga, situasi politik, perjuangan hidup, pekerjaan, dan lain-lain. Yang paling mengesankan bagiku adalah dimana melalui pekerjaan, mereka sudah malang melintang ke beberapa negara. Sungguh pengalaman yang membanggakan. Apa yang mereka alami di beberapa negara yang sudah mereka jalani mendorong pikiranku untuk bermimpi “Bisa gak suatu saat aku mengalami seperti yang mereka alami, menginjakkan kaki di beberapa negara lain?”
Bisa jadi orang bilang bahwa aku ini bagai seekor burung pungguk yang merindukan bulan. Suatu impian yang mustahil dengan statusku yang adalah seorang tukang sapu. Aku yang tidak punya sekolahan dan tidak punya pengalaman. Jangan bilang aku orang yang malas sekolah atau tidak mau kuliah. Bukan. Bukan aku yang tidak mau kuliah, tetapi orang tuaku yang tidak sanggup mengkuliahkan aku. Untuk meluluskan aku STM-pun orang tuaku sudah kewalahan, apalagi ada banyak adik-adikku yang antri masuk SMP dan SLTA waktu itu.
Tapi Tuhan-ku sungguh baik bagiku. Ketika aku memberi hatiku kepada-Nya, Ia melihat semua yang ada di dalam hatiku. Aku tidak meminta kepada-Nya apa yang aku impikan, tapi tanpa aku minta Dia sudah melihat kedalam hatiku yang paling dalam. Selang beberapa bulan aku sebagai Janitor, aku kemudian diangkat menjadi Document Control. Sungguh diluar dugaanku. Mimpiku yang pertama terjawab sudah. Dan seiring waktu berjalan, berbagai posisipun berganti-ganti aku jalani, dari document control, field clerk, commissioning clerk, dossier coordinator dan menjadi pims administrator. Dan lagi-lagi Tuhan mewujudkan impianku. Melalui beberapa posisi itu pula, aku telah menginjakkan kaki di beberapa negara. Aku pernah ke Myanmar, Thailand (4 kali), Vietnam, Malaysia dan Singapura.
Ah..sunguh baik Tuhan-ku itu kepadaku, Ia telah memungkinkan yang tidak mungkin bagiku. Terpujilah Engkau Tuhanku. I Love You so much.
Januari 2009.
Lomser Hutabalian