Seperti Minyak Yang Baik

 

Mazmur 133:2 “Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya.“

 

Indahnya diam bersama dengan rukun, di gambarkan seperti minyak yang baik di atas kepala Harun.  Minyak yang dituangkan ke atas kepala Harun berbicara mengenai pengurapan saat pemilihan Harun menjadi imam (Kel. 30:30). Dalam hal ini Harun telah dikhususkan menjadi imam, pemimpin spiritual umat Israel. Ia menjadi perantara umat kepada Tuhan. Imam akan membawa persembahan mewakili umat kepada Allah, sekaligus mewakili Allah kepada umat untuk mengajari dan mengawal pelaksanaan prinsip-prinsip hukum Tuhan bagi bangsa Israel.

 

Kita harus ingat bahwa dalam PL, kesetiaan percaya dan kepatuhan memenuhi perintah Tuhan atau ketidaksetiaan dan ketidakpatuhan, akan berimbas langsung kepada umat Israel. Kesetiaan dan kepatuhan akan membawa kemenangan melawan musuh-musuh dan berkat yang selalu tersedia, sedangkan ketidaksetiaan akan membawa kekalahan dan penderitaan. Dengan adanya imam, umat Israel secara terorganisir dan terpimpin akan beribadah kepada Tuhan. Kelangsungan hubungan spritual/rohani yang terus-menerus antara umat dengan Tuhan lewat peribadatan akan membawa berkat bagi umat Israel. 

 

Dalam kehidupan jaman kita ini, dapat kita maknai bahwa minyak yang baik adalah berkat rohani, urapan Roh Kudus  dari Allah yang diterima oleh mereka yang hidup dalam kerukunan dalam iman kepada Yesus. Berkat rohani yang menjadikan mereka menjadi orang-orang yang khusus dan terdepan dalam urusan rohani. Mereka yang hidup rukun akan memiliki kekuatan besar dalam melakukan pekerjaan Tuhan. Tidak saja mereka akan saling menopang dan membangun antara satu dengan yang lain lewat doa-doa serta nasehat dan motifasi yang  membangun tetapi juga dengan penggabungan potensi yang ada dalam komunitas yang rukun itu akan dapat menjangkau jiwa-jiwa lewat penginjilan dan pelayanan-pelayanan yang lain dan membawa jiwa-jiwa itu kepada Tuhan.    

 

Dalam konteks perjanjian baru, bahwa setiap orang yang telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dirinya adalah menjadi imamat yang rajani (1 Petrus 2:9). Kita tidak lagi membutuhkan imam dalam konteks perjanjian lama sebagai pengantara antara kita dengan Allah. Kita diberi kuasa untuk berbicara langsung kepada Allah dan Allah berbicara kepada kita lewat Roh Kudus dan firman-Nya yang tertulis (Alkitab). Justru sebagai imamat yang rajani kita akan membawa keluarga, sahabat, rekan kerja, rekan pelayanan, jiwa-jiwa terhilang, dunia dan permasalahannya kepada Tuhan lewat doa syafaat kita. Dalam penginjilan umum dan penginjilan pribadi, imamat-imamat yang rajani yaitu kita yang percaya memiliki tugas membawa Tuhan kepada jiwa-jiwa terhilang sekaligus membawa jiwa-jiwa terhilang kepada Tuhan.

 

Yang luar biasa dari kehidupan orang-orang hidup dalam perjanjian baru, yaitu adanya otoritas yang dapat dimiliki oleh setiap orang yang percaya kepada Tuhan (bukan seperti dalam perjanjian lama dimana hanya orang-orang tertentu yang di pilih secara khusus), untuk melakukan perkara-perkara besar (Markus 16:17-18). Meskipun harus kita akui bahwa ada talenta-talenta khusus/berbeda yang diberikan kepada setiap orang, tetapi setiap orang memiliki kesempatan, bahkan untuk meminta talenta bagi dirinya sendiri (1 Kor. 12-14).

 

In Him

St.LH