Berbicara tentang harga dari sebuah pelayanan adalah berbicara tentang maksud dan tujuan pelayanan. Maksud artinya orang mengerti apa itu pelayanan, mengapa perlu melayani, siapa yang kita layani, dan bagaimana melayani. Sedangkan tujuan artinya ada sasaran yang perlu dicapai dalam pelayanan itu.

Apa itu Pelayanan?

Berdasarkan firman Tuhan “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah Bapa kita. Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:17, 23), maka dapat disimpulkan bahwa segala yang kita lakukan dalam seluruh aspek kehidupan yang kita lakukan dengan segenap hati dan seperti untuk Tuhan adalah pelayanan. Inilah arti luas pelayanan.

Kita menemukan kata leitourgos yang penggunaanya lebih banyak memiliki konotasi agama, dalam pengertian yang khusus, di dalam PB. Lukas menggunakan istilah ini untuk menggambarkan pelayanan Paulus dan Barnabas di gereja Antiokia (Kis. 13:2), juga dalam pelayanan orang Kristen di Makedonia dan Akaia (Rm. 15:27) dan pelayanan orang Filipi melalui Epaphroditus (Flp. 2:30). Karena itu leitourgos menunjuk pada pelayanan dalam gereja.

Mengapa Melayani dan Siapa yang Dilayani?

“Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” (2 Kor. 5:14-15)

Kita melayani Tuhan karena kita memang harus melayani. Tuhan telah memilih kita dari kekekalan untuk ditebus dari hukum dosa dan hukum maut melalui kematian Kristus. Kita telah dibayar lunas untuk semua dosa-dosa kita (1 Kor 6:20), karena itu kita tidak lagi berhak atas diri kita tetapi Allah. Allah mengehendaki supaya kita hidup untuk Dia dan melakukan segala yang dikehendaki-Nya.

Allah berbicara kepada nabi Yesaya (Yes. 49:6 “Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.”  Artinya adalah bahwa kehendak Allah agar keselamatan sampai keujung-ujung bumi dan sesuai dengan amanat agung Yesus Kristus untuk menjadikan semua bangsa menjadi murid (Matius 28:19-20), maka Allah memilih kita untuk melayani Dia dengan melakukan kehendak dan perintahnya.

Karena itu jangan berpikir bahwa kita melayani untuk gereja, atau melayani untuk menyenangkan hati pendeta. Pikiran seperti ini adalah pikiran yang picik, yang tidak mengerti panggilaannya dalam melayani.

Siapa dan Bagaimana Melayani?

Sering kali kita menganggap bahwa pelayanan itu hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu yang secara organisasi telah diangkat atau memiliki jabatan gerajawi seperti pendeta, pengerja atau penginjil. Semua pelayanan dibabankan kepada segelintir orang itu sehingga pelayanan yang diharapkan oleh Tuhan tidak maksimal terlaksana.

Efesus 4:11-12 berkata:”Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus.”  Dari firman Tuhan ini setidaknya kita dapat membagi dua kelompok atau sebutlah level pelayan menurut fungsinya yaitu: yang memperlengkapi (Sebutlah pengerja; nabi-nabi, pemberita-pemberita Injil, gembala-gembala, pengajar-pengajar) dan yang diperlengkapi (orang-orang kudus – jemaat – ekklesia). Pengerja bertugas untuk memperlengkapi orang-orang kudus dan orang-orang kudus bertugas untuk pekerjaan pelayanan.

Dapat dianalogikan dengan sebuah team sepakbola. Dalam sebuah team ada Manager, Pelatih dan Pemain. Manager berfungsi untuk mengatur managemen, sarana dan pra-sarana (sponsorship, dll) dan Pelatih bertugas untuk melatih, mempersiapkan pemain untuk siap bertanding dan meraih kemenangan. Pemain harus berlatih keras, bertanding dan meraih kemenangan. Karena itu ujung tombak untuk meraih kemenangan adalah pemain. Demikianlah orang-orang kudus dipersiapkan untuk masuk dalam arena pelayanan untuk mencapai kemenangan yaitu memenangkan jiwa-jiwa bagi Tuhan.

Sebelum melayani, maka sesuai firman Tuhan, orang-orang kudus harus dipersiapkan/diperlengkapi terlebih dahulu. Mereka perlu dibekali dengan firman Tuhan, diberi pengertian/pemahaman tentang hakekat pelayanan dan dilatih untuk melakukan pelayanan. Untuk lebih memaksimalkan pelayanan maka perlu ditambah ketrampilan khusus yang sesuai dengan kebutuhan pelayanan. Ada banyak kebutuhan pelayanan dalam di gereja juga untuk kebutuhan yang diluar gereja dalam rangka menjangkau jiwa-jiwa bagi Tuhan.

Sebagai wujud tanggung jawab Allah ketika Ia mempercayakan pelayanan, Allah memberikan berbagai macam karunia (1 Kor. 12:10-11) yang bertujuan untuk membangun tubuh Kristus (1 Kor 12:4-7). Disini sangat jelas dikatakan bahwa Allah-lah yang melakukan semua itu dalam diri orang-orang kudus. Artinya bahwa apapun yang kita dapat lakukan dan karunia apapun yang kita miliki semua itu adalah pekerjaan Allah di dalam diri kita. Karena itu kita tidak boleh berbangga diri karena seolah-olah itu karena kehebatan kita, tapi berbangga dirilah karena Allah mau mempercayakan pelayanan itu kepada kita. Jadi sesungguhnya pelayanan adalah kehormatan. Kepada jemaat di Korintus rasul Paulus mengatakan: ”Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah” (2 Kor. 3:5).

Tujuan Melayani.

Tuhan Yesus telah mempertaruhkan kemulian-Nya dengan menjadi manusia yang hina dan membawa diri_Nya sendiri sebagai korban penebusan salah kepada Allah agar manusia diselamatkan. Ia sangat mengasihi manusia yang diciptakan itu supaya tidak seorang pun yang terhilang. Karena itu ketika Dia telah menyelesaikan tugas penebusan itu, Ia memerintahkan murid-murid-Nya agar memberitakan Injil, membabtis, mengajar dan menjadikan semua bangsa menjadi murid. Inilah tujuan hakiki dari sebuah pelayanan yaitu memenangkan jiwa bagi Kristus. Inilah yang menyenangkan hati Tuhan.

Rasul Paulus sangat merindukan jiwa-jiwa dimenangkan sehingga ia mau menjadikan dirinya hamba supaya dengan demikian ia boleh memenangkan jiwa sebanyak mungkin (1 Kor. 9:19).

Di dalam komunitas gereja pun tujuan ini tidak berubah. Orang-orang yang sudah di dalam gereja perlu dibimbing, diteguhkan, didewasakan supaya mereka siap menghadapi segala tantangan hidup dan tetap setia untuk menantikan hari kedatangan Tuhan yang kedua kali.

Tuhan Memberkati.

1. Allah membenci kemiskinan sebagaimana Ia membenci dosa. Dia tidak akan memberi kemiskinan kepada anda sama seperti Dia tidak mau meletakkan dosa pada saudara. Keselamatan kita di dalam Kristus termasuk juga pelepasan dari kekurangan dan kemiskinan (2Co8:9).

2. Rencana keuangan Allah bagi kita adalah bahwa kita harus berkelimpahan sehingga kita dapat berkelimpahan dalam pekerjaan baik. (2Co9:8). Ini adalah definisi kemakmuran Allah, yang mana tidak ada ketamakan dan mementingkan diri sendiri.

3. Allah tidak mengingikan kita tertangkap dalam ketamakan dan kepentingan diri sendiri (Jam4:3-4), pikirkan Dia senang untuk memberi hasrat hati kita (Ps37:4). Dengan kata lain, berikan hatimu kepada Tuhan, dan Dia akan memberikan kamu apa yang ada di dalam hatimu.

4. Tujuan Allah memberi kemakmuran bagi kita adalah supaya kita hidup untuk memberi (Eph4:28). Dia menginginkan kita untuk mengalami kelimpahan sehingga kita dapat bukan hanya untuk hidup tetapi juga untuk memberi.

5. Bahwa kita diberkati untuk menjadi berkat, merupakan rencana Allah sejak awal (Ge12:2-3). Allah menginginkan kita menjadi sungai agar berkatnya mengalir melewati kita bukan menjadi kolam sehingga berkatnya terhambat di dalam kita.

6. Untuk mengoperasikan bidang kemakmuran yang dimiliki oleh Allah bagi kita, kita perlu tahu bahwa uang memiliki potensi benih. Dan bahwa kita harus mengatur uang seperti cara petani bijak mengatur benihnya-benihnya (2Co9:10-11).

7. Pertama-tama kita harus mengakui bahwa Allah adalah sumber berkat bagi kita and belajar menabur benih terbaik kita. Karena kebenaran Allah memenuhi kita dengan hasil panen (2Co9:10-11).

8. Beberapa orang Kristen terperangkap dalam kemelaratan karena mereka telah memakan benih yang seharusnya untuk di tabur..

9. Ketika anda memiliki “kebutuhan”, Allah menginginkan anda untuk berpikir tentang “benih”. Allah memenuhi keperluan anda melalui hasil panen dari benih yang anda tabur. Ini cara yang dilakukan Allah untuk memenuhi kebutuhan mendesak dari seorang janda dan anaknya di 1 Raja-raja 17:7-16.

10. Allah memberikan kepada gereja Makedonia dua hal yaitu rahmat dan kesempatan untuk memberi, justru karena Dia mau membawa mereka keluar dari kemelaratan mereka. (2Co8:1-4).

11. Adalah berkat kita untuk menabur di ladang Allah. (2 Co 9: 6).

(Diterjemahkan dari Outline Renungan GOD ABUNDANT FOR YOU – LIVE TO GIVE  – Pst. Jhon Kho – Frontiers work)

Friends, kamu tau gak, kisahnya eyang kita Nuh? Pasti tau doo..ng. Setidaknya pernah dengerlah, ya gak? Soalnya kisah ini pasti udah sering di ceritain atau di kotbahkan. Waktu sekolah minggu juga sering kok. Atau….kamu jarang-jarang ke gereja ya? Gothca……. Tapi mungkin kamu udah lupa aja kali ya. That’s Ok. Nih, aku ceritain lagi ya!

Nuh itu seorang yang benar dan punya persekutuan dengan Tuhan. Kalau dalam bahasa paman sam alias bahasa inggeris dibilang Good Relasionship-lah. Kalau kamu mau buka alkitab kamu, di kitab Kejadian 6:9 itu dikatakan bahwa eyang kita Nuh ini hidup bergaul dengan Tuhan. Kamu tau dong artinya bergaul. Kalau dikatakan bergaul berarti antara dia dengan Allah ada hubungan yang terus-menerus. Nah, dalam pergaulan itulah biasanya ada usaha untuk saling mengenal antara satu dengan yang lain. T’rus karena udah lama bergaul sama Tuhan, mbah kita Nuh udah kenal banget and percaya sama Tuhan.

noah-ark2

Masih di kitab kejadian itu juga dibilang kalau Nuh itu adalah orang yang tidak bercela diantara orang-orang sejamannya, yang taraf moralnya udah rendah banget. Eh, ternyata bisa juga ya? Walaupun mental orang-orang sejamannya udah bobrok tapi Nuh masih bisa hidup dengan tidak bercela. Bisa nggak kita ya? Kayaknya sih kalau Nuh bisa, kita juga bisa. Yang penting kita-kita terus belajar bersekutu dengan Tuhan and belajar mengenal segala kasih-Nya pada kita.

Kalau kita pikir-pikir, jaman kita ini tantangan emang kudu berat ya, friends. Banyak sekali temen-temen sebangsa kita yang masih remaja dan pemuda udah pada ketagihan narkoba. Kalau cumam ketagihan rokok sih gak usah ditanya lagi. Anak esde aja udah banyak yang ngerokok, meski sembunyi-sembunyi. Rusaknya lagi nih, banyak Oom-Oom, Tante-tante, kakak-kakak artis yang katanya public figure, bukannya kasih contoh yang baek, malah ikut-ikut mabok narkoba. Kamu-kamu jangan coba-coba nyentuh apalagi gunain narkoba ya friends! Entar rugi sendiri lho. Kata orang-orang yang udah tahu nih, yang gitu-gitu nikmatnya cuma sesaat tapi menderitanya berkepanjangan.

Trus banyak juga tuh artis-artis dan public figure lainnya kasih contoh yang gak baek. Ada yang selingkuhanlah, trus..kawin-cerai. And media massa adu cepat tuk nge-beritain. Belum lagi ada tuan dan nyona pejabat-pejabat yang gak mau kalah bikin masalah di negeri tercinta ini. Dari pejabat rendahan sampe yang pejabat teras. Maksudnya pejabat tinggi lho, bukan teras rumah, he..he… Mereka itu banyak yang koruspi eh.. korupsi lagi. Emang udah kebangetan ya teman-teman. Tapi kita-kita anak Tuhan harus tetap optimis akan ada perubahan ke arah yang lebih baik. And kita harus ambil sikap nggak mau terpengaruh dengan perilaku mereka-mereka itu. Aku percaya friends, kalau kita mau ber-good relationship alias bergaul erat dengan Tuhan, kita pasti bisa kok.

Okey, kita kembali ke kisah Nuh. Diatas tadi udah dibilang kalau Nuh itu adalah orang yang bergaul erat dengan Tuhan dan dia percaya banget sama Tuhan. Makanya dia patuh sama perintah Tuhan, b’cos.. ia tahu kalau Tuhan itu pasti mikirin yang the best alias yang terbaik buat anak-anakNya. Ada firman Tuhan yang bilang begini :“sebab aku tahu rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan untuk memberikan kepadamu masa depan yang penuh pengharapan.“ Tuhan kita emang sangat baik lho. Firman Tuhan ini gak cuma berlaku bagi orang Israel dan Nuh tapi juga berlaku buat kamu-kamu dan aku. Allah merancang yang terbaik bagi kita. Yang penting kita bener-bener percaya pada Tuhan kita.

Ok…entar disambung yang friends…di tunggu aja…

 

Seperti Embun Gunung Hermon.

 

Mazmur 133:3 “Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.”

 

Lihatlah contoh yang diberikan Daud ini, alangkah baik dan indahnya sebuah kerukunan. Di umpamakan seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung (bukit-bukit) Sion.

 

Gunung Hermon adalah gunung yang tinggi yang berada Libanon. Ia berada pada ketinggian sekitar 2800 m diatas permukaan laut. Hampir sepanjang tahun gunung ini bersalju yang menghasilkan embun yang tebal di sekelilingnya. Embun yang turun ke kaki gunung Hermon dan ke gunung-gunung atau bukit yang lebih rendah disekitarnya menghasilkan titik-titik air. Demikian gunung sion yang cenderung kering mendapat berkah dari embun dan air yang mengalir dari gunung Hermon.  Air dari gunung Hermon juga mengalir ke sungai Jordan dan berakhir di Laut Mati*.

 

Embun melambangkan berkat yang turun dari atas (tempat tinggi) mengalir ke tempat yang rendah.  Satu sisi bisa kita maknai ini sebagai berkat dari Tuhan kepada mereka yang merendahkan diri. Namun lebih daripada itu adalah bahwa dalam suatu komunitas yang rukun mereka yang berada di posisi atas akan menjadi berkat bagi mereka yang berada dibawah.

 

Mereka yang kuat akan memberkati yang lemah, yang dewasa menjadi berkat bagi yang belum dewasa, yang tua menjadi berkat bagi yang muda, yang kaya menjadi berkat bagi yang berkekurangan, yang berkhikmat menjadi berkat bagi mereka yang kurang berhikmat, yang berpengetahuan menjadi berkat bagi yang tidak berpengetahuan, dll. Tidakkah ini baik dan indah?

 

Namun harus kita akui, bahwa kerukunan hanya dapat dicapai apabila ada kasih yang senantiasa mendasari dan mengikat setiap orang. Kasih yang mengacu kepada kasih Allah yang murni.  Maka miliki kasih Allah, itu yang utama.

 

In Him,

St.LH

 

Seperti Minyak Yang Baik

 

Mazmur 133:2 “Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya.“

 

Indahnya diam bersama dengan rukun, di gambarkan seperti minyak yang baik di atas kepala Harun.  Minyak yang dituangkan ke atas kepala Harun berbicara mengenai pengurapan saat pemilihan Harun menjadi imam (Kel. 30:30). Dalam hal ini Harun telah dikhususkan menjadi imam, pemimpin spiritual umat Israel. Ia menjadi perantara umat kepada Tuhan. Imam akan membawa persembahan mewakili umat kepada Allah, sekaligus mewakili Allah kepada umat untuk mengajari dan mengawal pelaksanaan prinsip-prinsip hukum Tuhan bagi bangsa Israel.

 

Kita harus ingat bahwa dalam PL, kesetiaan percaya dan kepatuhan memenuhi perintah Tuhan atau ketidaksetiaan dan ketidakpatuhan, akan berimbas langsung kepada umat Israel. Kesetiaan dan kepatuhan akan membawa kemenangan melawan musuh-musuh dan berkat yang selalu tersedia, sedangkan ketidaksetiaan akan membawa kekalahan dan penderitaan. Dengan adanya imam, umat Israel secara terorganisir dan terpimpin akan beribadah kepada Tuhan. Kelangsungan hubungan spritual/rohani yang terus-menerus antara umat dengan Tuhan lewat peribadatan akan membawa berkat bagi umat Israel. 

 

Dalam kehidupan jaman kita ini, dapat kita maknai bahwa minyak yang baik adalah berkat rohani, urapan Roh Kudus  dari Allah yang diterima oleh mereka yang hidup dalam kerukunan dalam iman kepada Yesus. Berkat rohani yang menjadikan mereka menjadi orang-orang yang khusus dan terdepan dalam urusan rohani. Mereka yang hidup rukun akan memiliki kekuatan besar dalam melakukan pekerjaan Tuhan. Tidak saja mereka akan saling menopang dan membangun antara satu dengan yang lain lewat doa-doa serta nasehat dan motifasi yang  membangun tetapi juga dengan penggabungan potensi yang ada dalam komunitas yang rukun itu akan dapat menjangkau jiwa-jiwa lewat penginjilan dan pelayanan-pelayanan yang lain dan membawa jiwa-jiwa itu kepada Tuhan.    

 

Dalam konteks perjanjian baru, bahwa setiap orang yang telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dirinya adalah menjadi imamat yang rajani (1 Petrus 2:9). Kita tidak lagi membutuhkan imam dalam konteks perjanjian lama sebagai pengantara antara kita dengan Allah. Kita diberi kuasa untuk berbicara langsung kepada Allah dan Allah berbicara kepada kita lewat Roh Kudus dan firman-Nya yang tertulis (Alkitab). Justru sebagai imamat yang rajani kita akan membawa keluarga, sahabat, rekan kerja, rekan pelayanan, jiwa-jiwa terhilang, dunia dan permasalahannya kepada Tuhan lewat doa syafaat kita. Dalam penginjilan umum dan penginjilan pribadi, imamat-imamat yang rajani yaitu kita yang percaya memiliki tugas membawa Tuhan kepada jiwa-jiwa terhilang sekaligus membawa jiwa-jiwa terhilang kepada Tuhan.

 

Yang luar biasa dari kehidupan orang-orang hidup dalam perjanjian baru, yaitu adanya otoritas yang dapat dimiliki oleh setiap orang yang percaya kepada Tuhan (bukan seperti dalam perjanjian lama dimana hanya orang-orang tertentu yang di pilih secara khusus), untuk melakukan perkara-perkara besar (Markus 16:17-18). Meskipun harus kita akui bahwa ada talenta-talenta khusus/berbeda yang diberikan kepada setiap orang, tetapi setiap orang memiliki kesempatan, bahkan untuk meminta talenta bagi dirinya sendiri (1 Kor. 12-14).

 

In Him

St.LH

BERKAT DALAM KERUKUNAN – 1

Indahnya Kerukunan

Maz. 133: 1 “Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!“

Saya percaya bahwa setiap orang senang dengan apa yang baik dan indah. Siapa pun manusianya; pintar atau bodoh, baik atau jahat. Meskipun kadang-kadang kebaikan dan keindahan itu bisa menjadi relatif ketika berhadapan dengan etika, norma, adat dan kebiasaan. Paling tidak seorang yang jahat pun akan menginginkan yang baik dan indah bagi dirinya dan keluarganya sendiri.

Pemazmur melihat bahwa ada kebaikan dan keindahan dalam suatu kerukunan, oleh karena itu setiap orang diajak untuk hidup dalam kerukunan. Kalau kita membuat suatu alur atau flow, maka bisa kita gambarkan bahwa ending dari proses ini adalah kebaikan dan keindahan, yang dihasilkan dari sebuah kerukunan, sedang kerukunan adalah hasil kontribusi sikap dan tindakan yang baik dari dua atau lebih orang/pihak. Ajakan hidup dengan rukun di dasari adanya dua atau lebih pihak dalam suatu komunitas sehingga diperlukan sikap dan tindakan yang baik untuk menciptakan kerukunan diantara mereka. Jadi kerukunan tidak tercipta begitu saja secara tiba-tiba tapi merupakan andil dari orang-orang yang termasuk dalam suatu komunitas itu.

Sikap yang paling mendasar untuk menciptakan suatu kerukunan adalah melihat kepentingan bersama lebih utama dari kepentingan pribadi, saling memahami dan menghormati antara satu dengan yang lain. Sikap ini yang perlu dimiliki setiap orang. Sebaliknya apabila ada pihak-pihak yang mementingkan diri sendiri, tidak mau berusaha memahami orang lain sehingga dengan mudah memfonis/menghakimi, tidak mau menghormati orang lain dan mau menang sendiri akan menciptakan pertikaian atau permusuhan dan mungkin juga chaos.

Kepenting diri sendiri yang dimaksud tidak melulu dilihat dari segi materi tapi juga kehormatan. Bukan hanya karena “gila” materi seseorang bisa jatuh ke dalam dosa tetapi juga “gila” hormat. Maka tidaklah mengherankan apabila dalam persekutuan, keluarga bahkan gereja, ada yang memiliki sikap negatif seperti disebutkan diatas akan menghasilkan pertikaian/permusuhan dan atau perpecahan.

Bukan berarti tidak ada perbedaan yang mungkin menghasilkan “kerikil-kerikil” permasalahan dalam suatu komunitas, tapi kalau perbedaan dikomunikasikan dengan baik dengan sikap terbuka dan rendah hati serta mendasarkan pada kepentingan yang lebih besar yaitu kepentingan bersama, maka pasti akan menghasilkan kesepakatan yang baik dan menguntungkan bersama. Istilahnya “conflict of ideas” itu biasa asal jangan “conflict of interest”.

 In Him, St.LH

 

Pernahkah anda menerima e-mail yang berkata seperti ini :

”Jika anda menghapus email ini setelah membacanya…anda akan sial selama setahun”

 

Atau email yang berkata seperti ini :

Jika anda mengirim e-mail ini ke :

1 orang~ permohonanmu akan terjadi dalam waktu setahun

3 orang~ permohonanmu akan terjadi dalam waktu 6 bulan

5 orang~ permohonanmu akan terjadi dalam 3 bulan

6 orang~ permohonanmu akan terjadi dalam 1 bulan

12 orang~ permohonanmu akan terjadi dalam 2 hari

15 orang~ permohonanmu akan terjadi dalam 1 hari

“Tetapi jika anda tidak mengirim e-mail ini, anda akan mendapatkan masalah segera.”

————————————————————————————————————

 

Hati-hati….!!

Kalimat-kalimat seperti itu justru dapat menjadi kutuk bagi kita kalau kita mempercayainya .

 

E-mail seperti itu berisi intimidasi dengan cara menakut-nakuti. Kalimat  ”Jika anda menghapus email ini setelah membacanya…anda akan sial selama setahun” atau “Tetapi jika anda tidak mengirim e-mail ini, anda akan mendapatkan masalah segera” adalah bentuk intimidasi.

 

Jangan terpancing dengan intimidasi yang berkata bahwa kita akan sial, sakit, mati, dll kalau kita tidak memforward e-mail seperti itu. Intimidasi dapat memperdaya anda sehingga anda mem-forward e-mail itu karena anda takut.


Kita harus menyadari bahwa Tuhan tidak mengintimidasi dan tidak menakut-nakuti manusia melainkan iblislah yang melakukan seperti itu.

 

Mungkin orang berkata : “Tetapi e-mail seperti ini kan banyak yang membawa pesan-pesan rohani, berisi gambar Yesus atau Salib atau Maria, bahkan ada yang berisi ayat-ayat alkitab.”

Saya jawab : Ya..tetapi jangan lupa ada serigala yang berbulu domba.  Kalau ada e-mail yang membawa-bawa nama Tuhan tetapi pada akhirnya MENGINTIMIDASI/MENAKUT-NAKUTI dan MEMAKSA kita untuk memforward, itulah pekerjaan serigala berbulu domba.

 

Tahukah anda bahwa impian dan permohonan anda terjadi adalah karena anugerah Allah, jika anda memintanya dengan iman?

 

Yesus selalu mengasihi kita dan perduli kepada kita. Berkat-Nya kepada kita tidak tergantung pada seberapa banyak email seperti itu kita kirim/forward.  Percaya kepada-Nya, dan kita akan diberkati.

 

Keselamatan dan segala kebaikan yang kita terima dari Tuhan adalah karena anugerah Allah oleh iman kita bukan karena usaha kita apalagi karena memforward e-mail seperti ini. Yesus sangat mengasihi anda dan tidak akan mengutuk anda dengan sakit penyakit, kesialan atau kematian karena tidak memforward email seperti yang dimaksudkan diatas.

 

Di dalam Yesus kita orang merdeka. Jangan mau dikenakan kuk perhambaan dan penghukuman (Rm 8:2 & 2 Kor. 3:17). Dia mengasihi kita selamanya. God Bless You.

JANITOR ITU BERMIMPI.

(Kisah lanjutan dari Lomser…Hurry Up)

 

Seperti biasa, pagi itu aku dibangunkan oleh kebisingan jam waker tepat pukul 5 pagi. Itu artinya aku harus bersiap-siap untuk mengadapi rutinitas pekerjaan. Aku harus cepat-cepat sampai di kantor, membersihkan seluruh ruangan kantor, toilet dan menyediakan air panas, kopi/teh, gula sebelum semua staf masuk pukul 7 pagi, kecuali pimpinan dari client representative yang selalu masuk kantor sebelum jam 6 pagi. John Donachie namanya. Ia seorang warga negara Scothlandia yang  rajin, tegas tapi juga humoris. Ia pernah bercanda dengan berkata bahwa nanti yang pasti ada dua J di sorga, yang satu JC (Jesus Christ) dan yang satu lagi JD (John Donachie) yaitu namanya sendiri.

 

Kurang lebih 25 menit lamanya naik ojek dari rumah paman tempat aku kost menuju tempat kerja. Dinginnya pagi selalu aku lawan bersenjatakan jaket lusuh yang aku beli dari loakan atau tempat jual barang second. Di kantor pekerjaan sudah menunggu. Yang paling utama harus aku siapkan yaitu rebusan kopi dengan coffee maker besar, menyediakan teh, gula dan creamer, memastikan toilet bersih dan ruangan-ruangan di pel sebelum para staff dan karyawan yang lain datang. Sesungguhnya pekerjaan ini bukanlah pekerjaan yang biasa aku lakukan, namun bukan berarti tidak bisa kukerjakan, karena waktu sekolah kami biasa mandiri karena orang tua harus banting tulang cari nafkah. Biasanya mereka pagi buta sudah pergi belanja ikan untuk mereka jual. Jadi bisa dikatakan gak banyak waktu mereka untuk mengurusin kami anak-anaknya.

 janitor

Jujur saja, aku sering bermimpi ingin seperti karyawan yang lain. Datang ke kantor tanpa harus buru-buru, dengan pakaian bagus dan rapi. Mereka yang berstatus engineer atau staff, sekretaris, document control, teknical clerk dan yang selevel dengan itu biasanya datang ke kantor dengan santai dan pakaian rapi.  Mimpiku “Bisa gak suatu saat nanti aku seperti mereka?”.

 

Disela-sela pekerjaan atau ketika break time, aku kadang-kadang cari kesempatan berbincang-bincang dengan inspektor-inspektor yang ada dikantor itu. Kebetulan waktu itu sebagian inspektor adalah orang Malaysia dan Indonesia.  Topik pembicaraan bermacam-macam. Mereka sering kali bercerita tentang banyak hal, baik itu mengenai keluarga, situasi politik, perjuangan hidup, pekerjaan, dan lain-lain. Yang paling mengesankan bagiku adalah dimana melalui pekerjaan, mereka sudah malang melintang ke beberapa negara. Sungguh pengalaman yang membanggakan. Apa yang mereka alami di beberapa negara yang sudah mereka jalani mendorong pikiranku untuk bermimpi “Bisa gak suatu saat aku mengalami seperti yang mereka alami, menginjakkan kaki di beberapa negara lain?”

 

Bisa jadi orang bilang bahwa aku ini bagai seekor burung pungguk yang merindukan bulan. Suatu impian yang mustahil dengan statusku yang adalah seorang tukang sapu. Aku yang tidak punya sekolahan dan tidak punya pengalaman. Jangan bilang aku orang yang malas sekolah atau tidak mau kuliah. Bukan. Bukan aku yang tidak mau kuliah, tetapi orang tuaku yang tidak sanggup mengkuliahkan aku. Untuk meluluskan aku STM-pun orang tuaku sudah kewalahan, apalagi ada banyak adik-adikku yang antri masuk SMP dan SLTA waktu itu.

 

Tapi Tuhan-ku sungguh baik bagiku. Ketika aku memberi hatiku kepada-Nya, Ia melihat semua yang ada di dalam hatiku. Aku tidak meminta kepada-Nya apa yang aku impikan, tapi tanpa aku minta Dia sudah melihat kedalam hatiku yang paling dalam. Selang beberapa bulan aku sebagai Janitor, aku kemudian diangkat menjadi Document Control. Sungguh diluar dugaanku. Mimpiku yang pertama terjawab sudah.  Dan seiring waktu berjalan, berbagai posisipun berganti-ganti aku jalani, dari document control, field clerk, commissioning clerk, dossier coordinator dan menjadi pims administrator.  Dan lagi-lagi Tuhan mewujudkan impianku. Melalui beberapa posisi itu pula, aku telah menginjakkan kaki di beberapa negara. Aku pernah ke Myanmar, Thailand (4 kali), Vietnam, Malaysia dan Singapura.

 

Ah..sunguh baik Tuhan-ku itu kepadaku, Ia telah memungkinkan yang tidak mungkin bagiku. Terpujilah Engkau Tuhanku. I Love You so much.

 

Januari 2009.

Lomser Hutabalian

 

Suatu ketika kira-kira setahun yang lalu selepas pulang dari kantor, saya pergi berbelanja untuk keperluan warung yang dikelola isteri saya, dengan menggunakan sepeda motor.  Anak saya yang laki-laki umur 8 tahun ketika itu meminta ikut. Pulang dari belanja kemudian saya menurunkan barang-barang belanjaan itu untuk dibawa ke warung.

 

Wahyu, anak saya itu membawa sebahagian belanjaan itu, namun saya larang karena terlalu berat. “Gak usah nak, biar papa aja yang bawa. Barang itu terlalu berat untuk wahyu angkat”. Tapi anak saya bukannya nurut malah dengan bangga berkata “Wahyu kan kuat, pa”. “Wahyu pasti bisa angkat ini” lanjutnya dengan mengangkat dan menunjukkan otot lengannya dengan membentuknya 90 derajat, seperti bina ragawan.

 

Saya tahu kantong belanjaan itu terlalu berat bagi dia, tapi saya menuruti keinginannya walau dalam hati sebenarnya tidak tega. Namum hanya beberapa langkah setelah anak saya berusaha mengangkat dengan bersusah payah karena egonya,  ia kemudian menyerah. Lalu saya mengambil  kantong itu dari tangannya dan menggantikannya dengan kantong belanja yang jauh lebih ringan.

 

Saat itu Tuhan tiba-tiba mengingatkan saya. Betapa banyak anak-anak Tuhan yang merasa sanggup memikul beban yang sangat berat karena egoisme ketidakdewasaan iman. Tuhan sebagai Bapa sesungguhnya tidak tega melihat anak-anaknya memikul beban yang sangat berat, tapi seringkali anak-anaknya terlalu sombong dengan kemampuannya, dan mau mengangkat sendiri beban persoalan itu.

 

Air mataku menetes. Saya katakan “Tuhan terima kasih Engkau mengingatkanku, betapa Engkau sangat baik bagiku yang mau memikul bebanku. Terima Kasih Tuhan”.

 

Jan. 2008

L.Hutabalian

Maraknya promosi diri para calon legislatif menjelang pemilu beberapa bulan yang akan datang ternyata juga menambah semarak perayaan-perayaan natal tahun ini. Spanduk-spanduk ucapan selamat natal dari caleg kristen terpampang di beberapa tempat seperti persimpangan jalan dan juga di media-media cetak.  Hasil dari lobi-lobi team sukses para caleg kepada pengurus organisasi kerohanian gereja dan non gereja seperti persekutuan doa, kumpulan marga, dll, memastikan para caleg mendapat kesempatan untuk mempromosikan dirinya, baik itu melalui kesaksian yang sekaligus meminta dukungan doa bahkan ada juga yang justru mendapat kesempatan sebagai pembicara.

 

            Pastilah kesempatan ini tidak disia-siakan para caleg yang memang sedang berlomba-lomba mengambil hati para calon pemilih. Mengumpulkan suara dalam jumlah yang besar bukanlah perkara mudah di tengah-tangah suana hati masyarakat yang telah jenuh dan enek dengan perilaku sebagian politikus yang justru menghancurkan sendi-sendi ekonomi dengan perilaku korupsi dan menghambur-hamburkan uang dengan berbagai macam alasan dan trik kunjungan kerjanya.

 

            Pula mereka harus berjuang keras, karena tentulah dengan banyaknya partai yang lolos maju ke pemilu telah memunculkan banyak sekali caleg.  Caleg-caleg yang satu agama, satu gereja, satu suku, satu daerah asal, bahkan satu marga harus berhadap-hadapan. Ironis sekali kalau terjadi saling menjatuhkan demi mencapai suatu kemenangan.

 

            Ada pula rupanya yang tiba-tiba menjadi seorang politikus setelah satu partai melamarnya untuk menjadi caleg dari partai tersebut. Mereka yang tadinya hanya seorang pekerja dan juga yang pengusaha, tidak pernah memasuki ranah perpolitikan sebelumnya tiba-tiba tampil sebagai caleg. Logikanya, pastilah ada bargaining diantara caleg dan pengurus partai itu, yang besar kemungkinan berujung kepada duit.  Masak sih mereka mengutamakan orang luar menjadi caleg daripada anggota partai itu sendiri? Mungkin orang seperti ini bisa disebut politikus karbitan.

 

            Yang aneh adalah apabila caleg-caleg tiba-tiba menjadi lebih rohani. Demi mengambil hati jemaat caleg seperti ini tampil dengan sikap dan perbuatan yang lebih baik. Aksi sosial dengan sumbangan-sumbangan materi seakan mempertegas betapa baik dan perdulinya mereka terhadap gereja atau persekutuan-persekutuan yang berazaskan kerohanian.

 

            Tapi lebih aneh lagi, apabila pendeta dan pengurus-pengurus gereja dan persekutuan-persekutuan kristen tiba-tiba menjadi seperti politikus sejati. Mereka sepertinya berjuang dengan menggunakan “alat kerohanian” untuk mendukung caleg tertentu.  Dan perayaan natal menjadi salah satu alat yang dipakai untuk memfasilitasi promosi diri para caleg. Apa iya, tidak ada bargaining diantara mereka yang berujung kepada duit?

Bulan Desember ini menjadi bulan yang sangat spesial bagi umat kristiani. Bulan yang sangat identik dengan Natal yaitu hari kelahiran Yesus Kristus ketika Dia datang menjadi manusia sebagai Juruselamat. Kelahiran-Nya di kandang domba menunjukkan kesederhaan dan juga kehinaan yang Dia alami demi manusia.

Entah berapa kali jumlah perayaan yang diadakan setiap tahun diseluruh dunia, dan tidak pula terbilang berapa jumlah dana dan tenaga yang dihabiskan. Kebayang kalau 1 perayaan saja berbiaya Rp. 10.000.000,- dikalikan 2000 perayaan, maka hasilnya cukup fantastis yaitu Rp. 20.000.000.000.-

Sah-sah saja sebenarnya merayakan hari kelahiran Yesus ini, apabila kita melakukannya dengan penuh keiklasan dan sesuai kemampuan. Tapi kalau kemudian sudah memberatkan secara ekonomi, apalagi menjadi batu sandungan maka perayaan ini pun mungkin tidak akan membawa sukacita.

Apa sih essensi dari perayaan itu? Bukankah perayaan ini sekedar mengingatkan kita kembali kelahiran Yesus? Katakanlah perayaan natal adalah wujud dari sukacita kita akan pernah lahirnya seorang Juruselamat yang menyelamatkan kita dari belenggu dosa. Dan kita mau merayakannya setiap tahun, tapi tidak cukupkah satu perayaan di gereja masing-masing? Kalau ada ratusan perayaan pun yang kita ikuti selama bulan desember ini, akankah mengubah makna dari natal itu sendiri?

Kalau saya bisa menduga-duga, bahwa bulan Desember ini menjadi bulan yang menyiksa bagi sebagian orang. Secara khusus mungkin yang berasal dari kelompok masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Tak jarang kita mendengar keluhan-keluhan dari mulut para ibu-ibu, yang pusing memikirkan biaya-biaya yang harus dikeluarkan selama bulan Desember demi perayaan natal ini.

Bagi mereka yang berasal dari suku Batak dan lainnya, sudah pasti akan terasa. Bayangin saja, satu keluarga yang telah memiliki dua orang anak yang sudah sekolah. Di sekolah kedua anak mereka ini akan di kutip biaya natal. Lalu ada setidaknya 4 kumpulan marga yang harus di ikuti oleh satu keluarga. Kumpulan marga suami, kumpulan marga isteri, kumpulan marga ibu dari si suami dan juga kumpulan marga ibu dari si isteri. 4 kumpulan ini sangat umum di ikuti oleh keluarga-keluarga dari suku Batak, dan bisa dikatakan secara adat adalah MANDATORY, kalau tidak nanti dibilang tidak tahu adat. Semua kumpulan marga ini biasanya juga tidak mau ketinggalan untuk merayakan natal setiap tahunnya. Jadi setidaknya ada 5 perayaan natal yang harus di ikuti ditambah satu perayaan di gereja.

Di gereja pun sebenarnya bisa 3, 4 kali atau lebih perayaan natal. Ada perayaan natal kaum ibu, ada perayaan natal kaum bapak, perayaan natal sekolah minggu, perayaan natal remaja, perayaan natal pemuda dan perayaan natal umum. Tentu saja banyaknya perayaan ini tidak akan mengubah arti dari natal itu sendiri.  Jadi kalau bisa saya gambarkan, ibarat beli apple, yang di beli 1 buah apple tapi dibayar  10 kali.

06/12/08

LH

 

           

            Suatu ketika Yesus menyuruh murid-muridNya untuk memberitakan Kerajaan Allah kepada orang-orang Israel saja. (Mat. 10:5) tetapi kemudian dalam amanat agung yang disampaikan kepada murid sebelum Dia terangkat ke surga, Yesus mengutus mereka untuk menjangkau semua bangsa (Matius 28:19 band. Kis. 1:8). Ini artinya bahwa adalah lebih baik berita keselamatan dimulai ditempat dimana kita berada dan dilingkungan terdekat kita yaitu keluarga. Tetapi tidak tertutup kemungkinan supaya kita menjangkau orang lain walaupun belum semua keluarga dapat terjangkau dan bertobat. Mengapa? Karena orang-orang yang dekat dengan kitalah yang mengenal kita sebelum bertobat. Mereka akan melihat perubahan yang terjadi dalam diri kita sebelum menerima keselamatan dan setelah menerima keselamatan. Perubahan itulah yang akan menguatkan pemberitaan kita kepada mereka.

 

            Jadi kita mengemban tugas untuk memberitakan kabar baik (Injil) kepada dunia sejauh kita dapat jangkau, agar mereka tidak masuk dalam penghakiman. Dalam konteks jaman ini, tentu tidak semua kita dapat menjangkau seluruh bangsa-bangsa di seluruh negara, kota-kota sampai kepelosok-pelosok. Tetapi kita tetap diharapkan memiliki andil walaupun kita tidak dapat pergi menjangkau mereka. Oleh karena itulah kita perlu mengutus orang-orang yang mau memberi diri sebagai missionaris atau penginjil-penginjil atau setidaknya kita dapat membantu penginjil-penginjil yang telah diutus dengan dana misi, supaya mereka tidak terhalang menjalankan tugas penginjilan. Roma 10:13-15: Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!”

Sama seperti Yesus telah diutus Bapa untuk menyelamatkan dunia dan menggenapi seluruh nubuatan tentang Dia (Gal. 4:4 ; Luk. 4:18-19), demikian juga kita telah diutus memberitakan kabar baik tentang keselamatan itu bagi orang-orang yang belum percaya. Allah sangat merindukan semua manusia untuk diselamatkan oleh karena itulah Dia mengutus murid-muridnya termasuk kita sekarang ini, untuk menjangkau dunia dimulai dari tempat dimana mereka berada.

 

Sebagai orang percaya kita juga disebut terang dunia yang menerangi dunia ini dengan cahaya kebenaran. Dalam Matius 5:14 Tuhan Yesus berkata kepada murid-muridNya juga termasuk kepada kita bahwa kita adalah terang dunia. Terang yang kita miliki bersumber dari terang Kristus dalam persekutuan kita denganNya. Terang Kristus tidak hanya memungkinkan kita berjalan di dalam terang (kebenaran) tapi kita sendiri menjadi terang bagi orang-orang yang masih tinggal di dalam kegelapan. Yoh. 8:12 :“Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.”

 

            Sama seperti kita ketika belum percaya dan belum mengenal kebenaran itu, demikian juga jiwa-jiwa masih banyak yang tinggal di dalam kegelapan. Orang yang tinggal di dalam kegelapan tidak dapat melihat apa yang benar dan yang berkenan kepada Tuhan. Orang yang tinggal di dalam kegelapan tidak memiliki kepastian dalam hidup. Oleh karena itu kita sebagai anak-anak terang harus bercahaya supaya mata rohani mereka dapat melihat kemuliaan Allah yang dapat mereka miliki dengan demikian mereka juga akan memuliakan Allah. Matius 5:16,“ Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.“ (Band. Filipi 2:15)

 

Yohanes 1:4-5 mengatakan:“Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.“ Kristus tidak akan pernah dikuasai oleh kegelapan, demikianlah kiranya kita sebagai anak-anak terang. Justeru terang yang ada pada kita akan dapat memperlihatkan hal-hal yang tersembunyi di dalam kegelapan. Efesus 5:11 berkata :“Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.“

 

             Kristus telah memberikan contoh ketika ia menelanjangi segala dosa dan kemunafikan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, demikianlah kita juga harus mampu menunjukkan hal-hal yang salah yang tidak sesuai dengan firman Allah walaupun memang kadang-kadang menyakitkan.

 

           Semua kita mengetahui bahwa garam sangat bermanfaat dalam kehidupan manusia. Garam berfungsi untuk memberi rasa pada hampir semua jenis makanan untuk menyedapkan makanan tersebut. Garam juga berfungsi untuk mengawetkan jenis makanan tertentu.

 

            Matius 5:13 berkata:”Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tida ada lagi gunanya selain di buang dan di injak orang.” Kita disebut garam dunia, itu artinya bahwa kita harus memberi rasa kepada dunia ini.

 

            Agar garam itu berfungsi memberi rasa atau mengawetkan, maka garam itu garus membaur dan larut dengan makanan itu. Hal ini berbicara tentang pengaruh yaitu garam itu mempengaruhi makanan itu sehingga menjadi sedap rasanya. Demikianlah kita diharapkan dapat mempengaruhi dunia ini dengan segala apa yang kita miliki dari Allah secara khusus hikmat, pengetahuan dan perbuatan, sehingga kehadiran kita membawa manfaat yang baik dimana kita berada.

 

            Namun kita tetap harus hati-hati. Karena sama seperti garam yang terlalu banyak akan membuat makanan terlalu asin dan garam yang terlalu sedikit akan membuat makanan menjadi hambar, dan keduanya akan menjadi sia-sia, demikianlah kehadiran kita sebagai garam dunia haruslah dalam kewajaran dan tidak terlalu sensasional. Artinya kita harus menempatkan diri sedemikian rupa agar kita beroleh kesempatan memberi pengaruh (rasa) kepada orang-orang disekeliling kita. Misalkan untuk memasak sayur, garam yang ditaruh kira-kira 1 sendok, sedangkan untuk mengawetkan, garam ditaruh 5-6 sendok. Nah, kalau komposisi garam ini terbalik, maka dapat dipastikan fungsi garam itu akan menjadi sia-sia.

 

            Kita boleh tampil alim sealim-alimnya ditengah orang yang sudah percaya, tetapi janganlah kita terlalu alim ditengah-tengah orang yang belum percaya karena sikap itu justeru akan membuat mereka menjaga jarak dengan kita, sehingga kita tidak mempunyai banyak kesempatan memasukkan pikiran-pikiran kita kepada mereka.

 

 

 

 

Dalam banyak firman Tuhan, Yesus disebut Anak Allah. Bahkan Dia sendiri menyebut diri-Nya sebagai Anak. Sebenarnya sebutan Anak kepada Yesus sangat erat kaitannya dengan manusia agar setiap orang yang percaya juga mendapat bagian dalam identitas ke-anakan-Nya. Kristus disebut Anak dan Allah adalah Bapa-Nya supaya kita dapat bagian di dalamnya, sehingga kita disebut anak-anak Allah dan Allah adalah Bapa kita.  Yohannes 1:12,”Tetapi semua orang yang menerima-Nya (Yesus-red) diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” (band 1 Yoh. 2:23; Galatia 3:6)

 

Jadi hubungan kita dengan Tuhan bukan hanya sekedar hubungan antara Allah dengan umat, pencipta dengan ciptaannya, bukan juga hanya seperti gembala dengan domba tetapi juga hubungan antara Bapa dengan anak. Dengan posisi kita sebagai anak, kita memperoleh kesempatan untuk bergaul karib atau berhubungan dengan akrab dengan Allah. Ini sungguh luar biasa. Tuhan bergaul karib dengan Allah. Ketika Yesus menyebut Allah sebagai Abba

 

Dalam beberapa kesempatan Yesus Kristus menyebut Allah sebagai Abba. Abba dalam bahasa Aramic artinya deddy (B. Inggris) ayah (B.Indonesia) bukan hanya sekedar bapa. Bapa belum tentu ayah tetapi ayah sudah pasti bapa. Abba atau Ayah menunjukkan garis keturunan. Abba menunjukkan dari mana seseorang berasal. Galatia 4:6,”Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!”(Band Roma 8:15) Karena kita telah menyatu dengan Kristus dan telah mendapat bagian dari identitas ke-anak-anNya, maka kita juga berhak memanggil-Nya Abba.

 

Ketika Yesus berdoa, Dia selalu mengarahkan doanya kepada Bapa. Dia menyebut Allah dalam doa-Nya sebagai Bapa atau Abba. Dan saat Dia mengajarkan murid-murid dalam hal berdoa dan meminta kepada Allah, Dia mengajarkan para murid untuk meminta kepada Bapa. Ini menjadi suatu pelajaran bagi kita bahwa apabila kita berdoa dan meminta kepada Allah dalam doa kita, hal yang sangat perlu kita sadari bahwa kita sedang berdoa atau meminta kepada Bapa kita. Bapa atau Abba yang mengasihi kita, yang perduli dan yang bangga memberi yang terbaik bagi anak-anak-Nya Matius 6:7-8,”Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan sebelum kamu minta kepada-Nya.” 

 

Dalam suatu kesaksian, raja Daud pernah berkata : Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku dipadang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. (Maz. 23:1-2). Jadi karena nama-Nya yang agung, Ia bangga memberi yang terbaik bagi anak-anakNya, dan juga mau agar anak-anakNya bangga memiliki Bapa seperti Dia.

 

Yoh.3 :35 mengatakan :”Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya.” Ini artinya bahwa segala sesuatu yang telah diserahkan kepada Kristus, kita juga dapat bagian di dalamnya karena kita telah mendapat bagian dari identitas ke-anakan-Nya (Yoh. 1:12 & Galatia 4:6). Juga Efesus 1:22,”Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Oleh karena itu sebagai anak yang telah menyatu dengan Kristus, maka apa yang diletakkan dibawah kaki Kristus, kita juga mendapat bagian di dalamnya.

Lukas 4:18-19:” Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” Firman Tuhan ini adalah nubuatan nabi Yesaya tentang Yesus yang dibacakan oleh Yesus sendiri setelah genap waktunya. Dari firman Tuhan ini kita bisa melihat misi Kristus di dalam dunia yaitu untuk membebaskan atau memerdekaan orang-orang tawanan. Yang dimaksud dengan orang tawanan disini adalah bukan tawanan-tawanan yang ada dipenjara dalam arti yang sebenarnya, melainkan manusia yang tertawan dalam hukum dosa (Taurat) dan hukum maut (Hukum akibat perbuatan dosa) – Roma 8:1-2.

           

            Menurut ensiklopedia, Taurat atau Tora adalah kumpulan peraturan dalam tatanan sosial dan keagamaan yang ada ditengah-tengah masyarakat. Dalam perkembangannya, lima kitab Musa yang berisi tata upacara keagamaan dan tatanan kemasyarakatan diletakkan oleh Ezra menjadi dasar hukum yang mengatur tatanan kehidupan orang Yahudi setelah masa pembuangan. (Krn 450 sm, Neh. dan di ikuti kemudian dengan kitab para nabi. Dari sinilah dipercaya asal usul kelompok ahli-ahli Taurat, yang bertugas memelihara hukum-hukum itu dan mengajarkannya (Luk. 2:46; Yoh. 18:20).

 

            Karena Hukum Taurat telah menjadi landasan hukum orang Yahudi, maka ahli-ahli Taurat ini dipercaya untuk urusan hukum sebagai hakim-hakim di Mahkamah Agama (Matius 22:35; Mrk. 14:43,53; dst) Mereka juga menyampaikan keputusan-keputusan tidak tertulis seperti adat istiadat sebagai hukum sosial yang harus dikerjakan. (Mrk. 7:5). Keinginan ahli-ahli Taurat untuk menerapkan hukum Taurat dan adat-istiadat secara ketat cenderung melahirkan legalisme sehingga mengesampingkan kasih. Karena menurut mereka, untuk memperoleh keselamatan dan kesejahteraan hidup harus mematuhi hukum taurat, kitab para nabi (yang juga mengacu pada cara berpikir Taurat) dan adat istiadat Yahudi dengan sempurna. Di dalam Taurat Allah lebih digambarkan sebagai pribadi yang tegas bahkan cenderung kejam dan minim kasih. Maka tidak heran mereka yang hidup ketat di dalam hukum Taurat menjadi orang yang kejam sama seperti rasul Paulus sebelum dia menjadi pengikut Kristus.

 

            Namun ternyata tidak satu orangpun yang dapat melakukan hukum Taurat dengan sempurna, termasuk ahli Taurat sendiri seperti yang disaksikan oleh rasul Paulus sendiri dalam Kis. 15:10 :”Kalau demikian, mengapa kamu mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk (hukum Taurat), yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita, maupun oleh kita sendiri?”  Oleh karena itu tidak satu orangpun yang dapat selamat dengan mengandalkan hukum Taurat.

 

            Untuk itulah juga Kristus menjadi manusia, untuk menggenapi dan memenuhi semua tuntutan hukum Taurat di dalam diri-Nya, sehingga manusia beroleh kesempatan untuk selamat tanpa harus memenuhi/melaksanakan hukum Taurat. Gal 3:13,’Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!”

 

            Dalam suratnya ke jemaat Efesus, rasul Paulus mengatakan bahwa Kristus telah membatalkan hukum Taurat. Efesus 2:15-16 :”sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.”  Karena Taurat telah dibatalkan, maka Taurat itu tidak lagi berlaku sebagai dasar hukum dalam menjalani kehidupan. Manusia telah bebas dimerdekakan dari ikatan hukum Taurat. Oleh karena itulah kepada jemaat di Galatia rasul Paulus berpesan agar mereka jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.  Galatia 5:1:”Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.”

 

            Lalu, ketika hukum Taurat tidak lagi berlaku bagi kita, apakah itu berarti kita bebas melakukan apa saja sesuai dengan kehendak kita? Tentu tidak. Karena kemerdekaan yang kita terima dari Allah adalah kemerdekaan dari hukum Taurat, bukan kemerdekaan untuk melakukan kejahatan dan dosa. Kemerdekaan yang kita terima bukan merupakan tiket atau surat ijin untuk bebas melakukan apa saja yang kita kehendaki. Justru kemerdekaan kita dari hukum Taurat menjadi awal atau titik tolak untuk memiliki persekutan yang indah dengan Tuhan di dalam ketaatan. Dalam kemerdekaan, kita tidak lagi dibatasi aturan Taurat dan adat istiadat untuk berhubungan dengan Allah. Kita sudah bisa berbicara secara pribadi langsung kepada Allah dari hati ke hati.

 

            Telah kita pelajari bahwa ketika kita percaya dan menerima Kristus, kita menjadi ciptaan baru yaitu kita menerima roh yang baru yang berasal dari Allah yang memungkinkan Roh Allah/Roh Kristus tinggal di dalamnya. 2 Korintus 3:17 berkata:”Sebab Tuhan adalah Roh, dimana ada Roh Allah disitu ada kemerdekaan”.  Roh Allah yang ada di dalam kita itulah yang memerdekakan kita, dan Roh Allah itu pula yang kemudian menuntun kita untuk melakukan kehendak Allah dan firman Allah. 1 Korintus 2:10 &11 :”Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah…Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita.”  Ketika kita tidak hidup oleh hukum Taurat maka kita hidup oleh Roh Allah. Orang yang hidup oleh Roh Allah, tidak menuruti keinginan daging (Galatia 5:16. Band. Tentang keinginan daging dan roh ; Galatian 5:17-23 & Roma 8:5-9).

 

 

 

 

Tidak sedikit orang yang mengaku sudah lama menjadi orang kristen tidak mengerti identitasnya sebagai orang benar.  Mereka berupaya giat beribadah, juga giat mengikuti pelayanan-pelayanan bukan untuk mewujudkan ucapan syukur mereka kepada Tuhan, melainkan untuk menyandang predikat sebagai orang benar atau setidaknya supaya dianggap sebagai orang benar. Maka tidak heran sering kita mendengar orang berkata: “saya belum layak, kehidupan saya belum benar, saya belum pantas, saya begini, saya begitu, masa lalu saya hitam, dll” Tapi kita harus menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa ketika kita percaya kepada Kristus, dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juru selamat dalam hidup kita, maka saat itu juga kita menjadi orang benar, betapapun hitam atau gelamnya masa lalu kita.

 

Ketika Yesus mengambil rupa seorang manusia maka Dia menjadi sama dengan manusia dengan tujuan agar manusia turut ambil bagian di dalam segala karya-Nya dan identitasnya. Mereka yang percaya kepada Kristus juga dapat bagian dari Kekudusan-Nya dan Kebenaran-Nya. Oleh karena itu bagi setiap orang yang percaya kepada Kristus, mereka telah dikuduskan dan dibenarkan. Dengan kata lain dimata Allah saudara sama kudus dan sama benarnya dengan Yesus. Karena Yesus telah mengambil dosa kita dan memberikan kebenaran-Nya bagi kita. 2 Korintus 5:21,”Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.

 

Yohanes 17:19 dalam doa-Nya Yesus berkata,” dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun di kuduskan dalam kebenaran,” Juga 1 Korintus 1:30 berkata,”Tetapi oleh Dia kamu berada di dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.”

 

Predikat sebagai orang benar ini adalah pemberian cuma-cuma dari Allah, bukan karena usaha kita atau karena kebaikan kita melakukan ibadah-ibadah atau karena keberhasilan kita meninggalkan kebiasaan masa lalu. Kebaikan apapun yang dilakukan oleh orang berdosa, tetaplah dipandang dosa karena penglihatan Allah yang utama bukan pada perbuatan baiknya melainkan pada statusnya sebagai orang berdosa. Jadi hanya karena anugerah Allah lewat penebusan yang dikerjakan Kristus kita dibenarkan. Roma 3:23-24 berkata :”Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.”

 

            Rasul Paulus adalah orang yang mempunyai keyakinan yang teguh kepada Taurat sebelum dia menerima Yesus. Fanastismenya kepada Taurat telah menjadikan dia seorang teroris yang membunuh banyak pengikut Kristus. Tetapi ketika dia mengenal Kristus, suatu kali dia berkata bahwa apa yang dulu dianggapnya keuntungan dianggapnya suatu kerugian atau sampah karena pengenalannya kepada Kristus. (Filipi 3:7-8). Tetapi kita lihat, bahwa Paulus tidak menjadikan masa lalunya yang jahat sebagai beban yang harus terus dipikul. Masa lalunya tidak membuat dia merasa bersalah dalam penyesalan yang berkepanjangan.  Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena dia mempunyai keyakinan bahwa dia telah dibenarkan dan dosanya telah dihapus.

 

            Yesaya 1: 8 mengatakan:”…sekalipun dosamu merah seperti kermiji akan menjadi putih seperti salju..” Jadi betapapun gelapnya masa lalumu, hitam pekatnya sepekat-pekatnya latar belakang kehidupanmu, detik dimana saudara percaya detik itu juga saudara menjadi orang benar dihadapan Allah.  Let by gone be by gone

 

 

 

Ketika Allah menciptakan segala sesuatu, firman Tuhan katakan bahwa semua baik. Manusia diciptakan dengan kemuliaan Allah dalam kekudusan dan kebenaran.  Tetapi ketika manusia yang pertama itu jatuh kedalam dosa, mereka kehilangan kemuliaan Allah demikian juga keturunannya. Kejadian 2:17 yang berkata,”pada hari engkau memakannya, engkau akan mati”, tidak berarti mereka akan mati secara jasmani melainkan secara rohani dimana mereka akan menjadi terpisah dari Allah. Dosa manusia pertama sesungguhnya adalah bukan dosa ketidakpatuhan melainkan dosa ketidak percayaan. Ketika iblis menggoda dia, dia lebih percaya kepada perkataan iblis daripada perkataan Allah sehingga ia memakan buah terlarang itu. Ketidak percayaan itulah yang membuat Adam dan Hawa tidak patuh pada perkataan Allah untuk tidak memakan buah terlarang itu.

           

Tetapi karena kasih Allah yang besar, Dia mau mengembalikan hubungan yang terputus dengan manusia, sekaligus mengembalikan hakekat kemuliaan dan kekudusan manusia itu. Untuk itulah Dia mengutus Pribadi Kristus sebagai penebus dosa manusia untuk memulihkan hubungan antara Allah dengan manusia. Namun sama seperti Adam dan Allah berdasarkan pada hubungan kepercayaan, demikian juga antara manusia dengan Kristus. Yohanes 3:16,”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

 

2 Korintus 5:17,”Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Ayat ini menunjukkan bahwa ketika seseorang percaya kepada Yesus, maka pada saat itu terjadi “penciptaan kembali” dalam diri manusia. Namun yang diciptakan kembali bukanlah daging dan jiwa melainkan roh manusia itu. Menurut 1 Tesalonika 5:23, kita adalah suatu makhluk yang terdiri dari tiga bagian yaitu tubuh, jiwa dan roh. Roh manusia inilah yang diganti dengan roh yang baru dan yang kudus, yang berasal dari Roh Allah yang memungkinkan Roh Allah berdiam di dalamnya. Epesus 4:24,“Dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.“. Bandingkan Yohanes 3:5-6,” Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.”  Juga 1 Korintus 3:16 :”Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” Jadi di dalam roh kita yang baru itulah dimungkinkan Roh Allah berdiam dan membawa serta segala kebaikan-Nya ke dalam roh kita.

 

 

 

 

 

 

 

Pagi ini di ruang makan kapal di sediakan kue Lupis sebagai salah satu menu sarapan pagi. Kue ini terbuat dari beras dimasak seperti lontong berbentuk segi tiga dan bertabur kelapa parut dan air gula merah.  The taste is nice. I really enjoyed it. Lupis ini memang salah satu makanan kesukaan saya.

 

Entah mengapa, setiap saya menemukan kue Lupis dimana saja, saya selalu teringat kesaksian seorang ibu penjual Lupis yang terjadi puluhan tahun yang lalu. Waktu itu saya masih remaja. Ibu yang telah lelah berkeliling itu beristirahat sejenak di rumah kami. Sebagai pedagang keliling dengan berjalan kaki, wajarlah bila dia lelah dan butuh istirahat barang sejenak.

 

Tidak disangka bahwa dalam perbincangan dengan keluarga saya di teras rumah, ibu penjual Lupis keturunan India ini didalam istirahatnya, masih menyempatkan diri menyaksikan kepada keluarga kami akan pertolongan Tuhan yang dia alami.

 

Suatu waktu, seperti biasa, ibu ini melangkahkan kakinya dari rumah dengan menjunjung tampi Lupis diatas kepalanya.  Langkah yang penuh harapan bahwa Lupis jualannya akan laku dan dia akan membwa pulang uang untuk kebutuhan anak-anaknya yang masih kecil-kecil.

 

Tetapi hari itu merupakan kejadian yang aneh. Suatu kejadian yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Sejak  pagi dia berangkat dari rumah hingga menjelang siang, tidak satu orang pun yang membeli kue Lupisnya.  Menyadari keadaan itu, si ibu inipun mulai kwatir. Dia kwatir tidak dapat membawa uang pulang ke rumah untuk membeli beras dan sedikit lauk untuk keperluan keluarga besok hari. Sedangkan suaminya yang biasanya kerja mocok-mocok dengan penghasilan yang tidak dapat diharapkan, sedang tidak bekerja sejak beberapa minggu.

 

Siang pun berlalu, ibu ini terus berkeliling sambil meneriakkan nama dagangannya yaitu Lupis. Sedang peluh sudah membasahi tubuhnya yang kurus yang diselimuti baju yang warnanya mulai pudar. Semakin sore, semakin sering pula dia meneriakkan Lupisnya. Mungkin karena perasaan kesal bercampur dengan kwatir yang semakin menjadi-jadi. Tapi sungguh aneh, sampai jam 5 sore, semua usahanya sepertinya sia-sia. Tidak satu orang pun yang membeli lupis dagangannya. Ini sungguh belum pernah terjadi.

 

Dalam kelelahan dan putus asa, dia pun duduk di pinggir jalan sambil merenungkan nasibnya hari itu. Air matanya mulai menetes. Ibu ini menangis bukan karena menyesali segala usaha dan jerih payahnya yang seakan sia-sia, karena ia sadar bahwa itu adalah tanggung jawab yang harus dilakukannya. Tetapi ia menangis karena memikirkan apa yang akan dimakan oleh anak-anaknya besok.

 

Di tengah isak-tangis dan kegalauannya, tiba-tiba ia teringat kepada Tuhan. Diatas rerumputan di pinggir jalan itu ia duduk dan berdoa di dalam hati ;” Tuhan, hari ini aku tidak mendapat apa-apa. Aku sudah berusaha, tapi tidak seorangpun membeli daganganku. Aku tidak menyesal atas jerih payahku yang sia-sia. Tetapi Engkau tahu Tuhan, anak-anak yang Engkau berikan kepadaku butuh makan besok hari. Terserah Engkaulah Tuhan.”

 

Setelah berdoa, ia pun beranjak dari tempat duduknya dan bermaksud untuk membuang ke Tong Sampah semua kue Lupisnya. Tapi kemudian tiba-tiba ia berpikir untuk membuang dagangannya itu ke sebuah sangai kecil yang terdapat di pinggiran komplek perumahan kami. Dia pun berjalan menuju kesana sambil tetap menjunjung tampi dagangannya, tapi tidak lagi meneriakkannya.

 

Saat menuju ke sungai itulah, tiba-tiba seorang anak kecil memanggilnya. Ia pun menoleh dan mendatangi anak kecil yang berdiri di teras rumahnya itu. “Beli Lupis, bu” kata anak itu. Dia sempat tertegun, tapi ia terus mendekati anak kecil itu.  Rupanya di teras itu ada beberapa orang dewasa dan anak-anak sedang berkumpul dan bercanda ria.  Dan sesampai di teras itu, bukan anak kecil ini yang membeli kue Lupisnya, tapi seorang ibu, yang mungkin ibu anak itu malah memborong semua kue Lupisnya. Sungguh kejadian yang luar biasa. Tuhan menjawab doanya.

 

Begitu kuatnya kesaksian ibu ini tertanam dalam ingatan saya, sehingga pagi inipun saya menceritakan kesaksian ibu ini kepada teman yang  satu meja dengan saya di ruang makan, sambil saya memakan kue Lupis kesukaan saya.

 

 

 

 Vietnam, 29-09-08

Just like a Vietnamese

Just like a Vietnamese

 

 

PENDAHULUAN
Membahas tentang kehidupan rumah tangga dengan segala seluk-beluknya bukanlah hal yang mudah. Penyajian yang sangat mendalam harus di dasari dengan penelitian dan pengkajian yang mendalam pula. Oleh karena itu, sesuai dengan keterbatasan yang akan dibahas dalam makalah ini saya memberi judul “TAHUN-TAHUN AWAL KEHIDUPAN RUMAH TANGGA KRISTEN”
 

 


Disini akan di bahas dasar pernikahan Kristen dan seluk-beluk hubungan suami-isteri pada masa tahun-tahun awal pernikahan. Persoalan yang mungkin timbul menyangkut anak dan masa-masa manopuse sampai masa tua, tidak dibahas dalam makalah ini. Namun meski demikian, makalah ini telah mencoba menyajikan dasar-dasar yang baik dalam kehidupan rumah tangga, bagaimana menciptakan keharmonisan menuju keluarga  yang langgeng dan menjadikan kasih sebagai dasar dari segala tindakan.


Tulisan ini jelas jauh dari sempurna. Ibarat sebuah ruangan kecil di dalam sebuah istana yang sangat besar dan megah, demikianlah kecilnya tulisan ini dibandingkan besar dan dalamnya pembahasan tentang kuluarga. Namun sekecil apapun tulisan ini, penulis berdoa kiranya berguna bagi siapa saja yang membacanya

 

BAB I


MEMAHAMI DASAR KELUARGA


Sama seperti Hawa dirancang Tuhan untuk menjadi penolong yang sepadan bagi
Adam manusia pertama itu, demikianlah seorang isteri bagi suaminya. Suami-isteri sebagai bagian dasar dari suatu keluarga haruslah saling mengasihi dan saling mendukung untuk mencapai keharmonisan dalam keluarga itu.


Keharmonisan yang tercipta dalam hubungan suami-isteri akan sangat menentukan bagi kemajuan dan peningkatan kualitas keluarga itu sendiri, lingkungan sekitar dan juga kemajuan suatu bangsa. Bahkan mungkin tidak mudah bagi kita untuk mengakui adanya suatu keberhasilan dalam gereja/pelayanan jika hubungan suami-isteri orang-orang yang berkecimpung dalam pelayanan itu tidak harmonis.


Keberadaan keluarga (suami-isteri) di atas muka bumi ini tidak lepas dari campur tangan Allah. Allah sendirilah yang mengambil inisiatif akan adanya keluarga.1) Dimulai ketika Allah mengambil satu dari tulang rusuk Adam dan membentuknya menjadi seorang perempuan dan diberikan-Nya kepada manusia itu untuk menjadi isterinya – Kejadian 2:22 “Dari rusuk yang diambil Tuhan Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu diberikan-Nya kepada manusia itu.” (Kecuali disebutkan lain, seluruh ayat firman Tuhan dalam tulisan ini diambil dari Alkitab terbitan Lembaag Alkitab Indonesia tahun 1998). Saat itulah tercipta suatu lembaga yaitu keluarga. Lembaga inilah yang melahirkan generasi demi generasi yang terus berkelanjutan dan bertambah banyak, menyebar dan memenuhi bumi yang diciptakan Tuhan.


Terkait dengan firman Tuhan yang tertulis di dalam Kejadian 1:28, maka kita bisa mengerti bahwa pernikahan merupakan suatu panggilan Allah dalam kehidupan manusia. Perintah untuk beranak cucu dan bertambah banyak untuk memenuhi dan menaklukkan bumi adalah melalui pernikahan.


Karena Allah yang mengambil inisiatif untuk membentuk keluarga itu, maka Ia pun sesungguhnya tahu segala sesuatu yang berhubungan dengan keluarga itu. Maka lewat firman-Nya Allah memberi pengajaran, petunjuk dan contoh-contoh kepada manusia itu untuk menjadi titik tolak manusia itu dalam menjalani hubungan suami-isteri yang harmonis, bahagia dan berkenan kepada Tuhan.


Yang sering menjadi sumber permasalahan dalam hubungan suami-isteri adalah
kurangnya bahkan mungkin tidak adanya pemahaman yang dalam tentang firman
Tuhan dalam kaitannya dengan keluarga, sehingga hubungan suami-isteri itu tidak mempunyai landasan yang kuat dan benar.


Di dalam banyak kasus yang terjadi pada hubungan suami-isteri baik itu hanya percekcokan yang terus menerus maupun yang berujung pada perceraian, hal itu dikarenakan pasangan itu tidak memahami bahwa perkawinan itu adalah panggilan Allah dalam hidup mereka. Mereka dengan mudah berbicara tentang perceraian dengan alasan tidak cocok lagi atau tidak cinta lagi dan segudang alasan lain yang justeru sering mengada-ada. Seringkali terjadi bahwa hal-hal yang tadinya kecil dan sepele dapat menjadi seperti api yang besar yang menghanguskan hubungan suami-isteri itu.


Gereja hendaklah terbeban untuk memikirkan keadaan seperti ini dan berperan aktif dalam pembinaan keluarga maupun pembinaan pra-nikah. Dengan jalan ini kita harapkan tidak terjadi lagi pertengkaran-pertengkaran dalam keluarga, bahkan jika setiap gereja dapat memberikan pembinaan pra-nikah sebelum pernikahan dilangsungkan, maka akan sangat besar andilnya dalam menekan angka perceraian orang Kristen.


Mengenal Karakter


Seorang suami/isteri tentu pada awal-awal hidup bersama dengan pasangannya,
tidak begitu mengetahui karakter pasangannya. Biasanya pada waktu berpacaran pemuda-pemudi menampilkan hal-hal yang baik saja kepada partnernya. Berdandan dengan baik, bersikap sopan, memakai minyak wangi, pokoknya yang baik-baik saja. Tetapi setelah menikah seiring berjalannya waktu, barulah ketahuan segala kejelekan-kejelekan itu.2)
Mendapatkan pasangan yang mempunyai karakter yang berbeda dari keinginan tentu tidak seorang pun yang mengharapkan. Kalau waktu masih pacaran seseorang sudah mengetahui karakter pasangannya lain dari yang dia inginkan atau misalnya mempunyai karakter yang keras/bebal, maka kemungkinan ia tidak akan mau menikah dengan pacarnya itu. Tetapi mungkin sudah menjadi sifat dasar manusia menampilkan yang baik-baik di depan sedangkan yang jelek di belakang.


Yang menjadi persoalan adalah : bagaimana sikap seorang suami/isteri kalau ternyata karakter pasangannya tidak seperti yang diharapkan ? Apa yang akan harus dilakukan ? Sebagai orang Kristen tentunya “cerai” bukan jawaban, karena Allah sendiri membenci perceraian.


Untuk menjaga keutuhan rumah tangga yang bahagia, seorang isteri perlu mengenal watak/karakter suaminya, begitupun sebaliknya seorang suami perlu mengenal watak/karakter isterinya. Bagaimanapun karakter yang sudah terbentuk bertahun-tahun dalam diri seseorang seiring dengan jalannya usia, tidak akan mudah berubah dengan begitu cepat namun membutuhkan waktu atau proses untuk mencapainya.


Hal yang pertama sekali saya kira yang penting adalah suami/isteri harus bersabar dulu terhadap pasangannya yang mempunyai watak kurang baik menurut ukurannya. Mencoba memahami dan menerima apa adanya. Hal ini sangat penting karena jika seorang suami/isteri langsung mendobrak habis-habisan pasangannya dengan harapan serta merta karakter pasangannya berubah sesuai keinginannya, maka sesungguhnya ia akan kecewa. Bahkan kemungkinan besar justeru akan mengarah pada perpecahan keluarga itu karena satu pihak akan merasa dilecehkan oleh pihak yang lain (pasangannya).

 

Hal yang kedua adalah mencoba introspeksi diri dan mengadakan penyesuain-penyesuaian sikap dalam arti positif. Bukan berarti mengikuti karakter yang tidak baik dari pasangan masing-masing, namun mengkin perlu memahaminya. Mungkin saja ada suatu hal yang melatar belakangi karakter suami/isteri sehingga bersikap kurang baik terhadap pasangannya namun haruslah secara tahap demi tahap di arahkan. Demikian juga suami/isteri haruslah instrospeksi diri karena bisa saja perubahan karakter pasangannya terjadi oleh karena sikap suami/isteri itu sendiri atau bisa juga justeru cara pandang sumai/isteri itu yang salah terhadap pasangannya. Nah, dalam hal ini komunikasi yang terus menerus sangat dibutuhkan untuk bisa melakukan penyusuaian-penyesuaian sikap antara satu dengan yang lain.. Keterbukaan hati untuk mendengar masukan-masukan dari pasangan adalah juga sangat penting di dalam berkomunikasi. Lewat jalur kumunikasi beberapa perbedaan dapat disesuaikan dan dicari jalur menyelesaiannya. Disamping itu, ada juga memang perbedaan-perbedaan yang sifatnya sangat sulit untuk disesuaikan dengan pasangan. Tetapi harus terus diadakan penyesuaian-penyesuaian. Jika perbedaan itu tidak terlalu mendasar maka masing-masing pihak perlu menghargai perpedaan-perbedaan yang ada tanpa harus kehilangan rasa kebersamaan dan cita-cita menuju kebahagiaan. Untuk itu sebuah pasangan perlu membangun batas-batas dalam pernikahan mereka untuk meng-counter perbedaan-perbedaan tersebut.

 

Membangun Batas-Batas Atas Dasar Kasih


Dua insan menjadi satu ; itu idealnya perkawinan. Tetapi kenyataan memperlihatkan kepada kita bahwa berbicara adalah lebih mudah dari pada melaksanakannya. Dalam kenyataan, kesatuan ini sama sekali bukan khayalan. Memang itulah rancangan Allah untuk perkawinan (Kej. 2:18). Namun haruslah dimengerti bahwa yang dimaksud dengan kesatuan bukan berarti ketika dua insan dipersatukan Allah dalam lembaga perkawinan lantas mereka tiba-tiba menjadi satu pikiran, kebiasan, hobby, dll. Bukan seperti itu. Tapi pada hakikatnya adalah mereka sepakat mempersatukan visi untuk mencapai satu tujuan.


Bagaimanapun dua insan yang telah dipersatukan tidaklah kemudian menjadi satu pribadi, namun mereka tetap pada dua pribadi yang mana masing-masing memiliki kehendak. Artinya bahwa tidak mungkin tidak ada perbedaan-perbedaan diantara kedua pribadi itu. Beberapa contoh perbedaan itu yaitu tentang hobby, selera, bakat, dll.


Prasyarat untuk mencapai kesatuan adalah dua orang lengkap.3) Kesatuan haruslah didasari pada suatu pemahaman bahwa kesatuan itu terdiri dari dua pribadi yang utuh, dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing. Setiap orang tidak dapat memaksakan agar hobbinya atau seleranya ataupun cara pandangnya terhadap sesuatu, harus sama dengan pasangannya. Kalau itu terjadi berarti telah terjadi pemaksaan kehendak atau penjajahan.


Dalam hal inilah pasangan suami-isteri perlu untuk terus meningkatkan dialog atau komunikasi dan membangun batas-batas dalam diri mereka masing-masing. Batas-batas yang dimaksud bukanlah berupa peraturan-peraturan yang dibuat bersama antara suami dan isteri dengan tujuan membatasi pasangannya memasuki hal-hal yang sangat prinsip dari pasangannya yang lain, ataupun sesuatu aturan yang di buat oleh satu pihak yang justeru untuk menguasai pasangannya. Namun batas-batas yang dimaksud adalah kesadaran masing-masing pihak untuk membatasi diri agar tidak memaksakan segala sesuatu terhadap pasangan sekehendaknya sendiri.


Misalkan seorang isteri yang mempunyai bakat dan hobby menari. Dimasa lajangnya ia telah belajar bahkan telah menjadi seorang penari. Sedangkan suami tidak tertarik dengan tari-tarian. Lalu apakah si suami harus memaksakan supaya isterinya meninggalkan segala hal tentang seni tari ini hanya karma ia tidak tertarik ? Jika si suami meminta isterinya meninggalkan segala sesuatu tentang bakat dan hobby isterinya itu, hanya dikarenakan si suami tidak tertarik, maka tentu saja tindakan ini tidak bijaksana. Lain hal jika karena alasan lain, misalnya suami meminta isterinya untuk tidak menari lagi dikarenakan tugasnya sebagai isteri atau karena menyangkut status sosial keluarga maka isteri harus siap memenuhinya. Tapi haruslah sebatas itu. Artinya jika isterinya sesekali ingin memutar VCD Tari di rumah atau pergi menonton pertunjukan tarian untuk menyalurkan hobbynya itu, suami tidak seharusnya melarang. Bahkan adalah sangat baik
jika suami justeru mau sekali-sekali menemani isterinya menonton pertunjukan tarian itu sebagai bukti kasihnya kepada isterinya.

 

Contoh lain misalkan seorang suami sangat menyukai suatu jenis makanan, tetapi si isteri sama sekali tidak suka. Nah dalam hal ini si suami tidak bisa memaksa supaya isterinya mau memakan makanan itu bersama-sama dengan dia. Sebaliknya si isteri pun tidak seharusnya menolak untuk memasak atau sekedar menyajikan makanan itu bagi suaminya meskipun ia tidak menyukai makanan itu. Disinilah nampak adanya perngorbanan berdasarkan kasih yang mereka miliki, tanpa harus memusnahkan perbedaan-perbedaan dari diri mereka masing-masing.


Batas-batas ini sebenarnya merupakan aplikasi dari kasih. Karena dalam batas-batas ini setiap pasangan dituntut untuk menerima apa adanya pasangannya, menghargai perbedaan pada pasangannya dan menghormatinya. Pada perkawinan yang baik mereka harus saling memahami, mendengarkan, berunding, berkompromi dan kadang-kadang dapat menyangkal diri atau meninggalkan kehendak sendiri jika perlu. Bukankah Kristus juga telah meninggalkan kemuliaan-Nya di surga dan datang ke dunia menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia ?.


BAB II


KONFLIK-KONFLIK DALAM PERNIKAHAN


Ada banyak sekali konflik atau persoalan yang terjadi didalam keluarga, baik itu persoalan kecil maupun persoalan besar. Persoalan-persoalan ini kalau  tidak cepat-cepat diatasi dapat mengakibatkan keratakan rumah tangga, bahkan bisa sampai kepada perceraian. Beberapa sebab dari sekian banyak sebab-sebab persoalan yang mungkin timbul dalam keluarga akan coba dijelaskan berikut.

 
 

 

Perbedaan Pandangan


Amsal 16:2 berkata :”Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.”


Firman Tuhan ini, mencerminkan sikap hidup manusia secara umum yang selalu
berbicara dan bertindak sesuai dengan apa yang dianggap benar menurut pandangannya. Sekalipun menurut pandangan orang lain belum tentu sama.


Seperti yang telah disinggung sebelumnya pada Bab I – Membangun Batas-Batas Atas Dasar Kasih, bahwa perbedaan-perbedaan tidak selalu harus disamakan. Perbedaan selera, hobby atau kebiasaan dan lain-lain yang sifatnya ringan tidaklah perlu dipertentangkan. Namun perbedaan pandangan yang mempengaruhi tindakan dan keputusan yang sangat mendasar dalam satu keluarga haruslah disamakan.


Ada beberapa hal yang melatarbelakangi pandangan seseorang, antar lain : pendidikan/pengetahuan dan pengalaman hidup dari sejak kecil baik di keluarga maupun di lingkungannya. Perbedaan pandangan antara suami dan isteri bisa saja menjadi sumber malapetaka dalam keluarga jika masing-masing pihak mempertahankan pendapatnya yang dianggapnya sebagai sesuatu yang benar sesuai dengan pandangannya. Untuk itu mereka haruslah keluar dari pandangan mereka masing-masing dan mengkomunikasikannya. Dialog/Komunikasi yang terus menerus sangat dibutuhkan untuk menyatukan pandangan. Dan tentu saja kerendahan hati dan keterbukaan menjadi modal utama dalam menghasilkan komunikasi yang berhasil. Selain itu egoisme dan sifat mau menang sendiri haruslah dihilangkan. Masing-masing pihak harus bersedia mendengar lawan bicara mengungkapkan pendapatnya. Komunikasi yang baik akan menghasilkan keputusan-keputusan yang baik pula.


Mertua – Mantu


Banyak orang muda memasuki jenjang pernikahan dengan tidak menyadari bahwa pernikahan itu melibatkan tiga keluarga yaitu : pasangan baru menikah ; keleuarga isteri dan keluarga suami.4) Tak sedikit rumah tangga yang hancur akibat keterlibatan keluarga pasangan yang berlebihan didalam kehidupan rumah tangga. Dan diantara persoalan yang sering timbul dalam satu keluarga, yang paling pelik adalah persoalan mertua dan para ipar.


Menurut pengamatan yang ada di tengah masyarakat, konflik yang sering terjadi dalam kaitannya dengan masalah keluarga suatu pasasangan yaitu konflik antara ibu mertua dan menantu perempuan. Kedua wanita ini sukar sekali menyesuikan diri. Kelihatannya bahwa ibu mertua lebih cocok dengan menantu laki-laki dan bapak mertua lebih cocok dengan menantu perempuan, meski tak tertutup kemungkinan konflik diantara mereka bisa terjadi.


Suatu pandangan yang salah terhadap menantu perempuan, menjadi salah satu sumber penyebab persoalan ini. Pandangan turun-temurun yang menganggap seorang menantu perempuan sebagai pembantu tambahan dan sebagai “babon” untuk menghasilkan anak-anak yang manis khususnya anak laki-laki yang sehat sebagai pewaris keluarga. Pandangan ini sudah sedemikian mendarah daging sehingga sukar untuk dilenyapkan, memerlukan waktu dan keberanian.


Jaman dulu, menantu perempuan cenderung menerima pandangan ini sebagai nasib yang harus diterimanya sebagai menantu. Namun seiring dengan kemajuan jaman dan tuntutan emansipasi yang semakin kuat ditengah masyarakat, membuat menantu perempuan memberontak dan ingin melepaskan diri dari belenggu pandangan ini.


Sumber penyebab yang lain adalah ibu mertua beranggapan bahwa dia masih sangat berhak untuk mengatur anaknya walaupun anaknya itu sudah menikah. Sebagai ibu yang melahirkan ia juga merasa berhak untuk mendapat perhatian dari anaknya dan juga merasa berhak untuk mendapat bagian dari segala harta yang diperoleh anaknya. Disisi lain si isteri atau menantu perempuan merasa bahwa suaminya sudah menjadi hak dia sepenuhnya setelah menikahinya.


Dalam Kejadian 2:24 dikatakan :”sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging”. Disini jelas ditekankan hakekat suami-isteri bahwa ketika seorang laki dan seorang perempuan mengambil keputusan untuk menikah, maka mereka harus siap meninggalkan keluarga mereka masing-masing dan membentuk suatu keluarga yang baru. Semua keluarga ; ayah, ibu dan saudara-saudari pengantin masing-masing harus menyadari betul hal ini, sehingga tidak ada keinginan untuk mencampuri urusan keluarga anak dan saudaranya tersebut.


Namun harus juga dipahami bahwa yang dimaksud “meninggalkan” bukan berarti “memutuskan” hubungan keluarga. Bagaimanapun hubungan keluarga dengan orang tua dan saudara haruslah tetap terjalin dengan baik sebagaimana mestinya. Karna dapat dikatakan bahwa keluarga yang baru terbentuk itu adalah merupakan bagian dari satu keluarga besar dari pihak isteri dan bagian dari satu keluarga besar dari pihak suami. Hanya saja keluarga yang baru terbentuk itu adalah keluarga yang independen dalam urusan keluarga itu sendiri, tidak dapat dicampuri oleh orang-orang dari keluarga besarnya. Lain hal kalau sangat dibutuhkan untuk kasus-kasus tertentu misalnya terjadinya suatu persoalan suami-isteri yang mengarah pada perpecahan keluarga itu, maka dari pihak keluarga besar wajib memberi masukan dan arahan demi keutuhan keluarga itu.


Keuangan
Di jaman modern dan serba canggih ini, rasanya tidak seorangpun manusia yang tidak membutuhkan uang. Apalagi di perkotaan-perkotaan yang bisa dikatakan kurang lebih 90% kebutuhan sehari-hari di peroleh harus dengan cara membeli. Uang memang sangat dibutuhkan. Rekreasi, pendidikan, pembangunan gereja, mengadakan KKR, seminar, dan lain-lain semua membutuhkan uang. Bahkan ada istilah yang berkata “uang mengatur negara”, meski istilah itu tidak sepenuhnya dapat diterima.
 

 


Umumnya disetiap keluarga yang mengatur keuangan adalah isteri. Karena biasanya isterilah yang lebih mengetahui dan yang berurusan dengan segala kebutuhan sehari-hari. Suami hanya mengantongi uang secukupnya untuk perongkosan kerja atau untuk keperluan pribadi. Lain hal jika suami-isteri mempunyai kesepakatan untuk mengatur keuangan bersama-sama sesuai dengan perencanaan-perencanaan yang mungkin telah dibuat. Dan model ini sebenarnya sangat lebih baik.


Dalam pengaturan uang ini seorang isteri haruslah bijaksana. Rencana perbelanjaan haruslah realistis dan tidak melebihi kemampuan. Seorang isteri juga harus menjaga diri dari pengaruh lingkungan sekitar yang lebih cenderung saling mau menunjukkan keberadaan. Tidak sedikit mungkin dapat kita ketahui isteri-isteri dalam suatu lingkungan seperti berkompetisi dan ingin saling mengatasi. Kalau yang satu beli Tape Recorder yang lain beli CD Player, yang satu beli Televisi 19 inch yang lain beli 21 inch plus VCD Player, begitu terus saling berlomba sampai ngutang kemana-mana supaya dapat membeli macam-macam. Jika seorang isteri tidak dapat menguasai diri terhadap hal-hal seperti yang tersebut diatas, maka ia akan menjadi tidak puas dengan keadaannya. Penghasilan yang didapat oleh suaminya akan selalu tidak cukup. Uang, uang dan uang itulah yang akan dipikirkannya. Dan kalau seorang isteri telah mengutamakan uang dalam rumah tangga, berarti bahaya sedang mengancam rumah tangganya. Dia akan terus mendesak agar suami mencari tambahan-tambahan penghasilan, alhasil banyak suami-suami yang jadi frustasi dan ada juga mungkin suami yang punya posisi yang baik di kantornya akan melakukan korupsi. Uang memang sangat diperlukan karena uang merupakan sarana untuk hidup. Tetapi uang bukan segala-galanya, uang bukan tujuan hidup. Tujuan hidup kita adalah memuliakan Tuhan.


Demikian juga suami harus mengontrol pengeluarannya pribadi sehingga tidak lebih besar pasak dari pada tiang. Dan meskipun seorang suami mempunyai penghasilan yang besar atau setidaknya diatas rata-rata, si suami tidak sepatutnya menghamburkan-hamburkan uang. Menggunakan uang juga diperlukan kebijaksanaan, memikirkan masa depan keuangan rumah tangga atau masa depan anak-anak merupakan keharusan. Dan sekiranya dari penghasilan yang lumayan itu dapat disisihkan untuk menolong orang yang sangat membutuhkan ; yatim-piatu dan orang-orang terlantar misalnya, betapa sebenarnya hidup menjadi sangat menyenangkan, bisa menjadi berkat bagi orang lain. Dan Tuhan pasti bangga memiliki anak-anak yang perduli dengan orang lain. Memberi bantuan kepada mereka yang kurang beruntung jelas lebih baik daripada mempergunakannya kepada tujuan yang tidak baik misalnya minum-minum, berjudi, berfoya-foya, dll. Namun dalam hal memberi bantuan ini haruslah atas dasar kesepakatan suami-isteri. Komitmen yang kuat dari kedua belah pihak sangat diperlukan.


Membantu keluarga dari kedua belah pihak yaitu pihak suami dan pihak isteri kalau memang mampu, haruslah berdasarkan azas keadilan. Azas keadilan yang dimaksud bukanlah azas keadilan yang biasa di dengung-dengungkan orang, yaitu memberi dalam jumlah yang sama kepada kedua belah pihak. Sesungguhnya azas keadilan yang benar adalah sesuai tingkat kebutuhan mereka yang harus di bantu. Kalau misalnya keluarga dari pihak suami hidup berkecukupan sedangkan keluarga pihak isteri begitu melarat, maka sebenarnya yang perlu dibantu adalah keluarga pihak isteri itu, begitu juga sebaliknya. Inilah azas keadilan yang saya anggap benar sesuai pemahaman firman Allah.


Tidak Menghormati Perkawinan


Adalah seorang suami yang terpaksa harus meninggalkan isterinya untuk jangka waktu yang agak lama karena harus bekerja di luar kota. Dengan penuh kepercayaan kepada isterinya ia pergi dan konsentrasi dengan pekerjaannya. Sesekali ia pun tidak lupa menelepon sang isteri yang dikasihinya itu. Namun apa yang terjadi bahwa rupanya sang isteri melakukan perselingkuhan ketika suaminya berada diluar kota.


Seorang isteri yang sedang hamil tua terpaksa harus menahan sakit hati dan kepedihan karena suaminya berselingkuh. Keadaannya yang sedang hamil tentu saja tidak dapat memberi pelayanan seksual seperti yang biasa. Dan keadaan ini rupanya membuat sang suami tidak puas dan mencari perempuan lain .


Dua contoh diatas adalah gambaran dimana pihak-pihak yang berselingkuh tidak menaruh hormat terhadap perkawinan. Mereka dengan mudah menyerahkan tubuh mereka kepada perzinahan dengan melakukan hubungan seksual diluar hubungan yang sah dengan pasangannya. Ibrani 13 : 4 berkata :”Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah”. Tuhan benci terhadap perzinahan. Ketika bangsa Israel menyembah baal-baal dan berpaling dari pada-Nya, Ia menyebut bangsa itu sebagai penzinah. Hal itu menandakan bahwa zinah adalah perbuatan yang sangat ditentang oleh Allah. Ia tidak ingin diduakan, Ia tidak ingin dikhianati. Dan Allah juga tidak ingin seorang suami atau isteri menduakan dan mengkhianati pasangannya. Sekali seorang suami atau isteri melakukan dosa perzinahan maka tidak akan mudah baginya untuk meninggalkan perbuatan seperti itu karena iblis akan selalu berusaha memunculkan kembali keinginan berzinah itu. Secara mental perbuatan zinah seorang suami atau isteri akan merong-rong mental pasangannya dan menghancurkan kepercayaan diri. Seorang isteri atau suami yang dikhianati akan juga berfikir bahwa salah satu penyebab penyelewengan itu adalah akibat dari ketidak mampuan dia melayani pasanganya.


Seksualitas
Selain kasus yang disebabkan oleh dua hal diatas, perselingkuhan dan keretakan rumah tangga juga terjadi akibat sering tidak adanya kepuasan dalam hubungan seksual suami-isteri. Minimnya pengetahuan tentang seks dan adanya pandangan sebagian orang bahwa seks merupakan hal yang tabu, menjadikan hubungan seks tersebut berjalan tidak romantis, monoton dan membosankan.
 

 


Sebagian orang khususnya orang asia masih banyak yang beranggapan bahwa berhubungan seks hanya untuk mendapatkan keturunan; tidak pantas untuk dibicarakan dan sering dikaitkan dengan dosa jasmaniah. Padahal seks itu sendiri adalah bahagian dari ciptaan Allah dalam diri manusia yang dijadikan-Nya itu. Melalui dorongan seksual itu orang melakukan hubungan badan dan melahirkan keturunan yang akan memenuhi bumi. Faktor adat istiadat ketimuran juga mempunyai andil dalam ketertutupan masalah seks ini.


Sangat baik sebenarnya bagi pasangan yang akan menikah mempelajari buku-buku tentang seks dan pernikahan sebelum menikah, karena dengan pengetahuan yang dimiliki akan lebih mudah mengadakan penyesuaian-penyesuaian dalam prakteknya setelah mereka menikah.


Seks juga membutuhkan keterbukaan antara suami-isteri. Segala kekurangan atau ketidakpuasan perlu di bahas untuk dicari solusinya. Suami- isteri tidak perlu merasa malu dan tertutup jika dia merasa ada sesuatu yang kurang dalam hubungan seks mereka. Jika seorang isteri yang lebih dahulu berinisiatif atau dengan cepat memberi respon kepada suami, juga bukan berarti bahwa mereka di nilai murahan. Justeru suami akan merasa bahagia jika sesekali isteri yang terlebih dahulu berinisiatif, karena dengan demikian dia merasa bahwa dia juga dibutuhkan dan dicintai. Kalau suami yang selalu lebih dulu berinisiatif ada kesan bahwa hanya dia saja yang lebih butuh sedangkan si isteri tidak.


Persolan laki-laki yang lebih umum dalam berhubungan seks adalah ejekulasi dini. Ejekulasi dini akan mengakibatkan ketidak puasan bagi wanita. Laki-laki biasanya lebih cepat terangsang dari pada wanita. Oleh karena itu dalam berhubungan seks hendaknya suami-isteri terlebih dahulu mengadakan pemanasan. Suami perlu membelai dan membisikkan kata-kata mesra sebelum setiap persetubuhan terjadi. Ia harus dengan penuh keahlian meraba-raba bagian-bagian sensitif dari isterinya seperti buah dada, pinggul, serta bagian di sekitar organ kelamin.5)


Ejekulasi sebenarnya juga dapat dikendalikan dengan cara mendiamkan penis dalam vagina tanpa digerakkan untuk beberapa lama atau mencabut penis sekalian ketika hampir klimaks. Permainan dilanjutkan dengan rabaan dan ciuman, dan kalau sudah agak menurun nafsunya baru kemudian dilanjutkan persetubuhan. Selain itu perlu juga dibuat fariasi atau pergantian posisi, sehingga tidak monoton. Fariasi ini juga dapat membantu untuk memperlambat ejekulasi. Namun tidak tertutup kemungkinan ejekulasi dini atau berbagai persoalan seks lainnya, disebabkan masalah fisik (penyakit) ataupun masalah kejiwaan. Untuk itu hendaknya pasangan itu berkonsultasi dengan dokter atau pakar seksologi. Bagi pasangan suami-isteri mengalami orgasme bersama-sama merupakan suatu kesukaan dan kebahagiaan. Namun tidak harus selalu begitu, yang penting keduanya bisa mengalami orgasme.


BAB III


MENJAGA KESEIMBANGAN


Untuk melestarikan kehidupan rumah tangga dan tetap berada dalam keharmonisan, suami-isteri haruslah selalu menjaga keseimbangan diantara seabrek kesibukan yang mungkin dimiliki. Waktu untuk kebersamaan dengan keluarga tidak bisa diabaikan begitu saja. Karena dengan kebersamaan hubungan yang semakin harmonis dapat dipupuk. Demikian juga keseimbangan dalam mengaplikasikan hak dan kewajiban haruslah terjaga dengan baik. Kebijaksanaan suami dan kecakapan isteri yang terjaga secara terus menerus akan menciptakan suasana yang tetap harmonis dalam rumah tangga.


Suami Yang Bijaksana


Di berbagai suku dan bangsa yang ada di dunia ini, kita menemukan adanya satu persamaan pandangan yang kemudian menjadi suatu adat atau kebiasaan bahwa suami mempunyai kuasa yang mutlak dalam mengatur isteri dan keluarganya. Kekuasaan suami itu pun sering menjadi otoriter. Dalam memutuskan sesuatu pendapat seorang isteri dianggap tidak terlalu perlu, hak bicaranya pun sering dianggap tidak ada. Dan hal ini dianggap sebagai sesuatu yang lajim dan sah-sah saja. Pandangan seperti ini sebenarnya tidak baik karena akan mematikan kreatifitas dan daya pikir isteri. Padahal kalau kita berbicara tentang keluarga berarti kita berbicara tentang seluruh komponen yang ada di dalam keluarga itu. Seluruh komponen dalam keluarga itu harus di berdayakan dengan baik. Segala sesuatu dimulai bersama-sama sehingga kalaupun timbul masalah dalam keluarga itu akan mudah terselesaikan. Kalau sejak awal telah memulai bersama-sama maka masalah yang timbul akan mudah dipecahkan bersama-sama.


Pandangan tentang kuasa suami yang absolute seperti yang dijelaskan diatas juga sering melahirkan egoisme dalam diri si suami sehingga si suami akan sangat banyak menuntut kepada isterinya. Dengan egoisme ini si suami sering mengeluarkan aturan-aturan sekehendak hatinya yang memposisikan isterinya pada “keharusan-keharusan”. Isteri harus begini, harus begitu dan macam-macam keharusan yang diundang-undangkan oleh suami tanpa memperdulikan bagaimana perasaan isterinya. Bahkan ada juga mungkin suami-suami yang menggunakan ayat firman Tuhan seperti yang tertulis di Efesus 5:22 sebagai senjata mereka. Mereka mungkin hanya berfokus pada ayat yang menuntut isteri tunduk pada suami dan tidak begitu perduli dengan ayat-ayat lain yang sebenarnya merupakan hubungan sebab-akibat dari perkataan “tunduk” tersebut.


Firman Tuhan yang tertulis di Efesus 5:22 yang berkata :”Hai isteri, tunduklah kepada suamimu sama seperti kepada Tuhan”, adalah tidak dapat terlepas dari ayat-ayat selanjutnya khususnya ayat 25 pasal yang sama yang berbunyi :”Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya”. Secara khusus kita ambil kedua ayat ini yaitu Ef. 5:22 dan 25, bahwa disana kita mendapatkan apa yang mungkin dapat kita katakan suatu hubungan sebab-akibat. Seorang isteri diperintahkan tunduk pada suami dan seorang suami diperintahkan mengasihi isteri. Artinya kalau suami tidak mengasihi isterinya, maka janganlah
berharap agar isterinya tunduk kepadanya. Bahkan dengan jelas firman Tuhan mengumpamakan penundukan isteri kepada suami seperti penundukan jemaat kepada Tuhan dan mengumpamakan kasih suami kepada isteri seperti kasih Tuhan kepada jemaat. Berangkat dari firman Tuhan ini kita juga dapat menyimpulkan bahwa suamilah yang harus terlebih dahulu menunjukkan kasihnya kepada isterinya sama seperti Allah yang terlebih dahulu menunjukkan kasih-Nya kepada jemaat bahkan telah menyerahkan diri-Nya bagi jemaat itu.


Keputusan akhir tentang aturan dalam keluarga atau tentang berbagai hal yang menyangkut masalah keluarga itu, memang berada di tangan suami. Namun akan sangat bijaksana bila suami terbuka untuk mendengar masukan-masukan dari si isteri karena isteri juga terlibat dan bertanggung jawab dalam keluarga, sehingga keputusan akhir yang dihasilkan akan menguntungkan bagi keluarga itu sendiri.


Demikian juga masalah membagi waktu suami perlu bijaksana. Banyak orang beranggapan bahwa tanggung jawab seorang suami/ayah hanya mencari duit dan memenuhi kebutuhan jasmani keluarga sehari-hari. Mereka tidak sadar bahwa tanggung jawab mereka juga meliputi masalah-masalah rohani. Dengan tersedianya segala kebutuhan jasmani tidak akan menjamin suatu keluarga berhasil tanpa kebutuhan rohani terpenuhi. Banyak contoh yang mungkin kita bisa lihat ditengah-tengah masyarakat, bahwa kekayaan yang dimiliki suatu keluarga justeru menjadi malapetaka dalam keluarga itu apabila tidak ada nilai-nilai kerohanian di dalamnya dengan kata lain kebutuhan rohani tidak tepenuhi Seorang isteri akan merasa kesepian dan akan merasa bosan dengan keadaannya, yang walaupun misalnya kaya namun suaminya sangat jarang sekali ada disampingnya. Apalagi kalau sudah punya anak.
Anak-anak pun akan kurang terkontrol dan menjadi nakal karena kurangnya perhatian dan didikan sang ayah.


Salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan rohani keluarga adalah lewat kebersamaan. Kebersamaan ini sangat penting karena disinilah seorang suami/ayah dapat dengan leluasa mengkomunikasikan banyak hal kepada keluarga, baik itu tentang hidup bermasyarakat, tata krama, pendidikan dan tentu saja tentang Tuhan. Dalam kebersamaan ini juga, isteri dan anak-anak merasa mempunyai figure yang mengasihi dan mengayomi mereka.


Oleh karena itu bagaimanapun sibuknya seorang suami/ayah, ia haruslah bijaksana dalam membagi waktu. Ia harus meluangkan waktu untuk keluarga, untuk kebersamaan. Suami/ayah mesti menyadari bahwa tanggung jawabnya bukan hanya mencukupi segala kebutuhan jasmani tetapi juga kebutuhan rohani.


Yosua menjadi salah contoh suami/ayah yang perduli tentang kebutuhan kerohanian keluarganya. Walaupun di dalam Alkitab tidak banyak mengisahkan keluarga Yosua, namun dari pidato yang dia sampaikan ketika ia berbicara dengan bangsa Israel dapat kita simpulkan bahwa ia perduli kebutuhan rohani keluarganya. Dalam kitab itu dikatakan ( Yosua 24:15 b)”…tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan”.


Allah menghendaki setiap suami berlaku bijaksana terhadap isterinya. Seperti 1 Petrus 3:5 berkata :”Demikianlah juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah, hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang”.


Isteri Yang Cakap


Permata adalah lambang kemewahan. Mereka yang mempunyai kekayaan biasanya memiliki permata yang indah seperti intan dan berlian yang dipadukan dengan emas dalam bentuk gelang, cincing, kalung, giwang atau mungkin juga jam tangan dan bross. Barang-barang seperti ini tentu saja sangat mahal harganya. Oleh karena itulah orang-orang yang memakai permata ini akan sering menjadi fokus perhatian apalagi ketika berada di pesta-pesta, arisan, pertemuan-pertemuan, dan lain lain. Harga sebuah permata sebenarnya tidak hanya di nilai dari nominal materialnya melainkan juga nilai artistiknya.


Firman Tuhan di Amsal 31:10 berkata :”Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya ? Ia lebih berharga dari permata”. Ini sebuah penghargaan yang tinggi dan yang pantas di dapatkan oleh seorang isteri yang cakap. Penilaian ini sangatlah beralasan karena seorang isteri mempunyai peran dan pengaruh yang cukup besar di tengah keluarga dan masyarakat. Keberhasilan seorang suami ataupun kegagalannya bisa saja bermula dari isteri. Ucapan atau tindakan isteri dapat menguatkan suami, tetapi dapat juga menjatuhkan. Banyak suami yang frustasi dan hancur hidupnya karena perkataan isteri yang sering memojokkan dia. Suami mungkin gagal dalam pekerjaan atau usahanya, si isteri bukannya menghibur tetapi justeru menyalahkan. Tetapi banyak juga suami memperoleh kesuksesan karena perkataan isteri yang mendorong suami meraih keberhasilan. Seperti yang tertulis dalam Amsal 12:4 ; “Isteri yang cakap adalah mahkota bagi suaminya, tetapi yang membuat malu adalah seperti penyakit yang membusukkan tulang suaminya”.


Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap manusia mempunyai kelemahan. Demikian juga seorang suami bagaimanapun hebatnya ia, ia tetap manusia biasa yang mempunyai kelemahan. Dalam hal iman, terkadang kita menemukan adanya pasang surut. Begitu juga seorang suami. Bisa saja seorang suami hari ini imannya berada pada puncaknya tetapi besok mungkin dia bisa lemah imannya. Dalam pekerjaanpun begitu, minggu ini suami bisa sangat giat bekerja, giat dalam pelayanan tetapi minggu depannya malah surut.


Dalam keadaan seperti ini kecakapan seorang isteri sangat dibutuhkan untuk menolong suami memompa kembali semangatnya yang lemah dan memberikan dorongan agar imannya tidak sampai jatuh. Isteri adalah sebagai penolong bagi suami (Kej. 2:18). Apabila suami lemah imannya, isteri harus menguatkannya dan apabila suami mulai menyimpang jalannya maka isteri harus mengingatkan.


Pujian yang begitu tinggi seperti yang disebutkan pada Amsal 31:10 tentu tidak dinilai berdasarkan kecantikan fisik melainkan kecantikan hati dan perilaku yang baik. Kalau seseorang yang cantik fisik dipuji dan dikagumi orang lain, itu sangatlah wajar. Namun jika kecantikan fisik itu dibarengi dengan perilaku yang buruk, maka pujian dan kekaguman itu akan berubah menjadi cercaan. Sebaliknya walaupun secara fisik seseorang tidak begitu cantik, namun kalau hati dan perilakunya baik maka ia akan selalu mendapat pujian.


Saleh dan takut akan Tuhan, lemah lembut, setia dan jujur, bijaksana dan memiliki visi ke dapan adalah kriteria-kriteria yang seharusnya di miliki oleh seorang isteri yang cakap. Sehingga penghargaan yang tinggi melebihi permata itu pantas dimiliki.

 
 

 

BAB IV


PENUTUP
Setiap suami-isteri haruslah menyadari bahwa pernikahan mereka adalah panggilan Tuhan. Allah sendirilah yang mengambil inisiatif untuk membentuk lembaga keluarga itu. Oleh karena itu Allah sesungguhnya mengetahui segala sesuatu mengenai keluarga itu.
 

 

Laki-laki dan perempuan yang dipersatukan oleh Allah tidak seharusnya dipisahkan oleh siapun kecuali karena kematian. Namun pergolakan hidup telah banyak membawa manusia itu pada perceraian. Pada hal Allah sendiri sangat menentang perceraian itu.


Persoalan sering terjadi oleh karena banyak hal ; pandangan kolot tentang kuasa suami yang absolut yang cenderung melahirkan egoisme, otoriterisme dan pemaksaan kehendak, ketidaksamaan pandangan yang dilatarbelakangi oleh pengalaman hidup yang berbeda-beda, adanya pihak ketiga yang selalu mencampuri urusan rumah tangga, masalah keuangan, masalah seksualitas dan lain-lain.


Persoalan-persoalan itu sebenarnya dapat diantisipasi dan diselesaikan jika terus terjalin komunikasi yang baik antara suami-isteri. Perbedaan-perbedaan tidak selalu harus disamakan. Ada kalanya perbedaan itu dibiarkan dan dihargai sejauh perbedaan itu tidak terlalu mendasar, yang dapat mengganggu kebersamaan didalam rumah tangga itu. Namun kalau perbedaan itu sangat mendasar dan dapat mengganggu kebersamaan dalam rumah tangga itu, haruslah dicari solusi, dibicarakan penyelesaiannya. Haruslah ada keterbukaan dan kerendahan hati untuk menerima masukan-masukan dari pasangan dan siap melakukan perubahan-perubahan dalam kebiasaan jika memang diperlukan untuk tetap menjaga keharmonisan dan keutuhan rumah tangga itu.Dan satu hal yang paling penting dan mendasar adalah dengan menerima Tuhan sebagai kepala dalam rumah tangga dan selalu mengaplikasikan kasih Kristus dalam setiap langkah.
Tuhan Yesus Memberkati.
 

 

 


Daftar Pustaka

 

 

 


1) Jocob Nahuway, Isteri Yang Cakap Melebihi Permata, Yokyakarta,Yayasan Andi, 1990, Hal 1.

2) Jacob Nahuway, Isteri Yang Cakap Melebihi Permata, Yokyakarta,Yayasan Andi, 1990, Hal. 165-166.

3) Dr. Henry Cloud & Dr. Jhon Townsend, Batas-Batas Dalam Pernikahan, Batam, Interaksa, 2002, Hal. 96

4) Dr. Clyde M. Narramore, Liku-Liku Problema Rumah Tangga, Bandung, Yayasan Kalam Hidup, 1985, Hal. 57

5) Dr. & Ny. Chong Kwong Tek Dan Tn. & Ny. Chua Wee Hean, Kekasihku Setelah Pernikahan, Bandung, Lembaga Literatur Babtis, 1984, Hal. 49

 

 

Kisah ini terjadi tahun 1995-1996 yang lalu. Sebagai seorang karyawan yang berprofesi sebagai Office Boy atau CS (Cleaning Service) yang di perusahaan tempat aku bekerja disebut “Janitor”, aku harus selalu siap kalau ada staf atau karyawan yang lain memintaku untuk mengerjakan sesuatu atau membantu mereka sekitar pekerjaan kantor.

 

Pekerjaan utamaku sebagai seorang Janitor adalah membersihkan kantor mulai dari ruangan-ruangan kantor, koridor sampai membersihkan WC. Juga menyediakan kopi atau teh, air minum dan kertas photo copy. Selain mengerjakan pekerjaan tersebut, aku juga sering diminta untuk membantu photo copy, mengantar surat, menyusun file/drawing, dll yang bersifat clerical job.

 

Tersebutlah seorang perempuan bernama ibu SM yang bekerja sebagai Front Officer di kantor itu. Ibu SM ini meski sudah tua tapi masih terlihat cantik dan energic. Jika para bosses ada yang menyuruh dia untuk mengerjakan sesuatu maka dia akan bereaksi extra cepat. Dia selalu ingin memberi the best service kepada semua orang dalam hal ini Client Representative, dimana kantor ini memang disediakan khusus untuk mereka.

 

Para boss-boss itu kalau menginginkan sesuatu misalnya untuk photo copy, mengantar surat, atau butuh kopi/teh/softdrink, tissue kotak, dan lain sebaginya, biasanya mereka menyampaikannya kepada ibu SM. Dan sudah pasti ujung-ujungnya instruksi ini jatuhnya kepadaku juga sebagai “executor”.

 

Karena aku kerja rangkap-rangkap maka sering sekali kalau ibu SM ini membutuhkan aku, tidak selalu ada di hadapan dia secepat yang ia inginkan, sementara dia maunya selalu extra cepat. So, tidak mengherankan kalau dia selalu memanggil aku minimal dua kali. Yang pertama “Lomser…” lalu kalau saya sudah jawab “ya. bu” maka akan disusul dengan panggilan kedua “Lomser…hurry up!”.

 

Sangat seringnya ibu SM ini memanggil aku dengan cara seperti itu, maka panggilan ini menjadi “istilah’ atau “trade mark” untuk memanggil aku. Jadi sepanjang proyek berlangsung yang kurang lebih 2 tahun itu, setiap orang yang memanggilku “Lomser..Hurry Up!”. Sungguh aneh.!!

 

 

chalk-batman-rescue

Kelompok A mempunyai pandangan yang hampir mirip dengan kelompok B, sedang kelompok C tidak. Lalu kelompok A dan kelompok B bersepakat untuk menghabisi si kelompok C. Dan hal itupun terjadi.

Mirip bukan berarti sama. Rupanya perbedaan sedikit diantara kelompok A dan B membawa mereka pada suatu konflik yang kemudian berujung pada kematian kelompok B. Dan tinggallah kelompok A.

Rambut boleh sama hitam, tapi hati siapa tahu ? Rupanya hal  ini menjadi nyata di dalam tubuh kelompok A. Orang-orang yang didalam kelompok itupun memiliki perbedaan pandangan. Terjadilah konflik dan kekacauan yang ternyata jauh lebih parah dari pada ketika kelompok mereka (A) berusaha menghabisi kelompok lain (B) dan  (C).

 

 

Pesan :

Kalau kita tidak mau menerima perbedaan maka kita tidak akan pernah ada kedamaian.

Perbedaan bukan berarti pemisahan, bukan berarti menjadi akhir dari kebersamaan. Masih ada Musyawarah untuk mufakat.

 

Agt.03 – Salam Damai Indonesiaku.

Lomser Hutabalian

Membaca Intisari edisi Desember 2003 tentang orang utan, saya agak terkesima. Tulisan yang berjudul “Cerita saudara tua kita” itu menjelaskan banyaknya kesamaan antara orang (manusia) dengan orang utan.  Beberapa kesamaan itu antara lain : Tulang, gigi dan bulu sama banyaknya dengan manusia. Walau bulu orang utan kelihatan lebat bukan karena lebih banyak dari manusia melainkan hanya karena lebih panjang. Orang utan juga sering menangis, merengek,  dan mempunyai masa kehamilan sama seperti manusia. Begitu juga dengan data kesamaan DNA yang mencapai 98,7 %.

 orang-utan

Sifat dan kebiasaan terpuji yang dimiliki oleh manusia ternyata juga dimiliki oleh orang utan. Hanya saja sifat dan kebiasaan terpuji  itu masih tetap lestari pada orang utan, sedangkan pada manusia sifat-sifat itu sudah hampir-hampir punah. Malahan kecenderungan sifat manusia jaman sekarang ini sudah terbalik dari sifat-sifat terpuji yang pernah dimiliki.

 

Menurut penelitian, sifat-sifat terpuji yang dimiliki oleh orang utan yaitu : Anti konflik, Sosialis, Solider, menghargai dan mengasihi. Sementara pada manusia sifat-sifat seperti diatas sudah jarang dan sulit ditemukan pada zaman ini. Manusia justeru cenderung menciptakan konflik, Sosial rendah, tidak menghargai bahkan cenderung menginjak-injak hak azasi orang lain,  tidak ada iba melihat orang-orang yang melarat dan yatim-piatu, bahkan juga sering kita dengar bantuan sosial kepada masyarakat kecil, yang mengalami bencana dananya disunat dan hanya sebagian kecil yang sampai kepada orang yang seharusnya berhak.

 

Melihat kenyataan diatas maka timbullah suatu pertanyaan :

Lebih manusiaan mana antara orang dengan orang utan  ?

Atau

 Lebih binatangan mana antara orang dengan orang utan  ?

  

Des.03

Lomser Hutabalian

 

Inilah kerinduanku Tuhan

Aku dapat mencintai-Mu selamanya

Sungguh…Tuhan

Aku rindu ‘tuk mencintai-Mu selamanya

 

Siramilah Tuhan

Benih kasih yang telah Kau tanam

Siramilah dengan kuasa Roh Kudus-Mu

 

Pupuklah Tuhan

Benih cinta yang telah Kau tumbuhkan

Pupuklah dengan kuasa firman-Mu

 

Bantu aku Tuhan ‘tuk menyalibkan keinginan duniawiku

Supaya aku hidup untuk segala keinginan-Mu

Memancarkan sinar kemulian-Mu

Hingga menembus setiap mata rohani dunia yang buta.

 

Sungguh,

Adalah kerinduanku Tuhan

‘Tuk dapat mencintai-Mu

Selamanya

 

Hutabalian72

DI BALIK JATUHNYA YERIKHO

 

 

Kisah jatuhnya kota Yerikho ke tangan orang Israel tidak terlepas dari kerja sama yang baik diantara elemen yang ada di bangsa itu. Walaupun  sangat mudah bagi Allah untuk meluluh lantakkan kota Yerikho tanpa orang Israel berbuat apa-apa tapi hal itu tidak dilakukan oleh Allah. Allah menghendaki mereka memiliki andil dengan bertindak sebagai bukti kepercayaan mereka kepada perintah Tuhan. 

 

Allah memerintahkan mereka untuk mengedari kota itu, membawa serta Tabut Perjanjian, membunyikan sangkakala dan bersorak dengan nyaring. Kalau kita lihat sebenarnya, logika atau dalil-dalil tidak dapat menerima apabila hanya karena mengitari tembok itu, membunyikan sangkakala dan bersorak, dapat meruntuhkan tembok itu yang sangat besar itu. Jelas dalam hal ini ada campur tangan Allah. Tanpa campur tangan Allah tentu tembok dan kota itu tidak akan dapat dikuasai oleh orang Israel.

 

Adapun elemen yang dipakai oleh Tuhan menurut yang tertulis di kitab Yosua 6 adalah :

1.       Prajurit

2.       Imam-imam

3.       Seluruh bangsa (umat)

 

Keterlibatan semua elemen untuk meruntuhkan tembok Yeriko dalam konteks jaman ini dapat menggambarkan kerjasama dan keterlibatan semua elemen yang ada di gereja Tuhan. Tuhan mau memakai semua elemen dan talenta yang ada untuk mendukung misi Allah.

 

Lebih jelas formasi yang diperintahkan Yosua sesuai dengan pentunjuk Allah untuk mengitari kota Yeriko adalah orang bersenjata (prajurit), kemudian di ikuti oleh imam-imam yang membawa sangkakala, lalu dibelakangnya ada tabut perjanjian (juga dibawa oleh imam –ayat 12), dan yang terakhir adalah barisan penutup (Ayat 6-9). Formasi ini sangat cocok dengan model pelayanan baik di dalam pengembangan gereja/pelayanan yang sudah ada, maupun dalam penginjilan untuk menjangkau jiwa-jiwa baru bagi Tuhan.

 

Orang bersenjata adalah para penginjil/pekerja-pekerja perintis, imam-imam adalah hamba-hamba Tuhan yang dipercaya menggembalakan dan menyuarakan (meniup sangkakala) suara Tuhan, Tabut adalah gambaran Yesus yang diberitakan sekaligus menjadi lambang kehadiran dan penyertaan Allah, sedangkan yang terakhir adalah barisan penutup mengacu pada jemaat yang menerima pengajaran firman dan sekaligus menjadi penopang kebutuhan tenaga dan/atau financial pelayanan.

Melalui kerjasama yang baik dan saling mendukung diantara semua elemen yang ada di tengah-tengah gereja Tuhan, sesuai dengan panggilan dan talenta masing-masing, pekerjaan Tuhan yang besar akan dapat dilakukan. Dan karena yang dilakukan adalah misi Tuhan dan oleh karena kehadiran Tuhan yang dilambangkan dengan Tabut Perjanjian akan selalu menyertai, maka pekerjaan yang dahsyat akan terjadi seperti peruntuhan tembok Yeriko.

 

Tuhan memberkati.

Lomser Hutabalian

 

Kis. 1:9-12 Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, dan berkata kepada mereka: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.”

 

Kenaikan Yesus Kristus merupakan satu kejadian dari satu paket proses penyelamatan manusia. Proses kenaikan ini tidak dapat dipisahkan dari yang lain yaitu kelahiran, kematian dan kebangkitan.

 

Yesus berasal dari kemulian dan kekekalan

- Lahir ke dunia sebagai bukti kerendahan hati

- Mati di kayu salib sebagai bukti kasih

- Bangkit dari kubur sebagai bukti kuasa yang mengalahkan kematian

- Naik ke sorga sebagai bukti kuasa yang menyempurnakan dan

Kembali kepada kemuliaan dan kekekalan.

 

Kenaikan menjadi bukti kuasa yang menyempurnakan karena dengan kenaikan ini Yesus kembali ke tempat dari mana Dia berasal. Dia kembali ke Surga dan menyempurnakan segala sesuatu yang menyangkut kepentingan kita yaitu keselamatan yang kekal, dan pertolongan selama masih di dunia.

 

Ibrani 9:24 “Sebab Kristus bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam sorga sendiri untuk menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita.”

 

Ia harus naik ke surga untuk menyempurnakan pekerjaan-Nya. Ia sendiri menyempurnakan pekerjaan-Nya di Surga dan ia mengutus Roh Kudus untuk menyempurnakan kehidupan kerohanian manusia supaya layak masuk di dalam kesempurnan-Nya di sorga.

 

Menyediakan Tempat

Yohanes 14:2-3 “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.”

 

Memenuhkan segala sesuatu dengan pemberian-pemberian.

Efesus 4:8-10 ”Itulah sebabnya kata nas: “Tatkala Ia naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia. Bukankah “Ia telah naik” berarti, bahwa Ia juga telah turun ke bagian bumi yang paling bawah? Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi dari pada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu.” 

 

Artinya Yesus tahu segala sesuatu apa yang ada diatas juga segala sesuatu yang ada di bumi. Dia tahu keperluan kita, Dia tahu kepentingan kita bukan hanya kepentingan kita disorga tetapi juga kepentingan kita di bumi. Dan Dia mau memenuhi seluruh kepentingan kita itu.

 

Namun supaya kita dapat menerima semua pekerjaan Kristus yang sempurna yaitu keselamatan, berkat rohani dan berkat jasmani, kita harus disempurnakan oleh Roh Kudus. Kita harus menerima Roh kudus karena Roh Kudus menjadi jaminan bagi kita untuk memperoleh seluruh karya Allah yang sempurna.

 

Efesus 1:14 “Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya”.

 

Kis. 2:33 “Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini.”

 

Roh Kudus adalah  materai dari penebusan yang dikerjakan oleh Kristus

Filipi 3:10-11 “ Yang kekehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, dimana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.”

 

Bagian firman Tuhan dari suratan rasul Paulus kepada jemaat di Filipi ini merupakan pernyataan yang memberi kepastian tentang kebenaran yang sejati kepada jemaat di Filipi. Disini juga rasul Paulus memproklamirkan perubahan yang terjadi kepada dirinya setelah ia mengenal Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya. Bahwa ia yang dulunya adalah Saulus telah menjadi Paulus, Si Jahat yang telah bertobat, seorang ahli Taurat dan Farisi yang keras menjadi rasul yang lemah lembut.

 

Pertobatan Paulus terjadi saat ia membawa misi untuk menghancurkan pengikut Kristus. Dalam perjalanannya ke Damsyik, Yesus menyatakan diri kepada Paulus dengan cahaya yang memancar dari langit mengelilingi dia dan suara yang berkata “ Saulus, Saulus mengapakah engkau menganiaya Aku?” Disinilah terjadi pertobatan Paulus, dan pertobatan ini telah mengubah seluruh jalan hidupnya kemudian.

 

Dalam firman Tuhan ini rasul Paulus membuka “rahasia” keberhasilannya menjalani hidup yang berkenan kepada Allah (Ayat 11) yaitu “mengenal Dia dan kuasa Kebangkitan-Nya”.

 

MENGENAL DIA DAN KUASA KEBANGKITANNYA.

 

Saya percaya bahwa pengenalan kita akan Allah akan mempengaruhi jalan pikiran dan tindakan-tindakan kita dalam hidup kita. Orang yang tidak mengenal Tuhan akan menjalani kehidupan yang bertentangan dengan kebenaran Tuhan. Seberapa besar pengenalan kita akan Tuhan, maka sebesar itulah kita dapat berpikir, beriman dan mengalami kuasa Tuhan dalam hidup kita.

 

Misalnya, saya mengenal seorang kaya yang baik hati. Dia bukan saja baik hati tapi dia sangat mengasihi orang lain dan perduli kepada sesamanya. Dia selalu terbuka untuk menolong orang lain semampu dia lakukan. Tapi saya juga memiliki saudara yang kaya. Tapi saudara saya ini  sangat pelit dan selalu hitung-hitungan saat akan menolong orang lain. Dia menolong orang lain karena ia mengharapkan ada imbalan yang mengutungkan setidaknya imbalan yang setimpal. Nah.. Apabila suatu saat saya membutuhkan pertolongan, kepada siapakah saya lebih berani meminta pertolongan; kepada saudara saya yang pelit atau kepada orang lain yang baik hati. (Orang lain).Demikianlah kita mempunyai keberanian menghadap tahta Allah yang mulia, karena kita tahu betapa besar kasih-Nya bagi kita. (Ibrani 4:15-16).

 

Dalam surat rasul Paulus kepada jemaat di Efesus, Ef. 1:17-19 dikatakan “dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh Hikmat dan Wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya; betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-nya  bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya.”

 

Kita perlu mengenal dengan benar siapakah Yesus itu, kita perlu mengerti pengharapan yang kita miliki di dalam Yesus, dan mengalami betapa hebat kuasa-Nya bagi kita.

 

Mulai dari manusia yang pertama, Allah selalu berinisiatif menyatakan diri-Nya, menunjukkan Kasih dan Kuasa-Nya bagi umat manusia. Dan bagi kita jaman ini firman Tuhan yang tertulis menjadi sarana bagi kita untuk mengenal Dia dengan benar dan pernyataan Roh Kudus yang kita terima memberi hikmat bagi kita untuk mengenal dan mengalami kuasa-Nya yang hebat.

 

PENGHARAPAN APAKAH YANG TERKANDUNG DALAM PANGGILANNYA ?

.

1. Kita akan dibangkitkan pada akhir zaman.

 

Kebangkitan Yesus merupakan dasar iman kekristenan tentang keselamatan. Karena kematian Yesus tidak berarti apa-apa jika tidak ada kebangkitan. Kematian adalah puncak dari semua penderitaan dan siksaan. Kebangkitan Yesus menjadi pertanda bahwa Ia telah mengalahkan penderitaan dan kematian. Dia berkuasa atas kematian.

 

Kuasa kebangkitan memberi harapan bagi kita yang percaya bahwa kita akan dibangkitkan pada akhir zaman saat Yesus datang kedua kali untuk menjemput milik kepunyaan-Nya yaitu kita orang percaya untuk menerima mahkota kehidupan yang kekal. (Yoh. 10:39-40). Kita memiliki janji yang pasti dari Tuhan, bukan

 

2. Kita dijadikan ciptaan baru.

 

Kebangkitan berarti bahwa yang lama telah mati (terkubur). Ketika kita percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan kita, maka manusia lama kita telah terkubur dan kebangkitan-Nya menjadikan kita ciptaan baru. Ciptaan baru yang terjadi bukan menyangkur tubuh dan jiwa melainkan roh kita. Roh yang diciptakan kembali dalam diri kita adalah roh yang kudus dimana Allah yang kudus dapat berdiam di dalamnya, untuk menuntun dan menolong kita dalam menjalani kehidupan.

 

3. Penyertaan Tuhan sampai akhir zaman.

 

Dalam perjalanan hidup kita untuk menantikan hari Tuhan, kita masih akan menghadapi banyak tantangan karena kita masih tinggal di dunia ini. Kita tinggal di bumi yang sama, bersama orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Tetapi apapun tantangan yang diperhadapkan kepada kita, kita memiliki janji Tuhan Yesus bagi kita bahwa Ia akan menyertai kita sampai akhir zaman. (Mat. 28:20b). Penyertaan Tuhan akan memampukan kita untuk menghadapi tantangan dalam hidup kita. Penyertaan Tuhan juga akan memampukan kita melakukan tugas-tugas pelayanan kita walaupun kita menghadapi tantangan.

 

4. Kita menerima berkat jasmani dan rohani.

 

Dalam suatu penglihatan nabi Yehezkiel (Yeh. 48:30-35), Tuhan memperlihatkan suatu kota yang kudus. Disitu terdapat beberapa pintu gerbang yang di beri nama sesuai dengan nama kedua belas suku Israel. Dan kota disebut “Yehova-syamma” yang berarti ‘Tuhan hadir di situ.” Kota Kudus ini merupakan gambaran dari Yerusalem Baru (Wahyu 21:9-27), juga merupakan gambaran dari tanah Kanaan yang dibagikan kepada kedua belas suku Israel (Yosua 14).

 

Saudara dan saya adalah bani Israel rohani yang telah dikuduskan lewat kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Oleh karena itu kita memiliki warisan di Kota Kudus Allah yaitu Kanaan yang melimpah susu dan madunya (berkat jasmani) dan Yerusalem Baru tempat kehidupan yang abadi penuh kemuliaan Allah (berkat rohani).

 

 

Tuhan Memberkati,

St. L. Hutabalian

 

 

Mazmur 37:5 : “Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak”.

 

Mengapa perlu penyerahan diri?

1.    Kita berada dalam dunia yang penuh tantangan.

a.   Pekerjaan (mencari pekerjaan, tantangan dalam pekerjaan : atasan, teman, gaji, dll)

b.   Keluarga ( orang tua/mantu, suami/istri, anak-anak, dll)

c.   Financial (bagaimana memenuhi standar kecukupan)

d.   Kesehatan, dll

 

2.   Kita memiliki kemampuan yang terbatas.

Ketika tantangan itu ada di dalam kehidupan kita, sering kali kita merasa tidak sanggup untuk menghadapi. Karena keterbatasan kita, kita sering larut dalam kekwatiran. Padahal kekwatiran tidak dapat memberi kontribusi apapun yan baik bagi kita. Suatu ketika Tuhan Yesus dalam kitab Matius 6:27 berkata :”Siapakah diantara kamu yang karena kekwatirannya dapat menambahkah sehasta saja dalam hidupnya ?”

 

Kekwatiran memang tidak menghasilkan yang baik bagi kita. Kekwatiran justeru cenderung membuat kita stress, frustasi, putus asa dan kehilangan akal sehat atau pikiran yang jernih. Oleh karena itulah dalam Amsal 12:25a dikatakan :”kekwatiran dalam hati membungkukkan orang..”

 

3.   Karena ada Allah yang sanggup menolong kita dalam segala persoalan hidup.

a.   Hidup berbicara tentang semua aspek/sisi kehidupan.

b.   Setiap aspek bisa menjadi sumber kekwatiran.

c.   Oleh karena itu, kita perlu menyerah hidup kita dengan semua aspek yang ada di dalamnya.

 

Percaya

1. Penyerahan diri sepenuh hati, tidak ragu-ragu.

Iblis akan selalu berusaha mempengaruhi kita sehingga kita meragukan Tuhan. Dia akan melihat kelemahan kita dan dari sanalah ia masuk. Kalau kita terbiasa mengandalkan kekuatan kita maka ia akan masuk melalui itu. Segala sesuatu akan kita ukur dengan kemampuan kita yang ada : tamatan, pengalaman, keberadaan materi, dll.

 

2.   Keputusan dan tindakan orang percaya sepintas seperti kebodohan. Mengapa ? Karena kepercayaan akan dapat mengesampingkan logika dan hitung-hitungan manusia.

-    Waktu Abram (Abrahan) dipanggil oleh Allah, dia belum tahu mengenai tempat yang di janjikan Tuhan kepadanya. Bagaimana keadaannya, dari jalan mana, berapa lama perjalanan, dll. Tapi Ia percaya kepada Tuhan dan ia berangkat.

Ibrani 11:8 “Karena iman, Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui”

 

-    Nuh dan Bahtera , Allah menyuruh Nuh untuk membangun bahtera di atas bukit, ketika Allah akan menurunkan air bah untuk menghukum semua yang jahat pada jaman itu. Membangun bathera diatas bukit ada sesuatu yang tidak wajar menurut hitungan manusia. Sangat besar kemungkinan ia ditertawakan dan diejek. Tetapi karena ia mengenal Tuhan dan percaya kepada-Nya maka Nuh membuat apa yang diperintahkan Tuhan kepadanya.

Ibrani 11: 7 ;”Karena iman, maka Nuh – dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan – dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyalamatkan keluarganya..”

 

Tuhan bertindak.

1.   Pembelaan Tuhan kepada Abraham ; kemenangan melawan raja-raja, kelimpahan  berkat  jasmani dan rohani.

2.    Pembelaan Tuhan kepada Yusuf dari antara saudara-saudaranya dan ketika ia ada  di Mesir.

3.    Pembelaan Tuhan kepada Musa ketika ia mengahadap Firaun juga ketika ia akan melewati laut Teberau.

4.    Pembelaan Tuhan kepada Yosua melawan bangsa-bangsa, menyeberangi sungai Yordan  dan ketika ia berhadapan dengan tembok Yeriko.

5.    Pembelaan Tuhan Yesus kepada orang yang sakit, lumpuh, buta, menderita, dll.

6.    Tuhan akan membela segala kebutuhan kita.

Matius 6:26 “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang disorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?

 

Penutup

Ketika kita telah mengambil keputusan untuk mengikut Yesus, kita harus percaya pembelaan Tuhan yang ajaib bagi kita untuk menolong kita dalam setiap aspek hidup kita, dalam setiap persoalan yang kita alami.  Ketika kita percaya kepada Tuhan berarti kita harus mengandalkan Tuhan dalam hidup kita, dan ketika kita mengandalkan Tuhan maka berkat Tuhan menjadi bagian kita. Seperti yang di sampaikan nami Yeremi dalam Yeremia 17:7 “Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya kepada Tuhan”

 

Tuhan Memberkati

Lomser Hutabalian

 

 

 

 

1 Samuel pasal 16 dan 17 adalah bagian dari kisah raja Daud yang diurapi oleh Tuhan menjadi raja atas Israel untuk menggantikan Saul yang telah di tolak oleh Tuhan karena ketidaksetiaannya pada perintah Tuhan.

Dari dua pasal ini (silahkan baca) kita mendapat beberapa pelajaran yaitu :

1.   Ketika Samuel melihat anak-anak Isai, dia berpikir bahwa Eliab-lah yang dipilih Allah untuk diurapi menjadi raja karena parasnya dan perawakannya yang tinggi. Tetapi Tuhan berkata “…..Jangan pandang parasnya dan perawakannya yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah, manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.”(1 Sam 16:7). Pelajaran bagi kita adalah jangan tertipu dengan penampilan luar seseorang, atau jangan mudah menilai seseorang dengan penampilan luarnya tetapi kita lihat bagaimana hatinya dan kepribadiannya.

2.    Saul dan prajuritnya ketakutan mendengar tantangan musuhnya yaitu prajurit Filistin yang dikomandoi oleh Goliat yang bertubuh besar (6 hasta sejengkal = Kira-kira 3 meter). Mengapa Saul ketakutan? Karena Tuhan telah undur daripadanya. Dia takut melihat tantangan yang besar dihadapannya karena dia mengandalkan dirinya.

Hal yang sama mungkin sering terjadi dalam hidup kita. Kita ketakutan menghadapi tantangan bahkan kita takut menghadapi masa depan karena kita mengandalkan diri kita. Kita tidak menyadari bahwa ada Tuhan yang menjadi tempat kita bergantung dalam menjalani kehidupan.

3.    Daud berbeda dengan Saul ketika berhadapan dengan Goliat. Walaupun Goliat gagah perkasa, dengan peralatan perang dan perlindungan diri yang lengkap sedangkan Daud masih sangat muda dan tanpa peralatan perang selain lembing tapi dia tidak takut karena ia percaya dan mengandalkan Tuhan (1 Sam. 17:45). Dalam hal ini kita bisa belajar yaitu bukan tergantung besarnya tantangan/persoalan yang kita hadapi melainkan tergantung siapa yang kita percayai dan kita andalkan untuk menolong kita menghadapinya. Bukan tergantung pada “siapa kita“, melainkan “siapa di dalam kita“.

4.   Selalu ada peluang, selalu ada jalan/cara bagi Tuhan untuk membela orang percaya. Goliat sangat percaya diri menantang barisan orang Israel. Selain karena kegagahannya, ia juga memiliki persenjataan  dan alat perlindungan tubuh yang lengkap mulai dari kaki hingga kepala Goliat. Hanya sebagian kecil dari tubuhnya yang tidak terlindungi yaitu pada bagian wajah (1 Sam. 17:4-7). Namun yang terjadi adalah justru dari bagian yang kecil ini, Tuhan dapat memberi kemengan bagi Daud. Hikmatnya adalah : Apapun permasalahan kita, walaupun sepertinya tidak ada jalan keluar atau sepertinya terlalu berat untuk kita hadapi, tetapi selalu ada cara bagi Tuhan untuk membela kita

Kunci dari semua yang dialami oleh Daud ini adalah dia menerima urapan dari Tuhan. Dan sejak itu Roh Tuhan ada dalam diri Daud ( 1 Sam. 16:13).  Dan dia percaya pada pertolongan dan pembelaan Tuhan padanya ( 1 Sam 17:37 & 46)

Tuhan Yesus Memberkati

Lomser Hutabalian

 

PENDAHULUAN

 

Firman Tuhan adalah Pernyataan diri dan maksud Allah bagi manusia (Yoh. 1:1-18). Lewat firman-Nya yang disampaikan kepada nabi-nabi (PL) dan yang diilhamkan kepada rasul-rasul (PB) untuk dituliskan dalam kitab suci Alkitab, kita dapat belajar tentang Tuhan dan rancangan-Nya. Bagi kita disingkapkan tentang penciptaan, dosa, kematian, pengampunan, keselamatan, iman, pertolongan semasa hidup, dan lain-lain. Firman Tuhan memberi tuntunan bagi kita untuk menghidupi kehidupan yang baik dan yang berkenan kepada Tuhan.

 

Meskipun Firman Tuhan telah diterjemahkan kedalam bahasa yang kita mengerti, namun maksud-maksud yang terkandung di dalam Firman Tuhan itu sering kali tidak sesederhana pengertian harfiah. Karna begitu kayanya kebenaran yang terkandung di dalamnya maka perlu penggalian-penggalian untuk dapat memahami maksud yang terkandung di dalam Firman Tuhan itu.  

 

Seperti disebutkan diatas bahwa Firman Tuhan adalah pernyataan diri Tuhan Allah dan maksud-maksud-Nya bagi kita, maka belajar firman Tuhan merupakan suatu keharusan bagi kita. Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka memerlukan firman Allah untuk menghidupi kehidupan yang baik sesuai dengan maksud Tuhan.

 

MANFAAT FIRMAN TUHAN

 

2 Tim 3 :16-17 “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

 

Mengajar artinya memberi pelajaran supaya orang yang diajar memperoleh pengetahuan. Demikianlah Firman Tuhan memberi pengetahuan atau pengenalan bagi kita tentang Tuhan dan semua karya-Nya. Kebenaran-kebenaran Firman Tuhan juga menyatakan apa yang benar dan apa yang salah supaya kita bisa berbalik dari cara hidup yang tidak benar (Maz. 119:105). Dengan banyak belajar Firman Tuhan, wawasan berpikir kita akan semakin luas, kita diteguhkan oleh janji Tuhan yaitu keselamatan kepada hidup kekal (1 Yoh 2:25; Maz. 149:4) dan pemeliharaan-Nya bagi kita (Amsal 2:8). 

 

Dengan terus mempelajari Firman kita akan terdidik untuk tetap berjalan dalam koridor kebenaran Tuhan dan kita akan semakin elergi dengan perbuatan dosa.(Maz. 119:104).  Tuhan memperlengkapi umat-Nya dengan Firman untuk setiap perbuatan baik.

 

Yeremia 15:16 “Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku, sebab nama-Mu telah diserukan atasku, ya TUHAN, Allah semesta alam.”

 

(Manfaat Firman Tuhan ; baca juga Maz. 19:8 ; Maz.119:9,11,99-100,130 ; Yak. 1:21 ; Rm. 10:13)

 

MEMAHAMI FIRMAN TUHAN.

 

Menemukan makna Firman Allah adalah pekerjaan penting dalam pembelajaran orang percaya. Apalah artinya Firman itu kita dengar atau kita baca beribu kali kalau kita tidak memahami maksudnya bagi kita. Semua akan menjadi kesia-siaan belaka dan tidak akan mengubah hidup keimanan kita.  Jadi adalah keharusan bagi kita untuk mengerti firman Tuhan untuk mengubah hidup kita kepada yang lebih baik dan sempurna. (Efesus 4:21-23).

 

Beberapa hal berikut perlu kita perhatikan untuk membantu kita memahami Firman Allah bagi kita :

 

1. Memiliki hati seorang murid sejati.

 

Dalam beberapa kesempatan sewaktu Yesus mengajar orang-orang yang mengikut Dia, Dia mengakhiri perkataan-Nya dengan kalimat “siapa bertelinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” (Markus 4:9).  Tentu yang Yesus maksudkan “hendaklah ia mendengar” bukan sekedar mendengar saja, karena pastilah setiap telinga berfungsi untuk mendengar dan setiap orang yang mempunyai telinga yang ada berkerumun di situ pastilah mendengar perkataan Yesus, namun yang Dia maksud adalah menyimak dengan sungguh-sungguh apa yang mereka dengarkan supaya mereka memperoleh pengertian dari perkataan-Nya itu.

 

Dalam suatu kelas tidak semua siswa bisa langsung mengerti keseluruhan apa yang disampaikan oleh guru mereka, ada yang mungkin agak lambat mengerti, ada yang cepat. Meski cepat atau lambat namun akhirnya setiap mereka akan mengerti apa yang disampaikan oleh guru kalau mereka sungguh-sungguh menyimak dan memiliki hati yang rindu untuk mengerti. Inilah murid yang sejati. Seorang murid sejati adalah orang yang sungguh-sungguh merindukan untuk mengerti , orang yang haus dan lapar akan pengertian Firman. Dan setiap orang yang haus dan lapar akan kebenaran Tuhan, mereka akan dipuaskan. (Mat. 5:6 ; Maz. 107:9 ; Wah. 21:6)

 

Tetapi hal ini tidak berlaku bagi orang-orang yang tidak sungguh-sungguh/acuh tak acuh atau yang disebut orang bebal, mereka tidak akan pernah bisa mengerti karena mereka tidak memberi hati untuk pengajaran.

 

2. Bersekutu dengan Roh .

 

Yohanes 16:13 berbunyi, “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.”  Sama seperti ketika Roh Allah menuntun nabi-nabi dan rasul-rasul untuk menuliskan kitab-kitab, demikianlah Roh itu akan membimbing kita untuk mengerti kitab suci itu. Karena itu kita perlu meminta kepada-Nya memberi pengertian  ketika kita mendengar atau membaca Fiman Tuhan.  Persekutuan dengan Roh Tuhan bukan saja akan membantu kita untuk memahami Firman Tuhan, tetapi juga membantu kita mengambil hikmat dari kehidupan yang kita jalani. (1 Kor. 2:10)

 

3. Banyaklah Membaca.

 

Ada statemen/pernyataan yg mengatakan bahwa membaca adalah jendela dunia atau membaca adalah membuka cakrawala dunia. Kedua statemen ini memberi arti betapa sangat pentingnya membaca yang dapat menambah wawasan berpikir kita.

Alkitab mulai dari Kejadian sampai Wahyu merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Ada benang merah yang menghubungkan semua kitab-kitab di PL dan PB.  Dengan banyak membaca Firman Tuhan, akan membantu kita memahami Firman-Firman Tuhan yang lainnya. Tapi membaca janganlah hanya sekedar membaca tetapi haruslah disimak dengan baik.

Kalau kita membaca alkitab, jangan serampangan. Cobalah baca secara sistematis, mis. satu perikop, satu pasal atau satu kitab. Dan anda juga bisa baca ayat-ayat yang berhubungan yang biasa ditulis di catatan kaki.

Selain membaca alkitab, buku-buku rohani dan renungan harian bisa menjadi “menu” tambahan. Jika memungkinkan saudara juga bisa membaca ensiklopedia alkitab, secara khusus bagi mereka yang akan sering menyampaikan Firman Tuhan (berkotbah).

Ketika Allah membawa orang Israel keluar dari tanah Mesir, Dia menyuruh mereka membuat Tabut yang terbuat dari kayu penaga dan dilapisi dengan emas. Tubut ini akan menjadi lambang kehadiran Tuhan ditengah-tengah umat Israel. Melalui adanya Tabut, disana Allah akan berbicara kepada umat Israel dan menyatakan kuasa-Nya. Selama ada Tabut Perjanjian ada ditengah-tengah mereka, mereka menikmati kuasa kehadiran Allah :  Ketika menyeberangi sungai Yordan (Yos. 3:7), meruntuhkan kota Yeriko (Yos. 6) dan memukul kalah musuh-musuh dalam perjalanan ke Kanaan. Namun setelah lama mereka di Tanah Kanaan yang melimpah susu dan madu itu, pada jaman Elia dan Samuel dipanggil oleh Tuhan menjadi imam, orang Israel telah lama kembali pada kebiasaan lama yaitu menjauh dari Tuhan. Maka mereka terpukul kalah oleh orang Filistin. Saat itulah mereka teringat kembali kepada Tabut Perjanjian.

tabut3

Hal yang sama seringkali terjadi ditengah-tengah umat Tuhan. Ketika hidup berkecukupan bahkan mungkin berkelimpahan, mereka melupakan Tuhan. Sampai kemudian pencobaan datang, baru ingat kembali kepada Tuhan.


1 Samuel 4 mengisahkan Israel dikalahkan oleh orang Filistin lalu orang Israel mengingat Tabut Perjanjian dan membawanya dari Silo ke perkemahan. Tetapi kehadiran Tabut ditengah-tengah mereka tidak membawa kemenangan kepada mereka seperti yang dulu-dulu. Mereka terpukul kalah oleh orang Filistin bahkan Tabut itu dibawa oleh orang Filistin. Mengapa terjadi demikian? Karena mereka telah lama melupakan Tabut itu. Mereka tidak dapat dengan mudah mengimani arti kehadiran Tabut Perjanjian itu ditengah-tengah mereka. Seperti itu juga umat Tuhan, apabila sudah lama melupakan persekutuannya dengan Tuhan, maka tidak mudah lagi baginya untuk membangun persekutuan yang indah dengan Tuhan. Maka tidak heran kita menemukan orang yang bolak-balik bersaksi bahwa dirinya lemah dan jauh dari Tuhan, tapi setelah bersaksi, tidak ada perubahan dalam dirinya. Tidak ada kebangunan rohani. Oleh karena itu janganlah melupakan persekutuan dengan Tuhan.


moses-ark1

1 Samuel 5 selanjutnya dikisahkan bahwa orang Filistin menempatkan Tabut duduk sejajar di Kuil dengan patung dewa Dagon. Tatapi patung dewa Dagon terjatuh sampai terbelah. Artinya bahwa Allah tidak dapat disejajarkan dengan ilah-ilah atau dewa-dewa. Bahkan Allah menghajar orang Filistin dengan borok dan hama tikus karena perlakuan mereka mensejajarkanNya dengan dewa Dagon. Jaman sekarang tidak sedikit orang yang menyebut diri Kristen telah mensejajarkan Tuhan dengan ilah-ilah jaman. Kekayaan, Pekerjaan dll telah menjadi ilah-ilah jaman ini. Manusia tidak lagi bergantung kepada Tuhan tetapi bergantung kepada pekerjaannya dan kekayaannya.


Pada 1 Samuel 6, orang Filistin mengembalikan Tabut Perjanjian beserta emas yang berbentuk borok-borok dan emas berbentuk tikus sebagai membayar tebusan salah.


Kira-kira 2000 tahun yang lalu, Yesus kembali membawa kehadiran Allah ditengah-tengah umat Manusia. Tabut Perjanjian adalah gambaran dari Tuhan Yesus. Pada Tabut terdapat dua patung malaikat pada kedua ujungnya, diantara tutup pendamaian (Kel. 25). Bandingkan ketika Maria pergi ke kuburan Yesus yang telah tersalib dan mati untuk mendamaikan manusia dengan Allah, ia menemukan dua orang malikat pada kedua ujung pembaringan mayat Yesus. Satu orang malaikat dibagian kepala, dan satu lagi dibagian kaki. (Yoh. 20:11-12).


Dalam Ibrani 9:4 disebutkan isi dari Tabut Perjanjian yaitu:

1. Buli-buli emas berisi manna ; Manna berbicara tentang kebutuhan jasmani yang dikirim Allah (Kel. 16). Kecukupan kebutuhan Jasmani yang disedikan Allah bagi orang yang percaya kepada Yesus.

2. Tongkat Harun yang pernah bertunas karena orang lewi dan pemimpin orang Israel memberontak kepada Musa dan Harun . (Bil. 16&17). ; berbicara tentang muzijat yang berlaku dalam diri Yesus. Kehidupan yang mengalahkan kematian. Yesus mati karena pemberontakan manusia kepada Allah. Dan Yesus telah mengalami kematian supaya manusia yang berontak itu memiliki hidup.

3. Loh-loh batu. Loh bertuliskan 10 hukum Allah. (Ul. 10:1-5) ; Berbicara bahwa dalam Yesus adalah firman yang menuntun dan yang menghidupkan. Mengenal Yesus lewat firman maka kita akan mengenal Allah dengan segala maksud-Nya bagi kita (band. Yohanes pasal 1).

Kalau kita memiliki Yesus berarti ada kehadiran Allah di dalam hidup kita. Dan kuasa kehadiran Allah itu dapat kita nikmati sepanjang kita terus percaya kepada-Nya.

Tuhan memberkati.

Salam,

Lomser Hutabalian

Pada jaman PL sampai kepada kedatangan Tuhan Yesus hampir tidak ada orang yang pernah berani mengatakan Allah sebagai Bapa. Kecuali beberapa nabi seperti Yesaya dan Yeremia.  Walaupun di dalam beberapa kitab ada yang menggambarkan Allah sebagai Bapa orang Israel atau Allah sendiri menyatakan diri akan menjadi Bapa, tetapi orang pribadi tidak pernah bahkan tidak berani menyebut Allah sebagai Bapa. Bagi orang-orang yang hidup dalam perjanjian lama dan yang hidup di dalam hukum Taurat menganggap bahwa Allah terlalu kudus, sehingga untuk menyebut nama Yehova atau Yahwe (YHWE) mereka sering mengganti dengan Elohim, El, dll. Oleh karena itulah ketika Yesus menyebut Allah sebagai Bapa dan Dia berkata bahwa Dia adalah Anak, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menganggapnya sebagai suatu penghinaan kepada Allah.

Hal ini terjadi karena orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tidak mengenal sesungguhnya Yesus, juga tidak mengenal pribadi Allah yang sesungguhnya. Tetapi Yesus mengenal Allah karena Ia sendiri adalah Allah. Ia mengenal hati Allah sehingga Ia berani menyebut-Nya Bapa. Yohanes 1:18,”Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya”

Sebenarnya sebutan Anak kepada Yesus sangat erat kaitannya dengan manusia. Ketika Yesus mengambil rupa seorang manusia maka Dia menjadi sama dengan manusia dengan tujuan agar manusia turut ambil bagian di dalam segala karya-Nya, dalam segala perbuatan-Nya. Mereka yang percaya dan menerima Kristus, akan mendapat bagian di dalam kematian-Nya, dapat bagian dalam Kebangkitan-Nya, dapat bagian dalam Kekudusan-Nya dan juga dalam Kebenaran-Nya. Oleh karena itu bagi setiap orang yang percaya kepada Kristus, mereka telah dikuduskan dan dibenarkan. Dengan kata lain saudara dan saya sama kudus dan sama benarnya dengan Yesus. Dimata Allah saudara adalah orang-orang Kudus dan orang-orang benar oleh karena Kristus. Yohanes 17:19 dalam doa-Nya Yesus berkata,” dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun di kuduskan dalam kebenaran,” Juga 1 Korintus 1:30 berkata,”Tetapi oleh Dia kamu berada di dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.”

Selain itu orang percaya juga mendapat bagian dalam identitas ke-anakan-Nya. Kristus disebut Anak dan Allah adalah Bapa-Nya supaya kita dapat bagian di dalamnya, sehingga kita disebut anak-anak Allah dan Allah adalah Bapa kita.  Yohannes 1:12,”Tetapi semua orang yang menerima-Nya (Yesus-red) diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” (band 1 Yoh. 2:23)

Jadi hubungan kita dengan Tuhan bukan hanya sekedar hubungan antara Allah dengan umat, pencipta dengan ciptaannya, bukan juga hanya seperti gembala dengan domba tetapi juga hubungan antara Bapa dengan anak. Inilah yang membedakan ke-kristenan dengan agama-agama lain. Kalau agama-agama lain mengandalkan perbuatannya melakukan hukum-hukum untuk mencapai keselamatan dan kebaikan, tetapi kekristenan mengandalkan iman atau kepercayaan kepada kasih dan anugerah Allah. Kalau agama-agama lain Allah mereka serasa sulit untuk di jangkau (harus bersujud beberapa kali dalam sehari untuk menghadap tuhannya, ada yang harus bertapa beberapa bulan) tetapi dalam kekristenan kita memperoleh kesempatan untuk bergaul karib atau berhubungan dengan akrab dengan Allah. Ini sungguh luar biasa.

Dalam beberapa kesempatan Yesus Kristus menyebut Allah Bapa sebagai Abba. Abba dalam bahasa Aramic artinya deddy (B. Inggris) ayah (B.Indonesia) bukan hanya sekedar bapa. Bapa belum tentu ayah tetapi ayah sudah pasti bapa. Abba atau Ayah menunjukkan garis keturunan. Abba menunjukkan dari mana seseorang berasal. Galatia 4:6,”Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!”(Band Roma 8:15) Karena kita telah menyatu dengan Kristus dan telah mendapat bagian dari identitas ke-anak-anNya, maka kita juga berhak memanggil-Nya Abba.

Ketika Yesus berdoa, Dia selalu mengarahkan doanya kepada Bapa. Dia menyebut Allah dalam doa-Nya sebagai Bapa atau Abba. Dan saat Dia mengajarkan murid-murid dalam hal berdoa dan meminta kepada Allah, Dia mengajarkan para murid untuk meminta kepada Bapa. Ini menjadi suatu pelajaran bagi kita bahwa apabila kita berdoa dan meminta kepada Allah dalam doa kita, hal yang sangat perlu kita sadari bahwa kita sedang berdoa atau meminta kepada Bapa kita. Bapa atau Abba yang mengasihi kita. Bapa yang perduli kepada kita. Bapa yang bangga jika memberi yang terbaik bagi kita sebagai anak-anak-Nya. Matius 6:7-8,”Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan sebelum kamu minta kepada-Nya.” Tidak sedikit orang berdoa dengan bertele-tele. Bahkan kita sendiripun mungkin terkadang  terpengaruh dengan gaya doa yang bertele-tele. Ada orang yang berdoa sembari menyebutkan firman Allah seakan-akan mau mengingatkan Allah akan firman-Nya. Dikirinya Allah lupa kali dengan firman-Nya. Tidak sedikit orang berdoa seperti membuat suatu cerita atau naskah ; ada kata pengantar, pendahuluan, isi dan penutup. Tetapi saat ini firman Tuhan menegaskan, “janganlah kamu berdoa bertele-tele seperti kebiasan orang yang tidak mengenal Allah, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan sebelum kamu meminta kepada-Nya.“

Bapa kita tahu apa yang kita perlukan. Sebagai ilustrasi, ada seorang bapa yang kaya  mempunyai seorang anak umur kira-kira 1,5 tahun, karena dia sudah dapat berjalan dia ingin berinteraksi dengan dunia luar. Ketika dia mau berjalan-jalan di luar rumah atau halaman, kira-kira apa yang dipikirkan oleh seorang bapa atau ibu? Seorang bapa pasti berpikir bahwa si anak ini butuh sepatu sebagai alas kaki agar kaki si anak tidak cedera atau lecet. Walaupun si anak belum tahu meminta apa yang dia perlukan, tetapi karena ada ikatan batin antara bapa dengan si anak, si bapa melihat apa yang diperlukan oleh anaknya. Ketika si bapak pergi ke toko sepatu, si bapak diperlihatkan tiga jenis sepatu. Yang pertama sepatu yang biasa yang murah, kedua sepatu yang mahal tapi bagus dan yang ketiga sepatu yang lebih mahal lagi tetapi sepatu roda. Diantara tiga sepatu ini, dimanakah yang akan dibeli oleh si bapa?   Melihat dari kebutuhan si anak maka yang diperlukan adalah alas kaki, artinya sepatu murahpun sebenarnya sudah cukup. Tatapi karena si bapa kaya, tentu dia akan membeli yang lebih bagus meskipun lebih mahal. Namun dia tidak akan membeli sepatu roda walaupun lebih bagus dan lebih mahal, karena si anak tidak membutuhkannya.

Demikianlah Allah kita, Dia tidak hanya memberi apa yang kita perlukan tetapi lebih dari apa yang kita butuhkah supaya kita dapat menjadi berkat, supaya kita dapat menjadi saksi akan kebaikan Bapa. Bapa kita yang di sorga bangga memberi yang terbaik bagi anak-anak-Nya yaitu bagi saya dan saudara. Bukankah Allah telah membuktikan kasih-Nya bagi kita? Yang termahal dari segala yang mahal, yang teragung dari segala yang agung dan yang termulia dari segala yang mulia telah diberikan kepada kita yaitu AnakNya yang tunggal Yesus Kristus. Haleluya.

Tahukah saudara bahwa di dalam Yesus, segala yang kita butuhkan telah tersedia? Hanya satu warisan yang diberikan Bapa kepada kita, tetapi di dalam satu warisan ini segala yang kita butuhkan telah tersedia. Warisan itu adalah Yesus sendiri sebagai Anak Tunggal Bapa. Yoh.3 :35,”Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Juga Efesus 1:22,”Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada.

Segala sesuatu telah diletakkan dibawah kaki Kristus untuk dikuasai-Nya, dan Dia adalah kepala sedangkan saudara dan saya adalah anggota tubuh-Nya. Kalau kita adalah anggota/bagian dari tubuh Kristus berarti apa yang diletakkan dibawah kaki Kristus, juga telah diletakkan dibawah kaki kita. Karena kita adalah bagian dari tubuh Kristus.

Masalahnya adalah mungkin kita tidak sepenuhnya mengetahui arti posisi kita di hadapan Allah, atau juga mungkin kita tahu tetapi terlalu sulit untuk meng-imaninya karena kita mengandalkan pikiran kita dan kekuatan kita. Masih banyak sebenarnya yang dapat kita gali dari firman Tuhan dalam hubungan Bapa-Anak antara kita dengan Allah. Tetapi saat ini, firman Tuhan memberi pemahaman akan kedudukan kita dihadapan Allah. Oleh karena itu, ketika saudara berdoa kepada Tuhan, ingatlah bahwa saudara berdoa kepada Bapa, saat saudara meminta, ingatlah bahwa saudara sedang meminta kepada Bapa. Bapa yang mengasihimu, Bapa yang perduli persoalanmu, Bapa yang tahu kebutuhanmu, Bapa yang bangga memberi yang terbaik kepadamu.

Firman Tuhan katakan di dalam Matius 7:11,”Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”

Terpujilah Tuhan, Bapa kita yang baik. Haleluya

PENGERTIAN MURID

 

Pengertian umum dari murid adalah seorang pelajar. Pelajar adalah orang yang mau belajar, menimba ilmu pengetahuan dengan tujuan meningkatkan kwalitas diri. Kwalitas yang semakin baik merupakan cita-cita yang ingin dicapai ketika seseorang mau belajar. Apabila orang tua mau menyekolahkan anak-anaknya setinggi-tingginya tidak bertujuan untuk gagah-gagahan, menunjukkan kemampuan materi atau supaya anaknya sekedar tamat dan bisa mencari kerja, tatapi tujuan pokok adalah agar anak-anak itu pintar, berpengetahuan yang dapat meningkatkan kwalitas hidup mereka kelak dalam banyak aspek.

 

Dalam pengertian Alkitab juga hampir sama seperti dalam pengerti umum, hanya saja dalam pengertian Alkitab, bahwa murid juga adalah seorang pengikut (Follower). Sebagai pengikut, sang murid bukan saja bertujuan untuk mencari ilmu pengetahuan tapi juga pengabdian diri. Jadi murid Kristus adalah orang-orang yang mau diajar dan belajar tentang kebenaran firman Tuhan dan mau mengikut serta mengabdikan diri kepada Dia.

 

Di dalam alkitab kita bisa menemukan beberapa contoh tentang murid (pengikut) yang mengabdikan dirinya kepada gurunya antara lain Musa dengan Yosua (Bil 11:28). Pemilihan Allah kepada Yosua untuk menggantikan Musa bukanlah secara tiba-tiba. Selama Musa memimpin bangsa Israel, Yosua telah menjadi abdi yang setia (Kel. 33:11) dan yang mau belajar dari cara kehidupan dan kepemimpinan Musa. Hal ini dibuktikan bahwa Yosua sebagai salah satu orang yang dipilih untuk pergi mengintai tanah Kanaan. Ketika kelompok-kelompok yang diutus kembali dari pengintaian semua pesimis untuk menghadapi orang Kanaan, hanya Yosua dan Kaleb yang optimis karena mereka telah menjadi murid yang setia dan yang mau belajar dari Musa melalui perjalanan mereka (Bilangan 14:6-9).

 

Demikian juga antara Elia dengan Elisa, walaupun tidak banyak diceritakan bagaimana proses pemuridan itu sendiri  karena tidak banyak kisah yang menceritakan pelayanan mereka secara bersama-sama namun dari pernyataan Elisa ketika Elia akan terangkat ke sorga (2 raja 2) dan juga melihat dari pelayanan Elisa yang juga dahsyat bahkan kemudian Elisa menjadi pemimpin sekelompok nabi, pastilah ia belajar dari gurunyaa Elia .

 

Contoh lain adalah Yohanes Pembaptis dengan murid-muridnya (Mark 2:18), Yesus dengan 12 murid-Nya dan juga Paulus dengan muridnya Timotius, Titus, dsb.

 

 

  1. TUJUAN PEMURIDAN

 

A.                Mengajar umat Tuhan dengan pengetahuan firman Allah

 

Sebagaimana amanat Tuhan Yesus Kristus, yaitu untuk menjadikan semua bangsa menjadi murid, disana dikatakan “..dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang yang telah kuperintahkan kepadamu….” (Mat.28:20), maka umat Tuhan harus diajar untuk mengerti perintah atau firman Allah dengan demikian umat Tuhan dapat melakukan firman Allah itu dengan benar. Karena tidak mungkin mereka melakukan firman Allah dengan benar kalau mereka tidak mengerti.

 

Selain menyatakan diri secara langsung kepada nabi-nabi, Tuhan menyatakan diri-Nya melalui firman yang tertulis (Alkitab).  Dari firman Tuhan, kita mengerti tentang Tuhan Lewat firman Tuhan bagi kita disingkapkan tentang penciptaan, dosa, kematian, pengampunan, keselamatan, iman dan pengharapan apa yang kita miliki selama kita masih di dalam dunia.  Lewat firman Tuhan juga yang dalam hubungan-Nya dengan kita sebagai manusia; Tuhan dalam diri Yesus Kristus menyatakan diri sebagai Juru Selamat, Gembala, Raja, Sahabat, yang kesemua pernyataan ini bertujuan agar kita tahu bagaimana memposisikan diri dihadapan Tuhan.

 

Yesus sendiri dalam pelayanan-Nya terus mengajar tantang Allah dan karya-Nya. Ia mengajar murid-muridnya dan umat Israel di bait Allah dan tempat-tempat umum. Dan sepeninggal Yesus, rasul-rasul melanjutkan misi Tuhan dengan terus mengajar. Kisah Para Rasul mengatakan bahwa rasul-rasul setiap hari mengajar di Bait Allah, dan memberitakan Injil ke berbagai penjuru (Kis. 5:42).  Rasul Paulus dalam surat-suratnya sangat menekankan bagaimana pentingnya pengajaran firman Tuhan. Tanpa mengesampingkan nilai tata ibadah dan karunia-karunia, dia menekankan bahwa pengajaran firman Tuhan menjadi hal yang sangat mendasar dan mutlak bagi kehidupan jemaat-jemaat Tuhan (Ef. 6:4; 1 Kor. 14:19; 1 Tim 4:11, dsb).

 

Menurut tradisi, orang Israel yang hidup pada masa Perjanjian lama selalu mengajarkan anak-anak mereka tentang hukum Taurat selama kira-kira 2 jam setiap hari. Dan pada masa jemaat mula-mula umat-umat Tuhan  juga diajar oleh rasul-rasul setiap hari (Kis.2:41-47). Sangat kontras dengan cara hidup orang kristen jaman ini. Hal ini bisa dipahami seiring kemajuan jaman yang semakin sibuk dengan urusan dunia (jasmani) yang sangat menyita waktu dan perhatian. Kemajuan jaman menuntut orang tidak lagi mengejar kecukupan primer tetapi kehidupan yang lebih dari cukup bahkan tak jarang mengejar kekayaan atau kelimpahan secara materi. Namun meski tidak dapat menghidupi kehidupan seperti jemaat mula-mula, sesungguhnya umat-umat Tuhan masih dapat dan memang seharusnya membagi waktu untuk terus belajar firman Tuhan dengan cara membaca dan merenungkan firman Allah dan juga melalui kehadiran pada pertemuan-pertemuan ibadah.

 

 

B.                Menjadikan umat Tuhan dewasa rohani.

 

Pemuridan juga bertujuan untuk menjadikan umat Tuhan dewasa rohani. Menjadi dewasa tidak datang secara instan tetapi membutuhkan proses yang terus menerus dan waktu. Tidak ada jalan pintas untuk menjadi dewasa. Kedewasaan seseorang akan nampak dari cara berpikir, ucapan dan tindakan seseorang. Secara jasmani kedewasaan seseorang tidak dapat diukur dengan tubuh yang besar dan umurnya yang sudah tua, karena ada juga orang yang sudah tua dan yang badannya besar namun sikap dan perbuatannya seperti anak-anak. Jadi kedewasaan di ukur dari sikap dan perbutannya. Demikian juga kedewasaan rohani seseorang tidak  dapat diukur dengan lama-nya dia menjadi seorang kristen melainkan melalui sikap dan perbuatannya.  Proses pendewasaan itulah yang disebut pertumbuhan.

 

Satu hal yang pasti bahwa pertumbuhan harus dimulai dari benih. Dari benih inilah bertumbuh menjadi tunas, terus bertumbuh menjadi pohon dan terus bertumbuh hingga menghasilkan buah. Pertumbuhan rohani pun harus dimulai dari benih yaitu firman Allah yang terus bertumbuh di dalam kehidupan orang percaya. Layaknya tumbuh-tumbuhan yang terus-menerus membutuhkan suply makanan yaitu zat-zat yang terkandung di dalam tanah, air, oksigen dan sinar matahari untuk membentuk pertumbuhan, demikian juga umat Tuhan secara terus menerus membutuhkan firman Allah yang menyatu dengan hidup kita dan dan memberi pertumbuhan (Ef. 4:11-13). Pertumbuhan iman seorang murid akan terlihat bahwa tahap demi tahap atau dari waktu ke waktu sikap dan perbuatannya akan semakin baik seiring semakin bertambahnya pengetahuan akan firman Allah.

 

Pertumbuhan yang baik tidak melulu karena faktor benih dan air tapi juga faktor tanah. Dalam perumpamaan tentang seorang penabur (Luk. 8:4-15) dapat kita pelajari bahwa tumbuhan pada tanah yang keras dan berbatu-batu tidak akan bertumbuh dengan baik bahkan akan mati. Sedangkan pada tanah yang baik, tumbuhan akan bertumbuh dengan baik dan menghasilkan buah. Pada ayat 15 dikatakan “Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.” Mengeluarkan buah artinya berbuat atau melakukan firman itu. Jadi jelas bahwa pertumbuhan dalam permuridan itu tidak terlepas dari pembelajaran firman Tuhan dan applikasinya yang berkesinambungan.

 

Seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa kedewasaan terlihat dari sikap dan perbuatannya, maka seorang yang dewasa akan bijaksana dalam mengambil tindakan atau membangun kehidupannya. Dia mengerti tujuan hidupnya. Orang dewasa rohani akan dapat memimpin bukan di pandang secara organisasi tapi cara hidup.

 

Kedewasaan rohani juga terlihat dari cara seseorang menyikapi segala sesuatu yang terjadi di dalam hidupnya. Manis dan pahit, susah dan senang, kaya atau miskin, disikapi dengan bijaksana. Kalaupun Tuhan mengijinkan sesuatu penderitaan terjadi maka penderitaan itu tidak akan menjauhkan dia dari persekutuan dengan Tuhan. Kalau Tuhan mengijinkan dia memiliki berkat materi, itupun tidak dapat menjauhkan dia dari Tuhan.

 

C.                Menjadi Serupa Dengan Kristus.

 

Menjadi serupa dengan Kristus adalah kehendak Allah atas manusia. Dalam Roma 8:29 “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung diantara banyak saudara.” Hal ini dapat terjadi melalui pemuridan, karena dalam pemuridan terjadi pembaharuan cara berpikir dan pembentukan karakter tahap demi tahap seiring dengan pengetahuan firman Allah sehingga pada akhirnya seorang murid akan serupa dengan Kristus. Menjadi seperti Kristus adalah proses yang panjang. Dalam proses ini terjadi pembentukan karakter, dan pembentukan karakter hanya bisa terjadi dengan senantiasi mengaplikasikan/mempraktekkan firman Tuhan dengan disiplin yang tinggi.

 

Karakter Kristus yang seharusnya kita teladani sebagai murid adalah seperti yang tertuang dalam Galatian 5:22-23 sebagai buah Roh yaitu  kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Dalam surat rasul Paulus kepada jemaat di Pilipi (Pilipi 2:1-11) Rasul Paulus mengharapkan karakter ini bertumbuh dalam jemaat di Pilipi. Secara khusus pada ayat 5 dikatakan : “Hendaklah kamu dalam hidup bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus.”

 

Kita tidak akan bisa menjadi seperti Kristus dalam keilahian-Nya namun kita menjadi seperti Kristus dalam kemanusiaan-Nya yang sempurna. Kita tidak memiliki kuasa seperti Tuhan tetapi kita memiliki otoritas untuk mengandalkan Kuasa Tuhan dalam hidup kita (Markus 16:17-18). Demikian juga dalam proses pembentukan karakter itu, kita tidak akan mampu untuk mempraktekkan dengan sempurna firman Allah yang kita terima tanpa pertolongan Tuhan.  Oleh karena itulah kita perlu terus bersekutu dengan Allah yang telah mengutus Roh-Nya menjadi penolong bagi kita. Dengan pertolongan Roh Allah pada akhirnya kita bisa menjadi seperti Kristus.

 

  1. SYARAT MENJADI MURID KRISTUS.

 

Dalam Lukas 14:26 dikatakan: Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, sudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKu”

 

Firman Tuhan ini bukanlah sedang mau menciptakan konfrontasi atau menebar rasa kebencian diantara anggota keluarga dalam hal kita mengikut Yesus, tetapi yang dimaksud adalah bahwa kita harus mengutamakan Yesus diatas segalanya termasuk diatas kepentingan kekeluargaan.  Hal ini ditegaskan dalam Matius 10:37 yang berkata:”Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagiku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripadaKu, ia tidak layak bagikiu.”

 

Tentu saja kalau kita menghidupi kasih Tuhan, maka kita juga dituntut untuk mengasihi orang lain apalagi keluarga kita. Bahkan mengasihi orang lain merupakan tanda yang dituntut dari seorang murid (Yoh.13:34-35). Namun apabila diperhadapkan dengan satu pilihan diantara Tuhan dengan keluarga kita atau orang lain, maka kita diharuskan memilih Yesus walaupun akhirnya harus ada konfrontasi, inilah yang menjadi satu syarat kelayakan menjadi seorang murid Tuhan.

 

Kemudian dalam Matius 16:24 dikatakan:” Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Artinya menjadi murid Kristus bukan perkara mudah atau gampangan seperti kehidupan kekristenan jaman sekarang ini yang cenderung “semau gue”.

 

Ada tiga komponen yang digariskan dalam Matius 16:24 sebagai syarat kelayakan sebagai pengikut (murid) yaitu “menyangkal diri”, “memikul salib” dan “mengikut”.

 

Menyangkal Diri.

 

Menyangkal diri maksudnya tidak mengandalkan diri dalam segala hal.  Mengakui bahwa kita tidak memiliki hak atas hidup kita, mengakui bahwa Tuhanlah yang menjadi sumber keselamatan, pertolongan dan pemeliharaan. Bukan gagah perkasa kita tetapi oleh karena Tuhan.

 

Penyangkalan diri berarti bahwa kita tidak bisa kompromi dengan kebenaran diri kita sendiri. Kita tidak bisa membenarkan tindakan-tindakan kita kalau tidak sesuai dengan firman Allah. Apa yang kita pikirkan dan lakukan haruslah mengacu pada kehendak Allah dalam firman-Nya. Prinsip penyangkalan diri dapat kita lihat dalam diri para rasul seperti rasul Paulus yang dalam surat-suratnya kita bisa melihat pernyataannya bahwa apa yang dia pikirkan, apa yang dia lakukan semata-mata bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk Tuhan. Dalam Roma 14:8 dia tuliskan:” Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup dan mati, kita adalah milik Tuhan” (Lih. 2 Kor. 5:15; Galatia 2:20).  Dalam Kis. 20:22-23 dia menyebut dirinya sebagai tawanan Roh, artinya dia tidak bisa tidak harus mengikuti kemauan Roh itu. Kemanapun Roh itu menyuruh dia, dan apapun yang dikehendaki Roh itu untuk dilakukan maka dia merasa wajib melakukannya sekalipun dia harus diperhadapkan ke penjara.

 

Filipi 1:20-21, Paulus mengatakan kerinduan dan harapannya yaitu bahwa Kristus dengan nyata dimuliakan dalam dirinya, baik oleh hidupnya maupun oleh matinya. Dan baginya hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.

 

Memikul Salib.

 

Syarat lain untuk menjadi murid adalah mau memikul salib (Lukas 14:27).  Salib merupakan instrument hukuman. Pada jaman kerajaan Romawi era Yesus di dunia, hukuman mati diberikan untuk kesalahan yang dianggap berat yang di buktikan di pengadilan atau yang dinyatakan  oleh beberapa saksi. Tentu saja Tuhan tidak sedang menyuruh kita untuk memikul salib karena kejahatan kita tetapi yang perlu disalibkan adalah pikiran dan tindakan atau keinginan duniawi yang bisa menimbulkan kejahatan.

 

Mengacu pada salib Kristus maka makna salib adalah pengorbanan diri dan ketaatan. Yesus Kristus disalibkan bukan karena dosa dan kesalahan yang Dia telah lakukan tetapi Ia disalibkan untuk menebus manusia dari dosa. Ia mengorbankan diri-Nya supaya orang-orang yang dikasihi-Nya memperoleh keselamatan.

 

Seperti pernyataan Yesus sendiri bahwa Dia datang kedalam dunia dan melakukan segala pekerjaan-Nya adalah untuk memenuhi kehendak Bapa yaitu keselamatan manusia lewat pengorbanan-Nya di kayu salib (Yohanes 6:38-39).  Bahkan ketika suatu malam dalam kemanusiaan-Nya menjelang perjalanan salib yang harus dijalani-Nya, Dia berdoa kepada Bapa supaya Bapa melalukan cawan (penderitaan salib) itu daripada-Nya tapi Dia katakan “..tapi bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi”.

 

Jalan salib adalah juga wujud ketaatan Yesus kepada Bapa. Dalam Filipi 2:6-8 “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib”.

 

Jadi untuk layak menjadi murid bagi Kristus harus mau menyalibkan keduniawian dan mau taat untuk melakukan kehendak Allah, meski harus mengalami penderitaan jasmani.

 

Mengikut Dia.

Kalau dikatakan mengikut itu artinya dengan setia mengikuti langkah Kristus dan dengan taat melakukan apa yang di firmankan-Nya. Ketika Yesus mengajak murid-murid yang pertama, Yesus mengatakan “ikutlah Aku” lalu mereka mengikut Yesus dan meninggalkan jala, perahu, ayah mereka untuk mengikut Yesus (Matius 4:18-22). Disini tidak ada tawar menawar, tidak ada pertimbangan untung-rugi, tetapi mereka langsung mengikut Yesus.

Seringkali orang-orang Kristen terhalang mengikut Yesus karena mereka tidak mau berkomitmen untuk mengutamakan panggilan Tuhan daripada hal-hal yang lain seperti yang bisa kita lihat sebagai contoh di dalam alkitab.

Suatu waktu dari antara orang-orang yang berkerumun, datanglah seorang  ahli taurat berkata kepada Yesus: “Guru, aku akan mengikuti Engkau, kemana saja Engkau pergi”  Tapi Yesus menjawab : ”Seriga mempunyai liang dan burung memiliki sarang, tetapi Anak manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya. (Matius 8:19-20). Jawaban Yesus ini merupakan suatu pernyataan bahwa Dia sebenarnya tidak mendapat tempat utama di hati orang Farisi ini.

Walaupun dia berkata akan mengikut Yesus, tetapi sesungguhnya Yesus tahu keberatan hatinya. Mengapa? Karena ia adalah seorang farisi yaitu seorang ahli Taurat yang miliki reputasi (nama besar) yang tinggi dan juga memiliki otoritas (kuasa) dalam system agama Yahudi. Yesus memperingatkan dia dalam kegelisahan hatinya. Satu sisi dia mau mengikut Yesus tapi sisi yang lain dan yang lebih dominan adalah kehormatan  dan kuasa sebagai orang Farisi berat untuk ditinggalkannya.

Seorang yang lain menunjukkan ketidaksiapannya untuk mengikut Tuhan yaitu  ketika Yesus mengatakan kepada dia “Ikutlah Aku”. Orang itu menjawab, “Izinkan aku terlebih dahulu menguburkan bapaku” (Lukas 9:59)  Tentulah dia tidak mungkin berada di tempat itu bersama dengan Yesus dan orang-orang yang berkerumun disitu kalau ayahnya sedang meninggal. Tapi konon ini merupakan gaya bahasa timur tengah yang berarti dia masih perlu tetap tinggal sampai ayahnya meninggal.  

Yesus kemudian mengatakan kepadanya: ”biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah kerejaan Allah dimana-mana” (Luk 9:10).  Dalam hal ini Yesus sedang mengatakan kepada dia untuk meninggalkan keduniawian dikerjakan oleh orang-orang duniawi;  Artinya kita tidak boleh terperangkap dengan mengijinkan masalah-masalah duniawi menghalangi prioritas sorgawi.  

Orang yang ketika berkata kepada Yesus :” Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan terlebih dahulu dengan keluargaku” (Lukas 9:61).  Mari kita lihat jawaban Yesus,”Setiap orang yang siap membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk kerajaan Allah.” (Lukas 9:62). Saya percaya bahwa tidak ada yang salah sebenarnya dengan berpamitan terlebih dahulu, tapi Tuhan Yesus melihat hati yang masih mendua di dalam orang ini. “Menoleh kebelakang” artinya masih ada kebimbangan dan pertimbangan.

Jadi untuk mengikut Tuhan dan menjadi seorang murid memang tidak mudah, ada harga yang harus dibayar yaitu keutamaan Kristus diatas segalanya. Kalau melihat cara hidup orang kristen umunya pada jaman sekarang, mereka tidak layak disebut murid Tuhan Yesus dalam perspektif (pandangan) alkitab. Karena kebanyakan orang kristen jaman sekarang telah menempatkan Yesus menjadi urutan kesekian diatas kepentingan yang lain.

Dalam konteks kehidupan kita sekarang ini, kita tidak lagi akan mengikut Yesus secara jasmani seperti ketika Ia memanggil ke dua belas muridnya dan muridnya mengikut Dia kemana saja Dia pergi untuk melayani, melainkan kita mengikuti visi dan misinya bagi dunia. Kepada Simon Petrus dan Andreas Yesus berkata akan menjadikan mereka menjadi penjala manusia (Mat. 4:19), dan kepada kesebelas murid Dia perintahkah untuk pergi, menjadikan semua bangsa menjadi murid, membabtis dan mengajar mereka melakukan perintah Yesus. Perintah Yesus inilah yang harus kita ikuti.

 

Inilah idealisme sebagai seorang murid, yaitu berkesinambungan dalam firman Tuhan (Yoh. 8:31), memberitakan firman, menjala manusia dan membawa kepada Kristus. Sudahkah kita menjadi murid? Berapa persenkah orang Kristen yang menyebut diri murid melakukan hal ini? Apakah anda melakukannya?

 

 

 

 

Kisah yang terjadi  di pesta perkawinan di Kana (Yoh. 2:1-11) adalah suatu kisah yang luar biasa karena disana kita dapat mempelajari banyak hal menyangkut kehidupan kita dan pertolongan Tuhan bagi kita. Alkitab mengatakan bahwa mujizat yang dilakukan Yesus di pesta ini adalah mujizat pertama yang dilakukan Yesus dalam pelayanannya di bumi. Mari kita melihat apa yang terjadi di Kana bisa menjadi berkat bagi kita.

 

Ayat 1-2: Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu.

 

Di dalam keterbatasan Yesus sebagai manusia, Ia tidak selalu bisa hadir dan memberikan pertolongan nyata bagi manusia. Dalam kemanusiaannya Dia hanya bisa ada pada waktu tertentu, kesempatan tertentu dan tempat tertentu, seperti yang terjadi di Kana. Namun dalam ke Allahan-Nya di dalam Roh, Ia tidak lagi dibatasi ruang dan waktu.

 

Hari ketiga merujuk pada “waktu”, perkawinan merujuk pada “kesempatan/kegiatan” sedangkan Kana dan Galilea merujuk pada “tempat”. Saya percaya bahwa Allah berkeinginan untuk selalu ada dalam kehidupan keseharian kita untuk membawa pertolongan nyata. Kapanpun, dimanapun dan dalam hal apapun.

 

Dikatakan pada ayat diatas, “Yesus dan murid-muridnya diundang juga ke perkawinan itu”. Di sini menunjukkan bahwa yang mempunyai pesta mengenal Yesus. Mereka mengundang Yesus artinya mereka menghendaki kehadiran Yesus disana. Pertolongan Tuhan akan terus kita rasakan kapanpun, dimanapun dan dalam hal apapun ketika kita mengaminkan kehadiran-Nya di dalam hidup kita.

 

Ayat 3: Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur”.

 

Bagi orang yang Yahudi kehabisan anggur pada waktu pernikahan merupakan suatu hal yang sangat memalukan, karena anggur merupakan bagian dari sajian utama dalam pesta. Tetapi mengapa mereka bisa sampai kehabisan anggur, pada hal pesta ini adalah pesta perkawinan yang notabene adalah pesta sukacita?

 

Alkitab tidak menjelaskan hal itu. Namun mengacu pada alasan yang umum terjadi dalam suatu pesta mungkin dapat kita bagi setidaknya dalam dua sebab:

 

1.       Sebab dari dalam.

 

Ada kemingkinan yang memiliki pesta salah perhitungan. Perhitungan banyaknya anggur yang disediakan tidak sesui dengan jumlah undangan. Bisa jadi juga si pemilik pesta memperhitungkan/memprediksi  bahwa yang datang ke pesta paling ada setengah dari jumlah undangan, sehingga ia menyediakan anggur untuk sejumlah yang diperkirakan. Nah, ketika jumlah orang yang hadir benar-benar sesuai dengan jumlah undangan, maka sudah pasti mereka akan kekurangan anggur.

 

Sepanjang hidup kita, mungkin tidak dapat dihitung atau tidak dapat kita ingat lagi sudah berapa kali kita salah perhitungan dalam memutuskan berbagai hal dalam hidup kita. Sudah berapa kali kita salah langkah, sehingga membuat kita harus menanggung malu dan menderita. Ucapan dan tindakan kita yang tidak memperhitungkan untung-ruginya dan baik-buruknya bisa berakibat fatal bagi kita sendiri. Ucapan dan tindakan kita yang tidak baik juga dapat menimbulkan akar pahit bagi orang lain yang kemudian melahirkan kebencian, dendam dan amarah.

 

 

2.    Sebab  dari luar.

 

Kemungkinan adanya keserakahan dari antara para undangan.  Mereka mengambil kesempatan untuk meminum anggur sepuas-puasnya bahkan mungkin sampai membawa pulang. Tentu ini hanyalah satu kemungkinan. Namun dalam konteks jaman ini, hal seperti ini mungkin tidak sulit kita temukan, khususnya pesta yang diadakan di desa-desa. Seperti yang pernah saya temukan pada suatu pesta di kampung. Seorang ibu meminta berkali-kali makanan untuk seorang anaknya kepada pelayan yang berbeda. Setelah meminta kepada pelayan yang satu, dia membungkus dan menyimpannya dalam tas. Saat pelayan yang lain lewat, dia juga meminta hal yang sama untuk anak yang sama. Dan bukan hanya satu-dua yang saya temukan berbuat demikian.

 

Tidak semua hal yang tidak baik yang kita alami dalam hidup kita disebabkan oleh ulah kita sendiri. Bisa jadi oleh karena imbas perbuatan orang lain kita mengalaminya. Mungkin kita bertanya, “Mengapa Tuhan ijinkan cobaan terjadi dalam hidup kita?” Jawabannya dapat kita peroleh dari Yakobus 1:2-4 yang berkata:” Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.

 

Pencobaan adalah bagian dari proses pendewasaan iman. Dengan pencobaan, kita secara tidak langsung di ajak berpikir dan merenungkan tentang kehidupan itu sendiri. Pencobaan membawa kita pada kedewasaan berpikir yang kemudian menghasilkan kedewasaan dalam bertindak. Saya percaya pencobaan yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita adalah sesuai dengan kebutuhan dalam proses pendewasaan itu sendiri, seperti yang dikatakan firman Tuhan “tidak melebihi kekuatanmu sendiri”.

 

Oleh karena itu kita perlu belajar berpikir positif terhadap pencobaan yang kita alami. Hal yang perlu kita lakukan adalah menerima cobaan itu dengan ikhlas hati dan mempercayai bahwa dibalik semua pencobaan yang diijinkan itu ada maksud Allah yang indah bagi kita.

 

Ayat 4-5: Kata Yesus kepadanya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”

 

 

Maria menyampaikan permasalahan yang terjadi kepada Tuhan Yesus yaitu pesta itu kekurangan anggur. Maria tidak secara langsung meminta Yesus untuk bertindak namun Tuhan Yesus dapat membaca atau mengerti keinginan dari Maria ibunya sehingga Ia langsung berkata : “mau apakah engkau dari padaKu, ibu? SaatKu belum tiba”.

 

Apabila kita memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan, sama seperti Maria, kita dapat mengenal kebaikan hati Bapak yang dapat menolong dalam permasalahan yang ada. Dan Allah mengerti apa yang kita inginkan daripadaNya walaupun kita tidak mengatakannya.

 

Ayat 6: Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung.

 

Bejana air menunjuk kepada kita sebagai manusia atau sebagai umat Tuhan. Sama seperti anggur yang pertama adalah juga anggur yang baik yang disediakan si empunya pesta, namun tidak dapat memberi jaminan yang cukup untuk terhindar dari masalah atau persoalan. Niat dan perbuatan yang baik tidak dapat menjamin bahwa kita tidak akan pernah menghadapi persoalan. Sebagai manusia kita memiliki keterbatasan. Kita hidup di dunia yang penuh dosa dan kejahatan. Kita hidup serumah yang bernama bumi bersama-sama dengan orang yang tidak mengenal Tuhan. Oleh karena itu kita membutuhkan campur tangan Tuhan di dalam hidup kita. Kedahsyatan pekerjaan Tuhan akan memampukan kita tetap berdiri dalam iman dan pengharapan yang teguh meski kita menghadapi persoalan.

 

Ayat 7-9: Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Dan merekapun mengisinya sampai penuh. Lalu kata Yesus kepada mereka: “Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.” Lalu merekapun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu–dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya–ia memanggil mempelai laki-laki,

 

Untuk mengalami muzijat, kita perlu di penuhi air hidup yaitu firman Allah. (Eph 5:26; Jn 15:3). Banyaknya firman Allah kita ijinkan memasuki hidup kita akan menentukan banyaknya kekuatan Allah yang akan kita alami. Seperti perkenalan Yesus dengan para pelayan, Visi/rancangan Allah kita alami di karenakan kepatuhan kita pada perkataannya. Pelayan-pelayan itu tahu dari mana anggur itu berasal, tetapi “orang-orang penting” yang di pesta itu tidak tahu. Ketika seseorang melayani Kristus, dia belajar rahasia-Nya. (Amos 3:7; Yoh 15:15). Pelayan merasa gembira menjadi bagian dari mujizat dan mendapat pengertian akan pekerjaan Allah (Mat 14:19,20). Siapapun kita, memiliki kesempatan untuk mengalami muzijat Allah. Jangan engkau berfikir bahwa hanya orang-orang yang dianggap paling penting di dalam gereja yang dapat mengalami mujizat Allah. Atau hanya pendeta atau pelayan-pelayan altar saja. Bukan, melainkan kita semua yang mau melayani Tuhan dengan bentuk pelayanan apa pun yang dipercayakan kepada kita.

 

Ayat 10-11: Dan berkata kepadanya: “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.” Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.

 

Apa yang diberikan Tuhan adalah selalu yang terbaik.

Mujijat yang pertama pada musa adalah berubahnya air menjadi darah (Exo 7:19), yang berbicara tentang hukuman (PL/Taurat)

Mujijat pertama Yesus adalah air menjadi anggur dalam perkawinan di Kana, berbicara tentang anugerah, perjanjian yang lebih baik (PB/Injil) .Yesus mewujudkan keagungan Tuhan dan hasilnya adalah murid-murid percaya kepada-Nya (Rom 2:4)

 

 

Di atas spring bed tua itu aku berbaring. Spring bed tua yang aku beli dari salah satu tetanggaku yang pindah kota. Saat aku beli, spring bed ini belumlah seburuk ini, tapi usia yang sudah beberapa tahun telah menjadikannya renta. Sudah empat tahun ia membiarkan dirinya sebagai tempat pembaringan kami; kami tiduri, kami duduki bahkan diinjak-injak oleh anak-anakku. Pula sudah 2 tahun ia membiarkan dirinya dipakai oleh pemilik dia sebelumnya. Rasanya cukup wajar ia cepat renta karena harganya pun murah. Mana ada sih yang harga murah dengan kwalitas yang bagus? Namun meski harga murah dan rendah kwalitas, spring bed ini tentu sudah menjadi saksi bisu tentang banyak hal yang aku lakoni bersama isteriku dan dua buah hatiku.  Di spring bed ini aku bercanda ria dengan anak-anakku yang masih kecil, berbagi cerita dan cinta dengan isteriku dan juga menumpahkan air mata dalam doa-doaku.

 

Di spring bed tua ini pulalah, pada bulan Juni 2001 aku mendapat visi Tuhan. Visi yang mengubah pendirianku di kemudian hari. Dulu aku tidak terpikir untuk menjadi seorang hamba Tuhan. Walaupun banyak dari keluargaku menjadi hamba Tuhan bahkan menjadi perintis beberapa sidang, tapi aku tidak mau menjadi hamba Tuhan. Mendiang kakekku dari ibu adalah seorang perintis beberapa sidang di daerah kecamatan Bandar Khalipah, Gr. Ev. Ambersius Sitanggang namanya. Sebagai murid jajaran pertama dari pendiri Gereja Pentakosta Indonesia yaitu mendiang Bpk. Pdt.Ev.R.Siburian, dia menjadi murid dan penginjil yang gigih dan berkuasa. Aku kagum kepadanya dan aku ingin seperti dia yang memberi rasa kepada banyak orang. Tapi aku tidak ingin menjadi hamba Tuhan. Cukuplah sebagai jemaat biasa. Paman-pamanku adik ibuku dan ayahku juga menjadi hamba Tuhan dan disusul oleh abangku juga menjadi hamba Tuhan dan sekarang sudah menjadi pendeta.

 

Ketika mendiang ayahku ikut merintis salah satu pelayanan kurang lebih 20 tahun yang lalu, yang kemudian menjadi suatu sidang, ia belum menjadi hamba Tuhan. Mulai dari ibadah perdana pada pos pelayanan ini sampai menjadi sidang diadakan di rumah kami. Ada kurang lebih 2.5 tahun ibadah raya minggu dan ibadah malam diadakan di rumah kami hingga akhirnya kami memiliki lahan dan membangun gedung gereja. Baik pada ibadah raya maupun pada ibadah-ibadah malam kami duduk dilantai beralaskan tikar, bersempit-sempit hingga ke teras rumah. RSS tipe 18 yang walaupun sudah direnovasi tidak terlalu luas. Sehingga dua set kursi di ruang tamu harus kami keluarkan ke teras setiap ada ibadah. Memang melelahkan, tapi puji Tuhan kami tidak mengeluh melakukannya. Hati kami justeru bersyukur dan semangat melihat semangat jemaat Tuhan yang luar biasa.

 

Kami juga bersyukur kepada Tuhan, kalau kami berkesempatan mengalami sedikit penderitaan dan penghinaan oleh karena pekerjaan Tuhan. Rumah yang merangkap gereja itu berada ditengah-tengah perumahan yang sempit dan berderet. Pujian dan doa yang kami adakan ternyata menjadi sumber kebisingan bagi tetangga kami yang umumnya non kristen. Sering mereka tidak nyaman dengan keadaan ini dan kemudian bereaksi. Kadang-kadang mereka melempari atap rumah kami dan juga meneriakkan penghinaan dengan kata-kata kotor. Kami di hina dan dikucilkan. Ah, itu belum seberapa dibandingkan dengan kehinaan dan penderitaan Yesus.

 

Semua pengalaman manis dan pahit yang kami alami dan garis keturunan hamba-hamba Tuhan tidak mengubah pendirianku. Aku tidak mau menjadi hamba Tuhan. Saat aku berniat dan mewujudkan untuk mendalami alkitab lewat sekolah alkitab pun tidak didasari keinginan untuk menjadi hamba Tuhan tapi karena ingin belajar dan mengetahui lebih dalam firman Tuhan. Juga karena termotivasi oleh sepupuku yang dalam setiap perbincangannya sering dikaitkan dengan firman Tuhan.

 

Tapi, di suatu pagi pada bulan Juni 2001 ketika aku berbaring dan tidur, di spring bed tua itu akan mendapat visi Tuhan. Ketika itu aku sedang menganggur, kalaupun ada kerja, cuma kerja serabutan alias mocok-mocok. Pagi itu aku tidur di spring bed tua itu karena tidak ada pekerjaan. Dalam tidurku aku bermimpi ada sepasang merpati putih masuk ke rumahku. Aku heran, dari mana datangnya merpati ini. Lalu ketika aku menangkap sepasang burung merpati ini, mereka dengan sangat jinak, tidak meronta sedikit pun. Lalu aku buatkan mereka “rumah-rumah” dibelakang rumahku. Mereka kelihatan senang tinggal di “rumah-rumah” yang aku buat ini. Ketika aku bangun, aku bertanya dalam hati “Adakah arti dari semua ini? Bukankah merpati putih itu sebagai lambang dari Roh Kudus? Tapi mengapa dua?”. Malamnya semua pertanyaanku dijawab oleh Tuhan. Sepasang hamba Tuhan yaitu Bpk. Pendeta (waktu itu masih Guru) gembala sidang tempat aku beribadah beserta dengan ibu datang ke rumahku. Mereka meminta aku untuk menjadi bagian dari hamba-hamba Tuhan dan menjadi Sintua. Sempat aku tolak dengan halus, aku bilang aku mau membantu pelayanan di gereja ini semampu aku bisa bantu tapi janganlah menjadi hamba Tuhan. Tapi oleh karena hikmat bapak pendeta ini dan juga karena teringat dengan mimpiku pagi tadi, akhirnya aku bersedia menjadi sintua.

 

2 Agustus 2008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Februari 1994, aku memasuki kota Batam. Waktu itu Batam masih belum seramai dan semaju sekarang ini. Disana sini masih banyak hutan dengan pohon-pohon yang rindang diantara kumpulan komplek perusahan dan daerah-daerah pemukiman. Rumah-rumah triplek dan kayu yang beratapkan getah masih mendominasi jumlah rumah di kota ini. Rumah-rumah ini menjamur diatas tanah otorita atau tanah yang telah dialokasikan kepada pengusaha namun belum digunakan. Sering terjadi masalah ketika pemilik lahan itu akan menggunakanya, biasanya ada perlawanan dan tuntutan ganti rugi. Mungkin karena itu pula rumah-rumah ini disebut rumah bermasalah menggantikan sebutan sebelumnya yaitu rumah liar (RULI).

 

 

 boat1

 

Perjalananku dari Medan ke kota ini tidaklah mulus. Karena mobil yang aku tumpangi dari Pekan Baru menuju pelabuhan Buton rusak, terpaksa kami terlambat sampai di pelabuhan Buton. Sementara kapal yang seharusnya membawa kami ke Batam sudah pergi beberapa jam sebelumnya. Semua penumpang tentu saja kebingungan. Apalagi aku yang belum pernah menginjakkan kaki di tempat ini. Aku memang tidak pernah bepergian jauh kecuali ke Sibolga tempat tinggal pamanku. Di sini tidak ada penginapan. Yang ada beberapa rumah-rumah penduduk yang kebanyakan kecil dan tidak terlalu bagus.

 

 

Untunglah, ternyata masih ada satu kapal kecil. Tapi kapal ini seharusnya tidak sampai ke Batam, hanya kepulau sekitar pulau Batam. Beberapa orang dari pengurus pelabuhan itu akhirnya sepakat dengan orang kapal untuk membawa kami sampai ke Batam. Puji Tuhan, meskipun jumlah penumpang sudah over capacity tapi akhirnya kami sampai juga di Batam.

 

Jam 10 malam kami sampai di pelabuhan. Masalah belumlah selesai. Tapi aku bersyukur karena masih bisa berkata: “Dalam nama Yesus aku menginjakkan kaki di tanah ini” pada pijakan yang pertama ketika aku turun dari kapal. Aku meyakinkan diri bahwa di tanah ini aku akan diberkati luar biasa oleh Tuhan.

 

Ada beberapa taksi pelabuhan yang sedang menunggu. Tidak banyak, karena jam tiba kapal sudah lewat beberapa jam. Masalah timbul karena aku hanya memiliki alamat perusahaan tempat tanteku bekerja. Tidak ada alamat rumah karena merekapun masih tinggal di ruli. Juga tidak ada nomor telepon. Handphone sendiri masih barang yang sangat langka waktu itu. Sedangkan malam hari menurut orang yang duduk sebangku dengan aku di kapal  perusahaan umumnya tidak bekerja. Aku bingung kemana aku harus pergi. Ketakutan sempat menyelimuti diriku. Untunglah teman yang duduk sebangku dengan aku di kapal mengerti keadaanku. Aku memang sempat bercerita kepada dia di kapal bahwa aku tidak punya alamat selain alamat perusahaan. Lalu dia minta tolong kepada supir taksi agar aku diantar ke sebuah penginapan. Tentu saja penginapan yang murah, karena ia tahu aku perantau.

 

mobil-tua

 

Di dalam taksipun aku sempat diselimuti ketakutan. Jalan-jalan yang kami lewati begitu gelap. Tidak ada cahaya lain kecuali cahaya dari lampu mobil ini. Kucoba melihat dari kaca ke sisi kanan jalan yang ada hanya kegelapan. Juga kelemparkan pandangan ke arah kiri, akupun tidak melihat apa-apa selain pekatnya malam.  Aku coba beranikan diri bertanya kepada pak sopir, “kok, gelap seperti ini?”. “Wah, ini masih hutan semua dek” jawabnya. Aku sempat bimbang kalau-kalau supir ini tidak sedang membawa aku ketempat yang seharusnya yaitu ke penginapan seperti yang dipesankan oleh teman yang sebangku denganku di kapal. Tapi puji Tuhan setelah kurang lebih setengah jam perjalanan mulailah tampak cahaya dari lampu penerangan jalan dan juga dari gedung-gedung. Tidak terlalu lama kemudian akhirnya akupun sampai di penginapan.

Malam itu aku tidak bisa tidur nyenyak di penginapan. Hatiku belum benar-benar nyaman sebelum aku bertemu dengan tanteku. Akupun tidak terlalu yakin dengan kebersihan tempat ini. Dalam benakku tempat ini mungkin sering dipakai sebagai tempat maksiat. Tempat untuk melakukan apa yang disebut “short time“. Sebuah istilah yang aku ketahui dari temanku yang kebetulan pernah bekerja di sebuah hotel kecil. Hotel Melati kalau tidak salahnya sebutannya. Aku coba mengisi waktu dengan membaca Alkitab. Tapi akhirnya akupun “tumbang“ ketiduran. Mungkin karena sudah terlalu lelah.

 

Aku terbangun sekitar jam 9 pagi. Cepat-cepat aku mandi, berkemas dan keluar dari penginapan ini. Aku bertanya kepada penjaga penginapan ini bagaimana aku bisa sampai ke alamat yang aku miliki. Lalu dia menghantarkan aku untuk mengambil taksi. Kurang lebih setengah jam perjalanan aku tiba di perusahaan tempat tanteku bekerja. Akupun kemudian bertemu dengan dia.  Oh..Puji Tuhan legalah hatiku. Aku bersyukur kepada Tuhan, karena menghantarkan aku dengan selamat.

batamview