Oleh: Bakti Rajawali Ministry | November 28, 2009

TUHAN ADALAH GEMBALA-KU (Bagian Pertama)


Mungkin bagi sebagian orang, pekerjaan seorang gembala dianggap sebagai pekerjaan yang hina dan dipandang sebelah mata, namun kalau kita merenungkan lebih dalam, tugas seorang gembala adalah tugas yang berat dan mulia. Karena jaminan kehidupan seluruh domba sangat bergantung kepada gembala. Oleh karena itulah raja Daud mengumpamakan Tuhan sebagai Gembala dimana jaminan kelangsungan hidup umat-umat sebagai domba sangat bergantung kepada-Nya.

Mazmur 23: 1-4 berkata :”..Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku dipadang yang berumput hijau, ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau bersertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.”

Daud, pada masa mudanya adalah seorang gembala domba. Oleh karena itu dia tahu betul bagaimana tugas seorang gembala, dan bagaimana hubungan antara gembala dengan domba-dombanya.. Dalam hal ini apa yang ditulis dalam kitab Mazmur bukan sekedar teori tetapi juga didasari oleh pengalamannya sendiri sebagai gembala. Tanpa gembala maka domba-domba akan tersesat, liar dan tidak tahu arah. Tanpa gembala tidak ada jaminan keselamatan bagi domba-domba terhadap serangan binatang buas, juga tidak ada jaminan terhindar dari pencurian.

Kata ”ku” pada gembalaku menunjukkan relasi yang sangat pribadi antara Daud dengan Tuhan.  Hubungan yang dekat dan rasa memiliki yang kuat. Umat Tuhan perlu mengalami sendiri pribadi Allah itu dalam hidupnya, sehingga kesaksiannya mendasar dan kuat, bukan berdasarkan pada ”kata orang” atau ”kata pendeta” saja.

Jujur, saya kadang merasa ”terganggu” mendengar ucapan jemaat ketika bersaksi di gereja yang mengatakan ”Tuhan Yang Maha Esa” untuk menyebut pribadi Tuhan itu. Sebutan Tuhan Yang Maha Esa adalah sebutan yang berlaku umum (general), dimana setiap orang beragama dan aliran kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa menyebut demikian. Tidak ada sesuatu yang terlalu istimewa dalam sebutan itu dibandingkan dengan agama-agama lain. Padahal dalam kekristenan kita mengalami keistimewaan dari Allah, dimana Allah kita berkenan untuk menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan, Gembala, Bapa dan Sahabat.

Tentu tidak ada yang salah dengan sebutan Tuhan Yang Maha Esa, karena memang Tuhan yang kita sembah adalah Esa adanya. Namun sebutan itu terlalu umum dan  tidak mencerminkan relasi yang specifik (dekat) dengan Tuhan.  Sebutan: ”Tuhan kita”, ”Bapa kita yang baik”, ”Tuhan, Gembala hidup kita”, dll., menunjukkan relasi yang spesifik dan dekat. (bersambung).

St.Lomser Hutabalian.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: