Oleh: Bakti Rajawali Ministry | Desember 7, 2009

TUHAN ADALAH GEMBALA-KU (Bagian Kedua)

”Takkan kekurangan aku” berbicara tentang kecukupan atau terpenuhi. Daud percaya bahwa dia tidak akan pernah kekurangan apabila ia ada dalam penggembalaan Tuhan.  Dia sangat percaya bahwa Tuhan itu adalah Tuhan yang bertanggung jawab atas kehidupan domba-domba-Nya.

Dulu, dalam kurangnya pengenalan saya akan Tuhan, saya sering mengalami stress memikirkan kehidupan ini. Ketika anak saya yang kedua akan lahir, saya sedang dalam status PBB alias pengangguran besar-besaran. Terpaksa saya utang sana-utang sini untuk memenuhi biaya bersalin yang harus melalui operasi. Dalam keadaan yang susah itu, saya malah sering menggunakan akal pikiran saya yang terbatas ini untuk mimikirkan segala sesuatu. Saya sering berharap kepada manusia. Berharap hamba Tuhan melihat keadaan kami dan mengasihani kami. Tapi kenyataannya adalah kekecewaanlah yang saya dapat.

Ada masa sekitar dua tahun saya tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan yang jelas, ditengah tuntutan biaya hidup yang tinggi di perantauan. Tetapi saya bersyukur bahwa selama masa pengangguran ini, Tuhan kemudian membimbing saya untuk kembali kepada firman-Nya, dan semakin rajin untuk membaca firman Tuhan dan bersekutu dengan Dia. Saya diteguhkan dengan firman Tuhan (Maz. 37:25) :” Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti.”

Hal yang luar biasa terjadi, Dia menuntun saya untuk mengambil tindakan apa yang harus saya ambil. Ide-ide mengalir dalam otak saya. Dan Saya belajar percaya sungguh-sungguh kepada-Nya. Dan semenjak itu kami tidak pernah kekurangan dalam kebutuhan sehari-hari; sandang dan pangan, karena ada saja jalan yang Tuhan tunjukkan, bahkan kadang-kadang diluar dugaan saya.

Daud menggambarkan tindakan Tuhan dalam memelihara domba-domba-Nya seperti gembala yang membaringkan di rumput yang hijau (fresh), membimbing ke air yang tenang, menyegarkan jiwa dan menuntun di jalan yang benar. Kalau mau dimaknai secara ”radikal”, ”membaringkan di rumput yang hijau” bisa berarti memberi kesempatan makan sambil berbaring. Ini pernah saya lihat. Sebagai mantan gembala kambing, saya melihat ada kalanya sang kambing berbaring nyamping, sambil mulutnya meraih rumput yang ada disekitarnya. Ini terjadi karena ada banyak rumput segar disekitarnya. Tentu yang dimaksudkan disini bukanlah menyuruh anak-anak Tuhan hidup bermalas-malasan, karena sang domba ketika berbaringpun, kepala dan mulutnya masih harus berusaha untuk meraih rerumputan yang ada disekitarnya.  Tapi yang dimaksud adalah bahwa Tuhan akan menolong dan mempermudah setiap usaha-usaha kita.  Intinya dari yang digambarkan oleh Daud adalah berkat yang selalu baru setiap hari, baik itu berkat jasmani dan juga berkat rohani.

St.LH


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: