Oleh: Bakti Rajawali Ministry | Juli 20, 2010

BERDALIH

BERDALIH

(Disampaikan pada PA PEMUDA/I GPI Sid. TEMBESI Juli 2010)

  

DEFINISI.

Menurut Kamus Pintar Bahasa Indonesia, “dalih” adalah alasan yang dipakai untuk membenarkan diri atau membenarkan suatu perbuatan, alasan yang dibuat-buat atau alasan yang dicari-cari. Sedangkan “berdalih” yaitu mengajukan atau memberi alasan yang dicari-cari untuk membela diri. Karena berdalih juga merupakan upaya untuk membenarkan diri dalam kesalahan atau menutupi kelalaian diri, maka dalam hal itu akan mungkin ada upaya untuk mencari kambing hitam sebagai penyebab kesalahan, atau kegagalan yg terjadi.

PERUMPAMAAN YESUS

Dalam Lukas 14:15-24, Tuhan Yesus memberi suatu perumpamaan tentang orang-orang yang berdalih. Dimana ada seseorang yang mengadakan perjamuan besar, dan ia mengundang banyak orang untuk menghadirinya. Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya menyampaikan kepada undangan supaya mereka datang ke tempat tuannya untuk hadir di perjamuan, karena semua sudah disiapkan. Namun yang terjadi adalah mereka yang diundang menolak untuk datang dengan berbagai dalih.

Fakta kebohongan dan alasan yang dicari-cari ketiga orang dalam perumpamaan itu adalah:

1. Orang yang pertama; seharusnya ladang dilihat dulu baru dibeli, bukan sebaliknya

2. Orang yang kedua; Seharusnya lembu kebiri dicoba dulu baru dibeli.

3. Orang yang ketiga: Seharusnya dia bisa membawa istrinya menghadiri perjamuan itu, atau meninggalkan istrinya sebentar untuk menghadiri perjamuan sebagai penghargaan kepada pengundang. Jadi alasan baru menikah adalah sebuah dalih untuk menghindar dari undangan itu.

Yesus menyampaikan perumpamaan tentang orang-orang yang berdalih ini untuk meresponi seorang tamu yang mengatakan “Berbahagialah orang yang akan di jamu dalam Kerajaan Allah”. Disini Yesus mau menyampaikan bahwa untuk mendapat bagian di perjamuan dalam Kerajaan Allah, haruslah meninggalkan keutamaan pada diri sendiri untuk melakukan kehendak Allah sebagai keutaamaan dalam hidup.

Perumpamaan ini tidak terlepas dari ayat-ayat sebelum ayat 15 pada pasal yang sama yaitu pasal 14 dimana melalui rangkaian perumpamaan dan pengajaran itu, Yesus mau memutarbalikkan konsep berfikir orang-orang yang Farisi dan ahli-ahli Taurat dan menggiring pikiran mereka untuk mengerti dan melakukan hukum kasih dan keutamaan kepada Allah.

Pada perumpamaan pertama Yesus mau menyampaikan bahwa menyelamatkan manusia jauh lebih penting dari pada memenuhi aturan sabat, kemudian Yesus mau juga mau mengajarkan kepada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat agar memiliki sikap rendah hati dan tidak mencari hormat, mewujudkan kasih dalam memperhatikan yatim piayu dan orang-orang terlantar, perumpamaan selanjutnya Yesus mau menyampaikan bahwa adalah kehendak Allah agar semua orang masuk dalam perjamuan Allah, tetapi orang-orang yang berdalih tidak akan mendapat bagian.

Orang-orang yang berdalih tidak mendapat bagian dalam perjamuan Kerajaan Allah. Dalam perumpamaan ini digambarkan, kalau kita tidak bisa meninggalkan kepentingan kita pribadi untuk memenuhi panggilan Allah, maka kita tidak layak. Tuntutan yang lebih keras digambarkan pada ayat 25-36 dari Lukas pasal 14 yaitu untuk menjadi murid kita harus dapat melepaskan segalanya demi Kristus (Tugas dirumah baca lampiran).

Berdalih sebagai wujud ketidaksungguhan.

Perumpamaan orang-orang yang berdalih , pada ayat 17 dikatakan “menjelang perjamuan itu dimulai” lalu si hamba mengatakan kepada undangan “Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap”, artinya disini mereka sudah diundang sebelumnya yaitu sebelum hari perjamuan tiba. Sehingga seharusnya mereka sudah bisa mengatur waktu dan kegiatan supaya bisa hadir pada hari perjamuan itu. Padahal dalam konteks budaya saat itu memenuhi undangan adalah kehormatan.

Disini tampak tidak ada niat yang sungguh-sungguh, untuk hadir dalam perjamuan itu. Niat adalah maksud atau keinginan kuat didalam hati untuk melakukan sesuatu. Niat termasuk perbuatan hati maka tempanya adalah didalam hati, bahkan semua perbuatan yang hendak dilakukan oleh manusia, niatnya secara otomatis tertanam didalam hatinya. Karena itu, niat dibutuhkan untuk memulai sesuatu. Kalau tidak ada niat maka tidak ada kesungguhan untuk melakukannya.

Berdalih sebagai wujud ketidakjujuran.

Berdasarkan defenisi berdalih tersebut diatas, maka dapat dikatakan bahwa berdalih merupakan wujud kebohongan atau ketidakjujuran. Memberi alasan yang tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya adalah kebohongan. Kebohongan atau ketidakjujuran itu ibarat bibit penyakit, yang kalau tidak segera dituntaskan akan berkembang. Semakin sering seseorang berbohong akhirnya akan menjadi kebiasaan dan ia akan merasa nyaman dengan kebohongan. Firman Tuhan mengatakan: “Bibir yang benar dikenan raja, dan orang yang berbicara jujur dikasihi-Nya (Amsal 16:13). Allah menghargai kejujuran, sekalipun kejujuran itu kadang bisa terasa pahit dan menyakitkan, tetapi dia akan berbuah kekudusan.

 Berdalih sebagai wujud ketidaktaatan.

Kitab 1 Samuel 15 Tuhan memerintahkan Saul melalui Samuel agar pergi mengalahkan orang Amalek dan menumpuas semua penduduk dan ternak mereka, Tetapi setelah berperang, ayat 9 mencatat, “Tetapi Saul dan rakyat itu menyelamatkan Agag dan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga: tidak mau mereka menumpas semuanya itu.” Saul berdalih kepada Samuel bahwa semua yang dibawa daripada orang Amalek yaitu kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dengan maksud untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan. Maka Tuhan mengatakan melalui Samuel, “Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik daripada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik daripada lemak domba-domba jantan. Karena engkau telah menolak firman Tuhan, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja.”

Bukankah seringkali manusia berdalih untuk membenarkan ketidaktaatannya kepada Allah? Yang parahnya lagi, kalau kita mencari kambing hitam untuk membenarkan ketidaktaatan kita kepada perintah Tuhan.

PENUTUP

Seringkali kita berjanji kepada Allah untuk mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa dan akal budi kita tetapi janji itu hanya suara yang bergema semata apabila keduniawian lebih menarik perhatian kita dari pada memenuhi panggilan Allah. Daya tarik kehidupan dunia seringkali bertentangan dengan janji kita untuk mengasihi dan melayani Allah dan kita berdalih untuk membenarkan diri atas semua kesalahan kita.

Dalih tidak lahir begitu saja. Ia lahir sebagai wujud ketidaksungguhan, ketidakjujuran dan ketidaktaatan kepada Tuhan. Dan orang-orang yang berdalih tidak mendapat bagian dalam perjamuan Kerajaan Allah.  Mari bertobat dari berdalih!

Kemuliaan Bagi Allah

 Salam

LH

 

Lampiran:  https://hutabalian72.wordpress.com/2008/08/13/menjadi-seorang-murid-kristus/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: