Oleh: Bakti Rajawali Ministry | Maret 28, 2011

Dasar Hidup Berkemenangan

PENGANTAR

 Setiap orang di dunia ini, pastilah menghendaki agar dia memiliki hidup yang berhasil/berkemengan. Orang-orang dunia biasanya menghendaki keberhasilan dalam hal materi atau kekayaan dan kedudukan sedangkan anak-anak Tuhan harus melihat keberhasilan dari sisi rohani dimana setiap orang percaya berhasil menjalani kehidupan itu dalam setiap situasi dan kondisi. Kekayaan dan kemiskinan, kedudukan atau jabatan; baik itu di dunia sekuler dan pelayanan, bukan merupakan alat ukur kehidupan yang berkemenangan atau berhasil.

Tentu di sini tidak bermaksud bahwa kekayaan atau jabatan penting itu tidak perlu. Justru kalau kita diberi kekayaan dan jabatan penting baik di dunia sekuler dan kerohanian kita bisa melakukan banyak hal, namun satu hal penting dalam konteks berkemenangan adalah bahwa di dalam semuanya itu, kita menjalaninya dengan berlaku setia dihadapan Tuhan.

HIDUP YANG BERKEMENANGAN ADALAH HASIL DARI SEBUAH PROSES.

Hidup berkemenangan tidak datang secara tiba-tiba dan instant, melainkan adalah hasil dari sebuah proses yang panjang. Pembentukan karakter dari kecil akan mempengaruhi kehidupan seseorang yang berhasil di kemudian hari. Keterbukaan hati untuk mengalami proses Allah akan menghasilkan hidup yang berkemenangan.

Belajar dari proses yang dialami para murid.

Murid-murid Yesus mengalami penggemblengan selama 3.5 tahun. Siang dan malam mereka bersama-sama dengan Tuhan, mereka belajar dan praktek langsung. Kalau kita pelajari proses perjalanan iman para murid itu di dalam kitab injil adalah sbb:

1. Mereka percaya kepada Yesus ketika mereka dipanggil.

2. Mereka mengikut (bersama-sama) Yesus.

3. Mereka diajari dan melihat pekerjaan Kristus.

4. Mereka mengalami pekerjaan Kristus di dalam diri mereka.

Mereka akhirnya berhasil dalam pelayanan mereka dan pada akhirnya mereka keluar sebagai pemenang-pemenang iman. Dalam kehidupan orang-orang kristen kita banyak menemukan orang-orang yang menyebut diri mereka orang percaya. Kepercayaan yang diterima secara tradisi dari pernyataan orang tua atau orang lain. Mereka mau mengikut Yesus sebatas datang beribadah, tetapi mereka tidak mau belajar mengenal Allah lewat firman-Nya dan tidak ada kesungguhan hati untuk mengikuti firman itu.

Orang-orang seperti ini tidak sungguh-sungguh percaya, karena itu tidak dapat mengalami pekerjaan Kristus di dalam diri mereka.

Belajar dari proses yang dialami Rasul Paulus

Setelah Paulus terpanggil, Ia mengikuti perkataan Yesus untuk bertemu dengan Ananias (Kis.9). Tidak lama kemudian, Ia pergi ke tanah Arab (Gal. 1:17) yang diyakini secara tradisi untuk belajar, dan masa itu merupakan masa perenungan untuk menemukan benang merah antara ilmu Perjanjian Lama yang dimiliki dengan penyataan diri Yesus kepadanya dengan murid-murid.

Yang menarik dari proses pertobatan Paulus ini adalah ketika Tuhan menyatakan diri kepadanya, ia yang tadinya adalah orang yang gagah perkasa, orang yang cerdik pandai dalam lingkungan agama Yahudi dan orang-orang Farisi, menjadi orang yang tidak berdaya sama sekali. Hikmat dan keperkasaan yang dia miliki menjadi tidak berarti apa-apa. Perjumpaan Paulus dengan Ananias menjadi sangat penting sebelum Rasul Paulus memulai perjalanan pelayanannya. Dia mengalami pemulihan mata-nya dan penuh dengan Roh Kudus melalui menumpangan tangan Ananias.

Dari pengalaman ini kita belajar untuk mengalami hidup yang berkemenangan adalah membuka diri kepada Tuhan. Jangan mengandalkan kekuatan dan hikmat diri sendiri karena itu tidak berarti apa-apa apabila berhadapan dengan Tuhan, tatapi harus penuh dengan Roh Kudus. Mengandalkan Roh Kudus itu penting dan mutlak.

Rasul Paulus juga mengibaratkan hidup beriman itu layaknya sebuah pertandingan atau perjuangan. Dalam 2 Timotius 4:7 dikatakan: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan telah memelihara iman”. Tentu untuk keluar sebagai pemenang ada harga yang harus dibayar, disipline untuk berlatih, korban waktu , tenaga dan materi dan tentu bersandar pada pertolongan Roh Kudus.

Dari 1 Korintus 9:24-26 kita menemukan kalimat-kalimat penting yaitu “larilah begitu rupa”, “menguasai diri”, “tidak berlari tanpa tujuan”, ‘bukan petinju yang sembarang saja memukul” dan “melatih tubuhku”. Ini berbicara bahwa untuk mengalami hidup yang berkemenangan perlu proses dimana ada penguasaan diri, disiplin, berlatih keras, memiliki teknik dan sasaran yang jelas.

HIDUP YANG BERKEMENANGAN ADALAH MENGENAL JATI DIRI ALLAH

Ada sebuah statement yang mengatakan bahwa hal terindah dalam hidup adalah mengenal Allah. Statement ini benar adanya dan sangat berpengaruh kepada hidup yang berkemenangan. Yeremia 9:24 mengatakan “Tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; semua itu Kusukai, demikianlah firman Tuhan.”

Kita perlu mengenal Tuhan. Dan pengenalan itu bukanlah proses yang singkat. Meskipun Tuhan tidak dapat dikenal secara sempurna karna keterbatasan manusia (Roma 11:33-34), namun Tuhan menyatakan diri-Nya untuk keperluan kita (Gal. 1:12; bandingkan “asas-asas pokok dari penyataan Allah – Ibr. 5:12). Kita bersyukur bahwa Allah menyatakan diri-Nya lewat Yesus Kristus.

Dari Alkitab kita bisa mengerti bahwa Allah itu Kasih (2 Kor.13:11; 1 Yoh. 4:8,16, dll), Dia adalah Raja (Yer. 10:10, Maz.44:5; 1 Tim 1;17, dll), Juru Selamat (Yes. 49:26; Luk. 2:11; 1 Tim. 4:10) , Bapa (2 Sam. 7:14; 1 Kor. 8:6), Gembala Agung (Maz. 23:1; Yoh. 10:11,14; 1 Pet. 5:4, dll), Penolong (Maz. 146:5; Ibr.13:6, dll), Penasehat Ajaib (Yes. 9:5, Flp. 2:1, dll).

Pengenalan seseorang akan Allah akan mempengaruhi sikap, jalan pikiran dan tindakan-tindakannya. Orang yang tidak mengenal Tuhan akan menjalani kehidupan yang bertentangan dengan kebenaran Tuhan. Seberapa besar pengenalan kita akan Tuhan, maka sebesar itulah kita dapat berpikir, beriman dan mengalami kuasa Tuhan dalam hidup kita. Oleh karena kita mengenal kasih-Nya bagi kita maka kita mempunyai keberanian untuk menghadap tahta kemuliaan-Nya. (Ibrani 4:15-16).

Menyadari pentingnya pengenalan akan Allah, Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di di Efesus menuliskan doanya “Dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Dan supaya supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya” (Efesus, Ef. 1:17-19).

HIDUP YANG BERKEMENANGAN ADALAH MENGENAL JATI DIRI KITA

Sejalan dengan perlunya kita mengenal Tuhan, kita pun perlu mengenal jati diri kita. Bercermin kepada firman Tuhan, kita akan melihat siapa diri kita sebelum menerima Yesus dan setelah menerima penebusan yang dikerjakan Yesus Kristus.

Kalau Allah itu Kasih maka kita adalah sebagai objek tempat kasih itu dinyatakan, Kalau Dia adalah Raja maka kita adalah bangsa dalam kekuasaan-Nya, Kalau Dia adalah Juru Selamat maka kita adalah orang berdosa yang diselamatkan dari penghakiman, Kalau Dia adalah Bapa maka kita adalah anak-anak Allah yang menjadi ahli waris, Kalau Dia adalah Gembala Agung maka kita adalah domba-domba kepunyaan-Nya, Kalau Dia adalah Penolong maka kita adalah orang-orang yang lemah, malang dan menderita yg ditolong, Kalau Dia adalah Penasehat Ajaib maka kita adalah orang-orang yang bodoh, yang tidak tahu apa yang baik bagi kita namun Dia menasehati dan menuntun kita.

PENUTUP

Setiap orang di dunia ini, pastilah menghendaki agar dia memiliki hidup yang berkemengan. Sebagai anak-anak Tuhan berkemengan harrus dilihat dari sisi rohani dimana setiap orang percaya berhasil menjalani kehidupan itu dalam setiap situasi dan kondisi.

Hidup berkemengan itu tidak datang secara instant namun membutuhkan proses yang tidak singkat, dimana dibutuhkan penguasaan diri, disiplin, latihan yang keras, dll.

Hidup berkemenangan itu juga tidak terlepas dari pengenalan kita akan Allah. Apabila kita mengerti dan bertindak atas pengenalan kita akan jati diri Allah dan jati diri kita, maka kita akan menjalani kehidupan yang berkwalitas dan berkemenangan.

Lomser Hutabalian


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: