Oleh: Bakti Rajawali Ministry | November 12, 2011

SYAIR DAN PERJUANGAN

Sudah lama juga saya tidak menonton acara televisi yang disiarkan oleh TVRI. Selain karena  semakin banyaknya TV swasta dengan maraknya acara yang menarik di dalamnya, TVRI terkesan agak kaku baik performance pembawa acaranya maupun acara-acaranya sendiri.

Sebenarnya dapat dimaklumi mengapa TVRI seperti itu, karena bagaimanapun sebagai stasiun TV milik pemerintah TVRI harus menjaga banyak hal. Apalagi dengan dana yang mungkin terbatas akibat tidak diperbolehkannya menjual  space untuk iklan produk.

Namun tadi malam saya iseng-iseng mengganti cannel ke TVRI, dan kebetulan acaranya  Gebyar Keroncong. Dan kebetulan pula saya penikmat hampir semua jenis musik. Walaupun saya tidak pandai memainkan alat musik, tapi saya suka musik pop, dangdut, seriosa, rap maupun rock dan blues. Hanya rock yang terlalu keras sampai yang penyanyinya seperti kesetanan yang saya tidak suka.

Saya sangat menikmati permainan biola dan keroncongnya yang mantap. Lagu-lagu yang dinyanyikan tadi malam adalah lagu-lagu lama yang berkaitan dengan perjuangan. Mungkin ada hubungannya dengan peringatan 11 november sebagai hari pahlawan.

Lagu-lagu yang bernafaskan perjuangan seperti Indonesia Raya, Bagimu Negeri, Bangun Pemuda-Pemudi, Berkibarlah Benderaku, Indonesia Pusaka, Syukur, Maju Tak Gentar, dll, diciptakan untuk membangkitkan semangat kebangsaan masyarakat Indonesia.

Lagu-lagu lawas yang diciptakan masa perjuangan kemerdekaan, baik yang seriosa, pop atau keroncong memang banyak yang bernafaskan perjuangan.
Tidak sedikit yang memiliki kisah nyata dibalik penciptaan lagu itu. Misalnya Halo-Halo Bandung. Tanggal 24 Maret 1946, masyarakat rela meninggalkan bahkan turut membakar kota yang  mereka diami sejak lahir karena tidak rela diduduki oleh NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Saat itulah Bandung menjadi Lautan Api.

Dari beberapa sumber mengisahkan bahwa masyarakat yang multi etis bergerilya dan dengan sengaja membakar kota Bandung yang diduduki oleh NICA untuk merebutnya kembali. Sungguh perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa.
Yang membuat lagu-lagu itu sangat menarik bukan hanya karena musik dan syairnya, tetapi juga cerita dibalik penciptaan lagu itu atau yang sering disebut  story behind the song.

Lagu keroncong Sepasang Mata Bola misalnya. Menurut Sri Edi Swasono, menantu Bung Hatta, lagu ini diciptakan oleh Ismael Marzuki berlatar belakang kisah yang dialami oleh ibu Rahmi Hatta yaitu istri dari Bung Hatta sang Prokalamotor Kemerdekaan RI. Waktu itu Bung Hatta dan ibu pergi ke Yogyakarta dengan kereta. Sesampai di Yogya, bung Hatta langsung turun dan cepat-cepat menjumpai Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk membicarakan keadaan negara.

Betapa penting dan urgent bagi Bung Hatta untuk membahas keamanan negeri dan yang mungkin bergejolak di dalam hatinya, sampai-sampai beliau lupa bahwa istrinya ada bersama dia di kereta dan telah ketinggalan di kereta itu. Lalu “sepasang mata bola” ibu Rahmi Hatta mencari-cari Bung Hatta, yang rupanya telah meninggalkan dia untuk bertemu dengan Sri Sultan.

Membaca kisah perjuangan para pejuang sungguh membuat hati ini bersyukur dan berterima kasih. Rasanya bila mereka ada yang masih hidup, ingin rasanya memeluk dan mencium pipi mereka sebagai wujud terima kasih. Bahkan kalau diminta mengangkat sebelah tangan menghormat mereka berjam-jam pun hati ini rela. Baik mereka yang berjuang langsung di medan peperangan maupun mereka yang berjuang melalui syair-syair lagu yang mereka ciptakan.

Kiranya kisah perjuangan dan syair-syair perjuangan para pendahulu bisa memotivasi generasi sekarang, termasuk saya didalamnya, untuk berkarya bagi negeri demi kejayaan Indonesia.
Miris dan pilu melihat keadaan sekarang.

SYAIR BAGI NEGERI

Seperti syair lagu syukur aku bersyukur dengan syair

Dengan sepasang mata bola, ku terawang jasamu dan kutatap masa depan

Semangatmu menjadi benih dalam hati untuk maju tak gentar ditengah keadaan yang pilu keadaan kini

Dan ku mau teriak : “bangun pemuda-pemudi, bebaskan negeri dari penghianatan cita-cita pendiri negeri!”

Mari katakan: “bagimu negeri kami berbakti”, karena Indonesia Pusaka milik kita bersama

Gugur bunga di ujung senjata, mati berkalang tanah demi hari merdeka

Rayuan pulau kelapa yang melambai di tanah yang subur adalah anugerah bagimu negeri

Berkibarlah benderaku, terus dan terus karena aku akan menjagamu

Bila anak negeri mengheningkan cipta, berdoalah terus untuk Indonesia raya.

LH/12-11-11


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: