Oleh: Bakti Rajawali Ministry | September 6, 2012

CATATAN (BUKAN) MISTERIUS

Saya termasuk orang yang suka membuat catatan-catatan kecil dari hasil pengamatan kemana saja saya pergi. Dalam acara-acara ibadah atau seminar atau sedang berjalan atau duduk entah dimana, ketika saya melihat, merasakan dan mendengar sesuatu, seringkali ada muncul tiba-tiba dalam pikiran saya sesuatu yang saya anggap unik, lucu, aneh, lebay, tidak benar, dll dan kemudian mencatatnya dalam buku catatan kotbah saya. Nah, ketika mencatat itu saya kadang menggunakan bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Batak atau percamburan dari bahasa-bahasa itu.

Catatan-catatan itu saya buat judulnya Intermezzo. Mengapa saya namai intermezzo? Karena saya terpikir untuk menjadikannya sebagai “bumbu” kotbah supaya kotbah tidak tegang dan ada humornya. Namun kenyataannya saya justru jarang menggunakannya sebagai bumbu kotbah. Jadi di buku catatan itu saya tulis “Intermezzo 1”, “Intermezzo 2” dan seterusnya.

Selain sesuatu yang saya anggap unik, lucu, aneh, lebay dan tidak benar yang muncul dalam pikiran saya untuk dicatat, tidak sedikit juga muncul yang sifatnya “wisdom” (hikmat) yang memberi pengetahuan, semangat dan kekuatan. Contohnya, ketika beberapa hari yang lalu saya membaca beberapa artikel mengenai cinta (kasih), untuk kesekian kalinya saya menemukan dan membaca kembali mengenai kasih Allah yaitu kasih AGAPE sebagai kasih yang tidak bersyarat (Unconditional Love). Lalu malamnya ketika saya melayani di ibadah pemuda, tiba-tiba teringat kembali mengenai kasih tak bersyarat ini lalu tiba-tiba terpikir oleh saya, bila kita selalu memiliki “Unconditional Love” dari Tuhan maka seharusnya kita memiliki “Unconditional Happy” atau suka cita yang tidak bersyarat. Maka memang tidak salah bila Rasul Paulus mengatakan “bersukacitalah senantiasa” (Flp. 4:4, 1 Tes. 5:16).

Jadi di dalam buku catatan kotbah saya saya tulis “As I have unconditional love, so that I sopposed to have unconditional happy”

Beberapa catatan-catatan kecil saya yang rada lucu antara lain:

“Pengkotbah bangga telah berhasil menyentil banyak orang”

Ini saya tulis karena pernah dalam suatu ibadah saya memperhatikan ekspresi senang/bangga dari si pengkotbah karena dia banyak menyentil.
“Seseorang yang sudah lama di Jakarta, lupa bahasa batak. Mandok “saur matua” menjadi “sambor matua””

Ini saya tulis ketika suatu saat sepupu saya yang sudah lama tinggal di Jakarta menelepon saya dengan menggunakan bahasa Indonesia bercampur bahasa batak. Dia mengatakan bahwa mamanya itu sudah “sambor matua”. Tentu saya saya terbahak-bahak. Lalu menuliskannya di buku catatan kotbah saya.

Suatu ketika dalam sebuah ibadah ada kejadian yang agak lucu. Mungkin tidak banyak orang yang memperhatikan tetapi saya perhatikan. Waktu itu  MC tidak menguasai lagu yang dibawakannya. Jadi dia lebih banyak diam tapi tubuhnya tetap bergerak. Memahami keadaan itu, seorang pemudi (singer) yang kebetulan bertugas menghandle projektor (projektor tempatnya disamping menghadap altar) sepertinya berusaha melihat ke MC sambil menyanyi dengan mengekspresikan mulutnya lebih lebar supaya MC melihat dan mengikuti ekpressi mulutnya. Tetapi ternyata MC tidak memperhatikannya. Melihat keadaan itu, saya jadi tersenyum karena merasa lucu, lalu saya tulis di buku catatan kotbah saya:

“MC ‘ngongong’ karena tidak menguasai lagu. Seorang pemudi ‘dipatalak babana’ supaya MC mengikutinya” Dan ternyata MC tidak memperhatikannya.

 

06-09-12


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: