Oleh: Bakti Rajawali Ministry | September 8, 2012

LOVE, SEX AND DATING

Tidak sedikit orang Kristen khususnya di negara-negara asia termasuk Indonesia yang menganggap tabu untuk membicarakan masalah Cinta, Seks dan Kencan, terutama mengenai seks, yang dipengaruhi budaya atau adat ketimuran.  Keterbukaan mengenai seks memang semakin berkembang seturut dengan meningkatnya pemahaman akan pentingnya membicarakan ini untuk mengantisipasi kejadian buruk bagi kalangan remaja dan pemuda di tengah arus globalisasi di segala bidang terutama di bidang tekhnologi dan informasi yang berkembang dan mudah di akses yang dapat memberikan informasi-informasi negatif dan tidak terarah sehingga menyesatkan kalangan remaja dan pemuda.
LOVE (CINTA)

 

Menurut wikipedia, Cinta adalah sebuah  emosi dari kasih sayang yang kuat. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.

Penggunaan kata cinta ini bisa juga merupakan wujud perasaan terhadap keluarga, teman-teman, kepada seseorang dalam arti romantis/asmara, keinginan nafsu, kasih sayang, rasa nasionalism dan patriotisme, dll. Sedangkan kata LOVE (bahasa Inggris) yang mempengaruhi makna cinta dalam masyarakat Indonesia, dapat juga merupakan rasa suka terhadap sesuatu (makanan) atau rasa senang untuk melakukan sesuatu tindakan.

Di Indonesia kita mengenal beberapa istilah yang menyangkut perasaan simpati yaitu Cinta, Sayang, Suka, Kasih yang tujuan penempatannya sering sulit dibedakan. Sedangkan dalam istilah Yunani perasaan simpati ini ada yang disebut:

AGAPE, yaitu kasih yang sejati. Di dalamnya terkandung, sabar; murah hati; tidak cemburu; tidak sombong; melakukan hal-hal yang sopan; tidak dendam; kejujuran, perhatian, mengerti, pahami dan memahami orang lain; kesetiaan; percaya; komitmen pada ucapan dan janji.  Agapa disebut juga the greatest love (kasih yang agung) dan Unconditional Love (Kasih yang tidak bersyarat).

STORGE, digunakan dalam hubungan kekerabatan keluarga, marga, ikatan darah.

PHILIA, biasanya dipakai dalam hubungan sosial dan persahabatan sehari-hari; diucapkan antar sesama sahabat atau teman karib. Tapi, di dalamnya juga terkandung saling memperhatikan, keterbukaan, perhatian dan setia kawan; toleransi serta solidaritas.

EROS, biasanya difungsikan dalam hubungan dengan ketertarikan karena daya tarik fisik kepada lawan jenis. Eros lebih cenderung kepada romantisme/asmara dan hawa nafsu.

 

Cinta Dalam Perspektif Umum

 

Mungkin saudara pernah mengalami, ketika saudara bertemu dengan seseorang yang berlawan jenis. Karena dia cantik secara fisik dan berkepribadian yang sesuai dengan selera saudara lalu saudara merasa telah jatuh cinta kepadanya. Ketika saudara bertemu dengan dia, jantungmu berdetak cepat dan saudara rada sulit bicara seperti keselek makanan di leher, atau ketika saudara kesepian dan saudara merindukan dia ada disamping saudara, lalu saudara menyebut itu cinta.

Banyak orang mengatakan bahwa jatuh cinta itu sejuta rasa. Orang yang jatuh cinta memiliki ciri-ciri:

  1. Ada keinginan untuk mengenal seseorang
  2. Suka curi-curi pandang
  3. Jantung berdetak lebih kencang ketika seseorang itu melihat kamu.
  4. Salah tingkah
  5. Bisa jadi suka melamun dan menghayal yang indah-indah tentang dia
  6. Jadi lebih suka berias dan tambil lebih beda dari sebelumnya dan pake minyak wangi
  7. Bolak-balik lihat cermin
  8. Selalu memuji segala hal tentang dia
  9. Pura-pura minjam sesuatu dari dia padahal supaya ada kesempatan bertemu.
  10. Nggak mempedulikan kekurangan dia.
  11. DLL

Sebenarnya semua itu timbul adalah karena ada rasa suka atau ketertarikan dalam diri kita, dan hal itu diartikan sebagai cinta.

Menurut Julianto Simanjuntak seorang pakar konseling, banyak orang menikah dengan alasan saling mencintai, namun mereka memahami cinta sebagai psychological phenomena. Artinya, hanya karena kebetulan ada perasaan ketertarikan secara seksual misalnya wajah cantik, ganteng atau ketertarikan secara meteri misalnya kekayaan atau kepandaian.

 

Cinta Dalam Perspektif  Alkitab

Di dalam Alkitab terdapat beberapa kata cinta dalam arti ketertarikan “Annon bin Daud jatuh cinta kepada .. (Tamar)” (2 Sam. 13:1), kepatuhan/kehormatan (hukum),  patriotisme, kecenderungan hati (cinta uang, cinta , dustua kejahtan, dll).  Namun cinta dalam arti memberikan diri bagi orang lain mendomonasi makna cinta dalam Alkitab.

Manusia zaman sekarang ini seringkali terobsesi dan terarah ke dirinya sendiri sehingga dia mengira bahwa mencintai seseorang sama artinya dengan menerima sesuatu dari orang itu. Padahal esensi dari cinta adalah “memberi”. Bahwa kita mencintai seseorang bukan karena mengharapkan mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, tetapi karena kita ingin memberikan.

SEKS

Meskipun banyak orang yang menganggapnya tabu, namun seks sebenarnya adalah anugerah Tuhan yang luar biasa bagi umat yang diciptakannya. Seks itu sendiri adalah bahagian dari ciptaan Allah dalam diri manusia yang dijadikan-Nya itu. Melalui dorongan seksual itu orang melakukan hubungan badan dan melahirkan keturunan yang akan memenuhi bumi (Kej. 1:28). Seks bukanlah dosa, tetapi perlakuan manusia dalam hal seksual itu yang berdosa bila dilakukan secara tidak benar.

Seks (Sex) sebenarnya berarti jenis kelamin. Seksual adalah hal yang berkenaan dengan seks (jenis kelamin), berkenaan dengan perkara persetubuhan antara laki-laki dan perempuan. Sedangkan seksualitas adalah ciri, sifat, atau peranan seks, dorongan seks, kehidupan seks. Namun kalau kita menyebut seks dalam materi ini bukan sebatas jenis kelamin tetapi juga hal-hal yang berhubungan dengan seks itu sendiri.

 

Seks Dalam Perspektif  Alkitab

 

Firman Tuhan mengatakan “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka” (Kej 1:27).  Setelah penciptaan dilakukan, Allah melihat bahwa “semuanya itu baik” (Kej 1:12,25). Ketika manusia diciptakan oleh Allah, Tuhan juga menciptakan seks dalam diri manusia itu yaitu alat seks dan keinginan serta kebutuhan akan seks itu sendiri.

Seksualitas manusia yang diciptakan Tuhan adalah bagian dari rencana Allah agar terjadi multiplikasi manusia di bumi (beranakcucu dan bertambah banyak) lewat hubungan intim dalam pernikahan yang kudus seperti diekspresikan dalam Kej 2:24: “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging”.  Ini mengacu pada penyatuan tubuh, jiwa, dan roh yang utuh pasangan yang telah menikah.  Menjadi ‘satu daging’ juga mengambarkan tujuan berhubungan seksual yang bukan hanya untuk memperoleh keturunan (prokreasi) melainkan juga memenuhi kebutuhan emosional untuk mencapai kesatuan (psikologi).

Karena seks itu kudus adanya dalam perspektif Alkitab, yang terwujud dalam hubungan yang kudus pula yaitu melalui pernikahan kudus, maka seks diluar nikah adalah pelanggaran terhadap prinsip Alkitab. Seks diluar nikah termasuk dalam percabulan. Rasul Paulus nyatakan :”Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi diluar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri” (I Kor 6:18).

Selain karena faktor dosa, seks pra-nikah akan menyebabkan pelaku dihantui perasaan bersalah, kemungkin dapat mempengaruhi pikiran  sehingga muncul keinginan untuk mencoba lagi (ketagihan). Secara psikologis dapat terganggu dimana satu sisi si pelaku tidak sejahtera karena perasaan bersalah namun pada sisi yang lain muncul keinginan untuk mencoba lagi.  Hal itu terjadi karena pengalaman pertama melakukan akan meninggalkan kesan yang dalam.

 

DATING (KENCAN)

 

Kencan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah berjanji untuk saling bertemu disuatu tempat dengan waktu yang telah ditetapkan bersama.  Tentu yang bertemu adalah seseorang dengan pacarnya, atau dengan seseorang yang lain yang sedang dalam pendekatan menjadi pacar. Sebelum kita lebih jauh membahas mengenai kencan, mari kita lihat mengenai pacaran.

 

Pacaran

Sebenarnya masalah pacaran tidak ada dalam alkitab.  Bentuk hubungan sebelum menikah (pranikah)  yang dikenal adalah hubungan pertunangan.  Kalau kita meneliti sejarah di masa lampau sebutlah 70 tahun lebih yang lalu dalam konteks ketimuran, masalah pacaran tidak begitu dikenal karena perkawinan biasanya diatur oleh pihak keluarga atau orang tua kedua belah pihak dengan cara menjodohkan.

Meskipun kedua orang yang sudah dijodohkan, mereka tidak leluasa untuk berkencan, bahkan ada juga yang baru pertama sekali bertemu pada saat acara pernikahan segera berlangsung.  Jadi berpacaran sebenarnya adalah konsep masyarakat modern. Pada masyarakat modern terjadi perubahan gaya hidup dan pola berpikir sehubungan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi . Pergaulan yang semakin terbuka dan berkembang memunculkan pola-pola baru, baik dalam berpikir maupun bertindak sehingga hubungan-hubungan yang terjalin bisa menjurus kepada persahabatan yang intim atau menjurus kepada hubungan khusus antara laki-laki dan perempuan (pacaran) yang didasari oleh ketertarikan  (perasaan suka) secara seksual, mis.karena wajah cantik, ganteng, dan bisa juga karena ketertarikan akan hal lain seperti kekayaan, kepandaian, kepribadian yang baik, dll

Perkembangan  jaman  tidak bisa terbendung. Berpacaran sebelum menikah pun sudah seperti sebuah kebutuhan. Tentu tidak masalah bila harus seperti itu, yang penting dalam berpacaran harus memiliki tujuan positif dan mengerti batas-batas yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan.  Berpacaran seharuslah bertujuan untuk pernikahan dan tetap menjaga kekudusan.

Perlukan Orang Kristen Berkencan ?

 

Dalam sebuah artikel dikatakan bahwa orang orang kristen yang lajang perlu berpacaran sebelum memasuki pernikahan. Melalui kencan dalam berpacaran akan berguna untuk:

a)      Mengenal sifat, kebiasaan dan corak kepribadian satu dengan yang lain. Hal itu diperlukan agar kita menyadari dan memahami kelebihan dan kelemahan yang ada pada pasangan masing masing sebelum saling menerima.

b)      Belajar bagaimana berhubungan dengan baik, belajar mengembangkan kemampuan berkomonikasi.

c)      Melatih diri untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sebagai pasangan dan mencari tahu tentang apa yang Tuhan dari hubungan itu.

d)     Belajar untuk membuka hati, berbagi perasaan dengan perasaan dengan pasangannya sebagai latihan menghadapai permasalahan cecara bersama sama.

e)      Untuk mencintai dan dicintai dengan belajar untuk saling member dan menerima.

f)       Untuk menikmati masa masa yang indah bersama orang yang dikasihinya dalam arti yang positif.

 

Kencan Yang Salah

 

“Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni” ( 2 Timotius 2:22).

Kencan yang salah adalah bila mengarah atau berorientasi kepada seksual.  Nafsu orang muda berbicara tentang hasrat/keinginan yang tidak terkontrol. Memang masa muda adalah masa-masa yang sangat labil. Banyak orang menjalaninya dengan penuh rasa ingin tahu dan ingin bertualang. Bila tanpa pengawasan dan bimbingan yang baik, banyak orang muda yang akhirnya terjatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan.  Karena itu Rasul Paulus mengatakan kepada Titus “Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal (Titus 2:6)

Mungkin banyak orang muda berpikir bahwa kencan dengan berpegangan tangan, membelai, memeluk, berciuman adalah hal yang biasa. Namun hal itu dapat menimbulkan rangsangan seksual yang mengarah kepada tingkat yang berbahaya.

Duvall, E.M & Miller, B.C (1985) mengatakan bahwa bentuk prilaku seksual pranikah mengalami peningkatan secara bertahap. Adapun bentuk – bentuk prilaku seksual tersebut adalah.

  1. Touching (Berpegangan tangan, berpelukan)
  2. Kissing (Berkisar dari ciuman singkat dan cepat sampai kepada ciuman yang lama dan lebih intim).
  3. Petting (Menyentuh atau meraba daerah erotis dari tubuh pasangan biasanya meningkat dari meraba ringan sampai meraba alat kelamin).
  4. Sexual Intercourse (Hubungan kelamin atau senggama)

Berdasarkan tahapan-tahapan ini, dapat disimpulkan bahwa hubungan kelamin (senggama) tidak serta merta dilakukan tetapi melalui tahapan rangsangan. Ransangan seksual yang terus menerus akan menciptakan dorongan biologis yang terus memuncak. Ketika dorongan seks menggebu-gebu, kedewasaan, kecerdasan, dan pendirian-pendirian serta iman seringkali tidak berfungsi.

Karena itu, jagalah dirimu supaya tidak terjerumus kedalam dosa seksual. Efesus 4:27 mengatakan ”janganlah beri kesempatan pada iblis” sebab dengan kita membuka celah berarti kita telah memberi kesempatan untuk melakukan sesuatu yang tidak Allah kehendaki. “Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan bermabuk-mabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati” (Roma 13:13).

Haleluya.

.

08-09-12


Responses

  1. haleluya.. ini dapat menjadi panduan bagi pasangan anak muda yang berpacaran. namun, tambahkan lagi mengenai hubungan pasagan tersebut dengan lebih jelas. Tuhan memberkati.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: