Oleh: Bakti Rajawali Ministry | Oktober 8, 2012

SAYA DAN GPI SIDANG TRANS MARINA – SEBUAH TESTIMONY

Panggilan Menjadi Hamba Tuhan.

Ketika masih muda, saya tidak pernah berpikir akan menjadi seorang hamba Tuhan. Meskipun banyak dari antara keluarga mulai dari kakek, paman dan bapak saya menjadi hamba Tuhan, namun saya tidak tertarik menjadi hamba Tuhan. Saya melihat bagaimana beratnya tugas sebagai hamba Tuhan yang kepadanya banyak jiwa-jiwa dipercayakan. Saya melihat banyak sekali tantangan yang dihadapi oleh kakek, paman, khususnya ayah saya dalam perannya sebagai hamba Tuhan.

Berangkat dari keadaan ekonomi keluarga yang memprihatinkan, banyaknya keinginan saya sebagai remaja yang tidak dapat di penuhi dan keharusan saya untuk bekerja keras beternak babi dan mencari makannya keliling dengan mengais-ngais tong sampah orang-orang, maka hanya satu cita-cita saya waktu masih remaja yaitu MENJADI ORANG KAYA. Sungguh tidak ada cita-cita yang lain selain menjadi orang kaya, entah sebagai apa pun saya untuk memilikinya.

Namum kehendak saya bukan kehendak Tuhan. Di suatu pagi pada bulan Juni 2001 ketika saya berbaring dan tidur, di spring bed tua kami, saya mendapat visi Tuhan. Dalam tidur saya, saya bermimpi ada sepasang burung merpati warna putih cerah masuk ke rumah saya. Saya heran, dari mana datangnya merpati ini. Lalu saya menangkap sepasang burung merpati ini dan mereka langsung menurut, sangat jinak dan tidak meronta sedikit pun. Kemudian saya membuatkan mereka “rumah-rumah” dibelakang rumah saya. Mereka kelihatan senang tinggal di “rumah-rumah” yang saya buat ini.

Ketika saya bangun, saya bertanya dalam hati “Adakah arti dari semua ini? Bukankah merpati putih itu sebagai lambang dari Roh Kudus? Tapi mengapa dua?”. Malamnya semua pertanyaanku dijawab oleh Tuhan. Sepasang hamba Tuhan yaitu Bpk. Pendeta (waktu itu masih Guru) gembala sidang tempat saya beribadah beserta dengan ibu datang ke rumah saya. Mereka meminta saya untuk terlibat melayani dan diangkat menjadi Sintua.

Mendengar permintaan hamba Tuhan ini, saya menolak karena memang tidak terpikir oleh saya untuk menjadi hamba Tuhan. Saya menolak dengan halus dan mengatakan bahwa saya mau membantu pelayanan di gereja ini semampu saya bisa bantu tapi janganlah menjadi hamba Tuhan. Namun bapak Pdt ini memang sudah yakin dengan hal ini dan dengan hikmat memberi banyak masukan kepada saya supaya saya mau. Lalu saya pun teringat akan mimpi saya dan mencoba meyakinkan diri bahwa inilah yang Tuhan mau katakan kepada saya melalui mimpi. Akhirnya saya bersedia diangkat menjadi sintua.

Visi Penggembalaan

Tanggal 10 Juni 2001 saya diangkat menjadi sintua di sidang. Namun baru sinode tahun berikutnya saya di tahbiskan di GPI Pusat. Memasuki lembaran baru kehidupan sebagai hamba Tuhan tentu harus banyak belajar dan mulai lebih hati-hati dalam bersikap.

Selama menjalani tugas pelayanan, tidak sedikit tantangan yang  saya hadapi baik dari dalam maupun dari luar.  Pola pikir, konsep atau pengertian tentang sesuatu baik itu hal-hal umum, pelayanan maupun tentang firman Allah tidak selalu sama. Karena itu dibutuhkan hikmat, upaya-upaya pembelajaran yang terus menenerus, pendekatan yang baik (walau kadang sangat tegas) dengan rekan sesama pelayan.

Pernah selama empat tahun lebih sebagai pembina muda-mudi sidang, dan empat tahun menjadi pembina Biro Pemuda kota Batam, adalah merupakan tahap proses pembelajaran dalam melayani. Sebagai pembina harus menjembatani antara pemuda dengan hamba-hamba Tuhan, antara dept. pemuda sidang dan biro pemuda.  Korban waktu dan korban perasaan harus dijalani, dan diterima sebagai proses pembelajaran untuk semakin mengerti arti kesetiaan dalam tugas.

Ketika semakin mengerti betapa indah dan luar biasa arti sebuah panggilan dari Tuhan yaitu  sebuah kepercayaan dan kehormatan yg diberikan Tuhan, maka menangis menjadi wujud syukur yang meluap dari hati. Panggilan Allah adalah panggilan yang bertanggung jawab. Ia memanggil, maka Ia  memperlengkapi dengan segala sesuatu untuk kebutuhan panggilan itu sendiri.

Setelah saya tamat dari Batam School of Ministry yang saya jalani selama 2.5 tahun (seharusnya 2 tahun tapi ada satu semester saya libur) dan berlanjut ke tahun ke tiga setelah saya diangkat menjadi sintua, hati saya semakin terbeban untuk memulai sebuah penggembalaan. Ada banyak hal yang saya anggap bisa seharusnya dilakukan dalam penggembalaan namun tidak dilakukan. Puji Tuhan, memang banyak masukan-masukan saya diterima/diakomodasi untuk kami kerjakan bersama-sama di GPI sidang Tembesi. Namun saya harus akui, tidak semua visi saya bisa diterima, dan saya pun sadar bahwa tidak semua yang ada di pikiran saya mengenai pelayanan dimungkinkan dilakukan dengan berbagai pertimbangan, salah satu contoh  menjadikan gereja sebagai gereja yang memiliki beban misi.

Menjalani tahun-tahun berikutnya, visi penggembalaan ini semakin kuat. Namun demikian saya terus bergumul kepada Tuhan jangan-jangan ini hanya ambisi saja atau hanya karena ketidakpuasan saja. Seiring waktu berjalan kemudian saya merasa semakin mantap dengan visi itu. Namun meskipun sudah mantap, saya tidak serta merta membuka pelayanan sendiri. Saya masih bergumul apakah saya tetap di GPI atau tidak. Hal ini terjadi karena saya kecewa melihat banyaknya masalah perpecahan dan pengangkatan yang menimbulkan masalah. Selain itu masalah managemen pun juga menjadi perhatian saya dan menjadi pertimbangan.

Pada saat yang sama saya mulai menggumulkan suatu tempat disekitar daerah marina. Waktu itu belum banyak rumah-rumah apalagi ruko. Hanya beberapa ruli (rumah liar) di jalan lintas Marina itu. Tetapi ditempat ini bakal banyak perumahan dan memang sudah terjadi sekarang dimana ada sekitar 8 perumahan dan sudah banyak deretan ruko di jalan lintas utama ke marina.

Dalam masa pergumulan itu sendiri, beberapa kali timbul niat saya untuk memulai saja membuka sidang baru dan tetap di GPI, namun urung saya lakukan karena setiap saya mau merencanakan memulai, selalu ada selisih paham dengan pak gembala yang membuat saya kecewa dan sakit hati. Padahal saya sudah komitmen bila saya akan membuka sidang maka dua kriteria harus lolos yaitu (1) bukan karena ada sakit hati/selisih faham, dan (2) harus menjaga jarak yang ideal dari sidang asal dan tidak memecah jemaat.  Bisa jadi kriteria saya ini menjadi hal yang aneh bagi banyak orang. Bukankah justru banyak orang memanfaatkan “riak-riak” atau selisih faham, masalah-masalah kecil yang dibesar-besarkan sebagai alasan untuk buka sidang? Mungkin ya, tapi tidak bagi saya. Puji Tuhan, dengan jujur saya katakan bahwa saya tidak pernah lama-lama menyimpan sakit hati kepada pak gembala, puji Tuhan, Tuhan karuniakan ini pada saya. Namun justru beberapa kali sakit hati itu menjadi sinyal bagi saya untuk tidak memulai membuka sidang.

Memasuki tahun ke lima sebagai sintua yaitu tahun 2006, visi ini semakin mantap. Dan antara saya dengan pak gembala pun sudah semakin bisa saling memahami, sejalan, seirama bahkan saling mendukung. Walaupun terkadang masih ada riak-riak kecil tetapi bukan lagi sesuatu yang perlu dipermasalahkan. Tuhan menyadarkan saya bahwa pengalaman yang saya alami dalam pelayanan ini ibarat besi menajamkan besi. Saya merasa bahwa Tuhan telah memakai pak gembala untuk menajamkan saya dan pada saat yang sama saya dipakai oleh Tuhan untuk menajamkan pak gembala.

Namun meskipun sudah mantap visi dan kami sudah bisa saling memahami, saya tidak langsung buka sidang karena saya belum yakin benar apakah akan tetap di GPI atau tidak. Namun kemudian saya berpikir adalah baik bila saya terlebih dahulu mempersiapkan/membekali diri dengan ilmu teologi sebelum terjun ke penggembalaan, terlepas apakah nanti saya tetap di GPI atau tidak. Maka tahun 2009 saya melanjutkan Diploma 2 tahun missiology saya ke jenjang S1 Teologi dan puji Tuhan telah selesai pada bulan Juni 2012.

Sungguh, bukan perjuangan yang mudah. Selama 3 tahun lebih melanjut ke S1,  selama 2 tahun lebih saya harus berangkat kerja jam 5.50 pagi, setelah itu lanjut ke kampus dan baru jam 10.30 malam saya tiba di rumah. Diantara banyaknya tugas kuliah yang menyita waktu, tenaga dan pikiran, saya terus berusaha untuk tidak ketinggalan dalam pelayanan. Saya harus mengorbankan banyak hal termasuk kurangnya waktu bersama-sama dengan isteri dan anak-anak. Puji Tuhan, saya bisa lega ketika sudah di wisuda.

Antara Visi dan Cita-cita

Seperti dalam testimony saya sebelumnya bahwa saya tidak pernah berpikir apalagi bercita-cita untuk menjadi hamba Tuhan. Cita-cita saya hanya satu yaitu menjadi orang kaya, karena dilatarbelakangi kehidupan keluarga yang susah (miskin). Tetapi kemudian berbalik dan meninggalkan cita-cita itu setelah mendapat visi dari Tuhan.

Sebenarnya saya berpeluang menjadi “orang kaya” bila saya lebih memfokuskan diri kepada pekerjaan. Dengan pengalaman kurang lebih 10 tahun di perusahaan multinational ternama bidang oil and gas, dan terlibat di commissioning dept. pada beberapa proyek asing, punya banyak kenalan orang asing yang bekerja di proyek fabrikasi platform (anjungan minyak dan gas) dan pernah mengikuti proyek pemasangan di Thailand (3 proyek), Myanmar, Vietnam dan mengikuti training keselamatan kerja di Malaysia, dan kemampuan berkomunikasi bahasa Inggris yang lumayan, maka saya bisa saja mengikuti jejak teman-teman saya untuk mengambil sertifikasi inspektor.

Untuk menjadi “orang kaya” seharusnya saya kuliah di bidang teknik dan menjadi Sarjana Teknik untuk mendukung pengalaman kerja saya di proyek-proyek asing. Paling tidak saya sekolah inspektor. Untuk mengikuti pelatihan inspektor dan sertifikasi hanya dibutuhkan 3 atau 6 bulan dengan biaya antara 15 jt sampai 30 jt. Namun konsekwensinya adalah akan sering kerja hari minggu, sering ke luar negeri dan bekerja di offshore (lautan lepas).

Beberapa teman saya satu perusahaan dulu telah melakukannya dan ketika mereka kerja untuk client mereka mendapat gaji dollar yang kalau di konversi sekitar 30-an juta/bulan, bahkan ada yang sampai 50 jt-an/bulan. Bila mereka dapat satu proyek saja (2-3 tahun) maka uangnya tentu sudah banyak. Padahal secara kemampuan bahasa Inggris saya tidak kalah dengan mereka bahkan ada diantaranya kemampuan bahasa Inggrisnya masih dibawah saya. Tak heran bila sekarang mereka sudah pada punya rumah dan mobil bagus bahkan ada yang punya beberapa mobil. Sedangkan saya, puji Tuhan sudah ada rumah yang diatas RSS tapi tidak punya mobil, hanya motor tua.🙂

Saya meninggalkan kesempatan yang sesuai dengan cita-cita dan memutuskan melanjutkan kuliah D2 Missiologi ke S1 Teologia yang harus saya jalani tiga tahun lebih demi visi yang Tuhan taruh di hati saya.

Pra Pendirian GPI Sidang Trans Marina

Daerah Marina dan sekitarnya adalah daerah yang sangat luas. Salah satu jalan yang dibuat sekitar 8-9 tahun yang lalu untuk memperpendek/mempercapat jarak tempuh dari Batu Aji ke Marina yaitu mulai dari yang disebut Simpang Base Camp menuju Marina dan tembus ke Tanjung Uncang. Sekitar tujuh tahun yang lalu ketika saya melewati jalan ini, saya melihat ada peluang besar untuk merintis pelayanan disini. Memang waktu itu hanya ada beberapa ruli (rumah liar – istilah rumah sederhana dari papan/triplek dilahan garapan/tidak resmi) namun tempat ini akan dibangun komplek perumahan.

Sekarang ini (Sept 2012) sudah ada sekitar 8 komplek perumahan di daerah ini, sedangkan di jalan lintas menuju Marina itu sendiri sudah ada beberapa komplek ruko. Di daerah ini dalam pengamatan saya ada 4 Gereja yaitu GBI, GAPPI (baru buka), Sidang Jemaat Kristus dan satu lagi saya lupa namanya.

Kurang lebih 1.5 tahun yang lalu yaitu setelah 5.5 tahun berlalu ketika saya menggumulkan daerah ini, saya berencana memulai perintisan sidang GPI. Karena sulitnya mencari lahan garapan untuk dijadikan gereja maka saya menjajaki ruko untuk tempat ibadah. Namun sayang sekali, pemilik ruko tidak mau rukonya dijadikan gereja karena di komplek ruko itulah Sidang Jemaat Kristus (pemilik ruko) dan GBI berada. Sementara jumlah ruko waktu itu belum sebanyak sekarang di daerah itu. Padahal waktu itu saya sudah keluar dari perusahaan untuk memulai usaha sekaligus perintisan.

Akhirnya saya menyewa ruko di daerah RSS untuk usaha sedangkan perintisan saya tunda karena tidak mungkin rasanya membuka sidang di RSS karena di jarak 1 km sudah ada GPI. Lagi pun tempat ini mudah dijangkau karena sudah banyak sarana transportasi sehingga mempermudah akses jemaat GPI sidang Tembesi (sidang asal) dan Sidang Batu Aji untuk datang. Hal ini menjadi dilema bagi saya karena saya tidak mau ada kesan menyerobot jemaat yang sudah menetap di sidang-sidang. Karena itu saya tidak jadi buka sidang.

Sepanjang satu setengah tahun lebih merintis usaha, ternyata usaha pun tidak begitu menggembirakan. Setelah satu tahun masa kontrak ruko habis, usaha saya pindahkan ke rumah. Semasa ini pula timbul pikiran saya untuk pindah ke kampung sotul (Tebing Tinggi) untuk melayani di Sidang Kampung Sotul yaitu sidang yang dirintis oleh mendiang kakek saya. Kebetulan juga saya pernah menggumulkan untuk melakukan sesuatu di sidang ini yang menurut saya sudah sangat memprihatinkan keadaannya. Karena itu pernah terpikir oleh saya untuk melakukan sesuatu di sidang itu untuk waktu selama tiga-lima tahun, kemudian saya akan cari tempat lain setelah itu.

Beberapa kali saya coba mendiskusikan dengan isteri supaya kami pindah ke Tebing dan melayani di sidang kampung sotul, tetapi dia tidak bersedia. Memang terlalu banyak yang menjadi pertimbangan selain karena anak harus pindah sekolah di tengah semester, saya pun masih kuliah waktu itu. Namun setelah selesai kuliah di bulan Juni 2012, saya kembali membicarakannya dengan isteri, tetapi dia tidak mau karena kwatir saya tidak ada kerja disana sedangkan untuk merintis usaha pun bukan perkara mudah.

Setelah saya bergumul dengan semua yang saya alami, maka terpikirlah kemudian untuk kembali ke rencana perintisan yang tertunda 1.5 tahun yang lalu, karena untuk persiapan perintisan itulah sebenarnya saya kuliah teologi. Kalau memang tidak jadi ke kampung sotul maka saya akan mulai lagi menjajaki perintisan. Itulah yang ada dalam pikiran saya.

Kira-kira satu setengah bulan sebelum sinode tahunan GPI 2012, ada dua pergumulan penting yaitu pindah ke Tebing atau Merintis sidang GPI di Batam. Lalu saya mencoba mencari sponsor dari rekan di Singapore, bila mungkin mereka bisa mensponsori saya sebagai misionaris lokal. Kalau ada sponsorship, maka isteri saya mau untuk pindah ke Tebing dan melayani di sidang Kampung Sotul.
Lalu pergumulan itu saya bagikan melalui kesaksian di ibadah. Saya menyaksikan kepada HT dan jemaat supaya di doakan apa yang saya gumulkan, yaitu bila Tuhan berkehendak saya ke Tebing maka sponsorship akan berhasil, kalau tidak berarti ada rencana Tuhan yang lebih baik yang akan saya kerjakan sesuai visi yang saya terima dulu. Itulah kesaksian saya.
Dua minggu sebelum sinode saya mendapat jawaban dari ministry di singapore bahwa mereka tidak ada alokasi dana untuk keperluan seperti yang saya minta. Oleh karena itu saya gumulkan lagi untuk kembali ke rencana perintisan. Lalu saya mencoba menghubungi lagi si pemilik ruko yang dulu (1.5 tahun lalu) tidak bersedia memberikan rukonya utk dijadikan gereja. Puji Tuhan, ternyata sekarang mereka bersedia menyewakan rukonya utk gereja sekaligus tempat usaha. Bahkan yang membuat saya semakin yakin dengan rencana perintisan ini adalah bahwa pemilik ruko ini juga memberikan harga sewa setengah harga. Bila harga sewa ruko ditempat itu Rp. 30 juta untuk 1 tahun, tetapi kepada saya diberikan Rp. 30 jt untuk dua tahun. Itu pun kata pemilik ruko bisa saya cicil beberapa kali.

Mendapat Pertentangan

Ketika saya sudah memastikan akan memulai perintisan ini, ternyata tidak berjalan mulus. Istri saya yang tadinya tidak mau pulang ke Tebing dan melayani di kampung sotul, sekarang malah terbalik. Dia bilang lebih baik pindah ke Tebing daripada harus sewa ruko lagi. Dia sempat stress karena memang secara keuangan kami tidak punya lagi untuk dipakai memulai perintisan. Sedangkan dua kapling yang kami miliki juga sudah mulai saya bangun karena terancam akan diambil (ditimpa) oleh pemerintah bila tidak dibangun.
Sempat terjadi ketegangan antara saya dengan istri. Dan dia mencoba menggalang dukungan dari adik-adik saya supaya mereka bicara kepada saya agar tidak meneruskan rencana perintisan ini dan lebih baik pindah saja ke Tebing. Saya sempat merasa sendiri dalam rencana ini. Namun setelah saya kasih penjelasan kepada adik-adik mereka tidak bisa bilang apa-apa. Saya katakan bahwa ini bukan main-main. Rencana ini bukan tanpa proses juga bukan tanpa digumulkan. Rencana perintisan ini muncul kembali setelah beberapa tahap, mulai dari istri yang tidak mau pindah dan upaya sponsorship dari singapore. Semua ini didoakan dan Tuhan telah menjawab dengan tidak adanya sponsor dan juga dengan kesediaan pemilik roku agar roku itu dijadikan gereja dengan harga yang murah pula.
Sungguh hati saya semakin menggelora untuk memulai perintisan ini bahkan saya siap untuk menjual rumah saya untuk memulainya, tetapi istri malah menjadi penghalang. Jujur saya pun sempat stress menghadapi keadaan ini, ingin rasanya mengalah saja dan mengikuti kemauan istri, namun hati kecil saya berontak. Timbul rasa takut kalau saya pulang kampung itu malah melawan kehendak Tuhan, sebab menurut saya rencana ini sudah melewati proses dan sudah disaksikan dan didoakan. Dan Tuhan sudah menjawab melaui tahapan proses yang saya sebutkan diatas.
Dalam suatu siang, ketika saya pulang ke rumah dari kavling untuk makan siang, hati saya diliputi kepiluan. Waktu itu saya makan sendiri saja di meja sedangkan istri saya golek-golek di depan TV. Rasanya ingin menangis saja waktu itu. Lalu saya bilang kepada Tuhan: “Tuhan, mengapa Engkau kuatkan visi ini kepada saya? Lihatlah, istri saya tidak setuju akan rencanan ini” Setelah saya mengatakan itu dalam hati kepada Tuhan, tiba-tiba seperti ada bisikan hati yang kuat yang mengatakan kepada saya “Bukankah engkau akan menggembalakan jemaat? Bukankah engkau akan memenangkan jiwa-jiwa? Ini tantangan awal buat kamu, bagaimana kamu memenangkan istrimu yaitu orang yang terdekat denganmu” Setelah itu spontan keluar dari mulut saya, “haleluya..haleluya” dan mata saya berkaca-kaca.
Setelah saya makan, saya mendekati isteri saya sembari meyakinkan diri bahwa Tuhan akan menolong saya. Lalu saya ajak isteri bicara baik-baik dan singkat cerita, puji Tuhan dia setuju dan mendukung rencana perintisan ini. Saya bersyukur kepada Tuhan.
Setelah kami sepakat, maka saya kumpulkan adek-adek saya yang ada di Batam (3 KK) untuk makan bersama dan menyampaikan bahwa kami (saya dan isteri) sudah sepakat, sekaligus membicarakan langkah selanjutnya. Mereka mengatakan kesiapan mereka untuk mendukung saya dalam perintisan ini. Dan mereka akan menjadi jemaat mula-mula dan sekaligus pelayan. Seorang adek saya adalah pemain musik dan satu lagi (ipar) adalah seorang sintua yang baru diangkat.
Selesai dengan keluarga, saya juga harus menghadapi gembala sidang. Beliau sempat tidak setuju dengan alasan yang kurang logis yaitu karena ada 3 KK jemaat di daerah marina itu. Sedangkan kami ada 110 KK ditambah kurang lebih 100-an muda/i. Bila memang benar-benar mau mendukung, tentu bila tiga KK diarahkan ke sidang yang baru sangat logis. Apalagi bila mengingat dan menimbang bahwa saya sudah ikut melayani di GPI sidang Tembesi sejak awal pembukaan sidang ini. Artinya perkembangan GPI sidang Tembesi ini sampai sekarang, tidak terlepas dari pertisipasi saya juga bersama hamba Tuhan yang lain.
Namun setelah saya sampaikan rencana ini secara resmi kepada forum hamba Tuhan GPI sidang Tembesi, dan kami adakan rapat khusus (9 sept 2012), puji Tuhan semua berjalan mulus, karena memang tidak ada alasan untuk menghalangi rencana ini. Secara jarak, saya cari tempat yang jauh ( 4 km lebih dari GPI Sidang Tembesi) dan tempat itu tidak mudah di jangkau bagi jemaat yang tidak punya kendaraan pribadi. Secara pelayanan, saya tidak ada bermasalah dengan HT dan jemaat. Selama saya melayani saya sudah berusaha semaksimal mungkin, dan semua HT dan jemaat tahu hal itu. Pak gembala sidang pun akhirnya bisa memahami semuanya.
Dalam perbincangan saya dengan seorang rekan HT dan juga dengan adek-adek saya, bahwa kemungkinan alasan pak gembala tidak setuju bukan murni karena 3 KK jemaat itu, tetapi lebih karena tidak rela harus saya tinggalkan mengingat kinerja dan hubungan yang sangat baik selama ini dalam pelayanan. Saya pun bia memahaminya namun visi Tuhan harus tetap dijalankan.
Puji Tuhan rapat khusus HT mengenai rencana saya ini berjalan mulus dan semua HT sudah jelas mengetahui keberadaanya. Memang GPI sidang Tembesi tidak membantu saya dalam hal dana dengan alasan bahwa pembukaan sidang ini bukan program sidang melainkan program pribadi, namun sebagai ucapan terima kasih gereja atas pelayanan saya selama hampir 12 tahun, gereja akan memberikan 5 Juta rupiah. Dan saya akan tetap melayani di GPI Tembesi sampai pada hari peresmian sekaligus ibadah perdana di sidang yang baru.

Berdirinya GPI Sidang Trans Marina

Setelah tidak ada masalah lagi di internal keluarga dan Hamba Tuhan dalam rencana pendirian GPI Sidang Trans Marina, dan pak gembala atas nama GPI Sidang Tembesi akan mengeluarkan dari kas gereja sebesar 5 jt rupiah sebagai ucapan terima kasih gereja atas pelayanan saya selama hampir 12 tahun, maka saya pun mengucapkan terima kasih kepada semua hamba Tuhan.

Sejujurnya saya bukan orang berada. Keadaan keuangan/ekonomi kami pun sedang tidak baik. Pada saat yang sama dua saya kavling wajib dibangun walaupun tidak harus selesai, paling tidak sudah ada pembangunan terjadi di kavling itu. Usaha saya tidak berjalan seperti yang diharapkan. Makanya ada beberapa orang yang meragukan rencana perintisan ini. Ada juga yang heran darimana uang pak St itu? (ini menurut pengakuan orangnya sendiri ke saya dalam suatu pertemuan). Beberapa rekan HT dan keluarga pun sempat mempertanyakan, bagaimana nanti setelah masa kontrak dua tahun selesai. Apakah masih tetap dikasih murah? Kalau tidak bagaimana? Saya menjawab dengan santai bahwa itu biarlah Tuhan yang mengatur. Pergumulan saya hanya satu yaitu supaya ruko itu bisa saya beli sebelum dua tahun masa kontrak selesai. Sebab tidak ada yang mustahil jika Tuhan campur tangan.

Untuk memulai perintisan ini saya sudah rela bila harus menjual rumah saya. Entah orang bilang saya sinting atau gila saya tidak perduli, karena saya sudah mantap dengan visi ini.  Namun puji Tuhan setelah rapat hamba Tuhan yang kami adakan berjalan  mulus, dan saya sudah menetapkan bulan oktober akan mulai (meskipun waktu itu belum ada kepastian antara minggu ke dua atau ketiga untuk pelaksanan ibadah perdana sekaligus peresmian), saya meng-sms salah seorang teman saya dari ministry di singapore untuk meminta dukungan doa agar perintisan dan acara peresmian berjalan dengan baik.

Puji Tuhan jawaban sms-nya mengatakan bahwa dia akan membantu saya beberapa dollar secara bertahap yang kalau dikoversi ke rupiah adalah sebesar 25 Jt-an. Ketika menerima sms ini, spontan saya teriak “Haleluya”.  Tuhan tahu saya tidak punya banyak dana dan Tuhan tolong lewat teman seiman.  Kalau dijumlahkan 5 Juta dari Tembesi dan 25 Juta dari teman saya ini, maka tuntaslah uang sewa ruko untuk dua tahun sebesar Rp. 30 juta. Dana yang saya pinjam dari adik saya untuk mendahului keperluan selama ini dapat saya kembalikan, dan rumah saya kemudian kami sepakati untuk tidak jadi dijual, melainkan akan diagunkan saja untuk kebutuhan penambahan modal usaha.

Memang masih banyak dana yang perlu utk beberapa peralatan yang dibutuhkan selain pembuatan altar, mencat ruko, pembuatan vodium, pembatas ruangan dan menambah instalasi listrik yang sudah saya dikerjakan, tapi saya yakin Tuhan akan cukupkan. Dan saya terus belajar bergantung/percaya kepada Tuhan. Isteri saya memberi masukan agar saya meminta tolong orang-orang dekat saya namun saya katakan kepada isteri supaya tidak berharap kepada manusia meski keluarga sekalipun. Biarlah Tuhan yang menggerakkan hati orang-orang untuk mendukung pelayanan ini. Percaya saja kepada Tuhan.

Akhirnya pada bagian akhir testimony ini, saya memohon dukungan doa dari semua member, supaya acara peresmian sekaligus ibadah perdana pada tanggal 21 oktober 2012 berjalan dengan baik dan lancar dan Tuhan mencukupkan segala yang diperlukan. Doakan juga supaya nanti sidang ini bisa berkembang, menjadi contoh dan memberkati dan membawa sebanyak-banyak orang kepada Tuhan sesuai dengan motto, visi dan misi sidang ini :

Motto : Kemampuan kami adalah pekeraan Allah (2 Kor. 3:5)

Visi : Menjadi gereja yang dewasa dan misioner

Misi :   1. Meningkatkan spiritualitas yang berpusat pada Kristus.

            2. Meningkatkan persekutuan dan persaudaraan sebagai tubuh Kristus

            3. Mengambil peran dalam misi kabar baik.

Kemuliaan hanya bagi Tuhan.  Haleluya.

St.L.Hutabalian, S.Th.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: