Oleh: Bakti Rajawali Ministry | Desember 30, 2012

Hamba Uang

Berbicara tentang uang, maka uang sebenarnya adalah benda mati yang tidak bisa berbuat apa-apa tanpa ada orang yang menggunakannya. Namun uang memiliki nilai dimana dengan uang kita bisa melakukan banyak hal dalam kehidupan kita entah itu pasitive atau negative.

Sesungguhnya tidak mungkin uang menjadi tuan atas manusia dan tidak mungkin manusia menjadi hamba atas uang karena uang adalah benda mati.  Namun penggunaan kata hamba uang itu menjadi tepat bila seseorang telah menggantungkan hidupnya kepada uang.  Karena berbicara mengenai hamba adalah berbicara mengenai kendali. Seorang Tuan akan mengendalikan hamba yang dimilikinya. Oleh karena itu bila seseorang menjadi hamba Uang, maka uanglah yang menjadi pengendali dalam kehidupannya.

Seorang hamba uang maka dia akan melakukan apapun demi uang termasuk hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Dia tidak akan perduli apakah usahanya mendapatkan uang itu akan menyakiti hati Tuhan atau sesama.

Berdasarkan 1 Tim 6:10  berkata “Karena akar segala kejahatan adalah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka”

Seseorang menjadi hamba uang karena dia telah mencintai uang,  dan dalam dirinya akan ditemukan seperti hal-hal berikut ini:

1.    Menganggap uang adalah segala-galanya dalam hidupnya.

Hidupnya adalah untuk uang dan melakukan segala sesuatu karena uang. Dia akan merasa bangga bila memiliki banyak uang. Bekerja keras untuk menghasilkan uang namun meski memiliki banyak, belum tentu dia bisa menikmatinya karena terlalu perhitungan dalam mengeluarkan uangnya. Dia akan cenderung menganggap remeh orang berkekurangan/miskin, karena baginya uang atau harta menjadi ukuran kehormatan seseorang. Orang seperti ini akan sanggup “menjilat pantat” orang-orang berduit demi sebuah keuntungan.

2.    Menjadi tamak.

Bagi orang tamak segala sesuatu harus mendatangkan keuntungan bagi dirinya. Orang tamak itu seperti lintah yang menghisap darah tanpa memikirkan kerugian bagi orang yang dihisapnya.  Seperti yang dikatakan Agur bin Yake, “Si Lintah mempunyai dua anak perempuan: “Untukku!” dan “Untukku!”…..” (Amsal 30:15a).

Bila ada sesuatu yang mau dibagi, maka dia tidak memikirkan orang lain akan dapat bagian atau tidak. Kalaupun dia memikirkan bagian bagi orang yang lain , itu setelah dia mendapat bagian yang sebanyak-banyaknya dan memuaskan dirinya. Oleh karena itu, dalam diri orang yang tamak tidak ditemukan keadilan.

Mungkin ada suatu waktu orang tamak seperti berbuat baik dalam kehidupannya, namun dibalik kebaikannya dia memiliki “agenda” untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

Salah satu contoh yang banyak kita temukan sekarang ini adalah koruptor. Koruptor adalah orang yang mengambil uang/harta yang bukan haknya. Dia tidak perduli seperti apa akibat yang akan ditimbulkan oleh tindakannya yang penting dia hidup dalam kemewahan.

Tuhan Yesus menyoroti ketamakan ketika yang mungkin terjadi dalam hal pembagian warisan dalam Lukas 12:15 : “Katanya lagi kepada mereka: “berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung daripada kekayaannya””

3.    Hamba uang itu pasti kikir.

Hamba uang itu ibarat mata uang itu sendiri. Satu sisi “bergambar” si Tamak, satu sisi lagi “bergambar” si Kikir. Oleh karena itu tidak mungkin seorang hamba uang akan suka memberi atau membagi-bagi hartanya/miliknya.  Sedangkan yang bukan bagiannya pun mau dihisapnya untuk dirinya, tidak mungkin dia akan memberi miliknya untuk orang lain.

Sama seperti sifat tamak, seorang yang kikir juga mempunyai agenda mencari untung yang berlipat dari “kebaikan” yang dia berikan kepada orang lain.  Salomo dalam tulisan hikmatnya mengatakan : “Janganlah makan roti orang yang kikir, jangan ingin akan makanannya yang lezat. Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia. “Silahkan makan dan minum,” katanya kepadamu, tetapi ia tidak tulus hati terhadapmu.” (Amsal 23:6-7)
Ada sebuah cerita seorang bapak yang sangat kikir. Karena kekikirannya, suatu saat dia belanja papan dan kayu ke kota untuk memperbaiki rumahnya. Demi mendapat potongan uang antar, maka dia rela bolak-balik megantar jemput papan dan kayu dengan bersepeda lebih dari sepuluh kilo meter.  Dan si bapak ini menyimpan uangnya lama sekali dirumahnya sampai-sampai uang itu tidak laku lagi karena ternyata pemerintah sudah lama mengeluarkan uang baru sebagai pengganti uang tersebut dan dia tidak tahu hal itu.

Orang kikir bertolak belakang dengan orang yang hidup dalam kasih. Orang yang hidup dalam kasih akan sanggup berkorban untuk orang lain sedangkan orang kikir sanggup mengorbankan orang lain (bahkan orang dekatnya) untuk dirinya.

Paulus kepada jemaat di Korintus berkata :”Tetapi kutuliskan ini kepadamu ialah, supaya kamu jangan bergaul dengan orang, sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama.”

4.    Dia tidak sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan.

Orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan pasti menggantungkan hidupnya kepada Tuhan bukan kepada uang/kekayaan (band Luk. 12:15). Tuhanlah yang menjadi jaminan bagi masa depannya (Maz. 23:1-6, Kor 1:22, Ibr. 7:22). Tidak ada ketamakan dalam dirinya karena dia percaya bahwa Tuhan sanggup memelihara hidupnya. Dia hidup dalam kasih dan rela berkorban karena sadar bahwa Kristus juga sudah berkorban untuk dirinya. Itu berarti tidak ada kekikiran dalam dirinya.

Ibrani 13:5 berkata :” Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau””


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: