Oleh: Bakti Rajawali Ministry | April 12, 2014

KEHIDUPAN PRIBADI YANG MENEGUHKAN PEMBERITAAN (Rangkuman Kotbah Minggu 06 Apr 14)

Nats : Yoh. 3:25-30

Ayat 25 mengatakan bahwa murid-murid Yohanes pembabtis berselisih (pendapat) dengan seorang Yahudi tentang penyucian. Tentu yang dimaksud penyucian disini adalah  Babtisan, mengacu pada ayat sebelum dan sesudahnya dan sesuai dengan arti babtisan itu sendiri  yang  bisa juga berarti “dicuci dengan air. Disini murid Yohannes diuji pemahamannya tentang apa yang diajarkan dan dilakukan oleh sang guru yang kemudian juga dilakukan oleh Yesus Kristus. Bagi kita hal ini memberi hikmat bagaimana kita mempertanggungjawabkan iman kita. Karena bisa saja orang lain (yang tidak percaya) mempertanyakan dasar iman kita; yaitu mengapa kita percaya dan menjadi pengikut Kristus.

Keterbatasan pemahaman dapat menimbulkan perselisihan, tetapi murid Yohanes tidak larut dalam perselisihan melainkan  mereka pergi kepada Yohanes untuk untuk bertanya (ayat 26).  Tujuan mereka bertanya tentu supaya mereka semakin tahu dan jelas tentang babtisan itu. Untuk tujuan agar kita semakin memahami  kebenaran Allah , kita pun perlu terus belajar firman Tuhan, baik melalui Hamba Tuhan dalam PA atau Kotbah maupun dengan membaca dan merenungkan firman Tuhan dalam pimpinan Roh.

Ketika murid-murid bertanya tentang penyucian, Yohannes justru membawa mereka pada pengajaran yang lebih mendasar yaitu tentang pribadinya dan Kristus yang melakukan babtisan itu untuk meneguhkan apa yang diajarkan dan dilakukan. Hal ini sangat penting supaya mereka tidak meragukan keabsahan babtisan.

1. Ayat 27 – Yohanes percaya bahwa sumber segala karunia adalah surga. Surga adalah tempat Allah bersemayam dan dari sana Tuhan menyatakan kemuliaan-Nya. Oleh karena itu, surga sebagai sumber karunia mengacu kepada Allah sendiri. Allah-lah sumber segala karunia. Apa yang diterima Yohanes sebagai panggilan hidupnya termasuk posisinya sebagai orang yang dipilih mempersiapkan jalan bagi Kristusadalah karunia Tuhan. Dan setiap orang yang dibawa kepada Kristus adalah juga karunia Allah.

2. Ayat 28 – Yohanes hidup dalam kejujuran dan dapat dipercaya. Muridnya menyaksikan sendiri bagaimana kehidupan gurunya.  Itu berarti Yohannes menjadi kesaksian bagi muridnya dan orang lain. Betapa indah bila kita tidak dapat didakwa oleh karena perbuatan yang jahat dan berbosa, itu berarti kita harus  menjadi kesaksian yang baik dan membangun.

3. Ayat 29- Yohanes memiliki suka cita seperti sukacita sahabat mempelai. Seorang mempelai pastilah orang yang sangat berbahagia. Seorang sahabat mempelai juga bersukacita seperti sukacita mempelai. Ketika mempelai wanita dan pria bersatu maka disitu ada sukacita besar. Demikianlah sukacita Yohanes, bila Kristus sebagai mempelai Pria surga bersatu dengan jemaat sebagai mempelai wanita surga. Persatuan itu terjadi oleh karena pertobatan yang diproklamirkan melalui babtisan. Pertanyaan yang perlu kita renungkan kemudian adalah apakah kita memiliki sukacita yang sama dengan Yohannes. Jika ya, maka marilah kita membawa jiwa-jiwa untuk bersatu dengan Kristus sebagai mempelai.

4. Ayat 30 – Yohannes memiliki kerendahan hati. Dia sadar bahwa dia hanya membuka jalan bagi misi Yesus.  Yesuslah yang kian besar, Yesuslah yang harus menonjol bukan dia. Maka kemuliaan harus tertuju kepada Kristus.  Apapun yang dipercayakan untuk kita kerjakan di dunia bagi Tuhan bukan untuk kehormatan dan kemuliaan kita tetapi untuk kemuliaan Tuhan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: