Oleh: Bakti Rajawali Ministry | April 24, 2014

KEJUJURAN BUKAN DARI JIN

Konon ayah George Washington (Presiden Pertama Amerika) adalah seorang penggemar tanaman. Diantara banyak tanaman yang dimiliki ayahnya, ada satu tanaman yaitu pohon ceri unggul yang sangat disukai oleh ayahnya. Pohon ini dibawa dari seberang lautan. Pada suatu hari, George bermain dengan kapak barunya membelah potongan kayu. Tanpa sengaja kapaknya mengenai pohon ceri kesayangan ayahnya sehingga terbelah dari atas ke bawah. Tentu saja George sangat terkejut.

Ketika ayahnya pulang, ayahnya terkejut dan berteriak “siapa yang menebang pohon itu?” Ia terdiam sesaat dan kemudian menjawab, “aku tidak dapat berbohong ayah, pohon itu terkana kapakku.” Ayahnya menatap tajam dan berkata, “kenapa kau menebang pohon itu?” George menjawab, “aku sedang bermain dan tidak sengaja mengenai pohon itu” sambil tertunduk dan meminta maaf kepada ayahnya. Ayahnya lalu meletakkan tangannya di bahu George dan berkata, “aku menyesal telah kehilangan pohon ceriku, tetapi aku senang bahwa kamu cukup berani untuk berkata jujur. Aku lebih suka kau berkata jujur dan berani daripada memiliki seluruh kebun ceri yang paling unggul.” George tidak pernah lupa apa yang dikatakan ayahnya sampai akhir hidupnya.

Di zaman yang penuh dengan kejahatan, kemunafikan dan cinta diri ini, tidak mudah menemukan orang-orang yang jujur. Banyak orang berprinsip “engkau jujur hancur, tidak jujur engkau mujur (beruntung)”. Mungkin saja memang terjadi dalam kehidupan manusia seperti prinsip tersebut, bila ia berada di tengah lingkungan orang-orang yang tidak juju atau ditengah orang-orang yang hanya mau mencari keuntungan dan kepuasan diri sendiri dengan menghalalkan segala cara, namun bila direnungkan lebih dalam, “ketidakjujuran” bila telah meluas dan membudaya, maka akan merugikan semua pihak karena akan saling menipu atau saling membohongi.

Tahukah anda bahwa kejujuran adalah sifat yang diinginkan Tuhan untuk dimiliki oleh umat-umatNya? Sebab Tuhan membenci dusta sedangkan kejujuran adalah lawan dari dusta. Maka tidak heran kalau Kitab Amsal mengatakan bahwa Tuhan bergaul erat dengan orang jujur (Amsal 3:32). Lalu bagaimana seseorang dapat bersikap jujur? Pertama adalah takut akan Tuhan, menyadari bahwa kejujuran adalah kehendak Allah seperti Amsal 3:32 diatas (Bandingkan juga Amsal 14:2). Kedua adalah ketulusan. Orang yang tulus akan bertindak jujur (Amsal 11:3). Daud berkata, “Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau” (Mazmur 25:21). So, Kejujuran tidak didapat dengan meminta dari seseorang untuk memberikannya kepada kita, apalagi memintanya dari Jin seperti yang ada di iklan televisi. (Apr-LH 14)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: