Oleh: Bakti Rajawali Ministry | Agustus 15, 2014

SANDIWARA ATAU KESUNGGUHAN (Rangkuman Kotbah Minggu, 10-08-2014 – GPI Trans Marina)

Nats: Yesaya 1:10-20

Penglihatan yang dilihat oleh Yesaya tentang Yehuda dan Yerusalem berbicara tentang keadaan kehidupan keimanan orang-orang Yehuda sepanjang kepemimpinan 4 orang raja-raja Yehuda. Pada ayat 10, perkataan ini ditujukan kepada pemimpin-pemimpin Yehuda namun sebutan “pemimpin-pemimpin” diikuti dengan istilah “Manusia Sodom” dan “Manusia Gomora”. Sepertinya dalam pandangan Yesaya, bahwa kejahatan orang-orang Yehuda sudah sama dengan orang-orang Sodom dan Gomora yang dihukum oleh Allah yang hidup di masa Abraham dan Lot (Kej. 18-19).

Di ayat 11-15 dan 16-17 sesungguhnya kita dapat menemukan bagian dari konsep salib yang sering dimaknai sebagai hubungan atau relasi vertical kepada Allah (ayat 11-15) dan hubungan/relasi horizontal kepada sesama (ayat 16-17), yang didalam konteks kita sekarang kita maknai bahwa oleh karena pengorbanan Kristus di kaya salib, hubungan kita dipulihkan kepada Allah dan juga kepada sesama manusia di dalam kasih Tuhan.

Masalah yang terjadi adalah bahwa meski mereka masih melakukan rutinitas “keagamaan” tetapi mereka tidak hidup di dalam kesungguhan sebagaimana orang yang beriman kepada Tuhan. Mereka layaknya sedang bersandiwara. Hal itu tercermin dari bagaimana mereka memperlakukan sesamanya, dan cara hidup mereka yang jahat seperti yang digambarkan sebagai “manusia Sodom’ dan “manusia Gomora”. Oleh karena itu, semua persembahan/korban mereka yang banyak-banyak, pertemuan-pertemuan dan perayaan-perayaan mereka sungguh menjijikkan bagi Tuhan.

Tentu hal ini perlu menjadi perenungan bagi kita yang hidup di zaman ini. Kita menyaksikan bagaimana pemimpin-pemimpin bangsa dan tokoh-tokoh agama yang seharusnya menjadi panutan tetapi matanya digelapkan oleh uang atau kekayaan. Contohnya adalah bagaimana seorang menteri agama yang ditangkap karena dugaan korupsi dan yang dikorupsi pun juga berkaitan dengan kegiatan keagamaan, seorang tokoh agama yang mengatasnamakan Tuhan untuk memperdaya umat, dan masih banyak contoh lainnya. Pada saat yang sama mereka tetap melakukan rutinitas keagamaan bahkan memakai symbol-simbol keagamaan dalam diri mereka. Lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita lebih baik, sama atau justru lebih buruk dari mereka? Tentu diperlukan kerendahan hati, keterbukaan dan kejujuran untuk melihat dan mengakuinya.

Teguran kepada orang Yehuda ini juga berlaku bagi kita agar kita instrospeksi diri. Apakah kita hidup sebagai orang yang beriman kepada Tuhan dimana ada relasi atau persekutuan yang sungguh-sungguh, bukan sekedar rutinitas dan bukan sandiwara dengan Tuhan, dan bagaimana applikasi iman terbukti juga dari cara kita berelasi dengan sesama kita?

Ayat 18-20 memberi jaminan bahwa setiap orang yang bertobat maka mereka akan diampuni, dan orang yang mendengar dan menuruti perkataan Tuhan maka akan diberkati. Sebaliknya bagi mereka yang memberontak dan melawan, akan dimakan oleh pedang. Artinya akan dibiarkan dikalahkan oleh musuh (dalam konteks perang) atau dibiarkan mengalami kekalahan dan menderita dalam kehidupannya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: