Oleh: Bakti Rajawali Ministry | Desember 3, 2014

Kemuliaan Tuhan, Dari Sehari Ke Sehari

Maz. 19:3 “Hari meneruskan berita itu kepada hari dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam”

Mazmur itu adalah nyanyian/pujian atau syair-syair. Dalam Bahasa seniman/sastrawan setiap kata atau kalimat syair bisa mengandung maksud yang sangat luas dan dalam. Ada sebuah puisi yang terkenal dan fenomenal yang ditulis oleh seorang sastrawan angkata 45 yaitu Sitor Situmorang. Puisinya hanya berisi satu baris saja yaitu “Bulan di atas kuburan”. Sangat singkat, namun puisi ini telah menjadi inspirasi sebuah film. Meski sangat pendek yang tertuang dalam kata-kata namun mengandung cerita yang panjang dalam benak si penulis.

Ayat ini mengatakan “hari meneruskan berita itu kepada hari..” Segala sesuatu yang diciptakan Tuhan dan bagaimana alam dan kehidupan itu berlangsung menjadi sebuah cerita atau kisah. Apa yang terjadi sebelum hari dimana kita ada, disitu terdapat kisah-kisah yang sudah kita lewati; ada kuasa Tuhan dinyatakan dan pemeliharaan Tuhan sehingga kita bisa hidup hingga saat ini. Jadi seperti apa adanya kita hari ini tidak berdiri sendiri mewakili satu hari kehidupan kita melainkan mewakili puluhan tahun usia kita sejak kita lahir.

Contoh, ketika saya berdiri dihadapan jemaat Tuhan, maka jemaat hanya bisa mendiskripsikan tentang saya sebatas mereka tahu tentang saya. Secara fisik, tinggi hanya satu meter lebih, badan gemuk, seorang hamba Tuhan, dll. Tetapi keberadaan atau cerita kehidupan saya hari ini sesungguhnya sudah dimulai hampir 43 tahun yang lalu ketika saya lahir. Saya berdiri secara fisik sekarang sekaligus menghadirkan hampir 43 tahun kisah hidup saya. Dan selama hampir 43 tahun ini pula ada kemuliaan Tuhan dinyatakan dalam diri saya yang membuat saya tetap hidup, sebab tanpa Tuhan, saya sudah tidak ada sekarang ini.

Dikatakan “Hari menceritakan kepada hari”. Hari kemarin menjadi cerita di hari ini, hari ini akan menjadi cerita di hari besok dan hari besok menjadi cerita di hari kemudian. Oleh karena itu, syair yang kita baca mengandung makna bahwa existensi alam semesta yang ada hari ini dan segala keadaan kita hari ini merupakan kelanjutan kisah penyataan kemuliaan Tuhan sejak penciptaan. Kita ada hari ini karena Tuhan sudah menyatakan kemuliaan-Nya atas kita dihari kemarin.

Ratapan 3:22-23 mengatakan “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmatNya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaanMu” Berkat Tuhan selalu baru tiap hari itulah nafas hidup dan pemeliharaan Tuhan dari sehari ke sehari. Oleh karena itulah kita patut selalu mengucap syukur kepada Tuhan.

Selanjutnya dikatakan “dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam” Mengapa harus malam? Karena malam menjadi momen/waktu bagi kita untuk merenungkan kehidupan yang kita lakoni sepanjang hari. Sebelum kita tidur, mungkin kita akan merenungkan segala hal yang kita mulai di pagi hari sampai malam hari. Raja Daud mengatakan “Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkahlah, ya Tuhan, yang membiarkan aku diam dengan aman” (Maz 4:9). Kata “sebab hanya Engkaulah, ya Tuhan, yang membiarkan aku diam dengan aman” menjadi semacam konklusi dari perenungannya sebelum dia tidur. Dari perenungan kita akan mendapatkan hikmat dan pengetahuan baru yang menjadi bekal kita supaya kita tahu apa yang harus kita perbaiki, tingkatkatkan atau tinggalkan pada esok hari. (LH)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: