Oleh: Bakti Rajawali Ministry | Januari 18, 2015

MEMBERI DARI HATI

Nats : Maz.50:1-23

Ayat-ayat diatas terdiri dari 3 bagian yang dapat kita pelajari dan renungkan melalui mazmur Asaf, yaitu:

1) Ayat 1-6 tentang kedahsyatan Tuhan yang mengikat janji dengan umat-Nya dan akan meminta pertanggungjawaban.

Sion merupakan sebuah bukit sekaligus menjadi symbol Yerusalem yaitu Pusat Kerajaan Damai. Dari sana Tuhan mencurahkan berkat-Nya dan dari sana pula Ia akan meminta pertanggungjawaban dari umat-umat-Nya. Tuhan dalam kedahsyatan-Nya tidak dapat dihalangi oleh apa pun. Dimana Tuhan hadir, maka kedahsyatan-Nya tentu juga hadir, sebab itu adalah hakekat-Nya. Bila Tuhan sudah membuka tidak akan ada yang sanggup menutup dan bila Tuhan sudah menutup tidak ada yang sanggup membuka. Dia adil dalam bertindak dan keadilan-Nya tidak terbantahkan oleh siapapun.

2) Ayat 7-15 tentang teguran dan nasehat Tuhan kepada umat-Nya tentang memberi persembahan.

Jelas sekali Tuhan mengatakan bahwa Ia tidak membutuhkan lembu, sapi dan lain-lain untuk dia makan. Dia bukan manusia yang butuh makan dan minum. Dialah yang empunya segala ciptaan. Oleh karena itu ketika Tuhan mengikat janji kepada Abraham, Ishak, Yakub lalu kepada Musa atas nama umat Israel tentang persembahan yang akan dipersembahkan sebagai korban kepada Tuhan, hal itu adalah jalan bagi Tuhan untuk memberkati umat-umatNya dan sebagai wujud penghormatan umat-Nya itu kepada Tuhan.

Dari ayat-ayat diatas kita ketahui bahwa umat Tuhan masih melakukan korban persembahan kepada Tuhan. Namun persembahan mereka tidak lagi di dasari dari hati yang bersyukur. Persembahan mereka bukan dari hati tetapi hanya memenuhi ritual keagamaan semata. Apapun yang kita persembahkan baik itu materi dalam bentuk perpuluhan, ucapan syukur atau kolekte, juga waktu, tenaga, dll kalau itu tidak berasal dari hati yang bersyukur maka tidak bernilai di mata Tuhan.

Di gereja ini kita diajar dan belajar memberi dengan hati sesuai iman kita masing-masing. Tidak ada paksaan dan tidak ada patokan-patokan. Semua harus berangkat dari hati yang bersyukur kepada Tuhan. Gereja juga belajar untuk tidak membeda-bedakan pelayanan kepada jemaat, antara yang memberi perpuluhan dengan yang memberi ucapan syukur, antara yang memberi nominalnya besar dengan yang nominalnya kecil. Sebab urusan gereja dalam hal ini Hamba Tuhan dan para pelayan adalah melayani Tuhan melalui jemaat, dalam hal memberi persembahan adalah urusan jemaat dengan Tuhan. Tuhan menasehati umat-Nya supaya mempersembahkan syukur sebagai korban, dan Tuhan akan meluputkan mereka dari kesesakan. Iman yang besar menghasilkan pekerjaan besar.

3) Ayat 16-23, Teguran dan nasehat kepada orang Fasik.

Perkataan Allah kepada orang Fasik juga merupakan teguran dan nasehat, tetapi yang berbeda adalah disertai ancaman. Mengapa? Karena orang fasik adalah orang degil hatinya. Mereka, walau tahu yang baik dan benar tetapi mereka tidak mengindahkannya. Orang fasik sangat susah untuk ditegur dan dinasehati. Jangankan memberi dari hati, memberi dalam konteks menjalankan ritual pun tidak. Maka orang-orang seperti tidak layak menyebut/mengingat, disertai harapan yang baik dari ketetapan dan perjanjian Tuhan. Namun Tuhan juga menasehati mereka supaya mereka memperhatikan perkataan Tuhan dan mempersembahkan syukur sebagai korban. Maka Tuhan akan menunjukkan jalan keselamatan bagi mereka.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: